Kekasihku, Asisten Adikku

Kekasihku, Asisten Adikku
Kenapa Hanya Dia Saja?


__ADS_3

Tubuh Excel terasa pegal, kaki dan punggungnya terasa kebas. Itulah yang ia rasakan selama menemani Naja tidur di sofa dengan posisi duduk, beberapa hari terakhir ini. Jam masih menunjukkan pukul lima pagi, akan tetapi Excel sudah tak bisa memejamkan mata lagi, meski ia masih ingin bermalas-malasan sejenak. Kepala Excel kembali bersandar pada bantal yang sejak semalam bertengger di atas sandaran sofa. Matanya menyapu langit ruangan yang tampak redup. Ia kembali teringat ucapan Mikha yang mengatakan bahwa Naja pernah bekerja sebagai OG. Excel bangkit, ponselnya ada di kamar oleh karenanya ia bergegas menaiki tangga menuju kamar.


“Lo kalo nelpon bisa ngga agak siangan dikit? Awas saja kalau ngga penting ...!” kesal Sam dari balik telepon.


“Kamu pernah cerita ngga, Naja kerja dimana sebelum ikut kamu?” mengabaikan kekesalan sahabatnya, Excel mulai mencecarkan apa yang mengganggu pikirannya.


“Oh ... dia kerja di kantor Tristan sebagai OG ... emangnya kenapa?”


“Jadi dia ngga ikut kamu sejak kamu nemuin dia?” Mata Excel mendelik saking kesalnya. Pantas dia akrab dengan Tristan, mereka sudah dekat sebelumnya, Excel mendengkuskan napasnya. Sial ... umpatnya mengimbuhi.


“Ya enggaklah ... lu gila ya ... tiba-tiba maksa dia buat kerja sama gue, begitu? Lu pikir dia ngga bakal curiga?”


Excel terdiam, perlahan ia mencerna ucapan sahabatnya.


“Lo nelpon gua pagi-pagi, gangguin tidur gua ngalahin emak gua, hanya untuk pertanyaan kek gitu? Lo yakin lo sehat? Lo yakin ngga lagi baper gara-gara kedekatan istri lo sama Tristan?”


Excel seperti tersedak sekumpulan lebah. Bibirnya terbuka, tapi tak ada yang keluar dari sana. “Ya ... ya memangnya ke-kenapa? Toh aku ... dia ... tanggung jawabku sekarang!”


“Sejak kapan lo sodaraan ma Aziz Gagap?” tawa Sam meledak di seberang telepon, membuat Excel menurunkan ponselnya dan meggesekkan jempolnya sekuat tenaga pada ikon merah di layar ponselnya. Excel berdecak, ia berjalan lebih dekat ke jendela yang mulai membiaskan sinar kekuningan sang mentari. Jemari panjangnya menyugar rambut yang mulai menutupi kening. Ucapan Sam terus saja berdengung di sudut pendengarannya. Excel menaikkan sebelah bibir atasnya. Ia tak yakin, tapi pikiran itu sungguh mengganggunya.


Melesakkan kedua tangan ke dalam saku celana jogger yang dikenakannya, Excel kembali turun. Ia mengernyit saat melihat Naja yang masih lelap dalam tidurnya. Excel kembali berdecak, langkahnya semakin panjang mendekati Naja. Tangannya terulur untuk membangunkan Naja tetapi ia urungkan tatkala matanya melirik jejak pekerjaan Naja masih berserak di atas meja. Ia meraih beberapa lembar sekaligus kertas-kertas bersketsa itu.


Bibir Excel mencibir, ia sendiri baru sungguh-sungguh memperhatikan sekarang. Cukup bagus untuk ukuran pemula, pikirnya. Naja bahkan menyertakan jenis bahan dan perpaduan aksesori yang digunakan. Manik mata Excel memutari sketsa setengah jadi itu secara penuh hingga matanya tertuju pada sudut kertas yang tersemat nama Tristan dengan lambang api melingkupi. Manik mata Excel berlarian, mencari makna dari lambang tersebut, bahkan di saat bersamaan keningnya berkerut-kerut.


Excel gerah, ketika ia tak menemukan nama lain pada kertas-kertas di bawahnya. Desisan meluncur di sela gigi Excel yang saling mengadu, ia menyoroti Naja seolah siap menikam. Sekali lagi ia membalik halaman kertas itu, memastikan bahwa hanya nama Tristan di sana—bahkan namanya tak ada sama sekali—


Excel mencampakkan kertas di tangannya ke meja dengan keras, tetapi tidak membuat Naja bergerak dari tidurnya sehingga Excel semakin kesal dibuatnya. “Kenapa hanya Tristan saja yang dibuatkan? Aku juga bisa membayar baju buatannya!” gerutu Excel dengan tangan tersilang di dada, mata pria itu masih berlama-lama menatap Naja yang tidur menelungkup dengan helai rambut menutup sebagian besar wajahnya. Sambil berdecak, ia segera meninggalkan Naja. “Menyebalkan sekali dia ....”


Excel mengayunkan langkahnya ke halaman samping dimana ada sebuah kolam yang sengaja ia buat untuk memuaskan kesukaannya akan kegiatan berenang. Ia bahkan lebih suka bila bersantai sambil memandangi air yang beriak tenang, dengan kilau seperti kristal saat sinar matahari menerpa. Pikiran Excel tak juga menjadi tenang setelah berada di sana. Excel mendengkus sembari mengusapkan tangannya ke seluruh wajah hingga ke rambut hitamnya. Berkacak sebelah pinggang, ia berjalan hilir mudik di tepi kolam, “Kenapa dengan Tristan yang perfeksionis itu, dia malah mudah akrab? Apa mungkin dia memiliki perasaan khusus pada Tristan?” kursi panjang dari kayu menjadi pelabuhan tubuhnya.

__ADS_1


Berdecak lagi, sebab ia tak juga menemukan cara untuk menenangkan pikirannya. Membuang napas dengan kasarnya, Excel beranjak dari kursi malas itu untuk segera memulai berlari di atas treadmill. Berharap ia melupakan semua yang baru saja mengganggu pikirannya. Biasanya ampuh ....


Matahari hampir meninggi, namun tak ada tanda-tanda dari wanita yang sudah resmi menjadi seorang istri tersebut untuk bangun. Malah ia sepertinya menemukan posisi paling nyaman—telentang—apalagi selimut yang membalutnya kian erat memeluk tubuh Naja. Excel yang telah usai melakukan olahraga paginya mengambil segelas susu sebelum membersihkan diri, menyempatkan diri untuk menghampiri istrinya tersebut. Isi kepalanya menolak mendekat, namun kaki dengan mudahnya berkhianat, sehingga kini manik mata gelap itu tengah asyik menikmati wajah dengan helai rambut yang mengarsir. Menyeruput susu yang nyaris dingin, ia terus menyusuri lekuk wajah Naja dan bermuara di bibir mungil itu. Excel tersenyum sinis, ia tak mau semakin kesal melihat Naja yang membuatnya gerah. Apalagi baju Naja tak mengancing dengan benar, Excel buru-buru berlari ke kamar mandi dan menenggelamkan diri di bawah guyuran air dingin dari shower.


Terlihat-dengan-jelas.


**


Naja meregangkan tubuhnya, ia segera menjejakkan kakinya di lantai yang dingin, melemparkan selimut yang telah menghangatkan tubuhnya. Ia masih mengatupkan kelopak matanya, tetapi hidung itu membaui sesuatu yang membuat perutnya berkokok.


“Aku sarapan di bawah saja Mbak Sita ...,” suara parau nan lemah meluncur dari bibir Naja. Ia mengusap sisi kepalanya sambil berjalan. Tetapi ia malah menabrak tubuh yang begitu wangi dan segar. Seketika mata Naja membulat penuh, otaknya segera sadar bahwa ia tinggal berdua saja dengan suaminya.


“Eh ... aku kesiangan ...!” Manik mata Naja berlarian, menghindar dari tubuh di depannya yang tengah menyangga nampan. “Aku mau mandi dulu ...,” ucapnya cengengesan. Aroma harum dari roti lapis membuat derak dalam perutnya berteriak makin keras.


Naja mundur dan berbalik, tubuhnya serasa berlubang karena tatapan Excel yang mengerikan. Naja menggigit bibir menyadari ia salah.


“Duduk ...!” Naja langsung mundur dan mengenyakkan tubuhnya di sofa tempatnya tidur. Terdengar Excel meletakkan nampan di atas meja, takut-takut Naja mencuri pandang pada suaminya yang hanya kakinya saja mampu ia jangkau.


“Apa begini kelakuan seorang istri di rumah?”


“Maaf ...,” cicit Naja seperti tak terlalu berani menjawab. Ia telah melakukan kesalahan yang fatal bahkan Excel telah mengambil alih tugasnya pagi ini. Naja melenguh lesu. "Dasar tidak berguna ...." Ingin rasanya Naja memukul kepalanya yang bebal ini.


“Sampai kapan kau akan bersembunyi seperti itu? Tegakkan kepalamu dan sisir rambutmu yang berantakan itu ... sungguh menyakiti mata!” suara Excel begitu dingin menusuk telinga Naja, sehingga Naja segera menuruti mau suaminya. Ia segera menyibakkan rambutnya ke belakang dan menggelungnya, duduk tegak, tetapi ia masih belum berani menatap Excel.


“Makan ...!” perintah Excel dengan tangan tersilang di dada. Lewat pukul tujuh pagi, Excel masih berada di rumah, hari ini seharusnya tak ada yang begitu penting di kantor, sehingga ia sedikit bisa santai. Tetapi entahlah, Rega hari ini tidak bisa masuk karena menjaga mamanya.


Naja memanyunkan bibirnya sebelum menyambar setumpuk roti dengan isian penuh. Perlahan ia mengunyah roti tersebut, meski ia ingin sekali melahapnya dengan rakus. “Ini enak sekali,” batin Naja sambil terus menjejalkan roti itu ke dalam mulutnya. Ia masih berhati-hati dengan Excel yang mengawasi.


Alunan nada sebuah lagu terdengar dari ponsel Excel, pria yang sudah rapi dengan kemeja abu tua membalut tubuhnya. “Ya ...,” jawab Excel tegas sembari menjauhkan tubuhnya dari Naja.

__ADS_1


“Aku akan berangkat sebentar lagi ... atur saja pertemuanku setelah makan siang! Sebelum waktu itu, jangan menjadwalkan pertemuan lain!” Tegas dan dingin. Naja menguping pembicaraan suaminya di telepon, meski ia tak tahu maksud pasti semua itu. Yang jelas ia akan sibuk sepanjang siang hingga sore. Naja bernapas lega, ia bisa santai tanpa ketegangan yang mencengkeram.


Naja tiba-tiba menghentikan gerakan rahangnya, ia ingat semalam Excel bersikap sangat baik padanya. Ekor mata Naja melirik sedikit ke arah Excel yang tengah sibuk menatap layar ponselnya. “Kenapa dia jadi menyebalkan lagi jika pagi tiba? Apa dia kena kutukan? Pas malem baik, paginya menjengkelkan lagi ...."


“Apa yang kau lihat?” Naja membola, ia segera kembali melahap sarapannya dalam satu suapan.


“Hari ini jangan kemana-mana ... diam di rumah! Jangan keluyuran!” perintah Excel. Pria itu mengambil kunci mobil di laci tanpa melepas tatapannya dari Naja yang tampak kesulitan menelan sarapannya.


Naja mengangguk, menyesal telah menyuapkan roti itu sekaligus, akhirnya ia tak bisa mendebat perintah Excel yang agak aneh menurutnya. Keluyuran? Memangnya dia kucing, apa?


“Nanti akan ada yang membersihkan rumah ... kau tak perlu melakukan apapun!” lanjut Excel yang sudah mencapai pintu depan.


Naja segera mendorong sarapannya ke dalam lambung dengan segelas susu hangat. “Tunggu Cel ...!” teriak Naja sedikit kesusahan. Ia mengelap sisa susu dengan punggung tangannya sambil berlari menuju pintu.


Excel yang sudah mencapai mobilnya pun berbalik, “Benahi pakaianmu!”


Mendengar ucapan Excel, Naja terkesiap. Ia melirik piama dengan kancing bagian atas terbuka. “Astaga ...!” Naja berbalik sembari meremas bajunya. “Ka-kau berangkatlah ... nanti aku telepon saja!”


Naja menggigit bibir dan berlari kembali ke dalam rumah, meninggalkan Excel yang masih terpaku pada tempay yang ditinggalkan Naja. “Aneh ...!” bibir atas Excel naik beberapa derajat, tetapi tak lama kemudian ia tersenyum. Entah apa yang dipikirkan pria itu.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2