Kekasihku, Asisten Adikku

Kekasihku, Asisten Adikku
Mengartikan Berbeda


__ADS_3

Tidurnya gelisah, sering kali Excel terbangun karena ucapan Naja membekas jelas dalam alam bawah sadarnya. Hingga saat pagi, kepala pria itu terasa berdenyut-denyut dan pening. Bantal di belakangnya terdengar sepi dari napas teratur nan halus yang biasa menemaninya.


Bergegas bangun, Excel segera beranjak usai memastikan Naja telah lenyap dari sana. Berharap banyak pada kesempatan pagi yang masih temaram dan dingin, Excel menuntun langkahnya ke bawah. Mengacak rambutnya, Excel mengarahkan pandangannya pada area kesayangan istrinya. Bunyi peranti masak yang berdenting, membuat senyumnya mengembang. Decis suara percikan minyak menggema di ruang pendengaran pria yang melangkah tergesa itu.


Akan tetapi langkah pria itu terhenti saat semua suara itu lenyap, berganti dering ponsel yang membuat wanita di depannya itu mengelap tangan dan menyambar ponsel ke telinganya.


“Ya ...,” sapa istrinya itu sembari mengangkat telur dari penggorengan yang tampak mengepulkan asap. Excel melompat penuh khawatir saat tangan Naja hampir terkena tepian wajan yang tampak masih panas itu.


“Dasar ceroboh,” batin Excel dengan desisan pelan keluar dari bibirnya. Dia hanya berjarak beberapa langkah saja dari Naja, tapi wanita itu terlalu asyik mendengarkan suara dari ponsel yang terjepit di antara pelipis dan pundaknya, sehingga tidak menyadari kehadirannya.


“Tidak apa-apa, Mas ... aku sudah berusaha memberitahu dia tapi sepertinya dia malah salah paham denganku. Jadi kurasa, semua itu tidak masalah ....”


Excel tak mampu lagi menahan geramnya, saat Naja mengaduh karena wajan sepertinya benar-benar menyentuh tangan istrinya itu. Mengibaskan telapak tangannya setelah meniup dan menyesap bekas terbakar di bawah kelingkingnya, Naja mematikan api yang tengah menyala. Entah bagaimana itu bisa terjadi, Excel tadi tidak terlalu memperhatikan.


Langkahnya lebar dan tegas, air muka pria itu menegang hebat. Benar-benar tidak menjaga diri, pikirnya. Tangan Excel menarik ponsel yang masih terhubung itu, melemparkan benda canggih tersebut sembarangan. Nyaris menyentuh wastafel yang basah oleh percikan air.


“Apa panggilan itu lebih penting dari keselamatanmu sendiri?” Menajamkan sorot mata yang menghujam tepat di ambang mata yang melebar sempurna milik Naja. Wanita itu benar-benar mati berdiri saking terkejutnya.


“Mati aku ...!” seru Naja dalam hati. Ia sibuk menelan saliva saat kehadiran Excel mengeringkan seluruh cairan dalam tubuhnya.


“Apa kau tidak lihat kalau semua ini panas dan bisa menyelakaimu?”


Masih berekspresi tegang, Excel meraih tangan yang sepertinya terlupa sakitnya. Memeriksa telapak tangan dengan jemari panjang kurus itu dengan teliti, hingga fokusnya terpaku pada bekas merah sedikit melengkung dan sudah berselaput putih itu. Sejenak menghujamkan tatapan tajamnya kembali pada Naja, Excel menarik tangan Naja menuju keran wastafel, mengaliri sejenak luka itu dengan air.

__ADS_1


“Tidak apa, Cel ... aku bisa mengobatinya sendiri ...!” Naja menarik paksa tangannya yang malah di apit ketat antara lengan dan sisi tubuh pria itu.


Mengabaikan ocehan Naja, Excel membawa tubuh Naja menuju kursi tinggi yang mendampingi meja bar yang berkilat. Mendudukkan Naja dan menanamkan tatapan penuh peringatan. “Duduk dan diam.” Perintah yang begitu tegas menguar dari sorot mata gelap itu. Berlalu setelah Naja mengatupkan irisan bibirnya yang semula tampak memisah untuk mendebat Excel.


Excel meraih salep yang biasa digunakan untuk mengobati luka bakar di rak kabinet yang menggantung di dekat kulkas. Dan dalam satu dua langkah panjang, pria yang masih mengeraskan ekspresinya itu sudah kembali berdiri dan mulai mengaplikasikan salep tersebut di atas luka melepuh yang tampaknya semakin memburuk. Sesekali ia meniupkan udara di atas luka itu. Tetapi, ia segera mengalihkan perhatiannya pada Naja saat dirasakan tangan Naja yang ia pegang mengencang.


Ketegangan di wajah Excel pudar setelah melihat Naja menahan perih luka itu.


“Ini yang kau bilang tidak apa-apa? Sampai wajahmu memerah seperti itu masih kau bilang bisa mengobati sendiri?”


Naja yang mengerucut kesakitan, kini melonggarkan kerutan di wajahnya. Ia mengedipkan matanya. Berdehem kecil. “Aku hanya terkejut saja melihatmu terlihat khawatir padaku ... aku tidak mau lagi tertipu oleh perhatian yang sering ku tanggapi berbeda.”


Excel menarik sudut bibirnya sekilas dan sarkas. “Sering-sering saja kau menanggapiku berbeda ... lama-lama kau terbiasa, dan jatuh cinta.”


“Berharaplah terus ...!” Dagu Naja terangkat menantang. “... dan kau akan kecewa. Aku tidak akan jatuh cinta pada pria penuduh sepertimu. Harapanmu sia-sia saja!”


Usai berkata begitu, Naja beranjak berdiri. Meninggalkan Excel yang terpaku dengan tangan menggenggam hampa. Hatinya terasa sakit mendengar ucapan yang tampak di penuhi kesungguhan itu. Sejujur itu mata istrinya menampilkan isi hatinya. Seluruh hati yang bertambal-tambal itu retak dan luruh. Bukan lagi menjadi sepihan, tetapi telah remuk menjadi partikel kecil yang ia yakin akan lenyap terbawa angin.


Setengah mati, Excel menahan luka yang belum pernah sesakit ini ia rasakan. Tangannya yang mengepal berguncang hebat. Tetapi itu tak mampu menahan air yang rasanya telah menjebol bendungan air matanya. Excel telah kalah, sekali lagi ia kalah. Menaklukkan wanita yang bahkan telah ia miliki sepenuhnya.


“Lalu pada siapa aku harus berharap, Na?” tanya Excel dalam hati. Tanya yang hanya mampu dijawab oleh waktu.


Ruangan itu kembali dijajah sepenuhnya oleh keheningan. Tak dibiarkan satu desah suara mengibarkan kekuasaannya. Hingga beberapa detik waktu berlalu.

__ADS_1


“Jangan memaksakan dirimu ... duduklah, aku akan melanjutkan semua ini.” Sekalipun berusaha menutupi jejak luka, tapi suara bergetar dari mulut Excel mengatakan segalanya. Ia telah berdiri di belakang Naja yang terpaku pada penggorengan dengan spatula bertengger di atasnya.


Kepala Naja memutar sedikit, tanpa bisa menjangkau tubuh tinggi yang mungkin tengah menatapnya tajam. Tak berniat menurut, Naja kembali menyalakan kompor dan mendaratkan satu butir telur di atas lelehan butter yang telah mencair.


“Kau boleh mengabaikan aku tentang apa saja ... tapi jika itu berkaitan dengan dirimu, aku mohon, turuti saja ... setidaknya aku pernah berbuat sesuatu yang benar padamu!”


Dalam diam, tubuh Excel mengusir Naja dengan tindakannya. Ia mengambil alih apapun yang di pegang Naja. Tanpa menoleh dan bertanya, Excel dengan cekatan melanjutkan apa yang telah Naja mulai. Membiarkan wanita itu mundur teratur. Ia lemah jika terluka, dan daripada berlarut meratapi, ia lebih memilih tenggelam dalam kegiatan yang membuat fokusnya teralih. Meski sejenak.


Naja mematung dengan air mata terburai, bagaimana bisa ia terluka oleh ucapannya sendiri. Ucapan yang ia sangka akan menyakiti pria itu, tapi nyatanya, dia sendiri yang terluka. Dia yang menorehkan pisau di atas dada orang lain, tapi dadanya sendiri yang berlubang dan mengeluarkan darah.


Tangan Naja meraba dadanya, merasakan sakit itu nyata. Entah seberapa jauh pria itu menyusupkan dirinya ke dalam tubuh Naja, yang pasti kini Naja tak mampu menahan kencangnya laju pria itu di setiap jengkal kulitnya.


.


.


.


.


.


Segitu dulu ya, temans ... maaf kalau mengecewakan🙏

__ADS_1


__ADS_2