Kekasihku, Asisten Adikku

Kekasihku, Asisten Adikku
Rujak Tengah Malam


__ADS_3

Mencoba meluruhkan kesalnya bersama titik air, Excel menumpukan tangannya ke dinding. Ia tak khawatir akan perasaan Naja, tapi Ai. Excel bisa memahami bagaimana perasaan Ai saat ini, mengingat lamanya mereka bersama, bukan hal mudah untuk melupakan semuanya begitu saja. Tentu bukan lagi masalah seharusnya, setelah adanya bayi, setelah semua yang mereka lewati, tetapi tetap saja, ia merasa buruk dan minder melihat besarnya cinta Ai untuk Naja. Ia selalu merasa kurang melimpahi Naja dengan kasih sayang. Ia selalu merasa kalah dari Ai yang memiliki apa yang Naja mau.


Mematikan shower dengan kasar, Excel segera menyudahi mandinya. Percuma saja mengeluh di sini, lebih baik dia segera mengembangbiakkan cintanya untuk istrinya itu.


Bau kacang tanah yang di sangrai memenuhi penciuman Excel yang sedang memakai baju.


Malam-malam begini? Segitu amat ya, orang ngidam itu?


Bergegas merapikan diri, Excel segera menyusul Naja di dapur. Sejenak memastikan bahwa jam sudah menyentuh dua belas malam.


Wanita berperut buncit itu tampak berdendang riang. Bakal rujak telah tersedia di meja, tampak olehnya, Naja sedang mengupas mangga hasil buruannya.


“Kenapa ngga minta bantuan teh Esih saja?”


Naja sedikit terkejut mendengar suara Excel dari arah tangga, “Au ...,” kurang hati-hati, pisau yang ia gunakan untuk mengupas mangga mengiris telunjuknya.


Astaga.


Salahnya juga tidak berbicara dalam jarak dekat, hingga suaranya terdengar keras dan mengejutkan.


Excel melompat dan dalam gerakan cepat, ia telah sampai di depan Naja. “Maaf, maaf.” Excel segera membalut luka yang mengeluarkan darah itu dengan ujung kaosnya. Tangannya menggapai pintu rak kabinet untuk mengambil kotak p3k.


“Ngga papa, kok ... lukanya ngga dalam. Nanti juga sembuh.” Naja malah khawatir sendiri melihat wajah Excel yang tampak panik dan merasa bersalah. Ia tahu suaminya itu lelah, tapi dia juga sangat ingin makan rujak mangga.


“Ngga papa gimana? Darahnya banyak begini, kok ... biar aku obatin dulu.” Bekerja dengan cepat, Excel mengoleskan obat merah pada luka yang mengiris permukaan kulit telunjuk Naja. “Ini sangat perih, tahan ya!”


Hingga Excel menyelesaikan balutannya, Naja masih meringis merasakan ujung jarinya berdenyut-denyut.


“Beritahu caranya buat rujak!” titah Excel usai menyimpan wadah p3k ke tempatnya semula.


“Aku bisa sendiri, istirahatlah ... pasti lelah setelah petik mangga tadi.” Naja berusaha tersenyum tapi suaminya itu sepertinya telah banyak belajar membaca ekspresinya, sehingga ia kini telah mengambil mangga dan mulai mengupasnya. Tanpa memedulikan perkataan Naja.


“Sudah malam, makan asemnya dikit aja, besok di lanjutin. Jangan pedes-pedes, nanti perutmu begah dan ngga nyaman! Ce—“


“Iya, ngerti ... makanya cepet kupas mangganya. Biar aku ulek bumbunya.”


“Ngga diblender aja?”


Naja yang sudah siap menggesekkan ulekan di tangannya dengan bakal sambal rujak pun menoleh. “Enakan di ulek.” Menyengirkan senyumnya, Naja mulai beraksi.


“Sini biar aku saja!”


“Tidak usah, Daddy mana bisa ngulek kacang begini?”


“Sembarangan! Ngulek kamu sampe lumer saja bisa kok, ini cuma kacang ... sini!” menggeser dengan paksa, Excel meraih sambal yang sudah setengah hancur itu dan melembutkannya.


"Ish ... mana ada yang seperti itu?" tamparan sedikit terasa mendarat di lengan Excel, membuat pria itu mengaduh dan tertawa.


“Bukan gitu caranya, Dad ... sini-sini ... ih, nanti malah ngga jadi bikin rujaknya!"


Naja yang melihat Excel menumbuk-numbuk kacang itu hingga tercecer ke mana-mana, mendadak kesal, bisa-bisa gagal merujak nantinya.


“Kenapa serba salah, sih?” Excel menyerah, ia menepi dan membiarkan Naja menyelesaikan semuanya.

__ADS_1


"Daddy duduk saja, diam dan perhatikan!" perintah Naja dengan ulekan mengancung ke arahnya. Dibawah tatapan Excel, Naja bergerak tangkas dan cepat. Tak sabar ingin makan rujak. Yang mangganya milik mantan. Naja terkikik geli memikirkan keinginannya yang sedikit aneh itu.


Tak berapa lama, rujak sudah siap dengan beberapa buah lainnya.


"Rujak buatan mommy sudah siap ...," menggesekkan tangannya penuh minat, Naja mulai melahap rujak itu tanpa menawari suaminya. Pikirnya, mana mau dia dengan makanan begini.


Melihat Naja yang menyantap rujak itu dengan nikmat, Excel berliur juga. Ia tergoda untuk ikut menikmati rujak yang menguarkan bau yang khas.


“Daddy pengen?” Naja mengulurkan sepotong buah dengan sambal kacang di atasnya, ketika ia mendengar suara tegukan dari leher suaminya. Tanpa berpikir dua kali, Excel menyambar tangan Naja dengan bibirnya. Menikmati rujak yang begitu enak menurutnya. Lagi dan tak mau berhenti, Excel bergantian mendapat suapan dari tangan Naja.


"Kenapa jadi Daddy yang doyan, sih?"


Belum sempat menjawab, dering ponsel Naja berbunyi nyaring, ia langsung menyambar ponsel itu dan menjawabnya. “Mama,” ucap Naja tanpa suara pada Excel yang tengah menatapnya penuh tanya.


“Na ... suamimu mana? Dari tadi Papa nelponin kok ngga diangkat?”


Naja kembali menatap Excel. “Ada, Ma ... lagi nemenin aku makan rujak! Memangnya ada apa, ya, Ma?”


“Malam buta begini, kalian ngerujak? Ngga salah tuh yang diulek?” suara tawa Kira menggema hingga ke telinga Excel, membuat pria itu menggeram kesal.


Mama ...!


“Bilang sama suamimu, Na ... file-nya ditunggu Papa!”


“Iya, Ma ....”


“File nya ditunggu papa, kata mama.” Lagi, ucapan Naja hanya bisikan lirih. Seketika Excel membesarkan mata, ia langsung melompat dan berlari ke kamar, terlupa pada pekerjaan yang seharusnya sudah selesai berjam-jam lalu.


Wanita itu memang merusak segalanya.


Excel benar-benar fokus menyelesaikan pekerjaannya, hingga tidak sadar Naja sudah berdiri di belakangnya.


“Makasih, Dad ...,” bisik Naja yang membuat Excel berjingkat jelas. Tangan pria itu membenahi letak kacamatanya yang miring karena lompatannya.


Dari arah bahu, hingga turun ke dada, Naja menelusur lembut. Terus turun dan menarik kaos Excel. “Angkat tanganmu, Dad ...!” pinta Naja sedikit mendesah.


Sial, mana belum selesai lagi pekerjaanku.


Meski mengerut, Excel menurut saja. Dadanya berdebar-debar.


Naja menarik tangan suaminya setelah berhasil menelanjangi tubuh atas Excel. Lalu mendorong dengan nakal ke atas ranjang.


Semakin mengerut, ketika Naja malah meninggalkannya dan beranjak menuju lemari. Entah apa yang diambil wanita itu dari sana, Naja menyembunyikannya di balik tubuhnya.


Merangkak di atas tempat tidur dengan lututnya, Naja menduduki paha suaminya. Menyuruh Excel bangkit dengan telunjuknya.


Senyum pria itu mengembang sempurna, dalam hati ia bersorak gembira. Akhirnya, Naja berinisiatif terlebih dahulu, hanya karena mangga dan menemaninya makan rujak.


It’s Amazing.


“Daddy, ganti baju dulu, bajunya ‘kan kotor, kena darah tadi!” Naja mengacungkan kaos yang sejak tadi ia sembunyikan dibalik tubuhnya.


What? Kirain ....

__ADS_1


"Makasih untuk mangganya, makasih untuk rujaknya, makasih juga untuk kesabaran Daddy menghadapi Mommy."


Naja mengarahkan tangan Excel menyentuh perutnya. "Dedek seneng katanya, Dad ...."


Ada-ada saja, pikir Excel. Tetapi Excel tetap tersenyum, meski agak geli karena ia tidak merasakan apa-apa selain senang atas penghargaan Naja padanya.


"Dia bilang apa lagi?"


"Makasih Daddy ... besok lagi, ya!" Naja tertawa melihat Excel yang mengerutkan bibirnya. Lalu berguling pelan disisi Excel, membiarkan suaminya memakai pakaian dan berbaring bersisihan.


Lalu tangan pria itu membelai lembut perut istrinya. Mengecupinya hingga Naja cekikikan karena geli. "Baik-baik di perut Mommy, ya ... jangan minta yang aneh-aneh." bisiknya.


Lantas ia kembali ke sisi Naja, menciumi seluruh wajah yang masih berhiaskan tawa. "Bahagia ngga jadi istriku?"


Seketika tawa Naja surut, "Sebelah mananya aku terlihat ngga bahagia?" Naja membelai pipi suaminya. Menatap dalam wajah yang mendadak sendu.


"Aku akan mengatakan setiap hari kalau aku bahagia menjadi istrimu, jika kamu masih meragukan aku ... aku sangat, sangat bahagia."


"Bagaimana perasaanmu pada Ai?"


Naja membuang napas perlahan, mengarahkan tangannya membelai punggung leher suaminya. "Ai ... dia akan tetap menjadi bagian dari kenangan masa laluku. Kami pernah bersama sangat lama, kau tidak bisa menyalahkan itu, 'kan? Tetapi, aku tidak hidup untuk masa lalu, aku hidup untuk kamu di masa depan. Jadi, andai cintaku ke kamu belum cukup kuat, kuharap kita bisa sama-sama saling menguatkan. Biarkan hati kita sama-sama saling mengisi, hingga penuh dan tumpah kemana-mana."


Excel tersenyum, ia menyukai mata yang selalu jujur itu. Mata jernih itu berkedip pelan, saat Excel menyisihkan rambut yang menghalangi pandangannya.


"Kenapa tiba-tiba menanyakan Ai?"


Senyum Excel kembali terbit, "Setidaknya kalau aku minta mangga lagi, aku tidak terlalu minder. Karena kupikir kamu masih menyimpan rasa untuknya, dan Ai bilang mangga itu memang untukmu. Apa itu tidak cukup membuatku mencurigaimu?"


Naja menaikkan sebelah alisnya, sebelum tertawa hingga mengadukan keningnya. "Ya, aku dulu memang ingin sekali punya halaman rumah yang ada pohon mangganya, aku suka mangga. Pengen gitu makan mangga puas-puas."


"Hanya itu?" Naja mengangguk. "Besok kita beli perkebunan mangga deh, biar kamu puas makan mangganya, tanpa minta ke Ai lagi."


"Tapi kalau kebunnya jauh, tetep mintanya ke Ai lagi, hehehe. Yang deket maksudnya." Naja buru-buru meralat ucapannya, ketika Excel kembali merengut masam.


"Sudah Daddy, udah malem, bobok!" Ia menarik tangan Excel dan mengusapkannya di perutnya, mengalihkan perhatian Excel dari wajahnya. "Dedek seneng banget di elus-elus Daddy." ucap Naja sambil memejamkan mata, tubuhnya bergerak mencari posisi yang nyaman.


Excel mendengkus pelan, "Pinter ngeles ya, sekarang!" tangannya bergerak pelan, mengusap perut istrinya yang tengah cekikikan mengusik dadanya.


Tiba-tiba Excel membeku, seperti tersengat listrik bertegangan tinggi. "Na, babynya gerak!"


"Iya, Dad ...!" Naja langsung meraba-raba perutnya. Kedua calon orang tua itu saling pandang dalam keterkejutan.


"Na—"


Tak sempat Excel berucap, Naja sudah menubruknya. Menumpahkan tangis penuh kebahagiaan. Sementara Excel tak henti merekahkan senyumnya. Kebahagiaannya sempurna.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2