Kekasihku, Asisten Adikku

Kekasihku, Asisten Adikku
Berlebihan Akanmu


__ADS_3

Tangan Naja terulur di depan pintu kamar Excel yang kini tertutup sempurna. Ragu, tapi ia harus melakukan itu, hari sudah hampir malam dan Excel belum keluar dari kamar sejak makan siang tadi. Jemarinya mengetuk pelan, dengan sabar ia menjeda ketukannya. Entah dapat stok sabar dari mana, Naja tidak tahu. Ia hanya merasa perlu melakukan itu. Terlebih Excel .telah mengingatkan dia tadi.


Naja membelakangi pintu yang masih tertutup itu, dia menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan yang ada di lantai atas ini. Mungkin Naja yang berpikir berlebihan, akan tetapi rumah ini memang persis seperti yang dia inginkan. “Kurasa itu hanya kebetulan ... memangnya dari mana ia tahu aku ingin rumah seperti apa?” gumam Naja sambil terus mengingat pada siapa ia mengutarakan niatnya tersebut. Selain Ai ... ia hanya memposting impiannya itu di akun media sosialnya. Naja mengangkat bahu, dan menghempaskannnya tak lama kemudian.


“Apa yang kau pikirkan? Kenapa lama sekali berdiri di situ? Apa kau hanya berniat menggangguku?”


Naja terlonjak saat Excel sudah berdiri di sampingnya, “Mengagetkan saja!” seru Naja membola, tangannya memegangi dada seolah menahan jantung tetap pada tempatnya.


“Kau yang melamun ... aku menunggumu masuk sampai berakar!” sembur Excel sambil menggeser badannya, membiarkan Naja masuk. “Bajumu di lemari sebelah kiri.” Sambungnya lagi sambil berlalu kembali ke meja kerjanya membiarkan Naja mengambil barang-barang miliknya yang sebagian masih ada di dalam koper.


Excel sengaja mendesain kamarnya lebih luas agar ia bisa meletakkan meja kerjanya di dalam kamar. Sekali lagi ia masih berpikir bahwa ia belum ingin memiliki wanita yang akan tinggal bersamanya. Entahlah, kenapa ia dulu tak berpikir untuk membuat ruang kerja secara terpisah, jika ia memiliki anak nanti tentu akan kerepotan, mengingat Ranu sewaktu balita sering mengacau ruang kerja papanya.


Naja berdiri di depan lemari yang telah ia buka, matanya melirik ke arah Excel yang kembali duduk dan berbicara pada layar laptop yang terlihat gelap. Excel pun menoleh sehingga tatapan mereka beradu sejenak, Naja mengerti jika Excel sedang melakukan rapat video, sehingga ia bergegas meninggalkan kamar Excel setelah mengambil beberapa baju dan keperluan lainnya.


Naja memindai dua kamar lain yang yang berada di depannya. Perlahan ia mendekati kamar itu dan menarik turun gagang pintu, “terkunci,” gumam Naja saat pintu itu tak kunjung terbuka meski berulang kali ia menariknya. Ia pun beralih ke pintu lain, yang juga terjadi hal yang sama. Mengeluh pelan, Naja kembali ke kamar Excel. Ia mengetuk lagi pintu kamar Excel tetapi hingga beberapa lama ia tak kunjung mendapat jawaban.


Naja mengembuskan napas, ia tak peduli jika Excel akan menyemburnya. Perlahan ia mendorong pintu hingga terbuka, dan mengendap sampai di kursi putar yang di duduki Excel.


“Cel ... aku pinjam kamar mandinya.” Lirih Naja tepat di tengkuk Excel, membuat pria yang tengah serius mendengarkan penjelasan koleganya itu terlonjak dari duduknya.


Seluruh tubuh Excel meremang, embusan napas Naja hangat di sertai aroma napasnya yang khas, mengingatkan dia pada ciuman tak sengaja waktu itu. Excel tergesa-gesa mematikan kamera dan mikrofon laptopnya. Tangan panjang pria itu mengusap wajah dengan kasar, seakan membuang jauh-jauh perasaan lain yang mengusiknya. Perlu beberapa saat baginya untuk kembali normal, sebelum menghadapi Naja yang tampak heran dengan tingkahnya.


“Apa kau tahu apa yang baru saja kau lakukan?” tanya Excel menahan geram melihat ekspresi tanpa dosa dari wajah Naja. Sepolos itukah dia?

__ADS_1


“Tidak ... memangnya apa?” Naja mengerutkan kening, manik mata gadis itu berlarian mengelilingi setiap sudut di bagian dalam kelopak matanya. “Aku hanya minta izin memakai kamar mandi, apa itu dihitung kesalahan?" lanjutnya setelah ia pikir tak ada yang salah dari ucapan maupun tindakannya barusan. Malah ia pikir telah melakukan hal yang benar.


Excel memutar kepalanya, tangannya kembali meraup wajah, “Balik badanmu ...!” titah Excel tajam dan mengerikan membuat Naja mengajukan keberatan dan protes.


“Tapi Cel ... kamar lain di kunci semua!” ucap Naja mengiba, ia tahu akan ditendang keluar saat ini. Selain mengganggu pekerjaannya, ia seharusnya ... meminta kunci bukan meminjam kamar mandi pribadi Excel. Naja menggigit bibir ketika ia baru sadar apa kesalahannya.


"Balik badanmu ...!" perintah Excel lebih tinggi dari nada sebelumnya.


Tubuh Naja berbalik perlahan, kepalanya menunduk, "Maaf ... ak—"


Naja tak bisa melanjutkan ucapannya, ketika Excel menerpakan napas di punggung leher Naja. “Kau tahu kau salah, tapi masih berpura-pura. Apa kau gunakan otakmu hanya sebagai hiasan saja, hem?" ucapan yang mirip desisan itu membuat Naja membulatkan mata dan memejamkannya hampir bersamaan. Barang-barang yang ia dekap pun luruh berserak di kaki. Ia benar-benar membeku, dan tak menyangka kesalahannya begitu fatal. Inikah akhirnya?


“Ma-maaf ...,” Naja menggeser tubuhnya ke depan, seinchi lebih jauh, tetapi Excel memburunya, bahkan kali ini Excel menyejajarkan wajahnya di sisi wajah Naja. Naja tak berani bergerak, keringat dingin mengalir diatas tubuhnya yang meremang dan terasa panas.


Naja mengigit bibir, ketika bibir Excel—entah sengaja atau tidak—bersentuhan dengan kulitnya. Naja sungguh takut saat ini, sehingga dia menjauhkan tubuhnya dari Excel. Tetapi belum sampai melangkah lebih jauh, Excel berhasil menangkap pertengahan lengannya, menekannya penuh peringatan. Membawa tubuh Naja berbalik menghadap Excel lagi.


"Tapi ... tidak ada lain kali! Jika lain waktu kau bertindak ceroboh, dengan senang hati aku akan membantu mengubur mimpi untuk bersama Ai-mu itu!"


Mata Naja membulat penuh, pandangannya terisi oleh pantulan wajah Excel yang menegaskan senyum penuh ancaman. Naja menarik tangannya, tetapi Excel mengeratkan cekalannya. Menegaskan bahwa ia tak main-main dengan ucapannya.


"Sakit Cel ... lepaskan!" pinta Naja sambil terus meronta. Bahkan kini sebelah tangannya ikut membantu melepaskan cekalan Excel yang masih ketat melingkar.


"I-iya ... aku akan mengingatnya!" putus Naja akhirnya. Ia tahu tak akan pernah menang melawan Excel. Manik matanya terasa basah, tentu karena cengkeraman Excel memang menyakitkan dan juga tentang Syailendra.

__ADS_1


"Apa kesalahan seperti itu harus sampai sesakit ini kau menekanku? Bukankah kau sudah memendam mimpiku sejak kau membuatku tak punya pilihan seperti ini? Kau juga salah, tapi aku tidak menuntut apapun darimu!"


Naja menarik tangannya dan berlari meninggalkan Excel yang membatu. Menuruni tangga dengan cepat dan baru berhenti di tangga paling bawah. Sejenak ia bingung akan pergi kemana, namun ia segera melangkah lagi setelah matanya melihat lorong menuju halaman belakang.


Kamar belakang dapur mungkin saja tidak terkunci, sehingga Naja memutuskan untuk menepikan diri di sana. Menumpahkan semuanya di sana.


"Excel menyebalkan!" seru Naja yang tetelan oleh kasur berseprei putih di bawahnya. Tangan kecil itu mengepal dan memukul kasur berulang-ulang. Kakinya yang menggantung menerjang udara kosong. Dia terus mengulang makian pada Excel hingga di rasa kekesalannya berkurang.


Di luar pintu, Excel mendengar tangis dan makian Naja. Tangan yang sedianya menggedor pintu itu terurung, ia sedikit lega setelah sempat berpikir yang tidak-tidak. Ia pikir Naja akan menenggelamkan diri di kolam atau melakukan perbuatan nekat lainnya. Napas Excel terbuang begitu keras, entah apa yang melatarinya berpikir berlebihan seperti itu. Tubuh Excel melemas, mengadu keningnya dengan daun pintu.


"Aku pasti sudah gila ...!" Excel menarik sebelah bibirnya, telapak tangannya menekan dada yang masih berdentum tak karuan. Overthinking, membuatnya tegang bahkan ia lupa akan meeting online-nya.


.


.


.


.


.


Maafkan typo yang bertebaran🙏 Maaf juga untuk up yang terlambat🙏

__ADS_1


Happy Reading😊


__ADS_2