Kekasihku, Asisten Adikku

Kekasihku, Asisten Adikku
Another Side of Mikha


__ADS_3

Subuh masih basah. Ayam bahkan belum riuh berkokok. Ringtones yang berasal dari ponsel Naja membelah pagi yang sunyi. Tubuh Naja seakan mengambang, berputar-putar meski matanya masih terpejam.


“Ahh ...,” jemari Naja refleks memijit pelipis yang terasa berdenyut-denyut. Pening, bahkan dia merasa mual.


Ekor mata Naja lamat-lamat melihat jam yang bertengger di dinding. Empat pagi, artinya dia baru mengistirahatkan matanya selama dua jam saja. Tangan kanannya meraba-raba ponsel yang belum terputus dari kabel charger.


“Ya ...,” suara Naja terdengar parau sehingga dia berdehem, melegakan kerongkongan yang terasa kering.


“Ja ... bapak kangen kamu ... bisakah kau pulang?” suara sendu Tara membuat Naja membuka matanya sempurna. Peningnya hilang, kantuknya pun pergi berlarian entah ke mana.


“Apa bapak sakit lagi, Ra?” Tanya Naja setelah memastikan bahwa Tara yang menelponnya.


“Bukan begitu, Ja. Jadi bapak sekarang melakukan pemeriksaan lanjutan di Rumah Sakit Besar kota J, agar jelas penyakitnya apa.”


Naja menggigit bibir, otaknya berputar mencerna ucapan Tara. “Akan kuusahakan Ra, semoga aku dapet izin dari Pak Ibram.”


“Naik kereta saja, biar lebih cepat.”


“Iya ... akan aku usahakan dulu,”


Naja beranjak dari tempat tidur menuju lemari, mengeluarkan tas gendong berukuran sedang dan memasukkan beberapa potong baju. Berusaha mengusir pikiran buruk yang menguasai pikirannya dengan mengembuskan napas dengan keras melalui mulutnya, Naja segera membersihkan diri dan bersiap bekerja.


**


Jam makan siang hampir usai, tetapi Naja belum juga memiliki keberanian menemui Ibram. Pria kaku itu tampaknya sedang menghadapi masalah pelik, sehingga sejak pagi wajahnya sama sekali tidak melunak sedetik pun.


Embusan napas entah yang ke berapa puluh kali terbuang dari mulut Naja setelah menggembung di pipi. Menaruh tatapan hampa pada dua rekan yang sedang menekuri ponsel, berseberangan dengannya.


“Na ... bantu gue bersihin ruangan bos sekarang.” Titah Lisa salah seorang rekan kerja Naja yang bertubuh tinggi besar mengagetkan Naja.


“I-iya Mbak ...,” Naja bangkit dari kursi tinggi yang tersedia di pantri. Berjalan gontai mendekati Lisa yang menatapnya heran.

__ADS_1


“Lo kenapa?”


Naja menggeleng hingga poninya bergoyang. “Ngga apa-apa, Mbak. Ayo nanti Pak Bos keburu dateng.”


Naja menyambar perlengkapan kebersihan yang dibawa Lisa dan berjalan mendahuluinya.


“Lo kalo ada masalah, bilang! Siapa tahu bisa bantu ...,” cetus Lisa tanpa disangka oleh Naja, sehingga Naja memutar kepalanya menghadap Lisa yang berada di belakangnya. Wanita bertampang tegas cenderung galak itu selama ini sulit didekati, tetapi kali ini dia malah bersikap ramah pada Naja. Sejenak Naja tampak ragu tetapi Lisa meyakinkan.


“Bisa ngga Mbak, aku minta izin buat pulang kampung?” tanya Naja ragu-ragu, bahkan kini Naja menenggelamkan wajahnya.


Lisa mengeryit, “itu menurut lo masalah?” tanya Lisa heran. Pikirnya, Naja adalah orang yang menganggap semua hal adalah masalah serius.


Terlebih setelah Naja mengangguk, Lisa malah menggelengkan kepala. “Lo mungkin mikir karena baru sebulan kerja terus belum boleh libur, gitu?” menerka apa yang ditakutkan wanita bertubuh kecil di depannya ini.


“Iya Mbak,” Naja mengangguk tanpa mengubah sikap berdirinya.


“Lo tenang aja, nanti gue yang bilang ke Pak Ibram. Alasan lo pulang apa?” Lisa merengkuh bahu Naja sehingga mereka kini berjalan bersamaan.


“Bapak sakit Mbak.”


“Ngga lah Mbak,” sanggahan Naja tertelan oleh suara lift yang telah sampai di depan mereka. Keduanya segera masuk dan membiarkan lift itu membawa tubuh mereka ke lantai atas tempat ruang kerja Direktur utama perusahaan ini berada.


***


Manik mata Naja membola saat melihat ruangan artistik ini berubah menjadi medan perang. Pecahan benda kaca, guci, kertas berhamburan dan meja terguling.


“Ada apa sebenarnya ini Mbak?” Rasa penasaran Naja meluncur dari bibir berwarna pink alami itu.


“Kata Maureen, Tuan Tristan bertengkar dengan tunangannya.” Jawab Lisa singkat. Tangan wanita itu mulai bekerja dengan cepat dan lincah, sehingga mau tak mau Naja juga segera menyambar serpihan beling dengan tangan kosong.


“Mbak Mikha maksudnya?”

__ADS_1


Lisa menghentikan pekerjaannya dan menoleh. “Kok kamu tahu?” kening Lisa berkerut dalam.


“Tahulah Mbak, orang yang masukin aku ke sini juga Mbak Mikha.” Jawab Naja. Tangannya tetap asyik memunguti beling berukuran besar.


“Pakai ini, Na ...,” Lisa melemparkan sarung tangan bersih ke arah Naja. “Jangan sampai kau terluka saat memegang beling-beling itu. Bisa-bisa kita malah kerja lebih keras lagi.”


Tristan adalah pria yang terobsesi dengan kesempurnaan dan kebersihan. Jadi tidak heran jika dia memilih pergi setelah mengacaukan ruangannya sendiri. Tentu, bukan hal kecil yang menyebabkan Tristan membuyarkan benda-benda yang dipoles hingga mengkilap setiap harinya. Bahkan sebutir debu saja, jika bisa tidak diizinkan melayang di ruangan ini.


“Maaf Mbak, aku lupa ...,” Naja nyengir lebar. Ingin Naja bertanya lagi tentang masalah apa yang menyebabkan pasangan yang sudah bertunangan itu bertengkar hebat, tetapi Lisa sudah setengah jalan menuju kamar mandi. Lisa tampak teliti memperhatikan detail kerusakan di setiap sudut ruangan yang tidaklah sempit ini. Kamar mandi adalah hal yang sangat penting untuk diperhatikan paling awal. Jangan sampai ada setetes darah di sana.


Setelah memakai sarung tangan, Naja kembali bekerja. Memunguti serpihan dan kertas yang berhambur memenuhi kolong meja. Sebagian besar masih utuh, tetapi tak sedikit juga yang sudah kusut dan robek.


Sejenak mata Naja membola, mengawasi lekat-lekat selembar kertas yang sudah terbelah. Jantung Naja berpacu begitu hebatnya. “Mbak Mikha ...,” desis Naja.


Masih tidak memercayai penglihatannya, Naja membuyarkan kertas yang sudah susah payah dikumpulkannya, mencari belahan lain kertas itu. “Ketemu ...,” gemetaran Naja menyatukan kedua kertas itu. Naja mendesakkan tubuhnya ke lantai, begitu membaca nama si pemilik kertas dan apa yang tertera di dalamnya.


“Na, ngapain lo ngesot di situ? Ada serbuk berlian tumpah? Sampai segitunya ...?”


Naja terperangah, “Em ... itu Mbak, aku lelah berjongkok, jadi aku duduk! Lagi pula banyak kertas dan beling di sana.” Kilah Naja sambil melipat kertas terbelah itu lalu memasukkan ke dalam sakunya pelan dan samar. Masih dengan kondisi tubuh yang terserang tremor.


Lisa mengerutkan bibir, dia tak terlalu peduli akan hal-hal remeh yang tidak terlalu mengganggu pekerjaannya, sehingga dia kembali bekerja sebelum jam makan siang habis.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2