Kekasihku, Asisten Adikku

Kekasihku, Asisten Adikku
Completely Your Fault


__ADS_3

Naja bergerak dalam balutan kain yang begitu hangat. Bola matanya bergerak dalam kelopak mata yang terpejam. Mencoba mengumpulkan ingatan dan tenaga yang berkelana selama ia tidur. Saat ini Naja bahkan tak mampu menggerakkan tangan sekadar menggesernya barang seinci. Lemas dan lelah seperti usai berjalan jauh.


Bayangan Ai membalik tubuhnya terasa nyata dan menorehkan sakit di hati Naja. Dalam gelapnya pandangan, Naja menggigit bibir menahan getir. Ekspresi Ai yang begitu terkejut dan kecewa membuat tangis Naja tak bisa lagi dibendung. Terpejam tetapi tubuh Naja berguncang, bahkan Naja harus membungkam mulut untuk meredam isaknya. Jika saja ingatan Naja belum menyadari bahwa saat lalu dia diperistri seorang pria, Naja pasti sudah berteriak memanggil Ai-nya, tetapi saat ini bahkan dia tak punya muka bertemu Ai kesayangannya. Ya, usai bayang semu yang mengatakan bahwa mereka tidak sejalan, kini Naja menyadari bahwa dia tetap mencintai pria yang sejak SMA di kaguminya.


Naja semakin keras tergugu, kandas sudah cinta pertama yang digadang-gadang sendiri olehnya sebagai kisah cinta pertama yang menjadi nyata. Tetapi, jalan hidup seseorang bukan tergantung pada mitos atau kata segelintir manusia, tetapi pada kejutan Yang Maha Kuasa. Surprise dari-Nya terkadang terasa berat. Meski sudah ditegaskan pula, bahwa setiap kesulitan selalu di sertakan bersamanya jalan kemudahan. Ya, jalan itu mudah, yaitu menerima dengan pasrah.


Entah berapa lama, Naja masih setia dengan tangis dan matanya yang enggan terbuka. Mengabaikan keriut perutnya yang seharian penuh tidak terisi apapun bahkan setetes air. Tubuhnya sudah kenyang, kenyang dengan sakit dan beban hidup.


Kini Naja memutuskan bahwa akan menyudahi kisahnya dengan Ai, tak ingin membuat pria itu mendapat masalah karena mengabaikan Mamanya. Benar kata Linda, dia bukan wanita yang tepat untuk Ai, dan itu terbukti sekarang. Saat Ai berjuang untuknya, saat Ai siap mengkudeta Mamanya, Naja malah melakukan hal sebaliknya. Naja malah meninggalkan Ai dengan sejuta harap padanya.


“Maaf Ai ...,” lirih Naja akhirnya. Tenggorokannya terasa kering sehingga suaranya nyaris tercekat. Perlahan kelopak mata sembab Naja terbuka, selebar mata laron. Menangis terlalu lama membuat kelopak matanya bengkak.


Penampakan pertamanya ketika tubuhnya sejajar dengan headboard ranjang adalah pria yang serta merta dibencinya. Seenaknya menimpakan bencana pada rencana hidup orang lain. Ya, perusak itu tengah tidur dengan nyenyaknya, seolah tidak melakukan kesalahan apa-apa. Naja berdecih dengan bibir atas terangkat.


Naja menurunkan kakinya, menjejak lantai licin berkilat-kilat dengan bertelanjang kaki, meski ada alas kaki yang sudah tersedia di kaki ranjang. Dingin tapi itu seperti aliran es yang mengusir hawa panas mendidih yang menguasai dirinya.


Melukar gelungan rambutnya sendiri yang disemati bunga hidup berwarna ungu. Bunga itu tampak kusut dan patah pada mahkotanya. Mencampak kasar pada tempat sampah yang tersedia, membiarkan rambut cokelat tua sepunggungnya tergerai bebas. Menebarkan lagi poni yang sejak tadi menepi dengan satu gelengan cepat.


Ketika langkahnya tiba di sisi sofa, Naja berhenti sejenak. Menatap pria kaku yang tengah mengarungi mimpi dengan tenangnya, meski sofa itu tampak membuatnya kurang nyaman. Sekali lagi senyuman penuh kritik tersemat di bibir Naja, sebelum kembali mengayunkan langkah ke kamar mandi.


Mendesah dalam lalu mulai ritual mandi yang tak berapa lama pun segera diakhirinya. Menyimpulkan tali pada bathrobe yang telah melapisi tubuhnya, Naja keluar kamar mandi.


Duduk tegak, dengan tampang –menggemaskan– berantakan, Naja mengabaikan pria yang sekilas meliriknya. Berlalu begitu saja lalu mengenyakkan tubuhnya di atas ranjang yang berseberangan dengan sofa.


***


Excel terbangun ketika silau mentari sore menembus kelopak matanya. Tersentak oleh ingatan akan Naja, Excel bergegas bangun. Ranjang sudah sepi dari napas penghuninya.


"Kemana dia?" Excel menajamkan mata, menegakkan cuping telinganya, pikiran pria itu mendadak dikabuti prasangka. -Geragapan-

__ADS_1


"Kabur?" kening Excel berkerut dalam. Lamat-lamat terdengar suara kecipak air dari kamar mandi yang rupanya tidak tertutup sempurna. Pria itu menghempas napas penuh kelegaan saat dipikirnya, wanita yang baru beberapa jam lalu resmi menjadi miliknya itu memilih melarikan diri darinya.


“Dasar ceroboh.” Gerutu Excel seraya bangkit dan merapatkan pintu kamar mandi. Tidak sebelum aroma wangi dan selayang bayangan Naja memantul di ambang mata Excel secara tidak sengaja.


Excel berdecak, pipinya terasa panas, akibat terpapar matahari sore, kilah Excel sambil lalu, kembali mengenyakkan tubuhnya di sofa. Mendengus, lalu meraih ponsel yang tergeletak di bawah sofa. Excel biasa menghabiskan energinya untuk bekerja -meski bukan penggila kerja- sehingga saat tidak melakukan apa-apa, matanya terasa berat dan lelah, raga itu merasakan keselesaan tidur siang yang nyaris tak pernah ia lakukan sebelumnya. Bahkan pekerjaan yang sengaja dia minta dari Rega masih utuh teronggok di inbox surelnya.


Aroma wangi kembali menari-nari di ujung hidung Excel, masuk bersama udara yang terhirup olehnya. Namun, Excel segera membuangnya dengan kasar. Tak mau bau itu merayapi dirinya, menguasai dan meraja.


Namun, rasa penasaran akan keadaan gadis itu, yang berlama-lama di belakangnya, membuat ekor mata Excel bergerak untuk melirik Naja. Gadis itu tengah menatapnya dengan mata penuh, kebencian merambat melalui pancaran mata itu.


Masih terus menatap Naja yang tidak mengacuhkannya, Excel mengikuti gerak dan langkah Naja hingga sampai di tepi ranjang. Entah apa yang dipikirkan wanita itu, selain rasa benci kepadanya. Pria tadi mungkin? Seperti apa hubungan mereka sebelum ini? Excel bahkan belum sekalipun melihat mereka sekadar menghabiskan waktu bersama. Ah tunggu ... memang kapan dia peduli pada Naja?


“Pinjam ponselmu!” seru Naja tanpa melihat ke arah Excel. Setelah berpikir dan menimbang, akhirnya terucap juga kata itu. Ya, Naja tidak mau memakai jubah mandi sepanjang waktunya di sini. Membuatnya tidak nyaman saja.


Excel mengerutkan dahinya. “untuk apa?” tanyanya heran.


“Aku bertanya untuk apa, bukan tidak boleh! Memangnya ponselmu kemana?” Kesal dengan tingkah Naja, Excel pun meninggikan suaranya.


Naja beranjak dan berbalik menghadap Excel, “apa kau sudah lupa? Aku kemari dengan tangan kosong, tentu saja barang-barangku masih di rumah itu!” ekspresi Naja sama sekali tidak ramah dan kesal. Bukannya dia tahu hal itu?


Excel memandang remeh Naja, tubuhnya yang semula tegak kini bersandar dengan santai. “Apa penglihatanmu mulai kabur? Apa kau tidak lihat semua itu apa?” Excel menunjuk ujung sofa dengan dagunya.


“Kenapa tidak bilang, kau kan tahu aku membutuhkannya!” Naja mengentakkan kakinya, merasa dipermainkan oleh Excel.


“Aku baru saja mau memberitahumu, tapi kau sudah marah duluan! Kukira kau akan menggunakan ponsel untuk menghubungi pria yang mengaku kekasihmu itu!” tutur Excel.


“Dia memang kekasihku ...,” Naja berhenti di depan Excel, pandangannya nyalang. Seperti singa yang diusik tidurnya, Naja kembali teringat Ai, ingat lagi sakitnya, “Dan kau membuatku kehilangan dia, selamanya!” ucapnya penuh penekanan.


Excel membeku. Hatinya seperti dicengkeram tangan tak kasat mata, meremas hingga terasa ngilu. Sebesar itukah salahnya? Apalagi melihat Naja yang tampak kembang kempis menepikan tangis yang nyaris mengucur lagi. Rasa bersalah dalam diri Excel menggulung semakin besar. Entah, melihat wanita itu tampak terluka, Excel tiba-tiba merasa buruk dan bodoh.

__ADS_1


Naja meraih barang-barangnya dengan kasar, membawanya ke kamar mandi untuk berpakaian layak. Juga menumpahkan cairan bening yang mulai mendidih dan terasa panas di matanya.


Naja berbusana dengan air mata berurai. Bahkan dia harus berhenti beberapa saat untuk menenangkan hatinya. Menengadah untuk menarik kembali air yang telah mengambil antrean turun. Sakitnya menusuk, dan seakan tidak ada penawarnya. Mungkin akan menganga atau membusuk, hingga mungkin di amputasi.


Tangan Naja terulur, menarik pintu hingga terbuka usai mengeringkan jejak kelemahan yang tertinggal lalu diakhiri dengan hembusan napas perlahan. Berjingkat saat nyaris menubruk tubuh di depannya, tetapi dia segera menormalkan ekspresinya.


“Makanlah ... aku sudah memesankan makanan tadi! Obatmu ada di atas nakas. Baca teliti aturan minumnya, aku juga belum melihatnya tadi.”


Naja mengangkat wajah sembabnya, manik matanya bergerak mencari tahu makna dari ucapan Excel. Selama ini, Naja tidak pernah mendengar Excel banyak bicara sehingga ketika suaranya masih terdengar dingin tapi menyiratkan kepedulian dan kejujuran, Naja merasa Excel sedang menunjukkan dirinya.


Atau mungkin hanya perasaan Naja saja?


Atau sebenarnya begitulah sifat Excel?


Lebih buruk, dia hanya merasa bersalah atas tindakannya?


Naja menyisihkan tubuhnya agar tidak menabrak Excel, berjarak sedekat itu, membuatnya tidak nyaman. Berlalu tanpa merespons ucapan Excel, lalu mendaratkan tubuhnya di sofa. Sementara Excel masih mematung menatap bagian belakang tubuh Naja. Entahlah, Excel membuang pelan napasnya, ini memang salahnya sepenuhnya.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2