
Arah angin telah berganti, lembab membelai wajah. Dewi bumi merindu peluk hangat sang mentari. Pun dengan seorang wanita yang sedang meluruskan tubuhnya di kursi pembaringan yang terbuat dari bambu, tengah merindukan kekasih hatinya. Membiarkan tirai yang membingkai jendela bergoyang tertiup angin basah, di luar tetes air sekencang peluru melesat, tengah menghujam bumi.
Mendesah kesal, ia bangkit dan meraih daun jendela untuk menutupnya, bias-bias air mulai nakal menimpa wajahnya. Meski hanya sebesar debu, tetapi lama-kelamaan wajahnya terasa basah. Mengganggu kesenangan wanita itu yang tengah membaca novel online. Masih dengan wajah bersungut, ia mendekati pintu kamar, mengulurkan kepalanya untuk memeriksa keadaan sang bapak yang sepertinya baru bisa tertidur lelap usai terapi pengobatan yang dijalaninya tiga hari lalu.
Senyum mengembang, ia kembali memutar langkahnya ke dipan yang membuatnya malas beraktivitas seharian ini. Sejak Pita dinyatakan hamil dan harus banyak beristirahat, Naja menggantikan buliknya itu menemani Edi melakukan kemoterapi. Pun dengan kali ini, Naja meninggalkan pekerjaan dan suaminya untuk menjaga bapaknya.
“Na ... gasnya habis ....” baru saja Naja akan merebahkan tubuhnya kembali ke dipan, Wasti memanggil dengan tenaga penuh dari arah dapur. Tubuhnya yang setengah merebah pun, ia tegakkan lagi. Hujan masih riang mencerca bumi, sementara tubuhnya terasa enggan bila bersentuhan dengan hawa dingin di luar yang membuat tubuhnya merinding. Tetapi, ia segara meraih dompet, helm, dan jas hujan yang sekalian ia kenakan. Tidak mungkin ia membiarkan begitu saja perintah ibunya. Lagi pula, seharian ini ia hanya bermalas-malasan di dipan.
“Pakai jas hujan dan helm, Na ... nanti kehujanan kamu malah sakit, mana seharian kamu belum makan! Memangnya masakan ibu hari ini ngga sesuai sama selera kamu?” Wasti mendengar Naja melangkah ke arahnya, ia masih sibuk mengambil tabung gas yang masih terhubung dengan selangnya. Tak berniat untuk menoleh ke arah putrinya yang ia yakini tengah menguncupkan bibirnya.
“Lagi males makan, Bu ... ngga laper.” Naja menghampiri ibunya. Sekilas ia melirik wajan yang bertengger manis di atas kompor. Masakan yang diolah tadi pagi masih utuh, tak tersentuh. Ia benar-benar tak lapar.
Wasti berdiri sambil mengulurkan tabung yang sudah kosong ke tangan Naja, lekat ia menatap putrinya. “Besok pulanglah ... nanti kamu makin kurus kalau nahan kangen lebih lama lagi!” Wasti mengakhiri ucapannya dengan hembusan napas. Ia cukup mengerti, asmara anaknya masih menggebu mengingat usia pernikahan mereka yang baru menginjak enam bulan.
Naja membalas tatapan ibunya, sedikit kesal. “aku ngga sedang kangen Excel, Bu ... cuma ngga laper aja, seharian 'kan aku hanya rebahan doang ... ngga ngapa-ngapain.”
Wasti melebarkan kelopak matanya, “Sudah berapa kali ibu bilang, jangan panggil suamimu seperti itu!”
Naja menjauhkan wajahnya dengan bibir meliuk, “Ih ... dia aja ngga keberatan, kok ....”
Berlalu pergi dengan cepat, ia membuka pintu dapur lebar-lebar, membiarkan suara berisik hujan menenggelamkan suara Wasti yang masih mengomeli Naja.
Pori di sekujur tubuh Naja meremang seketika tatkala angin dingin kembali menembus jas hujan yang ia kenakan. Naja menghembuskan napas, memompa keberanian untuk menerabas hujan.
***
“Mbak, gasnya ada?” Naja mengulurkan kepalanya ke dalam toko yang berada di pertigaan jalan besar tanpa melepas jas hujan dan helm yang dikenakannya, tetapi si pemilik toko sepertinya mengenali Naja dengan baik.
“Ada, Na ... dua puluh ribu.” Wanita yang sedang hamil besar itu tampak semringah menghampiri Naja. Ia meraih tabung gas tiga kiloan yang Naja ulurkan kepadanya beserta uang dua puluh ribuan yang terselip di jari Naja.
__ADS_1
“Ambil sendiri, ya, Na ... itu dipojokan luar!” Yul, biasa dipanggil, menunjukkan tumpukan tabung gas yang berada di pojok teras dengan pagar besi sebagai pembatas.
“Iya, Mbak ...,” Naja mengangguk dan melangkah hati-hati karena teras itu begitu licin karena air hujan.
“Kamu hamil juga, Na? Hati-hati banget, jalannya?”
Pertanyaan Yul membuat Naja menoleh sekilas dan menggeleng. “Belum, Mbak.” Senyum yang entah apa maksudnya, merentang dibibir Naja.
“Jangan menunda kehamilan, Na ... usia muda bukan alasan bagi seorang wanita menunda kehamilannya.”
“Aku ngga nunda, kok, Mbak ...,” cetus Naja jujur. Tiba-tiba hatinya tersulut mendengar ucapan Yul yang seolah menyudutkannya.
“Kalau begitu, kamu pasti ngga subur, besok cek ke dokter kandungan, Na ... takutnya ada masalah sama rahim kamu!”
Naja membisu, ia alihkan perhatiannya pada rintik hujan yang memercik ke kakinya. Perasaannya terganggu, hatinya tidak baik-baik saja. Ketika seseorang mengusik tentang kehamilan. Tiba-tiba ia begitu ingin secepatnya hamil.
Ah ... besok aku harus pulang.
***
Pintu terdorong dari luar, menampilkan sosok tinggi yang nyaris menyentuh kusen atas pintu. “Malam, sayangku ...,” sapanya dengan mengedipkan sebelah mata, tatkala wanita di depannya menoleh cepat dan menampilkan ekspresi terkejut.
“Kok kamu nyusul?” pertanyaan bodoh yang membuat Excel mengendikkan lehernya.
“Tidak suka?”
Naja menghamburkan langkah kakinya tergesa-gesa, “Aku hanya terlampau senang ...,” tanpa sungkan, ia melingkarkan lengannya di pinggang Excel hingga Excel tertarik masuk ke dalam kamar. Kaki Naja berjinjit saat ingin meraih bibir suaminya, tetapi Excel menjauh sebab pintu masih terbuka.
Mengamankan pintu dengan kakinya, Excel segera melahap bibir pucat istrinya. Jika bukan rindu yang mulai nakal menggerayanginya, buat apa jauh-jauh kemari?
__ADS_1
Decap-decap khas mulai meramaikan ruangan ini. Begitu menggebu hingga daster dengan kerut di sekitar leher itu dengan mudah turun. Dingin? Dia sudah menepi karena malu, panas dari tubuh dua orang itu bahkan bisa mematangkan sebuah telur.
Kaki Naja mendorong tubuhnya untuk melompat, membelit tubuh suaminya dengan kaki kecilnya. Excel terkesiap, berapa hari tak jumpa, istrinya mulai nakal dan agresif. Sebegitu rindunya, kah? Atau ada hal yang lain? Tunggu sebentar.
Excel menyudahi jajahannya, tetapi Naja terus memburu Excel dengan napas yang tersengal dan berkabut gairah. “Hei-hei ... pelan-pelan, kita masih punya banyak waktu. Kau ini kenapa?”
Tangan Excel menangkup sisi kepala Naja dan menahannya.
“Ayo kita buat bayi ...!” cetus Naja dengan dada naik turun, membuat penghuninya yang masih terbingkai itu tampak bulat menggoda.
Senyum Excel tertahan. “Sudah siap jadi ibu?” Naja mengangguk dan berusaha membebaskan diri dari kungkungan tangan Excel. “Yakin?”
Kembali mengangguk dan menyerbu, Excel menyambut istrinya dengan senang hati. Ia menyangga tubuh yang masih melekat padanya. Dengan senang hati. Dewi batin Excel bersorak gembira.
Kasur yang melantai itu semakin melesak turun ketika dua orang itu menimpanya dengan lembut. Kembali berpadu, keduanya menanggalkan jarak dan membiarkan napas saling bertukar.
Pikiran akan ucapan Yul kembali menyeruak, Naja memejam, berusaha menikmati perlakuan suaminya. Tetapi gagal, tiba-tiba perasaannya hambar. Bagaimana jika dia memang tidak subur dan tidak punya anak? Sementara ia tak menundanya.
Perut Naja bergolak, ia segera membuka mata dan menutup bibirnya. “Stop, Cel ... aku ingin muntah.”
Excel tersedak saat mulutnya penuh. Ia melepasnya perlahan. Ia mengerjap. Yang benar saja? Ia menatap tubuh bawahnya yang langsung lemas.
.
.
.
.
__ADS_1
.