
Sibuk, itulah yang menggambarkan situasi kedua manusia yang sedang dipenuhi madu dalam biduk rumah tangganya. Tetapi, mereka tidak diberi kesempatan untuk memadu kasih, meski hanya sekadar saling memagut. Excel selalu pulang malam selama beberapa hari terakhir. Tristan kini makin gencar menyerangnya, membuat kondisi WD secara keseluruhan berguncang dan tidak stabil. Sering Excel mendapati istrinya tidur di sofa ruang tengah, menunggu kedatangannya. Atau mungkin menunggu kasih sayang kembali mencurahinya.
Naja yang juga sibuk dengan urusan pekerjaannya, tak kalah lelah dan nyaris kehilangan waktu untuk memperhatikan suaminya. Butik Sam&Sam kebanjiran orderan gaun dan setelan. Akhir bulan ini, sebuah acara ala crazy rich akan dihelat, sehingga tak heran bila kaum borjuis rela menghabiskan uang mereka hanya untuk penampilan terbaik mereka.
“Sederhana sekali kelihatannya?” celetuk Sam saat Naja sibuk menyematkan jarum pada manekin yang berlapis kain polos dan tampak lembut itu. Sam duduk diatas meja dengan sebelah kaki masih menyentuh lantai.
Jam makan siang yang seharusnya digunakan untuk memulihkan tenaga dan beristirahat tetapi Naja malah menggunakannya untuk menyelesaikan baju buatannya
Naja menolehkan kepalanya sejenak, sebelum kembali sibuk dengan calon bajunya itu. “Benarkah? Kalau terlalu ramai dan mencolok aku takut kalau malah membuat Excel malu,” senyum Naja mengembang, berusaha meyakinkan dirinya kalau Excel akan menyukai apa pun yang ia kenakan nanti. Lagipula, ia tak punya waktu untuk membahas hal ini. Wajah Naja kembali murung mengingat hari-hari terakhir ini, ia terlalu sepi saat Excel sibuk bekerja.
“Dia sibuk akhir-akhir ini ...,” Sam mengalihkan perhatiannya dari Naja ke sembarang arah. Kosong. “Benar ‘kan?” menunduk sejenak lalu memalingkan wajahnya ke arah Naja dengan senyum penghiburan. Ia tahu Naja seperti ini sejak masalah kembali datang di perusahaan sahabatnya tersebut. Ia tahu Naja hanya mencari pelampiasan saja.
Tangan Naja turun perlahan, ia menusukkan lagi jarum yang sedianya akan disematkan pada helaian kain di bahu manekin, pada bantalan yang melingkar di pergelangan tangannya. Memutar tubuhnya untuk menjumpai Sam. “Apa sampai separah itu, Tristan mengacau? Sebenarnya apa sih, masalahnya, Mas?”
Sam menghela napas seraya menegakkan tubuhnya. “Karena kamu menolak menjadi model Tristan.”
Terpaksa Sam mengatakan hal ini kepada Naja meski Excel melarangnya memberitahukan hal tersebut. Sam pikir, jika Naja tahu yang sebenarnya, mungkin ia bisa melakukan sesuatu untuk melunakkan Tristan, mengingat obsesi pria itu pada istri sahabatnya ini.
Naja membuang napasnya ke udara, hingga menimbulkan suara mendesah yang keras, “Jadi ini karena aku? Aku yang membuat semua jadi kacau?”
“Bu-bukan, juga ...,” Sam sedikit bingung saat mata wanita itu berkaca-kaca. “... ya, memang karena masalah itu, tapi ini juga karena keegoisan Tristan, Na ... jangan salahkan dirimu sendiri,” serba salah, mungkin ini yang membuat Excel memilih menyelesaikan masalahnya tanpa melibatkan Naja.
“Kau baik-baik saja?” Sam panik saat Naja hanya diam dengan menyikukan tangannya di pinggangnya yang ramping, bibir wanita itu tergigit miris. Tatapannya menyiratkan kalau ia sedang memikirkan sesuatu.
“Yah ... aku rasa aku harus menemui si Tristan itu ...,” Naja melepas semua peranti jahit yang melekat di tubuhnya, meraih tas dan menyandangnya sembarangan. Lihat saja bagaimana aku mengacaukan pria itu jika masih kekeh tidak mau menyudahi tindakan kekanakan itu, batin Naja. Ia tak mengacuhkan apapun yang diteriakkan Sam kepadanya, Naja terus melaju menuju halaman.
Naja setengah berlari melintasi halaman yang dipenuhi lalu lalang pelanggan butik ini.
Brugh ....
Tubuh Naja menabrak dua orang wanita yang sepertinya akan menuju tempat parkir. Sedikit terhuyung tetapi Naja masih bisa menguasai diri, sehingga ia bisa kembali tegak. “Maaf ... maaf, Nona ...,” Naja membungkukkan badannya sedikit untuk meminta maaf pada dua wanita yang sibuk mengusap tubuhnya yang tertabrak Naja.
“Tanna ... Mbak Mikha?” beo Naja dengan mata membulat sempurna, ia merentangkan senyum saat melihat dua orang wanita yang dekat dengannya dulu. Ia begitu gembira hingga membentangkan tangannya untuk meraih Tanna dalam rangkulannya.
Tanna terkesiap sejenak, tetapi ia segera menyambut sahabatnya itu dalam pelukan, “Sedang apa kamu di sini? Kamu apa kabar?” riang khas Tanna membelah halaman yang terik.
“Aku baik ...,” Naja melepas pelukannya, ia memindai sahabatnya yang kian cantik hari ke hari. “... kamu sendiri?”
“Seperti yang kau lihat ... aku merasa luar biasa baik, Na ... kamu beli baju di sini? Di suruh Jen?” Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling halaman, “mana dia?”
“Aku kerja di sini, Tan ...,” Naja mengalihkan tatapannya pada Mikha yang menyedekapkan tangannya di dada. Wanita itu tampak sinis dan malas untuk menyapa Naja.
“Apa kabar, Mbak Mikha ...,” Naja mengulurkan tangannya. Namun, hingga beberapa saat lamanya tangan Naja tidak mendapat sambutan.
“Kalian saling kenal?” Tanna menatap dua orang itu bergantian. “Wah ... bagus dong ... kita tambah anggota.”
Naja menarik bibirnya ke dalam, jemarinya saling meremas dan mundur. “Tan ... aku—“
“Maaf, Na ... tapi aku harus pergi ... aku masih ada urusan lain, kapan-kapan kita hangout bareng-bareng, ya ...!” Tanna meraih Naja dalam pelukannya lagi, dan tanpa menunggu jawaban Naja, ia segera berlalu dari sana. Meninggalkan Naja yang masih melambai tanpa balasan dari Tanna.
__ADS_1
“Syukur kalau Tanna tidak menaruh dendam padaku.” Naja menghembuskan napas lega. Menengadah sejenak seolah protes pada matahari yang gencar menyengat kulitnya, Naja segera berlalu untuk menuju kantor Tristan.
***
Langkah Naja terayun pasti, ia menuju resepsionis untuk menanyakan keberadaan Tristan, tetapi meski Naja pernah bekerja di sini, ia tidak diperlakukan berbeda. Tanpa adanya janji bertemu yang telah di sepakati, Naja tidak bisa menemui Tristan. Bahkan hingga satu jam penuh Naja menunggu, Tristan tak juga menunjukkan batang hidungnya atau membiarkan Naja menemuinya.
“Mbak ... tolong beritahu Tuan Tristan, kalau Naja mencarinya, ya ...,” putus asa, Naja hanya bisa melakukan itu. Pun pada Lisa yang ia hubungi melalui pesan, Naja memintakan hal yang sama. Lisa sedang libur saat ini, sehingga ia tak bisa meminta bantuannya sekarang.
Langkah Naja terayun gontai kala meninggalkan kantor megah milik Tristan. “Apa aku harus menguntit dia agar bisa bertemu ...,” Naja memutar tubuhnya menghadapi kantor Tristan, ia menengadah, menatap gedung megah itu hingga ke puncak. Seolah ia bisa melihat dimana Tristan berada. Napasnya terbuang kasar, ia tak menyangka dirinya menjadi biang renggangnya hubungan Tristan dan keluarga suaminya.
“Sedang apa kau di sini?” suara membekukan menusuk telinga Naja, dengan menahan napas, ia memutar tubuhnya.
“Excel? Kau ... kau kenapa di sini?” gugup Naja sambil mengerjapkan matanya.
Excel berdecak, “disini panas sekali ... dan kau baru sembuh ... ayo, aku antar pulang!” Excel meraih pergelangan tangan istrinya yang langsung menahan tubuhnya.
“Aku harus kembali ke tempat Mas Sam, Cel ... aku tidak mau pulang, pekerjaanku belum selesai,” nada sumbang Naja membuat Excel menolehkan kepalanya.
“Kemana saja asal jangan di sini ...,” tegas Excel sembari merengkuh Naja dalam dekapan tubuhnya. “Kalau ngga nurut bakal ku gendong lagi!” ancam Excel yang langsung membuat Naja menurut dan melemaskan tubuhnya. Pasrah.
“Sudah makan?” Naja menggelengkan kepalanya.
“Apa saja yang kau kerjakan sampai lupa makan?” omel Excel sambil membukakan pintu mobil untuk Naja, mendudukkan tubuh istrinya tersebut dan memasangkan seatbelt, tak lupa ia mengusap rambut istrinya itu. “kamu harus makan dulu.” Sambungnya ambigu.
Naja membeku, ia bahkan kesusahan menelan salivanya. Sikap manis suaminya membuatnya kembali dipenuhi bunga, hingga ia tak bisa berkata-kata. Sejak melihat pertengkaran Ai dan Linda, Excel memang lebih perhatian dan lembut padanya. Tidak ada lagi kata kasar yang keluar, meski masih sering terkesan datar dan dingin, tetapi Naja merasakan bahwa Excel peduli padanya. Bisakah aku mengartikan ini sebagai awal hubungan baik kami? Atau ia hanya kasihan karena aku tidak diharapkan oleh orang lain dan dia yang memungutku? Naja menghembuskan napasnya, ia tak mau berpikir jauh. Biarkan waktu yang menjawabnya. Cukup apa yang Excel berikan saat ini padanya, cukup dengan perhatian kecil yang membuatnya bahagia.
"Ya Tuhan ... aku berdaun-daun meski hanya bergandengan begini." sorot mata Naja luruh dan sayu, ia merasa haru. Seperti sebuah pengakuan, seperti layaknya pasangan.
"Kau kenapa?" tanya Excel saat mereka telah tiba di sebuah meja kosong. Ia heran melihat Naja seperti orang yang menderita kelaparan akut.
Terkesiap, Naja segera meluruhkan ekspresi kasmaran yang memenuhi wajahnya. Ia tertawa, hanya tertawa. Tawa yang tidak jelas. "Hehe ... aku ... anu ...," Naja menggaruk kepalanya. Ia menatap Excel malu-malu. "Kita seperti orang pacaran ...," lirih Naja nyaris tak terdengar.
Excel menaikkan alisnya, bahkan kepalanya sampai miring. Tak mengerti maksud ucapan istrinya itu.
"Hehe ... iya," Naja menaikkan tautan tangan mereka di depan Excel. "orang yang pacaran 'kan gandengan tangan."
Excel menghembuskan napasnya, ia tak bisa berkata-kata menghadapi istrinya yang tampak kekanak-kanakan. "Apa saja yang orang pacaran lakukan?" Excel mengarahkan Naja duduk. Sebenarnya ia penasaran apa yang dilakukan orang yang pacaran. Karena ia tak pernah melakukan itu saat ia masih seusia Naja.
"Kau tidak tahu?" Naja yang sudah duduk, menumpu dagunya, menatap suaminya heran. Bibirnya bahkan meliuk ngeri saat Excel menggelengkan kepalanya.
"Kau pasti makhluk asing jika tak pernah pacaran!" tuding Naja.
"Beritahu saja ... jangan mengataiku yang tidak-tidak!" Excel sibuk membolak balik lembaran kertas pada buku menu.
Naja meluruhkan napasnya, "Orang pacaran melakukan banyak hal ... jalan-jalan, seru-seruan berdua, telpon-telponan, ke arena permainan, nonton, malam mingguan, dan banyak lagi." Naja menengadah dengan mata berbinar bahagia saat mengucapkan itu. Setidaknya itu yang ia lakukan saat bersama Ai dulu.
"Hanya itu?" Excel menyerahkan buku menu dan memberitahukan pesanannya pada pelayan resto yang tersenyum mendengar percakapan pelanggannya.
"Ya ... memangnya mau apa lagi? Bukankah pacaran memang begitu?" Mata Naja menyipit tajam.
__ADS_1
"Tidak pegangan tangan? Ciuman?" Excel mendekatkan tubuhnya dan merendahkan suaranya.
Mata Naja membulat sempurna, perlahan ia merasa wajahnya terbakar melihat ekspresi Excel yang tiba-tiba penuh minat padanya. "Mana ada yang seperti itu?" Naja menjauhkan tubuhnya.
"Kau dan Ai tidak pernah ciuman?" cibir Excel. Air muka pria itu tampak sekali meremehkan. Ciuman saja tidak pernah, cibir Excel melalui sorot matanya.
"Tentu saja pernah!" seru Naja tidak terima. Namun detik selanjutnya ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ekspresi suaminya benar-benar menyebalkan.
"Maksudku ... hanya mencium pipi saja, pas ulang tahunku atau ulang tahun dia ... bukan ciuman seperti yang kita lakukan!" Naja mengedipkan matanya. Ia semakin kesal saat menyadari ia kehilangan kendali atas mulut dan ucapannya. Apalagi suaminya yang menatapnya dengan sebelah bibir terangkat.
"Ya Tuhan ... ingin sekali kulempar pakai bunga sekalian sama potnya!" geram Naja dalam hati. Ia mengepalkan tangannya dan mengadu giginya dengan kuat.
"Kalian pacaran berapa lama?" tanya Excel datar. Setelah makanan yang dipesannya datang.
"Lima tahun ...," Jawab Naja sembari menjejalkan sepotong sushi kedalam mulutnya hingga mulut itu terasa penuh. "Kenapa?"
"Tidak ada ... habiskan saja makananmu dan kita pulang!" seru Excel tampak tak sabar untuk menyelesaikan makan siangnya. Batinnya berhitung.
***
"Cel ... kenapa kita pulang? Aku 'kan masih harus menyelesaikan pekerjaanku!" demo Naja saat Excel tidak mengantarkan Naja kembali ke rumah mode Sam. Bibir Naja mengerucut, ia meninggalkan bajunya begitu saja tanpa merapikan atau menyimpannya terlebih dahulu tadi. Tetapi Excel hanya membisu, manik matanya tajam membelah jalanan. Hingga sampai di rumah, Excel baru memperhatikan istrinya tersebut.
"Berapa lama kau dan Ai pacaran?" Tanya Excel serta merta. Ia menempatkan Naja dalam fokusnya saat pintu depan telah ia tutup rapat.
"Lima tahun ... 'kan aku sudah bilang tadi." Naja merengut kesal.
"Berapa kali dia menciummu?"
"Mana aku ingat ... 'kan itu sudah lama sekali," kesal karena merasa suaminya menanyakan hal yang tidak penting.
"Dimana dia menciummu?" Excel meraih dagu Naja. "Di sini?" Excel menyergap bibir istrinya itu sebelum sempat Naja menjawab.
Bahkan tanpa jeda, Excel mendorong istrinya hingga ke sofa, mendesak hingga Naja tak bisa berbuat apa-apa.
"Lima tahun akan aku hapus dalam satu hari, agar kau semakin lupa apa saja yang kau lakukan dengannya!" Sorot mata Excel sangat tajam menatap istrinya yang sudah tak utuh lagi. Berantakan. Lantas ia menerkam lebih ganas istrinya itu, hingga hanya desahan napas saja yang memenuhi ruang sepi ini.
Tidak akan kubiarkan kau ingat lagi masa lalumu, karena hanya akan ada masa depan. Masa depan kita yang baru. Maaf, Aku egois ingin memilikimu ... seorang diri.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1