
“Cel ... makanannya sudah sampai ... cepetan mandinya? Kenapa lama sekali, sih?”
Baru saja air menyentuhkan rintiknya pada kulit Excel, tetapi teriakan yang menyakiti telinga itu membuat Excel menggeram di dalam bilik kamar mandi.
“Ya Tuhan, haruskah aku menyebut dia musibah? Menganggu sekali suaranya,” gumamnya. Ia kesal saat Naja ribut dan berisik tapi ia tak tahan jika istrinya itu mendiamkannya. Ia menguapkan napasnya di sela rintik air yang begitu gigih menghujaninya, lalu mempercepat acara mandinya. Mungkin saja, Naja tidak sedang bercanda dengan teriakannya itu. Ia khawatir, Naja akan turun dan mengambil sendiri pesanan makanan itu.
“Cel ... buruan ... kau lupa aku tidak kau izinkan turun?” Naja asyik menggoyangkan kakinya di atas bantal, masih diposisi yang sama sejak ditinggalkan oleh Excel tadi.
“Cerewet sekali, sih ...,” Excel melempar handuk di wajah Naja agar wanita itu berhenti mengeluarkan suara yang teramat mengerikan itu.
Ia mengambil baju dari lemari sembarangan dan mengenakannya sembari berjalan keluar kamar. Meninggalkan Naja yang tengah cekikikan dibalik handuk basah bekas Excel.
***
Excel berekspresi tegang saat mereka tengah duduk di meja makan dengan beberapa menu terhidang dan tampak menggugah selera.
“Kau tidak suka? Ini enak loh ...,” Naja mengayunkan sate lilit yang terbuat dari daging sapi dan paha ayam yang baru saja ia pisahkan dan badannya di depan Excel. Lalu dengan gaya yang berlebihan, ia mengigit paha ayam itu dan mengunyahnya dengan mata terpejam.
"Heem ... rasanya maknyus ...!"
Excel mendengkuskan napasnya, ia berpaling dan melerai tangannya yang semula terlipat rapi di atas meja. Entah bagaimana cara mereka berdua menghabiskan makanan sebanyak ini. Sekalipun disimpan di dalam lemari es, itu juga tidak akan habis di makan seharian besok. Menu makanan dari Sabang sampe Merauke berjajar rapi, hanya Papeda saja sepertinya yang tidak ada.
“Ya enaklah ... gratis ‘kan?” Excel mulai mengambil ayam taliwang yang telah dikoyak Naja barusan. Mengangsurkannya ke piring untuk menemani nasi putih yang masih mengepulkan asapnya itu.
“Hehehe ... rezeki ini namanya, Cel.” gigitan besar ayam kembali masuk kedalam mulutnya.
Excel tidak menjawab, kesal rasanya dikerjai istrinya. Padahal, yang mengantarkan makanan adalah Riko yang sudah pasti bisa masuk ke dalam rumah tanpa perlu mengganggunya saat mandi. Lebih menyebalkan lagi, makanan itu berasal dari resto mamanya sendiri.
Naja tak peduli dengan kekesalan yang menumpuk di wajah tampan suaminya. Dia juga tidak menyangka mama mertuanya akan menghubunginya dan menawarkan untuk mengirimi makanan. Oleh karenanya, ia membatalkan orderan makanan yang kebetulan memang tidak bisa di sanggupi oleh pemilik restoran.
“Jangan manyun di depan rezeki ... nanti dia tidak akan datang lagi ...,” goda Naja yang sudah menyelesaikan makannya. Ia berniat bangun dari duduknya.
“Cerewet sekali ....”
Excel yang melihat Naja beranjak berdiri, segera mendorong makanan yang masih berada mulutnya dengan air putih yang telah tersedia.
“Kau mau kemana? Makanannya belum habis separo ...!” Mengisyaratkan Naja duduk kembali, Excel mengisi piring Naja yang berisi tulang belulang ayam dan batang serai sisa sate lilit dengan nasi dan ayam lagi.
“Cel ... aku sudah kenyang—“
“Jangan banyak alasan, salah sendiri pesan makanan sebanyak ini ...!”
__ADS_1
“Tapi ... ini ‘kan Mama yang memberikan, aku tidak minta kok ... sungguh.” Naja menaikkan dua jemarinya membentuk huruf V di sisi wajahnya. Ia sungguh berharap, Excel melepaskannya kali ini.
“Tidak peduli ... seharusnya kamu bisa mengukur kecukupan makanan untuk kita berdua ...!"
"Tapi Cel ... ini semua Mama yang memberi, aku malah tidak tahu akan sebanyak ini."
"Ayo duduk dan makan lagi, kau bahkan belum makan nasinya 'kan?" paksa Excel sembari memindahkan posisinya yang semula berseberangan dengan Naja menjadi bersebelahan. Mendudukkan paksa, dan meraih rahang Naja dalam capitannya lalu mulai menyuapkan nasi dengan menggunakan tangannya.
"Pintar ...," Senyum Excel terkembang begitu manis, ia puas karena Naja mulai mengunyah nasi yang ia suapkan. Excel yang belum kenyang, tanpa sadar makan dari piring yang sama dengan Naja. Bergantian hingga piring itu nyaris kosong.
"Wih ... yang lagi romantis-romantisnya ... asyik banget sampe ngga nyadar kita berdua masuk ...!" Rega menepuk bahu Excel demgan riang lalu duduk di kursi yang masih kosong. Tanpa menunggu perintah ataupun tawaran tuan rumah, ia mengambil piring yang masih bersih dan mengisinya dengan menu yang ruah melimpah di atas meja.
"Lo baik, 'kan, Na? Kata Rega lo sempet kesleo ...," Sam memegang pundak Naja yang tengah mengusir canggung karena ketahuan di suapi Excel dengan menyesap air putih yang tinggal sedikit isinya. Ia mengangguk tanpa berniat menurunkan gelasnya dari bibirnya.
"Ada apa kemari?" Tanya Excel sembari bangkit dari kursinya. Ia berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangannya.
"Nengokin Naja ... kenapa? Tidak boleh?" Rega mulai menyingsingkan lengan bajunya yang panjang hingga ke siku, menampakkan otot lengannya yang menonjol. Tubuh pria itu memang tak jauh beda dengan Excel, putih dan berotot, bedanya, Rega lebih dulu mengalami sakit karena cinta dibandingkan Excel, sehingga ia sudah lebih awal melampiaskan sakit hatinya pada landasan Treadmill atau peralatan gym lainnya.
"Dia ngga papa, kok ... ngapain ditengokin?" Excel mengambil satu botol penuh air dingin dari kulkas usai tangannya terbebas dari sisa makanan yang menempel. Membawanya ke meja makan.
Sam serta merta meraih botol berisi air itu tanpa permisi setelah melihat segala menu di atas meja. Satu-satunya diantara tiga karib ini yang sepertinya belum pernah merasakan patah hati. Meski terkesan mirip badboy, Sam lebih toleran menyikapi wanita, ia memilih berteman terlebih dahulu sembari mengenal lebih jauh. Ia jauh lebih mampu mengendalikan perasaan dan minatnya pada wanita, tetapi sampai sekarang, sepertinya Sam tidak mengistimewakan salah seorangpun sahabat wanitanya. Ia tidak mau terikat oleh hubungan yang tampak rumit itu. Ia lebih memilih fokus pada usahanya saat ini.
"Lo lagi syukuran karena berhasil masukin Tristan ke Rumah Sakit Jiwa?" Sam duduk usai menghabiskan setengah botol air itu. Ia juga melakukan hal yang sama dengan Rega dan mulai menyantap makan malam yang terlalu awal digelar ini.
Naja memindai semua orang penuh selidik bahkan ia melihat dengan samar, Rega seperti tersedak.
"Gua becanda ...," Sam mengatasi keadaan yang tidak mengenakkan karena ia kelepasan bicara. Ia melirik Excel yang tampak menaikkan manik matanya ke arah atas saking kesalnya dengan mulut lepas kendali milik Sam itu.
Sekali lagi, Naja menyelidiki ketiga orang itu, tapi ia segera menyadari sesuatu terjadi setelah kepergiannya dari atas runaway. Ia segera meluruhkan rasa penasarannya dengan satu hempasan napas.
"Mas Rega dan Mas Sam mau dibuatkan minum apa?" Tawar Naja mencairkan suasana yang menegang yang ia buat sendiri.
"Vodca ...," jawab Sam sambil meringis.
Yang tentu saja langsung ditimpuk dengan sebelah tangan Rega dengan keras tepat di belakang kepala Sam.
"Sakit ... Woe ...!" Sam mengaduh sembari mengusap belakang kepalanya yang terasa pengang hingga ke telinga. Keras sekali pukulan yang menimpa Sam.
Naja mencondongkan tubuhnya, "Ini masih sore ... sebaiknya pesan yang ringan saja ... pestanya belum mulai." desis Naja di sela giginya. Kemudian ia memundurkan tubuhnya dan tertawa.
Rega dan Sam tergelak, tetapi Excel menatap mereka dengan kesal.
__ADS_1
"Mereka pengaruh buruk yang patutnya disingkirkan ...." batin Excel.
"Hentikan tawa kalian dan cepat habiskan makanan kalian itu ... Naja harus segera tidur agar kakinya segera sembuh!" usir Excel terang-terangan.
"Halah ... alasan," cibir Rega sembari menyodok Sam tepat di sikunya. "Buruan habiskan makananmu, Sam ... kita segera pulang, tau diri, Bro ...!" Lagi siku Rega menyodok-nyodok dengan gencar lengan sahabatnya hingga berguncang.
Sam tertawa lebar tanpa suara, "Bertamu kerumah pengantin baru musti buru-buru balik yak ... mungkin juga sebenarnya kita itu ngga diharapkan lagi ...," Sam mencebik tanpa mengalihkan perhatiannya pada piring di hadapannya.
Excel hanya menepuk jidat dan mengusapnya dengan kesal. Setiap tindakannya tak pernah benar dimata kedua sahabatnya. Terlebih usai menikah.
***
"Apa Jen pernah mengajakmu ke Club malam?"
Naja menoleh sejenak ke arah suaminya, berjam-jam usai kepulangan Rega dan Sam. Larut tapi dua orang itu masih segar dan asyik menonton sebuah film action. Excel tidak mengalihkan perhatiannya dari layar televisi.
"Tidak ...," ia segera kembali memperhatikan layar sebelum Excel memergoki apa yang rapat-rapat ia dan Jen sembunyikan.
"Pasti Tanna 'kan, yang mengajak kalian ke sana?"
Excel selama ini menduga, ketiga sahabat itu mungkin pernah melakukan kegiatan malam tanpa sepengetahuan orang tua mereka.
Naja mengerutkan bibirnya, mulai tak fokus mengikuti jalannya film yang sedang seru-serunya itu. Entahlah, ia tak yakin Excel tidak akan mencecarnya lebih dalam hingga ia mendapatkan apa yang ia mau.
"Jika kau jujur, kau akan selamat—"
"Iya ... kita pernah ke sana tapi aku tidak minum atau apa ... aku-aku tidak berani, tapi Jen dan Tanna sampai tidak pulang karena takut di marahi Mama ... tapi-tapi kita ngga aneh-aneh kok ... sumpah ...!"
Excel menoleh begitu dramatis menanggapi kegugupan Naja. "Sumpah itu tidak bisa dipercaya begitu saja di saat ini, Na ... karena sumpah bisa digunakan untuk mencari uang atau kabur dari kesalahan, jadi—"
Naja menghadap Excel, dengan dua jari kembali mengacung di sisi wajahnya, "Aku bersumpah, Cel ... demi apapun ... demi apa saja ... aku sudah mengingatkan Jen tapi Tanna selalu membujuk Jen ...."
"Cel ...," rengek Naja saat Excel berdiri dan berlalu meninggalkan dirinya di sofa ruang tengah ini.
Excel mengambil ponsel yang sejak tadi berada di kamar, ia berniat menghubungi Riko agar mengawasi Jen lebih ketat. Ia tak mau adiknya mengalami hal buruk akibat kesalahannya sendiri.
.
.
.
__ADS_1
.
.