
Excel menyugar rambutnya agar rapi kembali seperti sedia kala. Dengan gerakan samar, ia membenari kemeja yang sempat terbuka kancingnya. Tak sempat memperhatikan keadaan dirinya setelah Naja tampak pucat dan terus saja muntah.
“Sejak kapan mualnya, Mbak?” tanya seorang bidan jaga di puskesmas yang sedang memeriksa Naja menggunakan stetoskop.
“Baru saja, Bu ... kata ibunya seharian ngga makan,” sahut Excel. Ia cemas berbalut kesal, tetapi tak bisa memarahi istrinya yang tergolek tak berdaya. Siapa yang tidak kesal setelah dia memantik dengan begitu panas dan menggebu, tetapi dia tidak memberikan finishing touch yang memuaskan. Oh gosh ....
“Kapan terakhir kali Mbak datang bulan?” bidan muda itu melepaskan stetoskop yang mengait di telinganya. Ia bergantian menatap dua orang yang tampak bingung dengan pertanyaan yang baru saja ia ajukan.
Naja sendiri lupa kapan menstruasi terakhirnya datang sedangkan Excel bingung, apa kena mengena seharian, muntah, tidak makan, dan menstruasi.
“Sepertinya, Mbaknya sedang hamil, Mas ...,” sambung bidan itu memberi simpulan awal pemeriksaannya. “Saya akan memastikannya dengan tes urine dan USG.” Bidan itu mengambil sebuah wadah kecil dan menyerahkannya pada Naja.
“Bantu istrinya ke kamar mandi, Mas ...,” perintahnya pada Excel yang masih syok mendengar ucapan bidan muda itu.
“Saya apa, Bu?” Naja seolah mendapatkan suaranya kembali. Ia tak percaya hingga tanpa sadar dia bangun tergesa-gesa. Tetapi, ada setitik rasa yang perlahan membesar. Naja menahan diri untuk tidak berteriak.
Bidan itu tertawa lirih. “Simpan keterkejutan kalian setelah tes urine dan USG untuk bertemu calon bayi kalian. Ayo, sebaiknya bergegas bila ingin tahu hasilnya.”
Sudah biasa bagi bidan menghadapi berbagai ekspresi bahagia dari pasien yang datang padanya. Tapi dua orang ini menampilkan ekspresi yang berbeda, tidak ada lompatan atau senyum penuh kebahagiaan. Terlampau terkejut hingga tak ada yang mereka ungkapkan selain saling berpandangan dan berusaha memercayai apa yang dialami bukanlah mimpi.
***
Semakin membeku dan tidak percaya, Naja dan Excel menatap layar monitor yang menampilkan gambar bulatan kecil. Saling beradu pandang sejenak lalu kembali menatap layar dengan debar yang mengguyur seluruh tubuh keduanya. Tangan Excel meremas tangan Naja yang berkeringat hebat.
Naja benar-benar lupa kapan terakhir kali menstruasi, ia ragu apa bulan lalu ia masih berhalangan. Kesibukannya mengurus bapak dan bekerja membuat kalender yang seharusnya ia lingkari terlupa begitu saja. Ia terlalu sibuk pacaran dengan suaminya setelah kejadian terakhir di rumah sakit.
“Apa kalian tidak menginginkan bayi ini?” celetuk bidan itu saat apa pun yang ia ucapkan tidak mendapatkan respons seperti pasangan baru menikah pada umumnya.
Pertanyaan yang seperti kilat menyambar telinga, menyadarkan Excel dari keterkejutannya. Berdehem kecil, dia kembali berekspresi biasa. “Kami hanya terkejut, Bu ....”
“Ekspresi kalian membuat saya resah,” sahut bidan itu penuh kelegaan. “Selamat untuk kalian berdua, semua baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Jika kalian ragu mengenai usia kandungannya, kalian bisa ke dokter kandung besok pagi. Bawa hasil pemeriksaan saya kali ini, sebagai rujukan."
Excel menerima testpack dengan dua garis merah yang teramat jelas, buku berwarna pink, selembar kertas foto hasil USG. “Terima kasih, Bu.”
Mereka keluar dari ruang pemeriksaan masih dalam kondisi gemetar dan saling membisu, hanya sesekali mereka mengadu pandang. Tetapi, ketika sampai di halaman puskesmas, Excel meringkus Naja dalam dekapannya, memosisikan tubuh istrinya lebih tinggi darinya.
__ADS_1
“Selamat untukmu, Calon Mommy ...,”senyum Excel bertahan penuh kebahagiaan.
Naja menggembungkan pipi saat bibirnya tak mampu membendung bahagia yang membanjir. Ia membungkuk untuk mengecup suaminya. “Terima kasih, Calon Daddy ... terima kasih juga telah menyempurnakanku.”
Langkah Excel terhenti ketika mereka telah mencapai mobil SUV hitam yang biasa di pakai pak Ahmad mengantar jemput bapak dan ibu Naja ketika melakukan kemoterapi. Mobil yang menjadi saksi mereka saat pertama menikah dan bertengkar di dalamnya. Mengadu pandangan penuh permusuhan dan kebencian, seakan tak mungkin bagi mereka berdamai.
Kini, di mobil yang sama, mereka tengah saling menatap penuh cinta. Bahkan semakin sempurna dengan hadirnya calon buah hati yang melengkapi kebahagiaan keduanya.
“Mommy yang menyempurnakanku. Love you, all of the time, all my life and die ...,” ucap Excel dalam dan penuh rayu. Mendudukkan Naja dalam posisi miring di kursi sebelah kemudi, Excel mengungkung Naja dengan kedua tangannya menekan kursi.
“Love you, Mom ...,” ucap Excel tak lebih dari bisikan.
Naja menggigit bibir, ia menjatuhkan keningnya tepat di kening Excel. “Love you too, Daddy ...,” ucapnya sebelum mengemas bibir suaminya yang tampak basah. Berpagut dalam dan indah. Saling mencurah dan bertukar bahagia.
“Mas ...,” suara seseorang dari arah belakang membuat napas keduanya berhenti. Saling melepas dan salah tingkah.
“Maaf pak, kami suami istri, kok ...,” jelas Excel gugup ketika menghadapi pria yang tampaknya penjaga malam di puskesmas ini.
“Saya ngga nanya, Mas ... saya cuma di suruh Bu Bidan anter jaket ini, katanya milik mbak nya,” ujar bapak itu santai dan tanpa dosa. Ia bahkan berlalu usai menyerahkan jaket berwarna mustard itu ke tangan Excel.
Naja tertawa terbahak-bahak melihat Excel yang masih mematung dan tampak linglung.
“Uuu ... cup-cup, Daddy jangan ngambekan, nanti dedek ikut-ikutan asem kek muka Daddy, loh,” Naja mengusap perutnya memutar, ia mengerling Excel dengan suara mirip anak kecil.
“Ayo pulang, Dad ... apa Daddy ngga pengen nengokin dedek? Daddy ngga kangen dedek?” rayu Naja lagi. Kali ini kedua alis Naja turut campur menggoda Excel. Bahkan usai berucap, Naja menggigit salah satu ujung bibirnya dan mendesis nakal. Sebelah matanya menyipit di buat-buat.
Excel berpaling dengan rasa kesal melihat istrinya yang kurang ajar itu, senyum mengerikan perlahan terbit. Menatap Naja penuh ancaman, Excel mengecam Naja.
“Awas sampai kamu bilang ampun!”
Naja merengut takut. “Uh ... takut Dad!” Naja masih mengekori Excel yang memutari mobil hingga sampai duduk di balik kemudi. Ia masih terkekeh menyebalkan dan membuat Excel kian geram.
"Daddy, dedek mau makan di sana ...," telunjuk Naja mengarah pada sebuah warung tenda pinggir jalan. Aroma pekat jahe yang berpadu dengan susu menusuk penciuman Naja yang tetiba menjadi sensitif.
Excel memelankan laju kuda besinya. Ia memerhatikan angkringan yang dihuni oleh satu atau dua orang pria di dalamnya. Mobil belum berhenti sempurna, tetapi Naja sudah melompat turun. Ia terlihat menyeka dagunya seolah berliur.
__ADS_1
Astaga ....
"Mas, susu jahe dua, ceker bakarnya lima sambelnya yang banyak ...." lalu banyak lagi yang Excel dengar. Hingga tak kurang sepuluh menit kemudian, Naja kembali dengan sekantung penuh makanan.
"Cepetan jalannya, Daddy ... dedek udah laper."
Lagi, suara Naja menirukan suara anak kecil kembali terdengar.
"Iya ... Daddy bakal cepet, ngga sabar pengen nengokin dedek," balas Excel dengan kemenangan bersorak di wajahnya. Telak ia menskak istrinya, hingga Naja seperti menelan utuh onde-onde.
***
Dua belas malam dan terasa panas.
Dua belas malam dan suara penuh nikmat kembali menyeruak.
Dua belas malam dan penuh bahagia. Rindu yang bersua.
"Love you, Moms ...," Excel terus meraih Naja yang berkeringat dengan bibirnya. Lembut dan penuh kasih dia memperlakukan calon mama muda di atasnya.
"Love you, too, Dad ...."
Excel memindahkan Naja di sisinya, "Mommy makin hebat," Kecupan lama kembali mendarat di kening Naja.
"Daddy pinter gombal ...," cibir Naja dengan senyum senang. Keduanya kembali beradu pandang dan tertawa. Lucu saja, orang yang begitu dingin dan kaku tiba-tiba menjadi lembut dan hangat. Juga penuh rayuan.
Dua belas malam dan bahagia ....
Love until the end ....
.
.
.
__ADS_1
.
.