
Excel menumpu kening pada kedua belah telapak tangannya, jari jemari ramping nan kokoh itu sesekali memberi pijatan pada kening dan pelipis untuk meredakan pening yang mendera. Bahkan mata gelap itu ikut merasakan lelah sehingga tak jarang sapuan jemarinya lembut menyentuh kelopak mata bergantian.
Helaan napas Excel begitu berat terdengar, satu hari menunda pekerjaan akan membuatnya sibuk dan kerepotan di hari setelahnya. Usai rapat pagi dengan klien yang cukup njlimet, Excel kini tengah menunggu Rega membawa tim produksi untuk iklan brand Tristan. Ini kali ketiga, Tristan membuat segalanya menjadi rumit karena sikap perfeksionisnya. Bagaimana bisa menjamin seorang model masih murni? Apa ada orang sampai sedetail itu mau menjelaskan dirinya? Dan ... sekalipun ada, itu pasti sangat jarang, lagi pula siapa yang mau repot-repot mengorek privasi seseorang, jika berakhir dengan tamparan atau guyuran dari gelas berisi minuman?
Excel mengembuskan lagi udara dari paru-parunya, punggung kokohnya lemas di sandaran kursi putar. Bahkan saat bertemu Mikha, hatinya juga tak bisa kosong dari beban. Seperti yang dia harapkan sebelum-sebelumnya. Ya ... meski diselimuti ragu yang begitu besar, tetapi akhirnya Excel memberanikan diri menghadapi masa lalunya. Dia hanya ingin memberi kejelasan pada hati dan perasaannya akan Mikha.
“Kau tidak berubah Cel ...,” ucap Mikha. Wajah wanita itu tampak mengiba saat keduanya saling menautkan pandangan.
“Kenapa ... kenapa kau lakukan itu padaku?” Dada Excel bergemuruh mengingat semua sakit waktu itu. Dirinya merasa lemah. Entah ... dia terluka, tapi wajah Mikha membuat gejolak di dadanya kembali muncul.
Mikha membuang muka, “Maaf Cel ... maaf aku meninggalkanmu waktu itu. Aku hanya tidak mau kau terluka.” Bulir bening tak mampu lagi ditahan wanita cantik itu. Meluncur tegas di atas pipi berkilat halus milik Mikha. Jelmaan bidadari, sungguh sempurna seorang Mikha.
Excel menengadah, matanya terpejam sejenak. “Kau pergi juga memberiku luka, bahkan kau tidak pernah membayangkan sedalam apa luka yang kualami, Kha.”
“Oleh karenanya, benci aku Cel ...!” Mikha menoleh lagi dengan amarah mengumpul dimatanya. Sedikit rasa muak dan frustrasi. “Jangan pernah kau memaafkan aku, walau hanya setitik!” Bibir merekah itu bergetar, bahkan badan ramping itu juga mengejang menahan luapan emosi.
“Aku sudah melakukannya ... aku membencimu sebesar aku mencintaimu, hingga aku bingung, bagaimana sebenarnya perasaanku padamu dulu!”
“Katakan satu hal saja agar aku menghentikan harapku padamu!” Excel meraih lengan Mikha yang berguncang.
Mikha menyeka air matanya. “Suatu saat kau akan tahu semuanya ... aku tidak punya hak untuk membela diri di hadapanmu, karena memang aku sepenuhnya bersalah padamu dan seharusnya kita tidak bertemu hari ini.”
Excel menjatuhkan tangannya, “Benar ... seharusnya kita tidak bertemu, saat itu, sekarang, atau di masa depan.” Excel mundur. Meninggalkan Mikha yang masih menatapnya sendu. Selama bersamanya, Mikha tak pernah memiliki ekspresi seburuk itu.
Excel begitu menyesal bertemu Mikha hari ini, mengapa tidak kemarin atau tempo lalu. Tentu semua akan berbeda jika Excel belum menikah. Saat ini, meski tidak ada cinta dalam pernikahannya, tapi Excel tidak punya niat untuk mengakhirinya cepat. Excel kembali menyapukan jemarinya di kening, terlalu pelik semuanya saat ini.
“Manten baru kok muram?” celetuk Rega dari ujung ruangan.
Excel mengembuskan napas, tanpa menggerakkan satu pun anggota tubuhnya. Rega mencebik melihat kelakuan sahabatnya.
“Kenapa?” Rega sedikit meremehkan sikap senewen sahabatnya itu. “Kalau Naja yang serasa mau bunuh diri itu wajar ... sebab dia baru tahu kalau mau dikawinin beberapa jam sebelumnya. Kalau kamu ‘kan sudah tahu sejak awal? Apa masalahnya?”
__ADS_1
Excel menarik dirinya duduk dengan tegak, meski gerakannya sangat malas. “Aku bertemu Mikha pagi ini ...,” tangan Excel terlipat dengan rapi di atas meja di ruang rapat usai menggeser beberapa berkas yang masih tercecer.
Rega menegaskan matanya, “Kau mempertimbangkan untuk kembali padanya?” kepala Rega patah ke samping. “Dan meninggalkan Naja? Begitu saja? Secepat ini?” cecar Rega penuh penekanan.
“Dia ingin aku membencinya ...,”
“Bagus ...! Bagus itu ... sadar diri rupanya, dia!” tegas Rega sambil menggebrak meja. Rega tampak berpuas diri mendengar keputusan yang diambil Mikha. Bibir Rega meliuk sinis.
Excel menoleh ke arah Rega dengan kening berkerut, “Sadar diri? Maksudmu? Kau tahu sesuatu?”
Rega tercengang sejenak, lalu tertawa garing, “Ya ... harus dong dia sadar diri, dia sudah membuat semua orang malu ... termasuk orang tuamu. Wajar jika dia memilih dibenci olehmu ... itu sepadan.”
“Sepertinya kebencianmu pada Mikha lebih besar daripada milikku?” sindir Excel.
“Tentu saja ... kau lupa? Aku yang kalang kabut saat kau patah hati. Aku juga ikut kesana kemari nyari dia. Kehujanan, kepanasan, bahkan aku ngga bisa tidur dengan tenang.”
Excel berdecih, karena semua itu benar. Excel melimpahkan pekerjaannya kepada Rega, sementara dirinya mencari Mikha. Tak jarang, Rega juga kelimpungan turut mencari Mikha. Excel memang tidak meluapkan amarah dan kecewanya waktu itu, tetapi dia menjadi orang yang tak punya ekspresi, pendiam, dan muram. Dari waktu ke waktu, tujuan hidupnya untuk Mikha. To find my Mikha.
“Maafkan Mikha dan lupakan ... lebih baik kau mulai hidupmu yang baru dengan Naja. Mulailah sekarang, agar seumur hidup bersama Naja terasa lama. Dan kuharap kau ingat pesan Bibi Kira, jangan mempermainkan wanita dan perasaannya.” Rega meringkus berkas yang masih tersisa di atas meja, dan mengambil berkas baru bertepatan dengan tim produksi yang mulai memasuki ruangan.
Sekali lagi, Excel membuang napasnya. Itu juga yang tak ingin Excel lakukan. Membuat seorang wanita terluka. Mengerikan berurusan dengan wanita apalagi jika wanita itu seperti Mamanya yang begitu gigih dan tak mudah menyerah.
**
Samuel memandu Naja berkeliling rumah mode miliknya yang lokasinya menyatu dengan rumah mode milik kakak perempuannya, Samantha, sembari menunggu kedatangan si pelanggan baru.
“Selamat atas pernikahan lo ya ....” Mereka tengah berjalan menuju ruang kerja Sam.
“Terima kasih Mas Sam ...,” senyum Naja terkembang sekilas.
“Dia memperlakukan lo dengan baik, bukan? Dia pria baik sebenarnya, hanya karena dia pernah terluka karena seorang wanita, dia semakin kaku dan dingin.” Terang Sam sambil terus berjalan. Sesekali dia menoleh ke arah Naja yang tampak sayu.
__ADS_1
“Aku tahu ...,” jawab Naja setelah hening melingkupi mereka cukup lama. Naja menipiskan bibir, entahlah ... Naja hanya ingin menjalani hidup saja. Tidak mau lagi terlalu muluk-muluk berangan.
Sam menaikkan alisnya tinggi-tinggi dan tersenyum tipis. “Oh ya ... lo bebas kerja di sini, sama seperti tim desain gue yang lain. Lo kerja boleh di mana aja ... asal pas deadline semua udah beres. Lo boleh cabut kapan pun lo mau, karena lo istri sahabat baik gue. Tapi gue harap, selama lo masih ada ide buat di tuangin ... lo tetep kerja bareng gue. Okey?”
Naja mengangguk, “Tapi Mas, karyawan Mas Sam lulusan sekolah desain ternama loh ... masa aku juga masih dipakai?”
Langkah mereka terhenti saat tiba di depan ruang kerja Samuel.
“Ngga semua ...,” Sam mendorong pintu ruang kerjanya, mempersilakan masuk dengan isyarat kepala. “Ada yang baru sekolah setelah lama kerja di sini. Hanya ada satu saja yang lulusan luar negeri dan dia banyak maunya. Gue lebih suka cari orang berbakat dan mau kerja, bukan orang yang menuntut tapi zonk ... gue ngga buta nilai ketekunan karyawan gue. Gue bakal kasih apresiasi sesuai tingkat ketekunan mereka.”
Sekali lagi Naja manggut-manggut. Kini tak ada lagi yang membuatnya ragu bersanding dengan rekan kerjanya yang tak satu pun di jumpai.
Pintu terdorong dari luar, membuat Sam dan Naja yang baru saja akan mendaratkan tubuhnya di sofa, menoleh serempak.
“Silakan Tuan ...,” Dara, asisten Sam, mempersilakan tamunya masuk. Sam segera bangkit dan menyambut tamu yang sudah ditunggunya sejak beberapa saat lalu.
“Selamat pagi ... kalian pasti sudah lama menungguku.” Sapa pria bertubuh tinggi dengan garis kharisma luar biasa di wajahnya.
Naja menelan air liur yang tiba-tiba menggunung di pangkal tenggorokannya.
“Tu-Tuan Tristan ....” lirih Naja nyaris tak terdengar.
.
.
.
.
.
__ADS_1