
Langkah Naja begitu ringan saat berjalan pulang. Membayangkan esok hari dia akan mulai bekerja dan akan menjauh dari Excel, hatinya begitu lega. Meski dengan Jen gajinya berkali lipat dari pekerjaannya kini, tak masalah ... hidup bukan tentang uang. Tapi juga ketenteraman batin.
Naja berhenti sejenak saat ponselnya berdering. Matanya membola saat melihat nama Jeje muncul di panel notifikasi. Sedikit memiringkan kepala dan kening berkerut, ibu jari Naja menyentuh pemberitahuan itu.
–Ja, aku berangkat ke Jepang hari ini, jaga dirimu baik-baik ... aku tadi sempat ke kos mu tapi kosong. Doakan aku sukses dan betah tinggal di sana ya, Ja–
Setitik air mata haru menetes di sudut mata Naja. Tidak menyangka bahwa Jeje masih menganggapnya penting sampai dia membuang waktu mendatangi tempat tinggal Naja.
–Mas Je baik-baik di sana ... doa Naja selalu terlantun untukmu. Semoga sukses Mas, jangan lupa nanti ajak Naja ke sana. Sampai jumpa lagi Mas Je–
Naja menipiskan bibir, menggenggam erat ponsel miliknya setelah mengirim pesan kepada Jeje. Kini semua menapaki jalan menuju impian, menyisakan dirinya yang masih berkubang kekurangan. Naja mendongakkan wajahnya, menatap langit yang selalu membuatnya nyaman.
“Pranaja Utari?” sapa seorang pria tinggi dengan kepala plontos. Berdiri diambang pintu mobil hitam miliknya.
Naja menoleh ke arah suara, kelopak matanya menyipit memindai dengan waspada. “Anda siapa?”
“Kau Pranaja Utari?” Sam mengulangi pertanyaannya. Pria itu menutup pintu mobil dan mendekati Naja.
Naja mengambil langkah mundur saat Sam berjarak dua langkah darinya.
Sam tertawa lirih saat melihat reaksi Naja, “Kau ingat ini?” Sam melambaikan map milik Naja yang hilang kemarin.
Kening Naja berkerut, bingung, heran dan berprasangka buruk. Pikiran aneh seketika melintas. Mungkin pria ini berniat jahat, pikir Naja. “Bapak dapat itu darimana?”
“Gue seumuran dengan bos Star Media, jangan panggil bapak ...!” titah Sam ketus.
“Star Media? Bagaimana bisa ada di sana?”
“Bukannya lo ngelamar kerja di sana?” kini giliran Sam yang bingung. “Lo ngga amnesia atau pikun mendadak kan?”
“Maksudnya ...?”
Sam mengembuskan napas cepat, “Ini gue temuin di meja Excel, dan gue butuh ini ...,” Sam membuka dengan cepat lembar demi lembar tak kurang sepuluh halaman itu. “ ... bener ini punya lo kan?”
Naja masih memaku pandangannya pada lembaran kertas itu, “i-iya bener. Tapi saya tidak melamar pekerjaan di sana Mas ....”
“Lalu ...?” kening Sam berkerut hebat. Pikiran Sam menduga banyak hal yang mustahil. Apa dia punya hubungan spesial dengan Excel? pikir Sam sambil terus mengawasi Naja.
Naja bingung mau memulai ceritanya dari mana, “Panjang ceritanya Mas ...,”
“Ngga usah diceritakan kalau begitu ...,” potong Sam dengan cepat, “gue butuh banget gambar lo ini ... jadi lo mau berapa dari gambar-gambar ini?”
__ADS_1
“Hah?”
Sam merapatkan giginya, melihat Naja yang sepertinya tidak mengerti maksud Sam. “Gue beli gambar lo ... lo mau jual berapa?”
Naja menelan ludahnya dengan susah payah, “Aku-aku tidak tahu Mas ... itu hanya iseng saja, aku tidak berniat menjualnya.”
Sam menggaruk pelipisnya, tampak berpikir, “Gini aja, gue bawa gambar lo dulu, nanti kalau orang gue suka lo bakal gue bayar, tapi hak milik gambar ini milik gue, dan jika gambar lo disukai pelanggan gue, lo kerja sama gue ... gimana?”
Naja mengangguk meski kurang mengerti.
Sam mengambil sepotong kertas dari sakunya. "Ini kartu nama gue, hubungin gue semau lo ... sebagai jaminan gue ngga bohongin lo ...,"
"Ta-tapi Mas ...,"
Sam menepis ucapan Naja dengan kibasan tangannya. Dia sudah sangat terlambat untuk memulai pekerjaannya, “Gue bakal kasih tahu lo semua nanti, sekarang gue buru-buru ... lo bikin beginian lebih banyak ... okey?”
Sam meninggalkan Naja begitu saja, masih ternganga dengan apa yang baru dialaminya.
“Dia bercanda ngga sih?” gumam Naja beberapa saat kemudian.
**
Usai dari bandara mengantar kepergian Jeje, Jen berpisah dengan Harris dan Kira untuk menemui Tanna. Tanna sepertinya sudah kembali pulih dari keterpurukannya. Gadis itu meminta Jen menemuinya di sebuah kafe.
“Aku belum lama kok ...,” senyum Tanna merekah sempurna gadis berperawakan tinggi semampai ini mengadu pipinya dengan Jen sejenak sebelum duduk saling berhadapan. “Pesen apa?”
“Ngga usah Tan, tadi habis sarapan sama Mama dan Papa,” jawab Jen.
“Tante dan Om ada di rumah?” Tanna berbinar bahagia.
“Kan aku udah bilang kalau Mama pulang pas Jeje mau berangkat ... lupa?” sungut Jen. Kadang Jen kesal dengan sikap Tanna yang menurutnya agak lemot.
“Hehehehe ... iya aku lupa Jen ... kau tahu kan aku kurang konek saat patah hati,” Tanna nyengir lebar. Di depan Jen Tanna tak pernah bersikap seperti putri. Keseharian Tanna memang tak ubahnya seorang bangsawan. Orang tua Tanna konglomerat kelas atas dengan segudang bisnis yang digeluti.
"Kamu tuh kalau ngga ketolong sama cantik dan kaya, ngga bakal ada yang anggep teman selain aku," sinis Jen pada Tanna.
"Ih ... kamu kalau ngomong suka bener," bibir merah Tanna mengerucut, "jangan lupakan Naja. Cewek ambisius yang doyan banget sama duit, lugu bener tu bocah ya? Tapi aku suka dia ... sekalipun tahu kita bisa ngasih uang cuma-cuma tapi dia ngga mau," lanjutnya dengan riang.
Jen mengembuskan napas dengan keras, sorot matanya berubah sendu. Jen merasa bersalah sekaligus rindu pada Naja yang selalu menemaninya setiap hari.
“Naja masih belum mau kembali sama kamu, Jen?” menyadari perubahan di wajah sahabatnya, Tanna meraih tangan Jen dan menggenggam nya. "aku akan bantu bujuk Naja kembali sama kita Jen. Aku janji ...."
__ADS_1
"Kurasa Naja takut sama Kak Excel Tan, selama ini Kakak tidak pernah ramah padanya ... jadi wajar jika Naja masih enggan kembali ...."
"Tapi apa iya sampai setakut itu? Aku aja udah ngga takut kok, dan udah lupa sama sakit hatiku sama dia ... namanya juga cinta," Tanna menggoyangkan tubuhnya dengan manja.
"Cewek aneh, kalau aku jadi kamu ... pilih cari cowok lain yang lebih baik. Ogah banget ngarep doang tapi ngga dibales perasaanku," cibir Jen. Dan memang benar, Jen tidak suka mengemis apalagi pada makhluk bernama lelaki.
"Aku yakin Excel akan luluh olehku dan bertekuk lutut membalas perasaanku Jen ...," Tanna melempar pandangannya keluar jendela, seakan di sana tergambar Excel membalas cintanya kelak.
"Mimpi saja terus, ngga inget berapa lama kamu menunggu kakak?" sengaja Jen mengeraskan suaranya agar Tanna sadar dan berhenti mengejar Excel. Mustahil Excel mau menerima Tanna setelah kejadian beberapa hari lalu.
"Cinta itu ngga perhitungan Jen ... meski harus menunggu seribu tahun lamanya," ucapan Tanna semakin melantur seiring matanya yang menyipit. Wanita yang benar tergila-gila pada Excel itu seakan tak peduli pada rasa sakit yang telah ditorehkan Excel.
Jen hanya memutar bola matanya malas. "Jadi apa tujuanmu memintaku menemuimu hari ini?"
Terperanjat, Tanna baru ingat tujuan mengajak Jen bertemu kali ini. "Oh itu ... ada salah seorang influencer yang ajak kolaborasi. Tapi ...,"
Tanna menjelaskan secara rinci apa yang saja yang telah influencer tersebut inginkan. Tanpa terlewat satupun, hingga akhirnya Jen setuju dengan rencana orang tersebut.
"Sudah siang Tan ... aku balik ya. Ortu lagi di rumah ngga enak kalau keluar lama-lama. Lagian aku belum puas melepas rindu sama mama," Jen meraih tas dan beranjak dari duduknya.
"Nanti malem aku ke rumahmu ya ... kangen sama Kak Excel mu ...," Tanna tersenyum lebar dengan pupil mata membulat sempurna.
"Terserah ... asal kamu jangan cari masalah sama kakak," Jen mewanti-wanti. Ia sendiri takut jika sampai Excel mengadu yang pada orang tuanya tentang kejadian beberapa hari lalu.
Tanna menjawab dengan jemarinya yang membentuk huruf V.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.