
~Aku seperti ini ketika milikku ada yang mengingini~ Naja
.
.
Muram senja memupuk di kaki langit, gelap kian merambat. Seolah tidak terjadi hal serius di sepanjang harinya, Excel mengemudikan mobil yang belum lama ini menjadi tunggangannya, dengan santai. Tipe pria yang tidak suka mengoleksi mobil, ia lebih suka mengoleksi daftar perusahaan dimana saham atas namanya di tanam. Mobil dan barang-barang mewah, rasanya tidak akan pernah habis untuk dimiliki, tetapi tidak dengan investasi, meski semua tergantung pasar, tetapi sekali lagi ... hidup sebelah mana yang dipenuhi sesuatu yang pasti. Bahkan hati, juga sering berganti. Fitrah manusia dan kuasa Maha Penggerak Hati.
Si penyuka warna gelap itu tengah membelokkan mobilnya ke halaman rumah, manik matanya menangkap dua orang yang bangkit dari duduknya dengan wajah berbinar. Tidak terburu-buru, dan memarkirkan mobil di tempat semestinya, Excel berjalan menghampiri dua orang itu dengan sebuah tas berlogo sebuah resto kenamaan. Ya ... dalam perjalanan pulang, Excel menyempatkan diri membelikan makanan kesukaan Naja sebagai ganti bento tadi siang yang terpaksa ia berikan pada Rega. Toh, ketika sore makanan itu sudah tak enak lagi.
“Sedang apa kalian di sini?” Excel memindai kedua adiknya yang tampak menyengirkan senyumnya. Mereka sedikit ragu mengatakan niat kedatangan mereka kali ini. Namun, jelas dua tas dan sebuah box yang masih tampak baru, mengatakan segalanya.
“Dihukum Mama?” tanyanya lagi.
“Boleh ya, kak ... nginep di sini semalam saja?” Rengek manja Agiel. Ia meraih tangan kakaknya dan menggoyangnya pelan.
“Kenapa masih di luar? Memangnya Nana melarang kalian masuk?” sesuatu yang agak mustahil sebenarnya jika Naja tidak mengizinkan kedua adiknya masuk ke rumah.
Agiel berbinar, Aziel menoleh dengan ekspresi tidak percaya. Dengan kata lain, Excel mengizinkan mereka bermalam.
“Bagaimana mau masuk? Orang pintunya masih dikunci ... Mbak Naja tidak di rumah sejak kami tiba di sini ...,” jelas Aziel yang membuat mata Excel melebar.
“Kemana dia? Kata Sam dia sudah pulang sejak siang ...,” batin Excel sembari meraup wajahnya. “Apa dia masih kesal karena ucapanku waktu itu?” sambungnya masih dalam batin.
“Kalian coba hubungi Jen ... barang kali dia bersama Nana ...!” perintahnya pada kedua adiknya seraya melangkah mundur. Ia berniat mencari Naja, meski entah kemana.
Excel kembali melajukan mobilnya sembari terus menghubungi Naja. Terhubung tapi tidak ada jawaban. “Kemana dia? Suka sekali membuat orang khawatir ...,” gumam Excel sembari menoleh ke kanan dan kiri. Berharap diantara semua penghuni jalanan ada terselip istri kecilnya itu. Sedang mengerucutkan bibir atau ngedumel mengutukinya, uhh ... senyum Excel terbit saat membayangkan tingkah menggemaskan istrinya itu.
BRAAK ....
Tubuh Excel memantul setelah dadanya menabrak kemudi, cukup keras ia menabrak trotoar jalan. Napasnya tertahan sejenak, ia begitu syok, nyaris saja dia celaka karena terbuai oleh bayangan Naja. Namun, detik berikutnya ia tertawa tanpa suara. Ini gila ...
Perlahan, setelah mendapatkan kembali fokusnya, ia menepikan kendaraannya dengan benar, lantas ia mencari ponsel yang sepertinya ikut meluncur jatuh.
“Ga ... bantu cari Naja!” serunya saat ia berhasil menghubungi Rega.
Rega yang saat itu baru saja sampai di rumah, menghempaskan tubuhnya di sofa. Di depannya ada sang Mama yang tengah duduk memandang putra kesayangannya.
“Ogah ... yang punya bini situ, ya situ yang nyari sendiri ... emangnya kalau masak aku yang dimasakin? Emangnya kalau tidur aku yang dipeluk?” Rega menegakkan tubuhnya. “aku capek ya, seharian kerja dan masih harus nyariin istrimu ... lagian dia ngga bakal jauh ... cari aja dimana dia biasa main!"
“Menyebalkan sekali kau ini, awas saja ... aku sumpahin Kristal ngga bakal mau sama kamu ....”
“Bodo amat, tanpa kamu sumpahin kita emang ngga bisa sama-sama, aku udah ikhlaskan kenyataan itu.” Rega memutuskan sambungan teleponnya sepihak. Benar, ia tak peduli, sekalipun ia tahu Naja ada di mana.
“Excel?” tanya Giza sembari meletakkan cangkir teh yang telah ia sesap kembali ke tatakannya. Wanita seumuran Kira itu terlihat lelah dan pucat, tetapi ia bersikeras terus bekerja, meski tanpa bekerja limpahan nafkah dari keluarga Dirgantara mengalir tanpa berkesudahan. Ya, memang Giza dulu hanya di rumah selagi Rega masih sekolah menengah, tetapi gosip sebagai simpanan merebak tak terkendali, sehingga Giza memilih kembali bekerja di rumah sakit milik keluarga Dirgantara.
“Iya, Ma ... nyari istrinya yang belum pulang ...,” Rege meletakkan ponselnya dan beralih ke sisi Mamanya. Ia duduk di lengan sofa, tangannya merangkul pundak wanita yang telah melahirkannya. “Mama sebaiknya berhenti kerja ... Rega mampu menghidupi Mama kok ....”
__ADS_1
Tangan kurus Giza meraih jemari Rega yang tersampir di bahu, mengelusnya pelan. Senyum lemah wanita itu terukir saat memandang wajah putra terkasih dan satu-satunya pengobat rindu pada sang suami yang telah berpulang bertahun-tahun lalu.
“Kamu mau Mama mikirin papa kamu terus kalau di rumah seorang diri?”
Rega mengerti akan hal itu, “Mama kalau maksa kerja dan sakit-sakitan begini, Rega juga merasa bersalah sama Papa ... mama nurut Rega, ya?”
“Tidak ... sekali mama nurut sama kamu, selanjutnya kamu bakal minta mama merestui Kristal ... benar, ‘kan?” pindai Giza penuh curiga. Entahlah, sebelah hatinya masih belum terima akan kenyataan itu.
“Mama curigaan mulu,” Rega menarik tubuhnya hingga berdiri, “Rega ke kamar dulu, Ma ... mau mandi.”
Tanpa menunggu sahutan mamanya, Rega beranjak setelah mencium sekilas rambut yang menghiasi kepala mamanya.
“Kamu masih beruntung, Cel ... ada wanita yang mau mengambil risiko demi tetap bersamamu ... kurasa Kristal terlalu takut akan kehilangan kenyamanan saat menjadi istriku.” Batin Rega sembari terus melangkah. Pria itu mendesah keras, menghempaskan beban di dadanya bersamaan dengan udara.
***
Sementara, Naja tengah menemani sang Mama mertua berbelanja di sebuah mal ternama, bersama teman-teman arisan yang Kira ikuti. Naja merasakan tubuhnya lelah dan bosan saat ia hanya menjadi nyamuk di antara dengungan tawa dan canda para nyonya kaya itu. Mempertontonkan perhiasan dan barang bermerek yang mereka kenakan.
“Inilah kenapa mama mengajakmu kemari, Na ... mama merasa asing dengan mereka ...,” bisik Kira yang langsung menyambar tangan putri mantunya menjauh.
Kruyuk ...
“Kamu lapar?” tanya Kira dengan wajah menegang, setelah beberapa langkah menjauh dari kerumunan kecil di depan sebuah galeri brand fashion ternama. Ia merasa tak enak hati, sebab tidak memperhatikan Naja, malah asyik mendorong dan menarik putrinya itu kesana kemari.
“Iya Ma ... belum makan siang, tadi ....” melebarkan senyumnya, Naja sedikit malu karena terlalu jujur pada mertuanya.
Kira merangkul pundak menantunya, menuju gerai yang bisa memuaskan rasa lapar yang sudah di tahan-tahan sejak tadi olehnya.
“Apa saja, Ma ...,” jawab Naja dengan senyum merekah malu.
“Lain kali, jangan sungkan mengatakan apa saja yang kamu rasakan, Nak ... orang tua lebih banyak lupa dan tidak peka ... maafkan mama, ya ...!”
Obrolan mereka belum terhenti hingga tiba di sebuah resto yang menyajikan shabu-shabu, Kira hanya tersenyum ketika memenuhi permintaan menantunya itu.
“Kenapa sih, kamu suka yang berbau jepang?” Kira dan Naja duduk berhadapan, usai memesan menu yang mereka inginkan.
“Ngga ada, Ma ... Cuma suka aja ...,” lagi ... Naja hanya menyengirkan senyumnya, sebelah tangannya menyisihkan helaian rambut ke sisi telinga. Sungguh ia malu akan keterusterangannya.
“Nanti kalian honeymoon ke jepang, gih ... sekalian menengok Jeje ...,” ucap Kira serta merta. “Oh ya ... nanti Agiel dan Aziel akan nginep di rumahmu, tolong awasi mereka, ya ... mama sedang menghukum kedua bocah itu karena membohongi mama, kau tahu ... mereka mulai main taruhan,” Kira sampai mencondongkan tubuhnya agar Naja mendengar dengan jelas ucapan yang semakin turun nadanya.
Naja bingung mau menjawab berondongan penjelasan dari Kira, sehingga ia hanya mengangguk. “Iya, Ma ....”
“Mama ke toilet dulu, ya ... kamu makan dulu, jangan sungkan,” Kira langsung beranjak bangun dan berlalu meninggalkan Naja seorang diri usai mengerling Naja.
Tak berapa lama, rombongan arisan Kira menghampiri Naja yang mulai menikmati menu shabu-shabu yang telah memenuhi mejanya. Tampak sekali mereka tak tahan untuk menyerbu Naja, tentu saja, mereka tidak suka dengan kehadiran Naja yang memupus harapan mereka untuk menjadi bagian keluarga Dirgantara.
“Hamil ya, makannya lahap bener?” tanya seorang wanita bertubuh besar dengan gayanya yang sok dan sudah seperti toko perhiasan berjalan. Tentu setelah memastikan bahwa Kira memang tidak berada di tempat itu.
__ADS_1
Naja mengangkat wajahnya, menjumpai wanita yang tengah menatapnya sinis. “Hem?”
Mulut Naja penuh, sehingga ia tak bisa menjawab pertanyaan si nyonya. Di belakangnya sedang berkasak kusuk takut jika sampai Kira tahu menantunya di tekan oleh temannya sendiri.
“Astaga ... cara makanmu itu menjijikkan sekali ...,” ucap nyonya itu dengan membuang muka, seakan kehabisan kata melihat pipi Naja yang menggembung.
“Kalian menikah berapa lama? Kok sudah hamil saja? Apa kau menukar tubuhmu dengan sejumlah uang, he? Ya Tuhan ... ngga heran, sih ... lihatlah betapa kucelnya penampilan dia ...,”
Naja menunduk, melihat apa ada yang salah dari penampilannya. Lalu ia perlahan menelan makanannya, mendorongnya dengan segelas air, sebelum ia berdiri menghadapi si nyonya.
“Tidak masalah saya kucel, Nyonya ... tapi saya rasa suami saya melihatnya berbeda ... di depan dia akulah mutiara ... kurasa nyonya punya sedikit kekesalan pada keputusan suami dan mertua saya ketika menjadikan saya istri dan menantunya.” Naja mendekat selangkah, ia tetap menatap nyonya itu dengan tajam.
“Kita tidak saling mengenal nyonya, jadi saya sarankan untuk tidak ikut campur urusan saya ... sebagaimana layaknya orang asing!”
“Ada apa ini?” Kira yang berjalan tergesa-gesa, menatap mereka semua bergantian.
“Oh ... tidak ada, Jeng ... kami hanya menyapa menantumu ...,” kilah yang lain dengan suara terbata dan penuh gugup.
“Oh ... mau gabung atau ambil meja yang lain?” Kira duduk sembari menyingsingkan lengan baju yang sebenarnya tidak mengganggu makannya. Kira kini lebih sering memakai pakaian tertutup meski belum berhijab, ia berencana mengenakan pakaian itu secepatnya.
“Ma ... aku ingin makan makanan yang lain ... tiba-tiba aku merasa kenyang melihat menu-menu ini ...,” Naja menatap mamanya lembut.
“Oh ...!” Kira berekspresi terkejut, kemudian ia meneliti menu yang memenuhi meja, “baiklah, kamu mau makan apa, Sayang?”
Teman-teman Kira yang tak kurang dari delapan orang itu melongo di buatnya. Kira seperti orang lain saat ini, wanita itu perhitungan ketika bersangkutan dengan uang, tapi Naja yang hanya seorang menantu, dan bukan siapa-siapa, dengan mudahnya mendapat kata iya dari seorang Kira. Tentu mereka tidak akan bersikap mudah pada seorang menantu yang bukan apa-apa seperti Naja.
“Apa mereka membuatmu tidak nyaman, Na?” Kira menghadapi Naja saat mereka telah jauh dari tempat makan itu. Kira tahu, jika ada sesuatu terjadi saat ia meninggalkan Naja.
“Tidak, Ma ...,” Naja menggeleng dengan senyum menghiasi bibirnya. “... mungkin karena aku terlalu lapar jadi sensi ketika mereka mengagetkanku ....”
“Tidak perlu takut mengatakan hal yang sebenarnya, sekalipun itu teman mama, papa, bahkan Excel sekalipun. Katakan saja apa yang mengganggumu, mama akan mendukungmu penuh!” Kira menepuk pundak Naja usai menyapit dagu Naja agar ia bisa mencari sesuatu yang salah dimata menantunya. Namun, Kira harus kecewa, karena Naja terus tersenyum hingga menggusur matanya, menyipit.
“Asal mama jangan marah ...,” Naja menjeda ucapannya, “... kalau perkataanku aneh-aneh ...,” Naja tertawa lebar, membuat Kira yang sempat tegang akhirnya ikut tertawa dan mencubit pipi Naja dengan gemas.
“Kau ini ...!”
“Tapi aku serius, Ma ...,” ucapan Naja di sela tawa itu berhasil membuat Kira menghentikan paksa tawanya. Ia menatap Naja heran, tiba-tiba wajah itu sendu dan muram.
“Ada apa ini?”
.
.
.
.
__ADS_1
.