
Naja mengembuskan napasnya dengan keras, menghempaskan tubuhnya di sandaran kursi penumpang taksi yang ia pesan untuk pergi ke rumah sakit. Membawa perasaan berdebar, Naja meninggalkan suami dan adik-adiknya yang masih berenang di alam mimpi. Ia terlalu terburu-buru pagi ini karena kesiangan juga. Akan tetapi, ia menyempatkan diri menyiapkan sarapan untuk mereka semua.
Semalam, Jen menceritakan bagaimana pekerjaannya setelah bekerja sama dengan Diego, pria keturunan yang rupawan dan memesona. Naja yakin, binar dimata adik iparnya itu menunjukkan bahwa ia tengah jatuh hati pada bule tampan itu. Meski Naja sendiri lebih setuju bila Jen bersama Darren. Naja melihat besarnya ketulusan pria yang telah menjadi musuh rasa teman sejak Jen masih kecil.
Hampir lima belas menit berjalan, Naja akhirnya sampai di rumah sakit, ia di sambut oleh Dokter Luna yang telah ia hubungi semalam. Meski ia ragu, tetapi ia butuh kepastian. Naja berjalan menghampiri Dokter Luna yang tersenyum, dengan perasaan cemas, gugup, dan juga berharap. Entahlah, dia sendiri begitu bingung. Siapkah dia menjadi seorang ibu?
“Santai saja, jangan tegang begitu, ih ... ini tidak akan menyakitkan.” Dokter Luna merentangkan kedua tangannya dan menyambut Naja dalam pelukannya. Meski wajah cantiknya dihiasi kelelahan dan kantuk, ia tersenyum dan melayani menantu big bos yang telah memberinya kesempatan besar untuk melebarkan sayapnya. Ya, Naja memang meminta Dokter Luna yang sedang berjaga malam menggantikan rekannya untuk memeriksa Naja meski jam kerjanya telah usai.
“Hamil itu apa menyiksa, Dok? Tanteku dulu waktu hamil diharuskan bedrest cukup lama,” tanya Naja dalam dekapan dokter cantik dengan dua anak ini. Ia telah menggantikan Dokter Vivian yang kini telah menjadi direktur utama rumah sakit ini, menggantikan Rio yang kini memilih menikmati hidup dengan keluarganya di luar negeri.
“Tidak semua, Na ... tergantung kondisi masing-masing bumil. Mungkin tantemu mengalami morning sickness berlebihan atau menderita sakit yang membahayakan ibu dan bayinya,” ucap Dokter Luna setelah pelukan mereka terurai. Ia mengusap pipi Naja yang memang tampak mengembang.
“Sudah berapa lama kau terlambat?” sambung dokter senior itu mempersilakan Naja melangkah bersamanya.
“Baru dua hari, Dokter,” jawab Naja, ia menatap Dokter Luna lagi. “... apa itu sudah menunjukkan kalau seseorang hamil, Dok?”
Dokter Luna tersenyum, “Tentu saja, Na ... meski terkadang itu juga bukan tanda kalau seorang mengalami kehamilan. Bisa jadi kamu hanya terlambat saja, apalagi kalau riwayat menstruasimu tidak menentu.”
“Oh ...,” Naja mengangguk memahami. “Dari kelihatannya, apa aku hamil, Dok?” sambung Naja dengan cepat.
Dokter Luna terbahak mendengar pertanyaan Naja yang lugu itu. “Aku dokter, Nana sayang ... bukan cenayang atau peramal. Jadi semua harus di tes dulu, kami membaca hasil melalui pemeriksaan di laboratorium. Bukan kartu atau menyan.” Wanita cantik ini terus tertawa hingga kantuk yang menderanya perlahan amblas. Ia masih terkikik hingga sampai di depan ruangannya. Sementara Naja hanya menyengirkan senyumnya, ia terlalu penasaran dengan rasa hamil dan bagaimana penampakannya.
Begitu masuk, Naja dipersilakan duduk untuk ditanyai beberapa hal yang berkaitan dengan riwayat dirinya. Diambil sampel darah dan juga urine. Selagi menunggu hasilnya, Naja mengurangi perasaan berdebar, mulas, ingin muntah, tak sabar, dan juga takut dengan berjalan-jalan di luar. Ia semalaman menahan semua ini, hingga ia tak bisa tidur.
“Ternyata ada yang lebih menakutkan dan horor daripada demam panggung dan ketemu hantu,” batin Naja sembari mendaratkan tubuhnya di kursi yang berjauhan dari pasien lain. Poli kandungan rumah sakit ini, setahu Naja tak pernah sepi. Ia beberapa kali datang kemari, dan belum pernah mendapati kursi-kursi ini kosong. Wanita dengan perut membesar, wajah kesakitan, bahkan wanita dengan seorang anak yang baru bisa berjalan tetapi perutnya sudah tampak membuncit adalah pemandangan lumrah di tempat ini.
Naja tersenyum membayangkan dirinya dengan perut yang besar.
Dering ponselnya menyala panjang, ia bersegera merogoh ponselnya di saku celana. Tampak di sana, nama Sam tampak dilayar.
“Ya Mas ...,” jawab Naja yang langsung di serbu dengan ucapan Sam yang serak dan cepat.
__ADS_1
“Aku ke sana sekarang, Mas ...,” putus Naja setelah menimbang beberapa saat. Ia mematikan ponselnya dan masuk kembali ke dalam poli.
“Dokter, apa masih lama?” tanya Naja yang membuat Dokter Luna menaikkan wajahnya.
“Kau tidak sabaran rupanya ...,” ucapnya sambil tersenyum. “... tunggulah sepuluh menit lagi, Na ....”
“Bukan begitu, Dok ... saya harus kembali bekerja. Apa bisa hasilnya nanti Dokter kirimkan melalui pesan?” Naja menggigit bibir.
“Boleh ... nanti akan saya kirimkan melalui email ...,” jawab Dokter Luna sembari mengulas senyum. “Bekerjalah ... dan berhati-hatilah!” pesannya yang membuat Naja membungkuk dan mengucapkan pamit.
“Terima kasih, Dok ... saya permisi dulu.”
***
Naja menatap nanar gaun yang susah payah ia buat hampir setengah bulan terakhir. Gaun berwarna baby blue itu kini tampak compang-camping akibat terkoyak benda tajam. Ingin rasanya ia menangis, tetapi ia tak mau terlihat cengeng dan rapuh. Ia melangkah mendekati gaun itu dengan tangan terkepal, namun tubuhnya terasa lemas.
“Aku tidak tahu kenapa bisa seperti ini, Na ...,” Samanta yang sejak tadi berada di belakang Naja akhirnya membuka suara. Membelah keheningan yang menyela di antara keduanya. Ia merasa teramat bersalah atas kejadian yang di luar dugaannya.
“Pilihlah mana saja baju yang kau suka, Na ... meski tidak sebagus ini, tapi kurasa itu layak kau kenakan untuk acara sore nanti.” Samanta mendekati Naja dan mengusap-usap lengan Naja. Ia mengerti benar, Naja kecewa meski ia berusaha menutupinya.
Naja tertawa hambar. “Cici bicara apa? Semua baju Cici sangat pantas untuk acara itu, jangan terlalu dipikirkan Ci, ini musibah. Masih beruntung hanya bajuku yang di rusak bukan baju pelanggan Cici. Aku punya Cici, jadi aku ngga khawatir sama sekali.” Naja merebahkan kepalanya di lengan Samanta. Memeluk wanita yang begitu ramah dan mengayomi.
Samanta tersenyum lega. Ia pikir Naja akan menangis kejer sambil guling-guling melihat bajunya telah rusak. Tetapi, ia malah melihat hal yang sebaliknya.
“Kalau begitu ... ayo kita pilih satu untukmu. Dan segera pulanglah ... hari ini, tinggal mengantar satu dua pesanan saja. Jika bukan karena bajumu itu rusak, aku tidak akan memintamu datang. Saat ini, Sam sedang memeriksa cctv untuk mengetahui pelakunya.”
Naja mengangguk. Ia segera menarik tubuhnya dari Samanta. Keduanya lalu berjalan keluar dari ruangan itu. Menuju galeri yang berada di bagian depan rumah mode ini.
***
Sam duduk sembari menggigiti ujung jemarinya. Ia merasa frustrasi karena pelakunya begitu lihai menghindari kamera keamanan yang telah terpasang.
__ADS_1
"Sialan bener orang itu ... sepertinya dia sudah sering kemari melihat bagaimana dia dengan mudah menghindari cctv." Sam mengurut kepalanya yang berambut cepak ke arah belakang. Memberikan penekanan pada bagian belakang kepalanya.
Beberapa saat lamanya Sam menundukkan kepalanya yang berdenyut-denyut. Membenturkan keningnya pada meja kerjanya yang begitu dingin. Entah kebetulan atau memang si pelaku ini mengincar Naja saja, Sam bersyukur sebab bukan baju pelanggannya yang rusak, jadi ia tak terlalu merasakan khawatir yang akut. Tetapi tetap saja, hal ini membuat kewaspadaannya meningkat. Bisa jadi hari ini kebetulan salah sasaran dan besok-besok akan diulangi lagi hingga Sam&Sam mengalami kerugian. Tugas Sam lah untuk mengungkap ini semua.
Ia kembali tegak dan memutar ulang video rekaman itu. Ia mulai dari awal si pelaku masuk, bersembunyi, dan menyelinap masuk. Hingga di rasa aman, si pelaku mengeluarkan gunting untuk merusak gaun milik Naja tersebut.
Mata Sam terasa perih saat memutuskan untuk beranjak dari kursinya dan berjalan-jalan sebentar di luar ruang kerjanya. Ia berjalan sembari mengusap matanya, hingga tanpa ia sadari tubuhnya bertabrakan dengan seseorang yang begitu kuat mengumpatinya.
"Ngga punya mata lu?" bentaknya seraya beringsut bangun dari posisinya yang terjembab.
"Lu lagi ... lu lagi? Seneng banget lu datang ke sini! Heran gue, jangan-jangan lu nguntit gue, ya?" kesal Sam dengan mendengkuskan napasnya. Entahlah ia merasa sebal tiap kali bertemu Maureen yang menurutnya terlalu kaku dan kurang menarik. Satu-satunya wanita yang sama sekali tidak ia ingini untuk sekadar mendapatkan gombalannya.
"Kepedean lu ... gue mau nemuin Naja. Sayangnya, gue malah ketemu lu yang nyebelin ...," balas Maureen tak kalah nyolot dan membalas tatapan kesal Sam dengan cara yang sama.
"Lu juga nyebelin ... pergi sana ... muntah gue lihat lu." Sam berlalu sambil mengumpat.
"Niatnya mau cuci mata malah nambahin sakit mata." gerutunya sambil menendang udara kosong di depannya. Kini penglihatannya rasanya penuh dengan wanita yang baru saja dilanggarnya.
Sudut bibir Sam tertarik saat mengingat lagi wanita itu. "Kenapa jadi mikirin dia?" Sam menggeleng, ia memasukkan kedua tangannya di dalam saku celana dan kembali melangkah cepat. Berharap apa yang ia pikirkan tentang Maureen yang kini tampak lebih menyenangkan itu gugur bersama langkah yang ia tinggalkan.
.
.
.
.
.
Maaf typo yak ... mata othornya sepet, begadang sama bayinya adikku ... 🤭
__ADS_1
Bukan pelit up, ya ... aku siang nguli dan malem masih nemenin adikku yang punya debay ... jadi kl ngga bisa up cepet mohon dimaklumi ya🙏🙏🙏