
Excel mengenyakkan tubuhnya di tepi tempat tidur, meraup wajahnya kasar, pikirannya kini dipenuhi omelan Naja. Ia segera meraih ponsel yang berada di dalam saku celananya. Napasnya terembus kasar saat melihat notifikasi transaksi dari kartu yang Naja pegang.
Excel menarik kepalanya menatap sembarang arah, matanya mengerjap berulang-ulang. Kesal dengan dirinya yang suka sekali panik, ia kembali menatap layar ponsel untuk memeriksa pemberitahuan yang ia abaikan tadi. Ia kini menyesal telah membuang waktunya hanya untuk mencari orang yang tak meninggalkan rumah selangkah pun. Dan itu pula yang membuatnya sangat jengkel, sehingga ponsel yang tergenggam ditangannya terdampar di tepian ranjang—nyaris terjatuh— setelah Excel melemparnya sembarangan. Ia pun segera beranjak ke kamar mandi dan meluruhkan gerahnya di bawah guyuran air.
**
Sup jamur, ayam goreng, dan telur sambal hijau memenuhi meja makan. Namun hal itu tak membuat selera makannya tergugah. Selain karena ulah Excel, juga karena nyeri saat menstruasi yang selalu ia alami setiap bulan. Sebenarnya sejak siang tadi Naja sudah merasakan rasa sakit di bagian bawah perutnya, tetapi karena ada orang tua suaminya, Naja menahan sakit itu. Biasanya, Naja akan tidur meski hanya sebentar untuk menghilangkan rasa sakit tersebut.
Bibir Kira tak henti memuji masakan Naja apalagi Harris yang terlihat lahap menyantap sup jamur yang kini menyisakan sedikit saja di dalam mangkuk.
“Mama berlebihan, masakanku tidak ada apa-apanya dibandingkan masakan di resto Mama ...,” Naja meletakkan sendok dan garpu yang ia pegang sebab ia telah menyelesaikan makan malamnya.
“Kau tahu, Na ... meski punya resto ... tapi masakan kamu jauh lebih enak daripada masakan dia.” Harris yang juga telah menyelesaikn makannya, tengah mengelap sudut bibirnya dengan tisu. Ia melirik istrinya penuh ejekan.
“Karena aku ngga pernah masak setelah menikah denganmu ... makanya ketrampilan masakku menguap begitu saja.” Kesal Kira dengan bibir sedikit manyun. Ia memukul lengan suaminya itu sebab Harris menunjukkan gestur tidak percaya pada pembelaan Kira.
Naja tertawa tanpa suara melihat kelakuan mertuanya yang tampak harmonis. Dalam hatinya, Naja sedikit terhanyut akan keromantisan pasangan di depannya ini, sehingga ia menundukkan pandangannya.
“Oh ya, kami akan menginap malam ini karena Doni tidak bisa menjemput kemari ...,” Kira yang tengah mengemas piring-piring bekas makan malam, menatap Excel yang sejak dimulainya makan malam ini hanya membisu.
Naja yang setengah jalan menuju wastafel, membulatkan penuh matanya. “Mampus ... kamar satunya belum aku bersihkan lagi!” bibirnya tergigit, bingung, hanya kamar yang ia tempati saja yang ia bersihkan siang ini. Ia berbalik dan menatap Excel yang juga sedang menatapnya. Saling berbicara melalui sorot mata, kedua manusia itu beradu pandang cukup lama.
"Bagaimana ini?" Naja mengigit bibirnya saking cemas dan bingung.
“Pakai mobilku ‘kan bisa, Ma.” Excel mengalihkan perhatiannya dari Naja kepada Kira yang masih lekat menatapnya.
Kira menghentikan gerakan tangannya sedikit mengentak, “Mama tidak akan mengganggu kalian, kami akan pasang penutup telinga atau headphone biar ngga kedengeran suara kalian ....” terdengar suara tawa lirih Harris yang terdengar seperti ejekan.
__ADS_1
“Bu-bukan itu maksudnya, Ma ...,” Excel terperangah mendengar ucapan Mamanya, “aku-aku 'kan hanya menyarankan saja... kalau mau tidur di sini, ya ... silakan!” Matanya beralih lagi ke arah Naja yang tampak bingung menyikapi keadaan ini.
“Kamu ngga keberatan ‘kan, Na ...?” Kira juga mengekori pandangan Excel, pun dengan Harris yang juga penasaran dengan reaksi menantunya tersebut.
Naja tersenyum canggung, “ngga Ma ...,” melebarkan senyumnya diiringi gelengan kepala yang kuat. Ia pun berbalik dengan senyum turun, “mati aku ....” rutuknya pasrah. Perutnya semakin berdenyut nyeri, apalagi membayangkan ia harus mengemas barang-barang miliknya di kamar sebelah. Tangan Naja mulai bergerak lincah di atas piring kotor di depannya, sambil terus membayangkan lelah tubuhnya setelah ini.
“Cel ... kita bicara sebentar!” titah Harris yang membuat lamunan Excel buyar. Ia juga sedang sibuk mencari cara agar Naja bisa mengemas barangnya lagi tanpa ketahuan orang tuanya.
“Baik, Pa ...,” jawab Excel lemah.
Mereka segera bangkit dan berjalan menuju halaman samping.
“Apa yang mereka bicarakan, ya? Kenapa tidak di sini saja?” batin Kira. Bibir wanita itu kembali merengut.
“Mama istirahat saja ... biar aku yang menyelesaikan sisanya ...,” Naja mengambil alih semua bekas makan malam itu dari tangan mama mertuanya. Senyumnya lekat menghiasi bibir yang membuat Kira merasakan ketulusan gadis di depannya ini.
“Mama yang akan merapikan meja kalau begitu ...,” tangan Kira terulur mengusap rambut hingga ke pipi menantunya. “Kamu terlihat pucat, Na?” kening Kira berkerut saat melihat wajah Naja yang memudar warnanya.
“Mama bantu biar cepat selesai,” potong Kira yang mendorong Naja ke tempat cuci piring, ia segera mengemas meja agar bisa secepatnya beristirahat.
**
“Tristan hari ini menemui Papa ...,” ujar Harris dengan tangan saling mengait di belakang punggung. Ia memunggungi Excel yang berdiri di belakangnya.
Manik mata Excel merangkak naik memandangi Papanya yang kini telah berbalik.
"Apa kau bisa menjelaskan sesuatu, kenapa Tristan memutuskan kerjasamanya dengan Star, yang seharusnya sudah kau ketahui ini akan menjadi kerugian besar. Bukan hanya untuk Star tapi juga untuk grup WD secara keseluruhan."
__ADS_1
Excel menarik napas dan menghembuskannya perlahan. "Tristan terlalu banyak mengulur waktu kami, Pa ... para karyawan banyak yang mengeluh dan terlalu banyak membuang tenaga. Sementara banyak pihak lain yang sangat ingin bekerja sama dengan kita."
"Kau harus tahu, Cel ... orang tua Tristan dan Papa sudah bekerja sama cukup lama, dan seingat Papa, baru kali ini Tristan memiliki permintaan khusus."
Kedua pria yang ketampanannya tak bisa diragukan lagi itu tampak mengadu pandangan begitu lama.
"Dia menginginkan Naja sebagai modelnya." Jawab Excel sembari berpaling, ia mengesahkan napasnya, seakan beban yang sempat ia tahan ikut terbuang. Di depan Harris Excel tak bisa menyembunyikan apapun, tatapan Harris seakan mengebor setiap sudut hatinya.
Harris mengendikkan kepalanya, alisnya bahkan sampai terangkat seolah berkata "hanya itu?" Ia begitu heran dengan sikap putranya ini. Terkesan over posesif terhadap wanita yang di miliki. Meski Harris tak bisa juga menyalahkan Excel, mungkin trauma di masa lalu yang membuatnya seperti ini.
Harris meraih bahu putranya, membawanya sejajar dengan tubuhnya. "Papa tahu Naja sudah menjadi milikmu, tetapi kau juga tidak bisa mengekangnya, Nak. Suami istri adalah sebuah hubungan yang akan begitu lama kalian jalani, jika diawal saja sudah begini, apa kau yakin Naja bisa tahan menghadapimu?"
"Dalam sebuah hubungan, hal yang paling kecil pun juga harus dibicarakan. Bukankah lebih adil jika kau bertanya dulu bagaimana pendapat Naja akan hal itu? Jika Naja mau, kenapa tidak? Kau jangan berpikir untuk menyimpan Naja hanya untukmu sendiri, ada bagian dari wanita yang masih harus dibiarkan bebas, kau cukup miliki hatinya, kau hanya harus memenangkan cintanya, agar dia tidak berpikir untuk berpaling."
Harris mengalihkan pandangannya dari air kolam yang begitu biru dan berkilau kepada Excel yang kini tengah menundukkan kepalanya. "Ayolah, Nak ... lakukan itu demi Papa jika kau tidak mau melakukannya demi hubungan kerjasama kami yang telah terjalin lama."
Excel hanya menarik napas, ia belum berpikir sejauh yang papanya ucapkan. Ia hanya tahu menggenggam erat, agar apa yang ada dalam genggamannya tak lagi lepas.
"EXCEEL ...!"teriakan nyaring menggema di seluruh penjuru rumah, membuat kedua pria yang tengah serius berbicang itu saling pandang.
Secepat kilat Harris dan Excel berlari menuju mamanya yang berada di lantai dua. Entah apa yang terjadi dengan wanita yang mereka cintai itu hingga ia menggelegarkan suaranya. Yang pasti ada sesuatu yang membuat amarahnya terpancing.
.
.
.
__ADS_1
.
.