
Excel membulatkan matanya penuh, napasnya tertahan karena perut dan sebagian dadanya tertimpa tubuh Naja. Tidak berat, hanya efek saat menimpa itu membuat tubuhnya tertekan.
Tubuh Naja menyilang di pertengahan tubuh Excel, tangannya terulur untuk meraih ponsel yang melayang diudara. “Dapat ...!” serunya ketika ponsel itu mendarat tepat di telapak tangannya. Naja menghembuskan napas lega dan melemaskan tubuhnya yang sempat menegang. Bagaimana pun itu ponsel baru dan ponsel paling mahal yang pernah ia punya. Ia tak akan rela bila sampai sebutir debu menggores permukaan ponselnya.
“Ya ampun kesayangan ... maafkan mami, ya,” Dia menimang dan mengelus-eluskan ponsel itu di pipi. Kakinya yang menjuntai bergerak-gerak gemas. “... uh, ngga lagi deh, mami ceroboh pas pegang kamu.” suara Naja seperti orang yang mau menangis.
“Menjijikkan ...,” batin Excel dengan sebelah bibir terangkat.
“Seneng?” sinis Excel dengan sorot mata menajam, ia semakin kesal setelah Naja hanya mengangguk dan bergumam sebagai jawaban. Tanpa beralih sejengkal pun dari tubuhnya. “Enak?”
Naja membuka matanya saat ia menyadari suara Excel yang tak ramah menusuk telinganya, ia menurunkan pandangannya ke bawah. Mata bulat kecil itu membola kian lebar, “Oh ... sorry ... sorry!” Naja berusaha bangkit dengan menumpukan tangannya, tetapi ketika menyiku, tanpa sengaja sikutnya menyodok rahang Excel yang terluka.
“Astaga ...,” Naja membalik tubuhnya saat Excel mengaduh, alih-alih berdiri, sehingga ia berguling ke bawah dan mendarat di lantai. “Maaf, maaf, Cel ... Ya Tuhan ... ceroboh sekali aku.” Ucap Naja dengan bibir bergetar, panik. Ia segera bangkit dan memeriksa lagi luka itu, ia khawatir jika akan menambah parah lebam di pipi suaminya. Merangkak di atas tubuh Excel, Naja meniupkan napasnya, sesekali ia menggumamkan maaf di sela embusan napasnya.
Excel membeku, ia tak berani menggerakkan tubuhnya saat ini. Entah Naja tidak mengerti atau memang sengaja ia memosisikan tubuhnya seperti ini, Excel tidak tahu. Selain rasa bersalah dan cemas, tak ada ekspresi lain di wajah yang selalu polos itu.
“Sudahlah, aku baik-baik saja ... tidak perlu sampai seperti itu!” Excel yang merasakan sesak, melembutkan suaranya. Terlalu dekat dan intim posisi mereka saat ini. Tentu saja, Excel tak bisa menahan reaksi alami dari sentuhan, apalagi ia pernah merasakan lebih dari itu dengan Naja.
“Mana bisa begitu?” Naja menatap galak Excel yang mengusir tangannya yang sibuk mengompres pipi, “Pasti tambah sakit setelah terkena sikuku?” Ia mengalihkan lagi perhatiannya ke pipi Excel, menempelkan kompres yang sempat ia lepaskan.
Excel menggigit bibir sejenak, ia benar-benar sudah terdesak. “Kalau kau tidak pergi dari tubuhku sekarang, kau akan habis olehku!” ancam Excel. Ia menajamkan matanya, saat Naja menoleh kepadanya.
__ADS_1
Perlahan kepala Naja turun, ia kembali membola. Menahan napas dan dengan lebih perlahan lagi, ia menatap Excel takut. Apalagi sorot mata Excel menerkamnya begitu tajam. Sangat pelan, ia beringsut turun dengan senyum takut menghiasi bibirnya. “Maaf ...,” lirihnya nyaris tak terdengar. Ekor mata Naja sekilas menatap jejak yang ia tinggalkan. Ia semakin takut untuk menatap suaminya yang sama sekali tak menyurutkan sorot matanya yang tajam.
"Astaga ... itu mengerikan sekali." batin Naja menggigit bibir, matanya memejam rapat, ia bergidik ngeri. Bayangan semalam kembali terngiang di benaknya. Ugh.
“Kau pikir tubuhku matras? Lagi pula, jelas bukan kalau ponselmu akan jatuh di sofa ... pakai di kejar segala!” sungut Excel.
“Ya ... namanya juga jatuh, kalau memantul bagaimana? Jatuh ke lantai, bagaimana? Kan sayang masih baru sudah rusak.” Lirih Naja masih sungkan membalas tatapan suaminya itu.
“Makanya hati-hati kalau jalan ... lihat kemana kakimu melangkah bukan asyik melihat hape saja!” sembur Excel. Pria itu meringis saat ia berbicara terlalu banyak. Apalagi panas tubuhnya belum juga mau turun. Ahh ... Excel mendesah perlahan.
“Maaf ...,” lirih Naja lagi. “Aku-aku ...,” menggigit bibir karena ia tak tahu mana yang ingin ia mintakan maaf terlebih dahulu. Apa karena menjatuhkan tubuh di atas tubuh suaminya itu, atau menyodok rahangnya yang luka, atau karena ....
Mereka masih larut dalam keheningan saat samar-samar terdengar suara ribut dari luar rumah. Kepala dua manusia itu serempak menoleh ke luar rumah. Bahkan mereka bangkit dari sofa bersamaan menuju teras rumah.
Ai tampak datar membalas kegusaran mamanya, ia bahkan menatap sinis wanita yang telah melahirkannya itu. “Atur saja lamaran sesuka hati mama, dan aku hanya memastikan bahwa aku tidak akan mendatangi lamaran mana pun.”
“Kau kurang ajar ...,” tangan Linda dengan cepat dan keras mendarat di pipi Ai, hingga pria itu terpaling wajahnya. “Kau anak tidak tahu diuntung, mama hanya ingin kamu bahagia dengan wanita yang baik dan terhormat, Lendra ... tapi kenapa kau masih mengeraskan hatimu. Apa kamu tidak bisa menjaga nama baik mama didepan keluarga Sheila, Nak." Linda menatap putranya penuh kecewa.
Keluarga Sheila masih berkerabat dengan bupati yang masih menjabat saat ini. Selain terpandang, keluarga Sheila juga masih keturunan ningrat. Patut jika Linda merasa tak berdaya jika sampai membuat mereka membatalkan rencana pernikahan mereka. Ya ... keluarga Sheila memang memandang Syailendra adalah pria yang tepat untuk menjadi menantu. Syailendra memenuhi syarat bibit, bebet, dan bobot yang keluarga Sheila inginkan.
Ai menatap mamanya tajam, tetapi air muka pria itu tenang, tampak sekali ia telah mencapai titik lelah dalam hidupnya.
__ADS_1
“Mama malu atau tidak, aku tidak peduli ... apa tidak cukup selama ini aku membuat mama bangga? Apa semua piala dan prestasiku yang mama pajang itu dan apa aku yang sudah seperti an jing piaraan mama itu belum cukup? Aku manusia Ma, aku berhak menentukan jalan hidupku ... aku bukan robot yang seenaknya mama gerakkan untuk mengikuti mau Mama!”
“Kenapa kau jadi seperti ini, ha? Kenapa? Mama memang bangga dengan apa yang telah kamu capai, Nak ... tak ada yang tidak mama banggakan dari kamu. Tetapi, mama hanya mau satu hal lagi saja padamu, Nak ...,” Linda meluruhkan ucapan dan amarahnya, mendekat dan mengusap pipi putranya. Rasa bersalah tak pelak menghiasi wajah wanita berumur itu. Baru kali ini ia mengasari anak semata wayangnya ini.
“... menikahlah dengan Sheila, dia satu-satunya wanita yang pantas menjadi mantu mama, lupakan masa lalumu, cintai Sheila, dia lebih pantas mendapatkan cintamu dari pada mantan kekasihmu itu.”
Keduanya mengadu pandangan cukup lama, “Hanya Naja yang akan aku cintai, Ma ... tidak ada Sheila atau wanita lain. Sampai kapan pun, dan sekeras apa pun mama berusaha mencarikan gantinya, aku tidak akan pernah mengubah apa yang telah aku putuskan!” Tegas Ai dengan wajah kian menegang. Lantas ia membalik tubuhnya, melangkah menjauhi mamanya.
Linda merapatkan giginya, “Baik kalau begitu, mama tidak punya pilihan selain memaksamu ... Mama juga tidak akan memberikan restu untukmu dan Naja sampai mama mati sekalipun!” bibir Linda bergetar, ia benar-benar tidak tahu bagaimana melunakkan hati anaknya itu. Ia bahkan tidak mengerti jalan pikiran putranya. Mencintai wanita biasa begitu hebatnya.
Menghentikan langkahnya, Ai menolehkan wajahnya sejenak, "Restu Mama tidak diperlukan lagi, karena aku tidak butuh restu ... aku hanya perlu mencintai dia sepenuh hatiku ... dan mama lakukan apa pun sesuka hati mama, aku tidak peduli.”
Usai berkata begitu, Ai berlalu pergi meninggalkan Linda yang masih mematung di depan pintu. Tangan wanita itu mengepal, bibirnya merapat dalam. Entah apa yang direncanakan wanita itu selanjutnya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Gimana-gimana? masih gaje? kesel sama BuLin? yok tabok yok😂😂