Kekasihku, Asisten Adikku

Kekasihku, Asisten Adikku
Air Conditioner


__ADS_3

Baru beberapa langkah Excel dan Naja meninggalkan Mikha, tetapi teriakan di halaman membuat Excel dan Naja menoleh serempak. Mikha tergeletak di kerumuni beberapa orang. Excel tampak berpikir sejenak, kemudian ia kembali menarik Naja, mengabaikan Mikha.


“Bukankah dia Mikha-mu? Yang kau agungkan di depanku?” Naja berusaha menyejajarkan dirinya dengan Excel.


Excel menghentikan langkah, ia menatap Naja yang juga tengah menatapnya. Wajah Excel tampak menegang, manik mata itu bergantian memandang jejak yang mereka tinggalkan dan Naja. Tautan jemari mereka terurai setelah itu, perlahan Excel menjauhkan tubuhnya dari Naja.


Senyum Naja terkembang ragu, dipandanginya telapak tangan yang masih menyisakan jejak hangat dan udara kosong yang ditinggalkan Excel. Naja mendesakkan napasnya ke udara, seraya bahunya terempas luruh. Meyakinkan diri, bahwa ini yang terbaik.


Naja kembali mengayunkan langkahnya menuju kantor Sam yang berada di lantai tiga rumah mode ini. Namun baru saja ia menjejakkan satu kakinya di dalam lift, ia merasakan tangannya kembali menghangat. Secepat kilat Naja pun membalik tubuhnya.


“Ka-kau kembali?” mencegah sorak sorai di hatinya menguar melalui sorot mata, Naja menundukkan wajahnya. Entahlah ... Naja tiba-tiba merasa diistimewakan, dihargai, dan diutamakan.


“Tugasku hanya memastikan dia di bawa ke rumah sakit ‘kan?” Excel mendorong mundur Naja dengan langkah panjangnya hingga menabrak dinding lift.


Naja memalingkan wajahnya ke samping, menghindari aroma Excel yang berusaha menjejal ke dalam penciuman Naja.


Telunjuk Naja terulur menusuk belahan tumpukan otot dada Excel, “Menjauhlah sedikit ... a-aku tidak bisa bernapas.” Naja mengerjapkan kelopak matanya berulang-ulang.


Excel tak bergeming, tangan pria itu malah masuk ke dalam saku. “Kau tidak lihat, udara di sini terlalu penuh? Aku tidak bisa bergerak sama sekali.”


Naja mengangkat wajahnya, rahang kokoh pria itu tampak naik beberapa derajat. Kening Naja berkerut hebat. “Di-di sini tidak ada siapa-siapa ... hanya kita berdua ‘kan?” Naja menelan salivanya. Pikiran gadis itu kemana-mana.


Belum sempat Excel menjawab, lift sudah membukakan pintunya untuk mereka. Excel berbalik dan berjalan keluar lift mendahului Naja yang masih tampak terserang tremor.


“Bekerjalah dengan baik, aku akan menjemputmu sebelum makan siang!” titah Excel begitu sampai di depan kantor Sam. Tangannya mendesak pintu hingga terbuka, menyilakan Naja masuk terlebih dahulu.


“Kau belum tahu di mana rumahmu yang baru, bukan?” tukas Excel saat Naja hendak membantah ucapannya. Ia mengisyaratkan Naja segera masuk dengan dagunya.


Naja merengut pasrah, ia lupa jika Excel belum memberitahu alamat rumah baru mereka. “Baiklah ... tapi jangan sampai terlambat seperti waktu itu.”


“Nganterin bini, Bro?” celetuk Sam sembari menarik pintu lebar-lebar. Tampak di sana, Tristan tengah memutar kursinya menghadap pintu.


Kepalang tanggung, Excel yang semula enggan menyapa Tristan pun akhirnya masuk dengan terpaksa. “Nitip dia ya ... aku mau ke kantor.” Ucapnya pada Sam. “Maaf Tuan Tristan ... saya buru-buru.”


“Sudah ku duga jika suami Nona ini adalah Anda, Tuan Excel ...,” ucapan Tristan menghentikan langkah Excel. Pun dengan tawa yang tak bisa diterjemahkan itu membuat Naja dan Excel mengernyit.

__ADS_1


“Tidak usah heran, Tuan. Cincin di jari manis Nona manis itu jawabannya. Seingat saya, asisten Anda yang memesannya, benar?”


Sontak Naja menunduk, melihat cincin yang tampak sederhana dengan batu bening kecil di tengahnya. Kemudian ia memandang Excel yang terlihat kesal rahasianya di obrak-abrik Tristan di sini.


“Selamat atas pernikahan kalian ... andai saya tahu, saya akan mengucapkan lebih awal. Semoga ini belum terlambat.” Tristan bangkit dan menyalami Excel, pria itu tampak hangat.


"Perlukah saya menyelamatimu sekali lagi, Nona Naja?" Tristan menarik pandangannya dari Excel ke arah Naja, segaris senyum meluncur begitu saja dari bibir Tristan.


Naja menyengirkan senyum lebar tanpa dosa tatkala Excel menikamkan tatapan tajam padanya. "Aku 'kan tidak tahu kalian saling kenal!" dua jari Naja membetuk huruf "V" dengan gerakan yang disamarkan di sisi pelipis Naja.


"Tuan Tristan ... sebaiknya kita segera mulai saja! Saya tidak ingin membuang waktu berharga Anda, Tuan!" Naja menyilakan Tristan kembali duduk dengan begitu sopan.


"Oh ... tidak juga. Saya malah senang berlama-lama berbincang denganmu." Ujar Tristan yang langsung menuruti Naja. Ia segera melangkah menuju kursi, tak lupa ia menarik sebuah kursi untuk di duduki Naja.


Tengkuk Naja kini serasa meremang, atmosfer ruangan ini mendadak terasa dingin, menegakkan bulu halus dan melebarkan pori. "Mas Sam ... AC-nya kekencengan, ya? Boleh aku kecilkan?" pinta Naja sambil berseru


Excel—yang sejak tadi mengekori gerakan Naja—mengalihkan pandangannya kepada Sam yang langsung membeku. Sam mengerti apa arti tatapan itu baginya, sehingga ia langsung mengacungkan ibu jarinya. Sam sudah melakukan banyak hal untuk Excel, jadi perkara menjaga Naja di sini akan menjadi prioritas utamanya.


"Te-tentu ... boleh saja! Anggap ruangan ini milikmu sendiri!" Sam ngacir meninggalkan Excel yang masih memindai mereka penuh teror.


**


Mikha terjaga setelah beberapa jam tak sadarkan diri. Wanita itu tampak murung. Hatinya masih tak terima jika Naja yang telah menggantikan posisinya di hati Excel.


Bibir Mikha menukik tajam. “Pantas barang-barang yang ia pakai branded semua. Heh ... bodohnya aku yang percaya pada kepolosan wajahnya.”


“Apa sebenarnya tujuan wanita itu menerima pekerjaan rendahan di kantor Tristan? Apa dia memata-mataiku, dan mengadu kepada Excel? Menjelekkanku agar ia bisa bersama Excel?”


Mikha mengembuskan napasnya ke udara. “Licik sekali dia ....” Mikha teringat lagi bagaimana ia dan Naja bertemu. Sekali lagi, bibir Mikha meliuk sinis. “Pantas saja dia dengan mudah menangkap pencopet itu, ini semua skenario dia?”


Mikha menengadahkan kepalanya, ”Baiklah , penipu kecil ... mari kita lihat apa Excel masih mau denganmu jika ia tahu kau pun juga memakai topeng di depan Excel. Setidaknya aku sedikit lebih baik darimu, Naja ... perasaanku pada Excel murni karena aku memang benar mencintainya.”


Dokter yang memeriksa Mikha pun datang tak lama kemudian. Setelah kondisi Mikha dipastikan membaik, ia diperbolehkan pulang. Bahkan taksi pun sudah tersedia, berkat kebaikan orang yang menolong Mikha, yang Mikha sendiri tidak tahu dia siapa.


“Yang pasti bukan Excel, mengingat bagaimana sikapnya padaku tadi.” Gumam Mikha saat taksi sudah melaju membelah jalanan.

__ADS_1


**


Excel menjemput Naja beberapa menit sebelum jam makan siang. Ia bahkan naik ke atas untuk menemui Naja dan juga Sam. Sam tampak senewen sebab Excel terus saja menanyakan apa yang di lakukan Naja di sana. Dia baru bernapas lega saat Tristan sudah meninggalkan rumah mode Sam.


Naja meniupkan udara dari dalam mulutnya, menerpa poni-poninya hingga beterbangan. Mereka kini berada di dalam mobil untuk menuju rumah barunya, “Bagaimana pekerjaanmu?” tanya Naja sembari meregangkan jemarinya.


Excel melirik sekilas, sudut bibirnya tertarik samar, “Peduli sekali dengan pekerjaanku?”


“Basa basi doang ...,” lirih Naja sambil mencebik. Kepedean sekali. Ekor mata Naja melirik sekilas.


“Kau bisa masak?”


Bibir Naja meliuk, “Kau pikir aku wanita apa ... sampai masak aja ngga bisa?”


“Kalau ngga bisa masak ... kita makan siang dulu. Jika kau bisa dan “mau” ...,” Excel menegaskan kata “mau” dengan lirikan tajam. “kita belanja dulu ...!”


Bibir Naja membulat. “Masak aja deh ... toh habis ini aku ngga ngapa-ngapain.” Ucap Naja lebih pada dirinya sendiri.


Excel membelokkan mobilnya ke sebuah supermarket, “Kau mau dimasakin apa?” Naja menaikkan tali tas yang mirip rantai ke bahunya. Ia bersiap turun saat Excel menghentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk supermarket.


“Apa saja yang kau bisa.” jawab Excel acuh.


Naja berpikir sejenak, "Oke ...," Ia pun segera turun dan melenggang masuk ke supermarket tersebut.


.


.


.


.


.


Maaf jika ada komen yang ngga kebales ... entah kenapa komenku bisa nyusut🥺🥺 di notifikasi terlihat tapi di komentar bab ngga ada ... sekali lagi maaf🙏

__ADS_1


__ADS_2