Kekasihku, Asisten Adikku

Kekasihku, Asisten Adikku
Apa Aku Istrimu?


__ADS_3

Tubuh Naja terhuyung mundur, ia begitu terkejut dengan reaksi Excel. Matanya terbingkai embun yang sudah siap turun, tetapi buru-buru ia seka dengan menengadahkan wajahnya, mengerjap agar embun itu pergi. Padahal dia hanya mengatakan untuk tidak mengganggu Tristan, bagaimana jika dia mengatakan kalau sudah bertemu Tristan? Bagaimana jika Excel tahu bahwa Mikha tidak mengandung anaknya Tristan, ia yakin Excel akan kehilangan muka dan harga diri di depan Tristan.


Reaksi yang tidak pernah ia sangka, tapi Naja cukup bisa mengerti, mama mertuanya telah banyak memberinya pengetahuan tentang Mikha dan masa lalu Excel. Mikha telah memberi Excel trauma, trauma yang membuat Excel begitu takut jika miliknya pergi atau diambil orang lain. Ya ... walaupun apa yang terjadi barusan tetap membuat hatinya sakit. Naja menguapkan napasnya dengan keras.


“Hah ...! Ini akan sia-sia ...,” Naja segera meraih ponselnya. Dengan cepat ia mengetikkan pesan untuk seseorang yang ia yakin akan membantunya menyelesaikan semua ini. Hanya dia butuh banyak dukungan.


Tangan Naja menggenggam erat ponsel itu setelah membaca balasan pesan yang ia kirim. Tidak apa, ia hanya perlu sedikit lagi menahan semuanya.


Naja menghadapi Excel yang baru saja keluar dari kamar mandi, pandangan keduanya beradu sejenak sebelum Naja memilih untuk mengakhirinya dan keluar dari kamar ini. Ia tak mau, berlama-lama dengan ketegangan yang mungkin saja akan membuat mereka saling mengadu amarah lagi.


Excel mengenyakkan tubuhnya di atas ranjang saat Naja keluar kamar tanpa menutup pintunya. Manik mata pria itu masih setia berlama-lama memandangi bekas yang Naja tinggalkan.


Dalam hati ia mengutuki dirinya yang mudah sekali marah, hingga meluncurlah kata-kata yang membuat orang lain tak nyaman. Sebenarnya, ia hanya tidak suka jika miliknya diinginkan orang lain. Hanya dia tak tahu bagaimana cara memiliki, tanpa takut akan apa pun yang mengancamnya. Dia hanya tahu menggenggam erat, melilitkan tali kekang di kakinya, dan menariknya jika terlalu jauh jarak yang memisahkan. Definisi memiliki versi seorang Excel.


“Bagaimana bisa dia berkata kalau aku mengganggu Tristan?”


“Apa dia lupa kalau Tristan lah yang menginginkan dia untuk menggantikan Angel?”


“Kenapa jadi aku yang mengganggu Tristan?”


Excel menghembuskan napasnya, entahlah bagaimana Naja bisa menuduhnya seperti itu. Jemari panjang dan ramping itu mengurut pipi ke arah mulut. Pikirannya kembali menggulung ingatan ke belakang, barang kali ia melewatkan sesuatu.


Manik mata Excel merangkak naik saat ia menemukan sesuatu yang terasa janggal, lantas ia menghubungkan semua itu menjadi sebuah rangkaian yang tampak masuk akal.


“Apa karena aku menghubunginya saat Mikha pendarahan? Bukankah itu hal yang sewajarnya, tapi bagaimana Naja bisa tahu? Padahal aku belum memberitahunya apapun.”


Excel menarik tubuhnya hingga berdiri, dengan brutal ia membuka lemari dan meraih kaos untuk membalut tubuhnya yang setengah telanjang. Ia harus tahu bagaimana Naja bisa terpengaruh dengan Tristan.


Namun langkahnya terhenti saat melihat gambar desain Naja dengan nama Tristan tertera di atasnya. Tentu saja, rumah mode itu biangnya. Ia yakin Naja terpengaruh di sana. Tangan Excel gatal untuk segera menghubungi Sam, mendampratnya, dan menginterogasinya. Tetapi sejenak kemudian, ia mengurungkan niatnya, ia memilih menahan semua itu. Manik mata gelap itu menajam saat beralih dari kertas bergambar itu ke arah depan. Semua ada masanya, entah siapa yang bermain di balik ini semua.


***


Malam merangkak naik, akan tetapi suasana rumah masih terdengar hingar oleh suara teriakan dua remaja yang tengah asyik menggerakkan jari-jarinya di atas stik. Memencet atau menggulir penuh tekanan pada benda berwarna hitam yang tergenggam ketat di tangan mereka. Excel yang tengah memenuhi kepalanya dengan bacaan ringan di buat jengah dengan suara yang membuatnya sedikit terusik, sehingga ia menutup buku itu demgan kasar dan melemparnya sembarangan.


Sesekali mereka berteriak memanggil Naja untuk mengambilkan minum atau makanan ringan untuk menemani kesenangan mereka bermain game. Ya ... satu-satunya alasan mereka berada di sini adalah game ini. Biasanya mereka bebas bermain game saat malam minggu atau hari libur, akan tetapi, karena mereka telah membuat mamanya marah, semua kemudahan dan kesenangan mereka terpaksa diputus sejenak.


Excel keluar kamar bertepatan dengan Naja yang muncul dari bawah tangga. Tampak kerepotan membawa beberapa makanan dan minuman ke lantai atas di mana dua anak itu berada. Langkah kecil istrinya itu tertatih menapaki anak tangga itu, sehingga membuat Excel berdecak. Tubuh dan otaknya seperti sudah hafal untuk melakukan apa, sehingga langkah kakinya terayun untuk membantu wanita itu.


Naja terkesiap dengan kehadiran Excel di depannya, ia nyaris terhuyung tapi berhasil di tangkap oleh Excel tepat di punggungnya. Kedua pasang mata mereka melebar sempurna. Nyaris saja. Tangan Naja penuh dengan dua cup minuman pesanan adik iparnya sementara lengannya mendekap beberapa pack snack yang masih menggembung, sementara yang lainnya berhamburan di bawah kaki. Excel pikir, jika dia tidak menangkap tubuh Naja, ia pasti sudah terguling jatuh.

__ADS_1


Tangan Excel gencar mengambil beberapa makanan ringan yang terjatuh. Mendekapnya dan mengambil alih satu cup minuman berwarna coklat dan beraroma manis.


“Jangan memanjakan mereka ... jika kau terus melakukan itu, yang ada mereka akan melunjak, dan terus-terusan melakukan ini padamu!”


Naja menghembuskan napas, “Mereka masih anak-anak dan belum mengerti akan hal itu, lagi pula aku hanya bersikap sebagai tuan rumah yang baik," balas Naja tak acuh.


“Mereka sudah besar, biarkan mereka mengambil keperluannya sendiri, lagipula kau ini istri kakaknya bukan orang yang bekerja pada keluarga mereka lagi.”


Naja berdecih, “Oh ya? Aku malah lebih baik dianggap sebagai pembantu dari pada menjadi istrimu!” Sinis Naja dengan tatapan yang menyipit tajam.


“Mana ada istri yang terus-terusan dicurigai dan tidak mendapatkan kepercayaan dari suaminya? Mana ada suami istri yang tidak saling mengerti seperti ini?”


Naja melanggar Excel yang masih terpaku di tempatnya tepat pada lengan, ia masih kesal dengan bentakan Excel tadi.


Excel pasrah, ia layak mendapatkan semua itu. Mungkin ia harus minta maaf, setidaknya wanita itu bisa sedikit melunak padanya. Bergegas, Excel menaiki tangga dan menyusul istrinya. Tetapi ketika ia sampai di atas, tubuh Naja sudah lenyap di telan pintu kamar. Ah, sial ...


"Kalian berdua ...!" hardik Excel seraya meletakkan cup itu dengan hentakan keras, membuat dua orang itu mengalihkan perhatian mereka pada kakaknya. Membeku dalam ketakutan. Apalagi sorot mata gelap itu. Sungguh mengerikan.


"Kalau mau makan, jangan menyuruh orang lain mengambilkan, jangan manja dan ambil sendiri! Kalian tahu, 'kan, Naja itu lelah setelah bekerja seharian ... dia butuh istirahat, bukan malah asyik kalian ganggu seperti ini."


"Maaf Kak," cicit mereka lirih. Tak ada niat membantah dari kedua bocah itu. Meski siku mereka saling sodok seolah saling menyalahkan.


Excel berlalu pergi saat kedua adiknya menundukkan wajah.


"Kamu sih, Giel ... pake nyuruh-nyuruh Mbak Naja segala ... kacau 'kan jadinya?" Aziel begitu kecewa dan kesal, akibat teriakan Agiel saat memanggil Naja, membuatnya harus menghentikan permainan ketika selangkah lagi dia akan mengalahkan Agiel.


"Kau juga salah ... karena sudah mengusulkan menginap di sini!" bantah Agiel tak terima. Dua remaja itu saling adu pandang dalam kesal.


Kasak kusuk di belakang, membuat Excel yang sudah mencapai pintu kamar, menoleh ke arah dua remaja yang masih saling sikut.


"Pergi ke kamar, dan jangan buat keributan. Atau mau kalian pulang dengan berjalan kaki jika tidak menurut!" titah Excel yang geram dengan tingkah adiknya yang membuat Excel pusing.


Seketika dua orang itu berhenti dan kembali menunduk. Kedua tangan mereka langsung saling mengait di depan tubuh mereka.


"Iya, Kak ....," lirih mereka berdua serempak.


Hening ....


Hening ....

__ADS_1


Kedua bocah itu mengintip takut ke arah pintu kamar kakaknya berada. Memastikan kakaknya sudah lenyap dari sana.


Agiel terdengar menghembuskan napasnya penuh kelegaan. Ia bahkan mengusap dadanya berulang-ulang. Sementara Aziel, dia melempar tubuhnya di sofa, tangan pria itu menyibak rambutnya ke belakang.


"Kita kemasi dan tidur, Giel ... aku ngga mau kena semprotan monster es buatan Elsa itu." Aziel mulai bangkit dan mengemasi semuanya. Manik mata Aziel mendadak sendu, saat melihat layar monitor yang sedang berhenti bergerak. Tapi mungkin jika ia kembali menekan tombol play, ia yakin tokohnya di game akan mengalami kekalahan.


"Aku heran, Ziel ... apa, sih, yang dilakukan dua orang saat beristirahat itu ...? Kakau mau tidur ya, tidur saja ... cukup tutup pintu dan mereka ngga bakal dengar suara kita 'kan? Ngga di rumah, ngga di sini, mesti di suruh buru-buru tidur ...," gerutu Agiel. Ia juga "membantu" kembarannya itu berkemas. Ia sibuk menyesap minuman yang telah di siapkan Naja.


"Hah ... aku sungguh penasaran apa yang dilakukan mereka berdua itu ...," Agiel melemparkan cup plastik itu ke tempat sampah. Ia meraih makanan ringan dan membukanya. Memenuhi satu tangannya denga isi snack itu, Ageil mulai mengunyah makanan ringan itu dengan suara berisik.


"Bantu berkemas ... bukan malah asyik memamahbiak kaya begitu!" seru Aziel dengan mata membelalak sempurna. "Enak sekali hidupmu ...."


"Ini juga membantu berkemas ... mengemas makanan ini ke dalam perut ...," Agiel bangkit dari duduknya usai menghabiskan satu pak penuh snack. Mendengar Aziel berdecak, langkahnya terhenti, ia menghembuskan napas dan membantu saudaranya itu. "Hah ... kau ini apa-apa selalu butuh bantuanku!"


Mereka mengemas meja dan sofa yang tampak dilanda kerusuhan akibat ulah mereka.


***


Dibalik pintu, Excel menelan kecewa sebab Naja sudah tenggelam di balik selimut yang tampak nyaman. Perlahan sekali, Excel mendekati istrinya itu. Memandang belakang kepala Naja lekat-lekat.


"Na ... kau sudah tidur?"


Hening ....


Hanya desahan napas Excel yang berani menyela keheningan itu.


"Maafkan ucapanku tadi, ya ... aku tidak seharusnya membentakmu ...," sambungnya sendu dan semakin kecewa saat hanya napas istrinya itu yang terdengar sebagai jawaban.


"Istirahatlah ... tidurlah dengan nyenyak ... kita bisa bicara lagi besok," pungkasnya. Ia pun menurunkan posisinya, dan berbaring membelakangi Naja.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2