
Tristan berbalik ketika Naja memanggilnya, pria itu memang tidak berniat membuat Naja tersiksa rasa penasaran dan menyebabkan gadis yang telah membuatnya jatuh kagum itu bersedih.
“Anda tidak tahu, kalau suami anda menolong seorang wanita yang tengah mencari ayah dari bayinya? Atau ... jangan-jangan suami anda adalah ayah biologis dari bayi wanita itu? Karena berbagai hal dan keadaan yang kurang berpihak pada mereka, akhirnya suami anda, menyodorkan wanita itu pada saya—“
“Hentikan omong kosong anda, Tuan!" Potong Naja. Suara Naja bergetar hebat, panas hatinya tiba-tiba menggelegak seakan tersulut api saat ucapan Tristan menyambar telinganya. "Saya tahu kemana arah pembicaraan anda ... Nona Mikha memang memiliki hubungan dengan suami saya di masa lalu, dan saya yakin bayi dalam kandungannya bukan milik suami saya, bukankah Nona Mikha memang sudah meminta pertanggung jawaban anda sejak lama? Bahkan sejak saya masih bekerja di tempat anda!” Tangan Naja mengepal, ia menguatkan hati. Jauh ... jauh di dalam hatinya ia tetap mempercayai suaminya. Meski ada sambaran rasa kecewa yang begitu kuat melecut.
“Hasil test kehamilan Nona Mikha kini ada di tangan saya ... saat itu Nona Mikha di nyatakan hamil lima minggu saat dia datang ke kantor anda dan kalian berdua bertengkar. Jadi suami saya bersih dari sangkaan buruk anda, karena saat itu suami saya dan Nona Mikha tidak saling mengetahui satu sama lain.”
Suara Naja menggema di penjuru lorong yang tiba-tiba sepi. Tak ada satu jarum yang jatuh atau desau angin yang mencoba melerai perdebatan mereka. Mencekam, saat sorot mata dua orang itu beradu tajam, tidak ada yang berniat mengalah, apalagi menurunkan ritme amarah yang menggebu dalam diri mereka masing-masing.
“Tetap saja, Nona ... suami anda terlalu usil dengan mendesak saya mengakui kehamilan yang juga bukan saya yang memilikinya ...,” Tristan sedikit melunak, meski ia masih kukuh pada sisi ketidak bersalahannya.
“Setiap hari saya harus menghindari suami anda yang terus datang meneror saya, jadi saya pikir dia punya banyak waktu untuk bermain-main dan jika dia punya kesibukan dengan pekerjaannya, saya yakin dia akan berhenti mengganggu saya, meski nyatanya itu tidak berhasil.”
Kedua mata Tristan bergerak liar menghindari Naja yang terus mendesaknya dengan sorot mata yang semakin menajam. Seolah tak ingin kehilangan jejak kebohongan dari ekspresinya.
“Nona ... saya bisa saja berhenti mengganggu suami anda jika dia berhenti menerorku dengan menyodorkan Mikha padaku ... kau tahu ‘kan ... aku tidak suka pada bekas ...,” Tristan menyerah. Ia mengaku kalah pada keteguhan wanita itu.
"Apa keluarga Dirgantara membibit wanita teguh hati dan berani seperti dia, tidak yang muda tidak yang tua ... sama-sama mengerikan." Batin Tristan sembari menggelengkan kepalanya.
“Maksudmu?”
“Ya ... aku menyukaimu karena kau orang yang jujur, bahkan kau mengatakan kau sudah menikah meski aku tidak bertanya ... kau menjelaskan dirimu dan statusmu, menghindari salah paham yang bisa saja terjadi lain waktu. Kau wanita yang berpikir jauh dan antisipatif. Aku suka jiwa yang murni dan bersih ... dan Mikha, sejak awal aku tahu dia hanya memanfaatkan ku saja, dia bukan wanita baik, dan aku bahkan hanya menyentuhnya sekali ... itu sudah lama sekali, Nona ... mungkin awal-awal kami memulai pendekatan, dan-dan dia ... merayuku dengan berani, dia terlihat terburu-buru untuk menaklukkanku dengan tubuhnya, hingga membuatku yakin ... dia memiliki motif dibelakangnya.”
Naja terdiam, jadi ini sepenuhnya bukan salah Tristan. “Maksudmu, Mikha berhubungan dengan pria lain saat bersamamu?”
__ADS_1
“Kurasa iya. Kau tahu kenapa aku memintanya menjadi model perhiasanku?" Naja menggeleng.
"Karena aku yakin, salah satu suami pelangganku adalah ayah dari bayi itu. Dia tidak mau hubungan kami terekspos jelas, dan dari sana aku tahu banyak rahasia Mikha, dan yang paling mengejutkan, suamimu adalah calon tunangan yang ia tinggalkan dulu. Jadi aku heran kenapa suamimu malah membantu wanita yang telah menyakitinya.” pungkas Tristan yang membuat Naja bungkam. Bahkan ia tak menyadari Tristan telah meninggalkannya seorang diri di lorong yang sepi itu. Hingga salah seorang rekan kerjanya menyadarkannya dari lautan pikiran yang nyaris menenggelamkannya.
***
Hiruk pikuk ruangan kerja Naja, tak mampu membuat Naja tertarik untuk membahas kesuksesan mereka dalam menaklukkan keinginan Tristan. Mereka tak henti mengajukan pendapat mereka saat Tristan yang agung itu begitu teliti bahkan sehelai benang saja tampak olehnya. Tertawa dan bersorak, mereka benar-benar merayakan hari yang rasanya dipenuhi kemenangan.
Naja menghela napas berat, ucapan Tristan begitu lekat terngiang di benaknya. Dia mencoba menghubungkan lagi seluruh ingatan akan Excel, Mikha, dan dirinya. Sejak kapan Excel mulai peduli pada Mikha?
Naja menarik tubuhnya hingga berdiri, membuat beberapa orang yang berada di ruangan ini menoleh ke arahnya. Tanpa memedulikan mereka atau berpamitan, Naja meraih tasnya dan berlalu pergi. Ia memesan taksi melalui aplikasi yang akan membawanya pergi dari tempat ini. Kepalanya serasa mau meledak jika memikirkan ini seorang diri.
***
Excel siang itu berada di kafe dekat tempat kerja istrinya, ia berniat meluluhkan kekesalan yang masih betah berlama-lama menghinggapi istrinya dengan membawakan menu favorit istrinya itu. Kafe dan resto yang menyediakan bento khas jepang, adalah tempat makan siang favorit Naja. Tetapi, semuanya kacau saat ia dan Mikha kembali bertemu tanpa sengaja. Di kota sebesar ini, apa takdir terlalu kebetulan mempertemukan mereka saat ia telah memupus semua asa pada wanita itu.
“Sudahlah ... aku hanya melakukan itu karena kita sesama manusia. Dan maaf, aku mungkin tidak bisa membantumu lebih karena Tristan sampai saat ini tidak bisa ku temui lagi. Aku prihatin pada keadaanmu, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa.”
“Ini lebih dari cukup, Cel ... sudahlah, tidak apa Tristan tidak mengakui anak ini ... aku akan bekerja dan menghidupinya seorang diri. Maaf, aku sudah merepotkanmu.” Lirih Mikha. Excel yakin wanita itu tengah menahan air mata di balik wajahnya yang menunduk.
Kini Excel harus menelan kecewa karena niatnya bertemu Naja harus pupus. Selain karena Mikha, ia juga harus kembali untuk melakukan rapat dengan beberapa bawahannya. Wajah muram Excel tetap bertahan, meski rapat itu telah dimulai, menjadikan ruangan ini semakin mencekam.
Excel merasakan hidungnya sangat gatal, hingga akhirnya ia bersin di tengah ruang rapat yang begitu menegangkan.
“Maaf ... sepertinya saya terkena flu.” Excel menunduk sungkan karena bersinnya sangat keras dan berulang kali. “siapa yang membicarakanku di belakang?” batin Excel.
__ADS_1
Sepanjang rapat, ia tak bisa fokus sama sekali, apalagi Naja tidak menjawab panggilannya, pun dengan pesan-pesan yang ia kirimkan. Mata pria itu terpaku pada kotak bento yang bertengger di mejanya. Ia menatap kantung itu dengan senyum yang terukir penuh rasa bahagia di balik telunjuk yang menekuk di atas bibirnya. Ia membayangkan senyum istrinya dan sebuah pelukan sebagai rasa terimakasih, atau mungkin ia bisa meminta lebih.
“Aku merindukanmu, Na ...,” lirih Excel dalam hati. Ia mengedip pelan, merasakan tubuhnya dipenuhi desiran hebat, merayap perlahan dan meremangkan seluruh permukaan tubuhnya.
Excel mendesis keras, tubuh pria itu tegak, dengan gerakan yang sangat cepat. Membuat beberapa orang di ruangan ini kembali menoleh ke arah Excel. “Maaf ...,” Excel buru-buru mengisyaratkan agar mereka kembali fokus pada rapat siang ini.
Rega, tiba-tiba bangkit dan keluar setelah meminta izin dari Excel karena ponselnya bergetar panjang. Ia bergegas turun ke halaman di mana si penelepon memintanya untuk bertemu.
Pandangan Rega berkeliaran menyusuri satu persatu mobil dan orang yang berlalu lalang di halaman kantor itu. Hingga sebuah mobil hitam membuka kaca jendelanya, menampakkan seseorang yang tampak familier di matanya.
“Kenapa dia malah mencariku? Bukannya Excel ... ada apa ini?” batin Rega sembari berjalan melintasi halaman dan masuk ke mobil itu.
.
.
.
.
.
Maaf othornya ngga bisa balesin komen yak ... tapi terus mantau kok ... hehehe ... sekali lagi othornya suka keributan ... muup🙏
Ehem ... yang votenya nganggur kasih ke Naja ya ... apalagi yang poinnya banyak ... boleh tuh kasih Naja gift ...
__ADS_1
Wkwkwkwkwk ... canda doang ... serius amat ... 😁
Love sekebon buat pembaca yang masih setia sama Naja dan othor keceh badai ini😂😂😂