
Wajah Excel menegang dan sorot matanya menajam, layaknya pedang usai diasah saat
mereka bertiga telah berada di dalam kabin mobil yang dikendarai oleh Ai.
Suasana kursi belakang juga tak kalah menyeramkan dengan ekspresi Excel.
Tatapan yang sama sekali tak bisa diartikan terpancar di sana. Hening menyelimuti, tak ada yang berani membelah ketegangan meski hanya sebuah helaan napas.
Melihat ekspresi suaminya itu, Naja hanya menelan ludah dengan pasrah, membiarkan apa saja yang akan dilakukan Excel, nantinya. Meski bukan salahnya sepenuhnya,
tapi ia merasa perlu belajar untuk berpikir panjang ke depannya. Ia sangat
sadar, kalau dirinya sangat ceroboh dan mudah panik. Berpikir berlebihan pada
suatu hal yang sebenarnya hanya ada dalam pikirannya saja. Jangankan Excel ...
Tara yang telah hidup lama bersamanya saja selalu dibuat geregetan dengan
sifat kakak perempuannya itu. Mungkin ia terlalu lama masa bodoh dengan
sifatnya yang tidak disukai orang lain itu. Tangan Naja terkepal di atas paha,
seiring tekat untuk berubah kian membola.
Dari rear-view mirror, Ai memperhatikan tingkah kedua orang itu. Ai menyadari satu
hal, bahwa Naja tidak dibahagiakan oleh pria itu. Setidaknya hari ini menunjukkan satu hal yang membuatnya ingin tetap memupuk perasaannya pada Naja.
Mobil Ai tenang membelah jalanan malam yang begitu lengang dan meski geliat ibukota
tak pernah berhenti. Hingga sampai di halaman rumah Excel, Ai baru menghentikan
laju mobilnya.
“Terimakasih atas pertolonganmu, Ai ... jika tidak ada kamu entah bagaimana aku bisa ke sana dan membayar tagihan klinik itu.” Naja menundukkan kepalanya sedikit sebagai
bukti bahwa ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Senyumnya terkembang
sempurna, menutupi rasa sungkan Naja yang sungguh besar, setelah perlakuan kasarnya pada Ai, kini ia malah meminta bantuan Ai, merepotkan Ai. sungguh Naja tidak enak hati.
“Aku bahkan rela menukar seluruh hidupku untuk melihat senyummu itu untukku, Na
...,” gumam Ai dalam hati seraya mengembangkan senyumnya.
“Jangan begitu, aku hanya tidak mau melihat kau bersedih, Na ....”
Senyum Naja perlahan surut, tetapi tak padam seluruhnya, “beri aku nomor rekeningmu, Ai ... aku akan menggantinya.”
“Tidak usah ... cukup traktir aku makan mi ayam langganan kita di dekat sekolahmu dulu ...,” Ai mengarahkan manik matanya ke arah Excel yang masih berdiri dengan angkuh dan menatap awas. “... jika kau punya waktu,” sambung Ai sedikit mencondongkan tubuh dan merendahkan suaranya.
Naja mengedipkan matanya, mengusir rasa tidak nyaman yang terasa melingkupinya, “Tidak bisa, Ai ... kantin itu sudah tutup sejak pemilik aslinya meninggal. Berikan nomor rekeningmu atau aku akan menggantinya tunai!” ancam Naja. Tetapi justru Ai tertawa geli mendengarnya.
__ADS_1
“Baiklah ... aku tahu kau banyak uang sekarang, so, ya ...," Ai menaikkan bahu, bibir
bawahnya mencibir. “... aku tunggu besok.” Senyum Ai terukir jelas di sudut bibirnya, ibu jarinya menunjuk rumah miliknya.
Naja tertawa lirih, “Baiklah ... aku masuk dulu ... sekali lagi makasih ya, Ai.” ia menundukkan kepalanya sekali lagi. Naja memang selalu begitu, ia selalu berpikir terima kasih saja tidak cukup untuk membalas kebaikan orang lain.
Langkah Naja terayun menjauhi mobil dan Ai, ia kembali menyurutkan senyumnya saat menjumpai wajah suaminya yang begitu menyeramkan.
Tangan Excel yang sejak tadi tersilang di dada, seakan ikut mengawasi interaksi istri dan mantannya itu, menarik tangan Naja dan menyusupkan jemarinya di antara jemari Naja. Ucapan datar namun terdengar sangat penuh perhatian kembali diucapkan untuknya. “Ayo masuk ... aku sudah merindukanmu ...,”
Naja mengangguk pasrah, bayangan akan amarah yang ditimpakan Excel padanya muncul tanpa bisa dicegah. Tak adakah dispensasi khusus untuk malam ini? napas Naja terhembus perlahan. Rasanya ia tak punya tenaga untuk menghadapi sisa malam
yang di penuhi teror.
“Na ...,” binar di mata Naja merangkak naik saat matanya membulat penuh, harapan ia
bisa selamat dari suaminya mulai tumbuh, sehingga dengan kecepatan maksimal ia
menolehkan kepalanya ke arah Ai yang masih terpaku di tempatnya tadi.
Ai semakin senang melihat reaksi Naja, tetapi sekali lagi ia juga mendapati
tatapan setajam samurai ninja terarah padanya. Tatapan yang selalu membuat dirinya merasa kalah dan kesempatan untuk memiliki Naja semakin rapuh.
“Ponselmu ...,” tangan Ai mengulurkan benda pipih itu ke depan, sedikit menggoyangkannya, “... tadi terjatuh—“
“Oh ...,” Naja mengayunkan kakinya dengan cepat, tetapi tautan tangan yang belum
terlepas, memenjarakan gerak tubuh Naja. Ia menoleh ke arah suaminya, yang lebih mengerikan dari sebelumnya.
membuat tubuh Naja meremang. Sumpah demi apapun, ia rela menukar seluruh hari
yang indah di masa lalu, dengan satu langkah saja menghindari efek bahaya dari ucapan itu.
Tatapan dingin pria itu menggusur tubuh Naja untuk segera melangkah mundur dan tanpa aba-aba kedua kali, Naja segera berlalu dari hadapan dua pria yang membuatnya hampir gila.
“Berhentilah mengganggu milik orang lain!” suara dingin dan sinis penuh peringatan yang
keluar dari mulut Excel membuat seringai Ai melebar.
“Andalah yang mengganggu wanita yang sebenarnya milikku, Tuan Excel,” Ai sama sekali tak gentar menghadapi ekspresi dingin dan gelap pria itu. Ia hanya merasa kalah
karena pria ini mampu membuat wanita yang telah setia kepadanya berpaling. Dan sikap
pria ini yang langsung siaga saat miliknya berada dalam bidikan pria lain, membuat Ai benar-benar harus menyerah. Tetapi, ia tidak mau mengakui, ia tidak terima jika perasaan yang ia pijarkan untuk Naja bertahun lamanya, kalah dan padam begitu saja. Di mata Ai, pria angkuh ini memiliki rasa yang cukup kuat untuk seorang Naja. Entah bagaimana situasinya di dalam rumah yang tampak dingin itu, tapi Ai merasakan kepedulian Naja pada suaminya, dan yang semakin menyesakkan pria ini juga memiliki rasa yang sama. Setidaknya itulah yang ia
lihat setiap hari selama Ai tahu, bahwa penghuni rumah di depannya adalah
kekasih hatinya dan suaminya. Ya, Ai tak pernah menganggap Naja adalah
mantannya atau istri seseorang.
__ADS_1
“Ya, anggap saja begitu ... tapi itu bukan salah saya sepenuhnya.” Langkah pria itu
selangkah lebih dekat. “... karena anda membiarkan wanita anda berkeliaran di
rumah saya dalam waktu yang cukup lama. Entah masalah kalian berdua apa, tapi ketika orang tuaku melamar wanitamu ...,” telunjuk panjang Excel menusuk dada Ai, “... orang tuanya menerima dan mengizinkan anak gadisnya untuk kunikahi. Jadi ... kurasa andalah yang kurang cepat bergerak, Tuan Syailendra.”
Ucapan Excel membuat amarah dalam diri Ai mendidih, tangan pria itu terkepal disisi
tubuhnya. Gemeretuk gigi yang beradu bahkan kini berganti keriut yang dalam dan
mengerikan. Ekspresi meremehkan Excel membuatnya ingin meremukkan tubuh pria
itu hingga ke tulang belulangnya. Kepalan tangan Ai semakin erat menekan, bahkan tangan yang sebelah, rasanya mampu meremukkan ponsel Naja.
“Jangan khawatirkan soal uangmu yang istriku pinjam, aku akan membayarnya penuh ... sejujurnya ini hanya musibah kecil, Tuan ... musibah terbesarnya adalah ...,”
Excel merampas ponsel Naja dari genggaman Ai. “... kau mencintai tanpa bisa
memiliki!” desis Excel tanpa menurunkan ekspresi mengejek dari raut wajahnya.
Ai menyambar baju klinik yang di kenakan Excel tepat di bawah dagu, “Kau ...!”
amarah Ai memuncak, hingga membuat Ai tenggelam di dalamnya. Apalagi seringai
pria itu diikuti kedua tangannya yang terangkat, membuat Ai semakin buruk
karena berhasil terpancing oleh ucapan Excel.
Ai menghempaskan tubuh Excel dengan kasar, “Kau harus ingat, aku mengawasimu ...
jika Naja sampai menitikkan air matanya seperti tadi ... aku akan merebutnya
kembali. Aku rela jika harus berdarah dan mati asal Nanaku selalu bahagia dan
tersenyum, tapi aku tidak takut menerjang siapapun yang membuatnya terluka. Termasuk KAMU ...,” Telapak tangan Ai mendorong dada Excel mundur. Tatapan penuh ancaman menghujam Excel, membuat pria itu kelu. Ada pria yang begitu mencintai wanita sedalam itu dan ia sama sekali tidak gentar menghadang badai dan menerjang
musuh dengan dada membusung. It’s real man, right?
.
.
.
.
.
Di luar kebiasaan ye gais ... wkwkwkwk ... tapi gapapa ya, yang penting up dulu ... nanti malem aku lanjutkan lagi ... othornya oleng abis perjalanan yang cukup lama ...
Ak elah thor, lebay amat ...semua juga pernah melakukan perjalanan kali ... sok ih ...
__ADS_1
Ye kan othor nih kagak pernah keluar rumah ... taunya ngehalu doang ... gimana donk? perjalanan jauhku cuma ke warung depan rumah, pas beli cabe ... wkwkkwkwkwk ...
Kabur sebelum di lempar vote, gift, like, dan komen dari kalian ... wkwkwkwkwkwk😂😂😂