
Naja mengayunkan kakinya tanpa tujuan, menyusuri tepi jalan yang masih lengang. Hingga sampai di sebuah kursi kayu memanjang, Naja melemparkan tubuhnya di sana. Tanpa membawa ponsel, kini Naja benar-benar sepi.
Ai mungkin sekarang sudah bersiap pulang demi dirinya. Tapi, jika orang tuanya sudah menerima lamaran orang lain, apa yang akan dia katakan pada Ai nanti? Ada hati yang harus dijaga. Ada perasaan yang harus tetap mengalir sebagaimana mestinya. Ada cinta yang seharusnya diperjuangkan. Namun, dari sisi ini, Naja merasa hati, perasaan dan cintanyalah yang harus kalah. Demi seorang pria yang telah memberinya hidup.
Naja menengadah, mencegah hujan yang mulai menggenang. Langit menggiring awan ke arah selatan, berarak indah. Seolah langit selalu tahu bagaimana memberi ruang pada matahari agar sinarnya tidak terhalang. Langit selalu lembut meski tak jarang sering menimpakan murka yang menyakitkan. Meski tak jarang di antara cerahnya siang, langit begitu tinggi dan angkuh.
Saat ini, dia hanya ingin mengatakan kepada Ai, adakah jaminan kebahagiaan untuknya jika menentang keputusan orang tuanya? Naja akan membawa jaminan itu di hadapan orang tuanya. Walau dari sini pun juga sudah jelas, Naja menghadapi gelombang tinggi jika tetap bersama Ai.
Andai dia bisa egois.
“Di sini kau rupanya?”
Naja buru-buru menghapus air mata yang menjejak di pipi.
Tara menggeser posisi duduk kakaknya dengan melesakkan tubuhnya berdempetan dengan Naja.
“Maaf aku tidak memberitahumu tentang lamaran itu, karena aku juga baru tahu beberapa hari lalu.”
Naja hanya tersenyum lemah menanggapi ucapan adiknya. Tidak ada bedanya diberitahu atau tidak. Hasilnya cukup jelas sih, tapi jika bisa, Naja hanya akan mengambil satu saja jalan. Yang dipikirnya bisa mengubah keadaan suatu hari nanti. Entah itu kapan.
“Aku tahu, entah hari ini atau esok Ai akan melamarmu, tapi karena Bu Linda ... bisa dipastikan bapak tidak akan merestui kalian.” Terang Tara.
“Aku tahu, Ra. Makanya aku memutuskan tidak akan melanjutkan hubunganku dengan Ai. Tapi aku juga tidak akan menerima lamaran pria itu.” Jawab Naja tegas. Menyangkal bahwa hatinya rapuh saat mengatakan ini. Naja benar-benar remuk.
“Itu bisa kau putuskan nanti, saat kau bertemu pria itu.”
“Maksudnya?” Naja begitu terkejut mendengar ucapan Tara.
Tara kini mengela napas, “Ya ... kau menerima atau menolak, keluarga pria itu tetap akan datang kemari. Dan sayangnya ... keputusan bapak menerima lamaran pria itu sudah bulat. Bapak berpikir, jika kamu tidak menikah saat ini, selain karena sakitnya bapak juga karena bapak tidak mau kamu memiliki peluang untuk bersama Ai.”
__ADS_1
Apa ini?
“Tapi Ra, bukankah menikah dengan orang yang tidak kita cintai juga tidak akan membuat kita bahagia? Sedangkan bapak bilang kalau dia ingin melihatku bahagia ... apa yang membuat bapak yakin jika aku akan bahagia dengan pernikahan yang ... yang ...,”
Terpaksa ....
Naja tak mampu melanjutkan ucapan yang sudah berada di ujung bibir. Kejam sekali kata itu bila tersemat. Apa ada anak yang merasa terpaksa demi kebahagiaan orang tua yang telah mengaliri buah hati mereka dengan kasih sayang?
Naja bangkit lalu berjalan hilir mudik dengan perasaan tak menentu. Bingung. “Ra ...,” kini Naja menghadapi Tara yang menunduk. “bantu aku meyakinkan bapak, bahwa keadaan saat ini tidak baik untukku ke depannya nanti.”
Bahkan kini Naja duduk lebih dekat dengan Tara, menatap saudaranya itu dengan penuh permohonan, hingga Naja menggenggam erat kepalan tangan Tara yang sedang menumpu lutut.
“Aku tidak bisa Ja,” Tara melukar genggaman tangan Naja yang begitu ketat menangkup jemarinya.
“Kenapa?” tanya Naja kecewa hingga bening matanya kembali berbingkai kaca. Buram ... tapi sorot mata Naja tetap mengikuti gerakan tubuh Tara yang menegak.
Tara membalas tatapan kakaknya dengan sendu, “karena pria itu menyukaimu, Ja.”
“Seharusnya itu sudah cukup untuk menjadi modal awal hubungan kalian. Kau cukup menjadi istri dan anak yang baik saat ini.”
“Apa kau bilang?” Bentak Naja sambil berdiri. “Cukup? Cukup apanya, Ra?” Naja mengigit bibir saat Tara kembali menunduk. “Kau tahu akan seperti apa hidupku nanti tapi kau malah mengatakan omong kosong. Kau bahkan masih bocah yang belum mengerti bagaimana di posisiku, Ra! Astaga Tara ....” Teriak Naja.
Teriakan Naja membuat perhatian orang-orang yang tengah melintas tertuju pada mereka. Namun Naja tidak peduli. Bahkan kini, Naja sudah luruh di trotoar dengan tubuh terguncang tangis.
Tara meraih tubuh Naja dan menuntunnya kembali duduk.
“Naja ... dengarkan aku!” Tara menepuk bahu Naja dan menatapnya intens. “Saat ini yang paling penting adalah kebahagiaan dan ketenangan pikiran bapak demi kelancaran pengobatan dan kesembuhan bapak. Aku memang jahat memaksamu melakukan ini. Tapi ....,”
Tara menangkup pipi basah Naja, memaksa manik mata keduanya beradu, “Aku Tara, adikmu ... berjanji akan membantumu sebisaku, semampuku, melindungimu dan menjagamu, sebagai ganti karena saat ini aku tidak bisa melakukan apa-apa untukmu. Kita bahagiakan orang tua kita di penghujung usia mereka. Andai saja aku di posisimu, aku akan melakukan hal yang sama denganmu.”
__ADS_1
Ucapan Tara layaknya palu hakim yang diketuk. Keputusan dari drama yang sebenarnya bisa ditebak kemana akan bermuara. Lunglai sudah tulang di tubuh Naja. Naja memejamkan mata, melihat bayangannya menikah dan Ai yang kecewa juga bapaknya yang tak berdaya. Membuat Naja kembali menangis hingga berguncang.
**
Tara dan Naja saling merangkul saat memasuki rumah sementara ini. Namun dengan perasaan yang masih tak karuan. Masih porak-poranda. Kini Naja hanya menggantungkan nasibnya pada keluarga pria itu. Semoga ada keajaiban.
“Ayo sarapan!” Seru Puspita mengabaikan segalanya. Wanita ini bertekat tidak ingin membuat Naja semakin tertekan. Meski Naja kini menatapnya dengan tatapan mengiba.
“Bulik sudah siapkan masakan kesukaan kamu, Ja.” Pita menyambar tangan Naja dan menariknya duduk lesehan. Sudah tersedia beberapa menu sarapan ala kadarnya.
Jika dalam keadaan normal, Naja akan segera menerkam menu di depannya ini. Ada jangan lombok, kulupan daun pepaya, ikan goreng dan nasi putih anget. Tetapi kali ini, semua itu tidak mampu membuat Naja berselera.
"Aku ngga lapar ...," Naja bangkit dan melangkahkan kaki ke dalam kamar. Menunjukkan protes dengan mengabaikan mereka.
"Kamu ngga sarapan, Nduk?" tanya Wasti saat tubuh Naja muncul di ambang pintu kamar.
Sejenak Naja berhenti memandang Ibu dan Bapaknya bergantian. Semakin hancur perasaannya kini, sehingga Naja memilih berlalu tanpa mengucap sepatah katapun.
Naja berjalan cepat melewati Pita dan Tara, mengabaikan panggilan mereka. Tangannya sibuk membungkam mulutnya yang lancang ingin berteriak. Hingga sampai di depan pintu, Naja begitu terkesiap melihat siapa yang berdiri di luar pintu.
"Nyonya ...."
.
.
.
.
__ADS_1
.
.