Kekasihku, Asisten Adikku

Kekasihku, Asisten Adikku
Terpesona Aku


__ADS_3

Rembulan menyentuhkan sinarnya di sudut bumi, menyibak malam kelam menjadi benderang. Menembus kaca hingga menyusuri tubuh Excel yang sejak kejadian sore tadi, perasaannya sedikit tidak tenang. Excel bahkan sampai harus mendebat Tristan yang memaksanya untuk bertemu malam ini. Lebih kesal lagi, Tristan secara terbuka memintanya membawa serta Naja. Excel mendengkus, pikirnya, Tristan terlalu dekat dengan Naja dan itu bukan sesuatu yang baik.


Sembilan malam dan perut Excel mulai mendendangkan irama lapar yang menggelora. Ia segera menyimpan jejak pekerjaannya dan mematikan laptop. Sudah satu jam lamanya sejak ia terkahir kali meninggalkan Naja di bawah, mungkin saja kini dia juga merasakan hal yang sama bahkan mungkin lebih, mengingat Naja hanya makan sedikit siang tadi.


Langkah Excel menjejak tegas dan cepat di tangga yang tampak licin itu, ia tak berhenti hingga tiba di depan kamar yang sebenarnya dikhususkan untuk pelayan di rumah ini nantinya. Buku jari Excel menggedor daun pintu, menahan rasa ingin mendobrak saking penasaran dengan apa yang terjadi di balik pintu kayu ini. Gedoran kedua kali, pintu itu masih tak bergeming, bahkan sahutan pun tak dengar sama sekali.


“Na ... buka pintunya! Atau kudobrak jika kau tak segera keluar!” seru Excel sambil menempelkan daun telinganya pada pintu berwarna cokelat itu.


“Aku masuk Na ...!” lanjut Excel yang ketakutan karena sama sekali tak ada sahutan dari dalam. Ia menarik turun gagang pintu yang langsung di desaknya hingga terbuka. Kamar itu kosong dan utuh, seprei masih menghampar ketat membingkai tilam di bawahnya, pun dengan selimut yang juga tampak tak tersentuh. Pintu kamar mandi terbuka, menandakan di sana tak ada siapa pun. Namun Excel tetap melangkah ke sana dengan napas memburu dan ketakutan yang kian memuncak. Kamar mandi pun tampak kering seakan tak seorang pun menggunakannya.


Langkah Excel membeku sejenak, “kemana dia?” manik mata gelap itu menyapu seluruh ruangan, menerka kemana kiranya gadis itu pergi. Excel setengah berlari melangkah keluar kamar.


BRUK ...


Excel membulatkan mata saat melihat Naja memantul usai menabrak tubuhnya. Ia khawatir ketika Naja tampak kesakitan.


Naja mengusap kening dan hidungnya yang terasa panas. Mengaduh pelan saat di rasakan dadanya kembali bergemuruh. Diambang pintu tampak Excel tengah memblokir jalannya.


“Kau dari mana saja?” sergah Excel yang lega sekaligus kesal. Kesal karena ketakutan berlebihan bila sampai Naja kenapa-napa, tentu dirinya yang akan mendapat amukan dari Mamanya. Lega setidaknya gadis ini tampak baik dan tak berniat kabur.


“Menghindarimu pastinya, memangnya aku bisa pergi ke mana?” Naja menatap Excel dengan aura permusuhan yang kental, ia masih sangat kesal dengan suaminya itu.


“Apa? Kau mau menyalahkanku lagi karena aku tidak ada di kamar saat kamu mencariku?” mata Naja tampak nyalang menantang Excel. Tetapi, Excel segera membuang muka seraya berdecak.


“Kau kekanakan sekali!” kembali Excel membalas tatapan Naja yang belum surut. Membuang napas sambil memutar bola matanya malas, Excel menarik tangan Naja sehingga tubuh Naja terpelanting.


“Hentikan Cel, kali ini apa salahku? Kau memang suka sekali menindasku!” seru Naja sambil menampar-nampar lengan Excel menyisakan bekas merah dikulitnya yang putih.


Teriakan Naja membuat telinga Excel sakit, sehingga ia menarik lengan Naja hingga tubuh kecil itu berhadapan dengan Excel. “Aku akan memasak makan malam, duduklah!” manik mata Excel tertarik ke arah mini bar dengan kursi tinggi mendampinginya.


Mata Naja kembali membulat sempurna, “K-kau mau apa?” alis Naja terangkat, kepalanya sampai miring untuk meyakinkan pendengarannya.

__ADS_1


Excel mendecak, “Duduklah ... jangan banyak bicara, sua—“


“Suaraku menyakiti telingamu!” Naja menarik tangannya dengan wajah jengah. Ia merengut sambil menuruti perintah Excel. Iapun duduk dengan nyaman di atas kursi besi itu.


Excel menarik sudut bibirnya, lalu dengan cekatan ia mulai mengambil telur, wortel, sosis, dan daun bawang. Naja terkesima melihat Excel yang begitu terampil dan luwes saat memotong sayuran seperti Chef Arnold yang sering ia lihat di kompetisi masak di televisi.


“Telurnya jangan lupa di pisah sama cangkangnya!” seru Naja sambil menjentikkan kuku yang tak terlalu panjang itu.


Cetak ...


Excel membenturkan telur dengan kening Naja. “Diamlah ... sekali lagi kau bicara akan kusumpal dengan telur mentah ini!” Excel menggoyangkan telur berukuran besar di depan hidung Naja yang langsung meliukkan bibirnya.


Benar dia harus diam dan menikmati pemandangan yang langka ini. Membiarkan pria tampan ... ups ... pria kaku dan angkuh itu menyelesaikan masakannya. Dia berpikir menyimpan kritikan pedasnya untuk menghujat masakan Excel yang dia perkirakan horornya melebihi film The Conjuring. Naja menyilangkan kedua tangannya di dada dan menatap Excel yang tengah sibuk mempersiapkan bahan masakan dengan senyum licik.


Kaos putih yang penuh dengan tumpukan otot dan rambut yang berantakan itu tiba-tiba menarik perhatian Naja, tubuh tinggi yang mencapai kabinet yang melekat di tembok, membuat mata Naja terhipnotis. Bibir Naja merekahkan senyum hatinya perlahan menghangat. Menopang dagu, Naja benar-benar meleleh akan pesona pria itu hingga mata yang selalu di penuhi binar itu meredup dan sayu.


Excel menarik matanya dari kesibukannya mengaduk telur untuk melihat Naja yang tak terdengar lagi suara cemprengnya itu. “Dasar aneh ...,” ucap Excel tak lebih dari gumaman ketika ia mendapati Naja menatapnya dengan ekspresi—memuja—mengerikan. Dia membawa bahan masakan dari depan Naja menuju kompor. Tangkas, ia mulai menyalakan api dan menumis wortel dan sosis hingga matang. Percikan minyak tampak memercik ke kaos yang hanya dikibaskan dengan sebelah tangannya.


Naja membuka gulungan itu dan berusaha mengalungkan tali apron di leher Excel. “Menunduklah sedikit, aku tidak sampai!” perintah Naja yang langsung dituruti Excel. Harum rambut Excel memenuhi hidung Naja. Membuat satu dawai dalam tubuhnya bergetar hingga ke ujung kaki. Naja segera mundur, ia takut lututnya lumpuh dan membuatnya ambruk.


Excel yang merasa Naja telah usai dengan lehernya segera menegakkan tubuhnya kembali. Ia mengangkat lengannya ke atas, untuk memudahkan Naja mengikatkan tali di pinggangnya.


Tubuh mereka saling menempel tanpa ragu, bahkan Naja bisa merasakan detak jantung Excel. Naja mengerjap, manik mata Naja berlarian mencuri pandang ke arah Excel yang sepertinya menahan napas.


“Apa masih lama?” Naja segera mundur dan menyembunyikan wajahnya. Menyelonong begitu saja menuju kursi tanpa melihat Excel lagi.


“Sudah selesai ... lanjutkan kalau begitu! Aku sudah sangat kelaparan!” Naja mengeraskan suaranya untuk menutupi debaran tak karuan dalam dirinya. Ia pun duduk dengan posisi membelakangi Excel sambil mengipasi wajah dengan telapak tangannya. “AC nya mati, ya?” gumamnya seraya melirik AC yang terlihat jelas dalam kondisi menyala.


**


Sepiring telur yang berbentuk bulat dengan warna kuning mendominasi tersaji di depan Naja. Aroma harum itu begitu menggoda untuk segera dinikmati.

__ADS_1


Naja menggosokkan kedua telapak tangannya penuh minat. “Kalau hanya telur saja anak teka juga bisa kali!” cibir Naja, ia meraih garpu yang disodorkan Excel. Sengaja membuat suara bising dengan garpu-garpu ditangan Excel, agar ia tak mendengar decakan kesal dari Excel.


“Eits ... tunggu!” Excel menepis tangan Naja yang hendak menusuk telur dengan bentuk bulat sempurna itu. Ia membubuhkan saus sambal kemasan di atas telur membentuknya seperti mata yang memejam akibat senyumnya merekah terlalu lebar.


“Meski kau juga salah telah mengagetkanku dan membuatku malu di hadapan kolegaku, tetapi aku tetap minta maaf karena membuatmu menangis!” Excel bergantian menatap telur dan Naja. Dengan isyarat mata, Excel meminta Naja segera memakan hasil masakannya.


Satu potongan yang cukup besar mendarat di lidah Naja. Ia memejam sebab takut dengan rasa makanan Excel yang bisa saja langsung membuatnya tidak memiliki nafsu makan lagi setelah ini. Rahang Naja bergerak perlahan, menggilas telur di dalam mulutnya. Ini bahkan lebih enak daripada buatannya. Tanpa ragu ia menusuk lagi telur yang telah Excel potongkan untuknya. Excel tersenyum samar melihat kelakuan Naja.


"Maaf diterima ...," ujar Naja sambil menyengirkan senyumnya usai mengelap mulut dengan tisu yang tersedia. Perutnya terasa kenyang, sebab separuh telur yang cukup tebal itu berpindah ke perutnya.


Excel beranjak dari kursinya, mengemas piring kotor berniat hendak mencucinya. "Biar aku saja, Cel! Ngga enak ati aku sama kamu!" Naja mengambil alih piring dengan cepat, lalu membawanya ke wastafel. "Gantilah bajumu yang kotor itu!" Naja mulai membasuh piring dan peralatan bekas memasak.


Excel pun melangkah ke lantai atas dengan langkah ringan meninggalkan Naja yang sibuk membersihkan dapur. Namun, tak berselang lama, Excel turun dengan ponsel menempel di sisi kepalanya. Ia tampak terburu-buru dan serampangan membuka laci untuk mengambil kunci mobil.


"Aku kesana sekarang, siapkan pengacara untuk membantu Mikha!" Excel mematikan sambungan teleponnya, ia berlari mendorong pintu dengan lengannya dan melajukan kendaraan dengan tergesa-gesa.


Naja mematung, menatap udara kosong yang ditinggalkan Excel, pun dengan kursi yang tadi diduduki Excel. Ia mengerjap, bingung dengan perasaan yang baru saja menyergapnya.


.


.


.


.


.


Muup ... othor tahunya cuma masak telur dan air🤭 entah olang kaya makan kek begitu apa engga😂 biarlah haluku disesuaikan dengan kearifan kehidupan lokal.😂😂😂


Yuk yang votenya nganggur kasih ke aku🥺🥺🥺 yang puinnya banyak ngrgift ke akuh🥺🥺🥺 yang jempolnya udah nyekrol sampe sejauh ini dan belum ngasih like, buruan di susulin likenya🤭🥰🥰 yang punya uneg-uneg atau kesel sama othornya ... eh ... Excel magsudnya😂😂😂 silakan kirim komentar😅😅😅

__ADS_1


Arigatou😘😘😘😘😘😘


__ADS_2