
Dua hari berikutnya, Excel baru membawa Naja pulang. Membiarkan terlebih dahulu, istrinya membagi bahagia dengan kedua orang tuanya. Setelah ini, Naja tidak akan ia izinkan bolak-balik pulang dan tentu Excel sudah mempersiapkan berbagai hal yang berkenaan dengan kelanjutan pengobatan tersebut.
Menyempatkan diri memeriksakan lagi kandungan Naja, Excel berniat memberi kejutan dengan mendatangi rumah orang tuanya. Tanpa memberitahukan apa pun sebelumnya, Excel dan Naja kini tengah menapaki tangga menuju pintu utama rumah mewah ini.
“Tumben sepi?” baru saja kalimat itu meninggalkan bibir Naja, suara letupan diiringi konfeti beterbangan di ujung ruang tamu.
“Selamat menjadi orang tua!” Seru seluruh keluarga besar yang berjubel dan saling berebut menyelamati dua orang yang tercengang dan membatu di tengah-tengah pintu yang menganga lebar.
Excel mengakhiri keterkejutannya dengan menghembuskan napas lelah. Dia lupa kalau di dalam keluarga ini, dia tidak bisa menyembunyikan sesuatu, terlebih berita yang menggembirakan seperti ini. Melihat siapnya sambutan ini, Excel yakin mereka telah tahu sejak berhari lalu. Tentu saja, calon nenek pasti akan saling membagi informasi dan saling menjaga rahasia.
Kompak sekali mereka.
Di barisan depan dan yang paling awal menghambur ke pelukan Naja adalah Jen. Mereka berpelukan lalu berteriak dan melompat kecil, tetapi, Naja segera menghentikan itu karena ekor matanya menangkap gelagat Excel yang hendak melemparinya dengan segala macam peringatan.
“Please deh, kak, bisa ngga ekspresimu itu di ganti saja? Kadang aku enek lihat wajahmu yang masam itu.” Jen yang baru saja akan memeluk Excel, memandang sinis wajah kakaknya yang tampak merengut. Kenapa sih, dia?
“Berisik ... kalau ngga suka, tutup saja matamu itu!” sembur Excel semakin kesal.
Jen terkekeh, “Mau jadi babe, kok ngambekan. Betewe, selamat ya, kak ... jangan kesal kalau kamu ngga bisa buat surprise untuk kami. Radar kami dimana-mana.” Jen menyudahi bicaranya yang mirip desisan itu dengan menepuk pangkal lengan Excel, lalu menjauh dengan ekspresi mengejek yang menyebalkan.
Kira yang sudah tidak sabar, segera mendekap menantunya hingga seperti terhimpit saking kerasnya pelukan itu. Ia bahkan mengabaikan kedua tangan Excel yang sudah menggantung menyambutnya.
Tak ingin membuat pelukan anaknya sepi, Harris menggantikannya. Dia hanya erat mendekap putranya, tanpa sepatah kata ia ucapkan. Menepuk punggung putranya dengan keras hingga Excel berguncang.
“Makasih, Pa ...,” Excel menahan haru yang mengambang.
“Papa yang berterima kasih, karena kamu sudah melengkapi hidup papa. Memberi papa pengalaman baru menjadi seorang opa.”
Excel merentangkan senyum dan mengusir cairan yang merembes di pelupuk matanya. Tanpa bicara pun, semua tahu bahwa dua pria itu saling mengungkapkan kebahagiaan lewat sorot mata mereka.
Di kerumunan itu, di antara sambutan hangat yang diterimanya, Excel melihat papa kandungnya dan Alicia. Mereka berdiri di ujung paling belakang. Seolah membiarkan euforia menjadi milik keluarga besar Dirgantara. Excel tahu, papanya—meski sudah berusaha membaur—tetapi rasa ciut dalam diri seorang Rian bisa dengan jelas terlihat.
“Papa sudah lama?” masih berjarak empat, lima langkah, Excel sudah menyapa Rian. Bahkan Alicia, begitu melihat Excel mendekat langsung menghambur ke arahnya. “Apa kabar adik kakak?”
Selalu begitu, Excel menyebut adik lain ibu ini dengan sebutan yang layak. Entahlah, Excel hanya iba melihat gadis ini, saat mata indahnya menatap orang lain yang memiliki mama.
“Baik, kak.” Alicia meraih punggung tangan kakaknya. “Selamat ya kak, Sia ikut senang mendengar berita ini.”
“Terima kasih, Dek.” Excel mengusap lembut rambut Sia hingga ke punggung. Mendorong punggung Sia untuk berjalan bersama, Excel menghampiri Rian yang sudah mengubah ekspresinya menjadi lebih tegar.
__ADS_1
“Selamat ya, Nak ... papa sudah lama menantikan kabar gembira ini.” Dua pria itu saling berpelukan sejenak melepas rindu. Ada seraut bahagia di antara dua pria itu. Meski Rian acapkali menampakkan getir di sudut senyumnya, akan tetapi, Excel selalu memberinya penguatan. Terlebih, Jeje hingga saat ini belum bisa berdamai dengan Rian.
“Makasih, Pa ... sebaiknya kita bergabung dengan yang lain, apa papa tidak ingin menyapa mantu dan cucu papa?”
Ragu sejenak melingkupi, ada rasa tak pantas, tetapi Rian harus segera menepisnya, menghargai Kira yang telah repot-repot memberitahu kabar ini dan Excel yang berusaha menghangatkan suasana. Selalu, Rian tak pernah merasa baik saat berada di tengah keluarga ini.
Rian mengangguk lalu mengikuti Excel, membaur dengan yang lain. Menikmati gempita bersama.
***
Syukuran kecil-kecilan dan sederhana, berlanjut di meja makan, melalui panggilan video call, Ustadz Ilham memimpin doa. Bahkan Jeje yang berada di Jepang, juga ikut bergabung meski ia terlihat lelah karena baru saja menyelesaikan pertandingannya.
"Senang rasanya rumah ini akan kedatangan malaikat kecil lagi." Harris mendekati Kira yang menyaksikan kebahagiaan keluarganya di ujung ruang makan. Harris selalu tahu, bahwa istrinya itu begitu melankolis saat bersinggungan dengan kebahagiaan putranya.
Tubuh yang masih sama bagusnya seperti saat usianya masih muda dulu, menjadi sandaran untuk punggung Kira. "Iya, Pa ... rasanya baru kemarin Excel menyelesaikan TK nya, sekarang dia akan jadi orang tua juga. Kita sudah tua, ya, Pa ... waktu cepet banget jalannya."
"Kamu aja yang tua, aku sih enggak ... lihatlah, aku masih sangat mampu, bahkan untuk punya anak lagi." Harris menunjukkan otot lengannya di depan Kira. Penuh bangga.
"Kalau mau bikin anak bukan pakai otot lengan, Pa ... tapi otot yang lain, yang udah lemes." Kira mengintip suaminya dari bawah dagu yang sedikit ditumbuhi bulu.
"Jangan harap kau bisa tidur malam ini, Akira!" Mata Harris memang menatap lurus ke arah meja makan, tetapi kesungguhan di mata pria itu tak terelakkan. Kira harus selalu ingat, pria ini, suaminya ini, Harris Dirgantara, lelaki yang tak pernah ingkar janji.
***
Satu setel piama putih bergaris abu gelap itu sudah melekat di tubuh Naja, tetapi celana panjang yang kebesaran berulang kali melorot, sehingga Naja melempar celana itu begitu saja. Menyerah, Naja mematut diri didepan cermin, mengepas piama yang menelan tubuh kecil Naja.
"Aman lah ... toh mau tidur dan ngga keluar lagi," gumam Naja sambil berlalu tak peduli. Atasan piama milik suaminya itu sudah menutupi sebagian kecil pahanya. Tinggal membalut dengan selimut, pikirnya.
Menguap dan menarik tangannya ke atas, Naja mematikan lampu dan menenggelamkan diri di atas kasur. Lelah sekali rasanya.
Memejamkan matanya, "Malam, anaknya Mommy." Naja mengusap perutnya yang sudah sedikit menggelembung. Ya, tanpa ia sadari, kandungannya sudah berusia sepuluh minggu. Ia geli sendiri mendengar suaranya.
"Malam juga Mommy ...," sahut Excel yang membuat napas Naja membeku.
Kapan dia masuk?
Excel muncul di ufuk matanya. Tampak segar dan merona bahagia.
Bibir Naja meliukkan cibiran. Dapat jamu setrong apa dia? Wajahnya mengerikan.
__ADS_1
"Mommy ... dedeknya kangen ngga?"
"Enggak ...!" Naja melotot tajam. Tubuhnya beneran lelah hari ini. "Tidur, besok kerja!"
"Mulai besok, Mommy dirumah nungguin Daddy pulang. Teh Esih juga sudah berkemas untuk kerumah kita."
Tidak peduli, Excel merayu Naja dengan cumbuannya. Sebentar lagi, keadaan berbalik, bukan dia yang butuh tapi ... Naja yang akan memburunya.
"Tidak bisakah aku tetap bekerja?" Memberi akses sebebas-bebasnya, Naja menengadahkan kepalanya. Ya, dia mau ini, dan ini. Lalu sebelah situ.
"Ajukan keberatanmu pada Mama." Excel bangkit, menjauh. Ia tahu harus melakukan itu. Turun dari ranjang dan berlalu ke kamar mandi.
Naja menggeram dalam diam. Oh gosh .... setelah semua ini?
Tidak ....
Naja menarik dirinya hingga duduk. Menyingkap selimutnya bahkan menendangnya jauh-jauh.
Langkah lebarnya menyusul Excel di kamar mandi, sekilas ia melihat bekas yang ditinggalkan si penghisap darah itu saat melintasi cermin. Dia gila.
Besok pagi-pagi, Naja harus meminjam foundation milik Jen jika ingin hidupnya tentram. Bukan pinjam, tapi mengambil diam-diam, bibir Jen bisa berubah jadi ember bocor jika sampai tahu hal ini.
Mendobrak dengan kasar, Naja membuka pintu lebar-lebar. Di sana Excel tengah membuka baju untuk menukarnya dengan piama yang sudah di siapkan Naja, menatap Naja dengan kedua alis menggoda.
"Mau di eksekusi di sini?"
.
.
.
.
.
Maaf kemarin ngga up ... 🙏
Ah, si thor mah gitu, mo alasan apa kali ini, thor?
__ADS_1
Em ... anu, lagi bikin adonan ... ya kali, bikin adegan kaya diatas ngga survey dulu. Ngawur nanti yang ada ... 😂😂😂
Canda ... jan diseriusin ... aslinya ngarep ada yang kangen😂