Kekasihku, Asisten Adikku

Kekasihku, Asisten Adikku
Membuatku Terlalu Ingin


__ADS_3

Sementara, Sam tengah berada di apartemen miliknya. Dia menatap wanita yang baru saja ia lemparkan ke atas tempat tidur. Bergerak liar dan mulai melucuti kain yang membalut tubuh indahnya, menyisakan satu-satunya penghalang. Bibir Maureen terus meracau yang membuat Sam bergidik.


“Kenapa gue ketiban sial hari ini? Tuhan ... gue udah jadi orang baik selama ini ... kenapa ujianmu sungguh berat begini?” Sam merintih pilu. Ia menekan pangkal hidung hingga keningnya. Dia pria normal yang mengerti bahwa apa yang ada di depannya saat ini adalah sesuatu yang langka. Sesuatu yang begitu menggoda.


“Sebelumnya ampuni dosaku, Tuhan ... jika nanti waktu khilaf, gue ngga sempet mohon ampun, lagi pula, ini bukan salah gue sepenuhnya,” pintanya lagi sambil menengadah. Sebenarnya, Sam tadi sempat menghubungi temannya yang merupakan seorang dokter, akan tetapi Sam malah ditertawakan dan disuruh menikmati saja. Gila memang teman Sam itu.


Sam mendesahkan sesak di dadanya, berlalu pergi menuju dapur untuk mengambil es batu yang jumlahnya tak seberapa itu. Botol-botol air mineral yang bersuhu rendah juga turut serta dibawanya. Lalu semua itu ia letakkan di dalam wadah yang cukup besar.


“Semoga ini bisa membantu cewek gila itu.” Membatin sambil menumpahkan tak kurang lima botol air mineral dingin ke wadah yang ia siapkan.


Ia membawa wadah berisi air dingin itu ke kamar dan meletakkannya di atas wastafel kamar mandi.


Pikiran Sam masih terusik oleh Maureen, dari mana minuman sialan itu berasal, hingga dia akhirnya kesusahan dan repot begini. Termangu di depan cermin bulat yang menggantung di dinding, Sam memerhatikan bayangannya sendiri.


“Kenapa juga gue menolong dia? Harusnya biarkan saja, jadi santapan pria hidung papan catur! Salahnya sendiri jadi wanita ngga hati-hati.” Sam tengah berbincang dengan dirinya di cermin. Bayangan Maureen melintas begitu saja hingga Sam mendesahkan napasnya, ia tak tahu lagi harus berbuat apa.


“Sial ... bayangin aja gue udah kasihan.” Sam menampik air dalam wadah hingga memercik ke wajahnya. Kesal, ia berbalik dan mengusap wajahnya yang dingin. Namun sesaat kemudian ia kembali ke depan cermin sambil menatap tajam pantulan dirinya.


“Inget dan camkan ini baik-baik, gue cuma kasihan! Ngerti!” bentaknya pada bayangan dirinya yang seakan mengejek dengan tawa simpul.


Malas, Sam mendekati ranjang yang berisi tubuh Maureen yang polos. “Astaga, mata gue ternoda. Lu tanggung jawab telah menodai perjaka tampan kek gue! Awas saja sampe lu, gak bersikap baik sama gue setelah ini!"


Maureen merintih, ia tak peduli apa kata Sam, yang pasti saat ini ia merasa gerah. Ia mengingini sesuatu yang ia sendiri bingung apa itu. Sapuan kulit Sam dipunggungnya memercik sesuatu yang semakin ingin ia lakukan. Maureen mendesah dan menelusup di leher Sam.


“Sialan lo, jauhin wajah lo! Kalau ngga gue banting lo!” ancam Sam.


Maureen tidak peduli, ucapan Sam seperti terblokir dari telinganya. Ia masih terus memburu Sam hingga ke bibir tipis pria itu.


Posisi sulit saat ini, sebab Sam tengah memondong Maureen di depan dadanya, sementara ia hanya bisa menghindar dengan menjauhkan kepalanya yang akhirnya bisa dengan mudah dijajah oleh Maureen.


“Jangan buat diri lo nyesel, Ren!” keluh Sam dalam hati. Ia akhirnya pasrah dan luluh, membalas Maureen yang begitu kaku. Membiarkan wanita itu melakukan apa yang menurutnya benar.


“Sial ... gue ngga perjaka dengan cara yang mengerikan!” umpatnya menahan diri. Ia tak mau mendapat masalah, apalagi mereka tidak pernah menjalin kedekatan. Ia tak mau kesulitan seperti Excel, yang ia mau sekalipun harus menikah setidaknya dengan cara yang benar.


Maureen setengah jalan kehilangan martabatnya, akan tetapi Sam kembali mendapatkan kembali keteguhan hatinya usai perang yang melanda batin. Ia mendorong tubuh Maureen dan menggendongnya ke kamar mandi.

__ADS_1


“Sam ...,” rintihnya.


“Sorry, Ren ... gue ngga mau nyakitin lo!” Sam memalingkan wajahnya dari Maureen yang sayu. Lalu menurunkannya di depan wastafel. “Sorry!”


Ia langsung membenamkan wajah Maureen di dalam wadah berisi air dingin. Melakukannya berulang-ulang hingga wanita itu nyaris kehilangan napas. Masih dengan tenaga yang utuh, Sam membawa Maureen yang menjerit-jerit ke bawah shower dan mengguyurnya dengan air dingin. Ia menahan tubuh wanita itu dengan tubuhnya, membiarkan mereka basah oleh titik air. Meleburkan gairah yang sama-sama membara.


***


Di balik mata yang terpejam rapat, sedang berlarian bayangan Naja dalam kejaran seorang pria yang sekilas dilihatnya di depan toilet. Iya ... wajahnya serasa buram, akan tetapi gestur tubuh pria itu awam bagi mata seorang Excel.


Dalam angannya, ia melihat Naja dalam bahaya. Pria itu tengah mendesak Naja dengan senjata di tangannya. Namun, Excel seolah membeku, ia tak bisa menggerakkan jemarinya seincipun. Hingga pria itu mengayunkan benda berkilat ditangannya ke arah Naja, ia baru bisa membuka bibirnya.


"Naja ...!"


"Astaga ... Cel!" Naja baru saja ingin merebahkan tubuhnya di subuh yang masih basah. Lekat embunnya masih terasa dingin. Namun, pria yang baru saja di susulnya malah terlonjak hingga membuat dirinya hampir terusir dari ranjang.


Excel menoleh dan meraih lengan Naja, "Na ... apa lukanya parah?" tanyanya sedikit membingungkan.


"Hanya sedikit trauma, dan kau akan segera sembuh! Kau baik ... tenang saja, jangan panik begitu, ih." Sekalipun dia terkesiap, tetapi ketika melihat sorot mata Excel yang tampak cemas dan menuntut, ia segera menjawab suaminya itu.


Excel berdecak lemah, "Bukan aku, tapi kamu. Aku melihatmu dilukai pria itu ...!"


"Ta-tapi pria itu menusukmu, di-disini!" Brutal, Excel meraba dan menarik baju Naja hingga terbuka, menampakkan perut Naja yang bersih tanpa segores luka.


Naja membulatkan matanya, tangannya dengan gencar menolak Excel dan menarik turun bajunya. "Kamu ini apa-apaan, sih? Jangan main buka baju orang, bisa digampar nanti!"


Excel sejenak beradu pandang dengan istrinya. Memerhatikan dengan teliti dari atas sampai bawah.


"Aku lebih dari baik, apalagi melihatmu bangun dan aku orang pertama yang kamu ingat. Rasanya lelahku lenyap, Cel ...," senyum Naja merentang, ia segera memenuhi sela jari suaminya dengan jari-jarinya, memadunya di udara.


Excel menyentak Naja ke dalam pelukannya. Erat seolah ingin menelan tubuh Naja. Memejamkan mata, Excel memutar mundur ingatannya. Rupanya, itu hanya ilusinya semata.


"Aku engap, Cel ... le-pas-in!"


Excel meleraikan pelukannya yang tanpa ia sadari terlalu mengekang Naja. "Maaf, Na ... aku kelewat mencemaskanmu ... kupikir orang-orang itu melukaimu."

__ADS_1


"Terima kasih, selalu mencemaskan aku. Aku hanya berharap setelah ini, tidak ada yang mengganggu kita."


Excel merasa Naja tampak dewasa saat mengatakan itu, wajah pucatnya berhiaskan senyuman penuh kebahagiaan. Perlahan, Excel menangkup sisi kepala istrinya dan menggoyangkannya, ia begitu gemas dengan istrinya itu. Ingin menerkamnya dan mengulangi lagi momen indah saat dia menggeliat kebingungan menerjemahkan rasa.


"Biar ngga ada yang mengganggu, kita pergi bulan madu, ke pulau terpencil yang tidak ada penghuninya," ucap Excel tepat diujung hidung Naja.


"Ih ... bukan mengganggu yang itu, tapi mengganggu hubungan kita, maksudnya." Naja menjauhkan dirinya, wajahnya sudah bermandi hangat napas Excel. Ia yakin kini wajahnya sangat merah.


"Iya ... tapi kejadian semalam pasti juga mengganggu rencanamu, 'kan?" goda Excel dengan kedua alis merangkak naik secara berulang.


"Iya ... eh tidak ... maksudku tidak," Naja menggoyang tangannya di depan Excel. "Aku mana punya rencana semalam, ih ... kamu nyebelin banget, sih!"


"Bener?" Naja mengangguk. "Aku nyebelin? Tapi ... kamu suka, 'kan?" Senyum Excel bertahan demi menggoda Naja, ia tak memedulikan rasa berat ditengkuknya.


"Tidak juga ...."


"Bener?" Memburu Naja hingga wanita itu berada di bawahnya. Kelopak mata yang mengedip berulang, pipi yang merona, dan tubuh yang semakin luruh mendesak ranjang, membuat Excel ingin menelan Naja bulat-bulat. Menggemoykan


"Ngga ... Excel, ih ...." Tangan Naja menekan dada Excel yang nyaris tak berjarak darinya. Ia berpaling, kesal. Tapi batinnya terus menduga dan berharap. Berdebar dan ia sangat menyukai guyuran rasa saat berdekatan seperti ini.


"Cel ... kamu masih sakit ...," lirih Naja saat Excel melepas jarum infus ditangannya, lalu menghentikan laju cairan yang mengalir di selang.


"Hanya tengkukku yang sakit, yang lain sangat sehat dan baik-baik saja." Excel mengedipkan sebelah matanya dengan nakal. Sebelah tangannya menarik lepas baju rumahsakit yang membalut tubuhnya.


Naja memejamkan mata, terlampau silau dengan tubuh indah suaminya. Dari balik mata ia hanya menduga, apa yang sedang dilakukan Excel saat ini.


Mengisi sela jemari istrinya, Excel mengangsurkan suaranya di sisi kepala Naja. Begitu sensual hingga Naja hanya bisa mengigit bibirnya.


"Kau terlalu membuatku ingin, Sayang ...."


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2