Kekasihku, Asisten Adikku

Kekasihku, Asisten Adikku
Satu Detik Bersama


__ADS_3

Naja masih megap-megap saking malunya ... ia kini tengah menenggelamkan diri di atas sofa tempatnya tidur. Wajahnya terasa panas terbakar, sumpah demi apapun ... ia tak berniat mempertontonkan tubuhnya apalagi menggoda.


Naja mengangkat wajahnya menatap langit-langit, “Dia pasti mikir gitu ‘kan ...?” Naja kembali menunduk, rambut panjangnya kembali memenuhi sisi wajahnya. Manik mata Naja melirik kiri dan kanan bergantian, “Ck ... Excel pasti sebel lihat rambutku ... makanya dia marah tadi pagi!” batin Naja. Bibir gadis itu meniupkan udara sehingga rambutnya bergoyang-goyang.


Naja mengambil ponsel yang berada di bawah kertas-kertas kerjanya. Tetapi sekali lagi matanya membola saat melihat meja kaca di depannya sudah rapi dan bersih. “Pantas dia marah ... rumahnya aku berantakin ... dasar Naja tidak tahu diri,” Naja sungguh ingin menangis karena gagal di hari pertamanya di rumah ini. Kesiangan, memberantakkan rumah, tidak membuat sarapan, dan bertindak bodoh dengan hal murahan meski ia tidak sengaja.


"Dia sedang menyindirku dengan tindakan ... astaga, kenapa aku ngga peka ya?" Naja mengenyakkan tubuhnya di sandaran sofa, membuang napasnya ke udara. Ia kembali mengingat ekspresi Excel yang begitu sebal dan marah.


"Oke ...!" Naja beranjak dengan cepat, tangannya terkepal, "lebih baik aku merapikan rambutku dan mulai lebih disiplin ... aku ngga mau kalah sama dia." Naja meringkus semua perlengkapannya dan mendekapnya di dada. "tapi ini mau kutaruh di mana? kamar kan masih ke kunci?" celingukan ke kanan dan ke kiri, Naja akhirnya tahu mesti kemana menyimpan peralatannya tersebut.


Setelah menyimpan semua barangnya di laci paling bawah, Naja bergegas merapikan sofa dan mencuci piring dan gelas bekasnya sarapan. Lantas Naja segera mandi dan berangkat ke salon yang telah ia temukan melalui aplikasi.


***


Salon yang di tuju Naja berada di depan kompleks perumahan ini, tak terlalu jauh dan bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Naja begitu menikmati suasana perumahan yang tampak ramai di beberapa tempat. Anak-anak bermain dengan ibu ataupun pengasuhnya di sebuah taman kecil dengan aneka permainan, seperti perosotan, ayunan, jungkat jungkit, dan air mancur kecil di tengah taman. Salon sudah tampak dari posisi Naja sekarang, tetapi ia harus berhenti saat sebuah mobil putih menghalangi jalannya. Naja mundur beberapa langkah agar mobil itu bisa masuk dengan leluasa—meski tanpa Naja menyingkir sekalipun, jalan itu tetap bisa memuat dua mobil sekaligus— namun hingga beberapa saat, mobil itu tak bergerak sama sekali.


“Ai ....” seru Naja saat melihat siapa yang keluar dari balik kaca mobil yang baru saja di turunkan.


“Hai Na ... kau tinggal di sini juga?” senyum Ai merekah sempurna, pria bermata sendu itu tampak kurus dan tidak terlalu sehat.


Naja menggeleng, ia tak mau sampai Ai tahu di mana ia tinggal. “Ti-tidak ... a-aku hanya mengunjungi temanku saja.”


“Tidak ada taksi yang lewat sini ... sebaiknya aku antar kamu pulang!” Ai turun dari mobil, ia mendekati Naja yang mundur lebih jauh.


“Berhenti di situ ...! Ai ... kumohon menjauhlah dariku ... aku seorang wanita bersuami, kita tidak seharusnya seperti ini!” suara Naja tegas, tapi tak bisa menyembunyikan getir dan getar dalam nada suaranya. Dan itu bisa ditangkap dengan jelas oleh Ai.


Sudut bibir Ai merekahkan senyum, “Kau berubah terlalu cepat, Na. Bahkan pelukan terakhirmu masih terasa di sini! Apa dengan bersikap seperti itu kau bisa dengan mudah memintaku pergi?” Ai masih melekatkan tangannya di atas dada sebelah kiri, membuat Naja terpaku di sana beberapa saat lamanya. Manik mata Naja berguncang dan terasa panas.


“Tapi ini tidak benar, Ai ... siapapun bisa salah paham. Aku ... aku tidak mau suamiku salah sangka padaku!” Naja menggulirkan tatapannya pada Ai yang semakin sendu. Pria ini sangat kurus bahkan Naja dengan jelas melihat lingkaran hitam membingkai mata Ai.

__ADS_1


“Dia tidak akan salah paham ... ia tahu dengan jelas aku siapa ...!” Ai meraih pergelangan tangan Naja, tetapi Naja menahan tangannya.


Ai semakin sendu dengan penolakan tanpa suara dari Naja. Ia pun segera melepaskan cekalannya. “Na ... seharusnya aku tidak menunggu satu bulan atau satu detik saja waktu itu ... seharusnya aku membawamu pergi. Aku ... aku terlalu percaya diri dengan hubungan kita yang tetap utuh meski kita tak bersama satu tahun lamanya. Maaf Na ... maaf ... maafkan aku yang terlalu mengabaikan kebahagiaan kita.”


Naja menundukkan wajahnya, ia tak mampu lagi membendung air mata yang sudah berebutan untuk menghambur. “Aku yang salah, Ai ...,” ucap Naja parau. “Aku yang tak bisa meyakinkan mamamu bahwa akulah wanita yang tepat untukmu. Malah aku membuatmu terluka seperti ini sekarang.”


“Na ... kau sama sekali tidak menyakitiku, aku ...,” Ai menepuk dadanya. “Akulah yang bodoh di sini ... sebagai lelaki aku tidak bisa membuat wanita yang aku cintai tersenyum. Tapi Na ... aku berjanji, jika ada waktu kelak ... meski kita sudah renta ... meski itu adalah ujung napasku ... meski hanya satu detik bersama, aku tetap akan menunggumu, dan aku bahagia jika satu detik itu aku lewati bersamamu.”


Naja terkesiap, ia menatap mata basah Ai yang sama sekali tidak menunjukkan keraguan. “Jangan mengucap janji yang mustahil Ai ... itu hanya akan menambah luka. Carilah kebahagiaanmu sendiri Ai ... kita memang tidak di takdirkan bersama.”


“Apa kau bahagia sekarang?” Ai meraih lengan Naja dan menempatkan tubuh kecil Naja dalam fokusnya. “Jika kau sudah bahagia ... aku bisa melepasmu. Tapi aku tidak akan mencari kebahagiaan lain ... cukup melihatmu tertawa ... itu sudah cukup.”


Ai meluruhkan tangannya saat Naja kembali terlihat risih. “Air matamu menjawab segalanya, Na ... sebaiknya aku antar kau ke tujuanmu ... aku tidak bermaksud apa-apa. Hanya membantu!” sedikit memaksa, namun tak membuat Naja luluh begitu saja.


“Ku harap ini pertemuan terakhir kita, Ai ... selamat tinggal.” Naja menghempas pelan cekalan tangan Ai yang memang tidak terlalu erat. Naja berlari menyeberang jalan, mengabaikan decit ban dan juga klakson yang memekakkan telinga.


“Aku tidak berpikir begitu, Na ...!” Ai segera memasuki mobilnya, mengabaikan beberapa orang yang tampak malu telah menyaksikan urusan pribadi orang lain.


“Itu yang kau bilang kau tidak mencintaiku lagi, Na ...?” Ai mendengkuskan napasnya, ia merasa bahagia setidaknya ia tak keliru jika berharap lebih pada gadis itu.


“Kau hanya menyakiti dirimu ketika kau menghindariku dengan menikahi pria lain. Meski kalian saling mengenal sekalipun ... aku tak percaya bila belum melihatnya sendiri. Aku yakin, kau hanya takut aku tidak bisa mengalahkan mama, bukan?”


Ai menghentikan mobilnya di depan sebuah salon yang cukup besar, di mana Naja menyembunyikan dirinya. Ai dengan sabar menunggu beberapa saat hingga di rasa Naja telah mendapatkan pelayanan. Ai turun dengan senyum terkembang, ia melangkah dengan gembira. Hanya Nana yang bisa membuat semangat Ai tumbuh lagi. Sejak mengetahui Naja menikah, Ai membatalkan pekerjaannya di luar negeri, lalu ia melamar di sebuah perusahaan lain yang juga tak kalah menjanjikan dari pada perusahaan sebelumnya. TCorp, adalah pelabuhan Ai selama beberapa waktu ini. Ia pun menduduki jabatan yang cukup mentereng. Dia sibuk merencanakan untuk mengkudeta Naja dari suaminya, yang ia tahu ini tak akan mudah, sebab Ai tahu siapa suami Naja.


“Mbak ... saya menunggu pacar saya ...!” ujarnya saat seorang resepsionis hendak menyapanya. Telunjuk Ai mengisyaratkan agar wanita itu diam dan menunjuk Naja yang tengah berbincang dengan pekerja salon ini. Wanita itu mengerti dan mempersilakan Ai menunggu di ruang tunggu yang telah disediakan.


Naja tak bisa berpikir jernih saat ini, kabut terasa pekat melingkupi otak dan hatinya. Saat ia mati-matian berusaha melupakan Ai, tapi Ai muncul dengan segala keyakinan yang ia miliki. Tanpa mengucap pun, Naja tahu Ai tak akan mudah melupakan dia. Pun sebaliknya, tetapi keadaan berbeda bagi Naja, saat ini pula, ia tengah berusaha mengerti suaminya. Yang bisa dipastikan sampai kapan pun, Naja tak akan mudah lepas darinya. Tentu Naja memilih mematikan perasaannya pada Ai daripada ia harus mengorbankan perasaan kedua orang tuanya. Entah, apa itu berlaku bagi Excel, mengingat ia segera pergi semalam dengan Mikha sebagai alasan. Naja mengembuskan napasnya yang tiba-tiba terasa sesak.


“Potong sebahu saja Mbak,” ucap Naja sambil menempatkan ponsel di depan wajahnya. Ia kesal dengan ucapan Excel tadi, dasar batangan besi ... tua dan karatan, umpat Naja dalam hati. Suasana hatinya semakin buruk saja mengingat Excel.

__ADS_1


“Jangan Mbak ... sayang ... sebaiknya di rapihin saja!” Saran hairdresser yang tengah menatap Naja melalui pantulan cermin.


“Terserah Mbak saja, asal ngga di botakin! Pokoknya saya mau rambut saya selalu rapi tiap pagi meski bangun tidur!” ketus Naja yang membuat sang hairdresser tertawa kecil.


“Disesuaikan umur saja ya, Mbak! Untuk anak SMA memang ribet kalau rambutnya panjang," si stylist itu berucap panjang lebar sambil mulai bekerja.


Naja berdecak, "Mbak saya ini udah 24 tahun, bukan SMA lagi ...!" kesal Naja sambil berbalik, ia memasang wajah kesal yang malah membuatnya terlihat lucu.


"Oh ... maaf ... maaf, saya tidak tahu Mbak." stylist itu menunduk dan menangkupkan tangannya di depan dada. Namun, ia tak marah sebab wajah Naja malah imut dan menggemaskan saat marah. Juga suara Naja yang terdengar seperti hanya berpura-pura marah saja.


Sebuah nada singkat menandakan adanya pesan masuk membuyarkan kekesalan Naja. Ia segera membuka pesan yang rupanya berasal dari Sam.


"Na, ke tempatku siang ini, bisa?" isi pesan itu segera di balas Naja dengan "Ya" saja.


Setelah beberapa saat lamanya, Naja telah selesai dengan urusan rambut. Ia hendak membayar tetapi kata salah seorang pegawai, tagihannya telah dibayar oleh pria yang mengaku kekasih Naja. Ia menoleh ke arah yang ditunjuk si pegawai.


"Ai ...?"


.


.


.


.


.


#ngarep ada yang kangen😂

__ADS_1


just info : mungkin akan update 2 hari sekali ... selama jelang lebaran dan lebaran nanti ... pokoknya udah kondusif ... bakal normal lagi ... soalnya pas lebaran kek huru hara di rumahku😂


Perbab udah tak panjangin kali lebar kali tinggi, plis🥺 berikan like, komen, gift yang layak ya ...🥺🥺


__ADS_2