Kekasihku, Asisten Adikku

Kekasihku, Asisten Adikku
Hujan Dan Dinginnya


__ADS_3

Keadaan tidak berubah meski waktu telah berganti dengan begitu cepatnya. Masih sering bertengkar dan saling adu urat, tetapi tak jarang pula, mereka saling melempar kepedulian dan perhatian.


“Aku akan menjemputmu jam lima sore,” begitu bunyi pesan yang Excel kirimkan pada Naja siang tadi. Excel bersikukuh mengantarkan Naja belanja kebutuhan rumah tangga mereka, meski Naja menolak. Sejak kejadian terakhir kali, Excel memang sedikit berubah sikapnya, setidaknya pipinya yang semulus porselen itu menampakkan kerutan. Ia sering tersenyum dan bicara, walaupun bicaranya hanya untuk membuat Naja kesal. Sedangkan sikap memaksa dan ketus sepertinya sudah mendarah daging. Apalagi tatapan yang selalu membuat napas Naja tercekat saking horornya, sepertinya akan selalu menjadi teror tersendiri dalam hidup Naja.


Lima kurang lima belas menit, Naja sudah menyandang tas di punggungnya setelah mengirimi Excel pesan yang mengatakan dirinya telah siap. Ruangan ini nyaris kosong, hanya ada dua buah patung manekin yang dilapisi helaian potongan kain yang baru saja Naja gunakan sebagai model untuk bajunya sendiri dan Excel tentunya. Ya, dia akan mendampingi suaminya itu pada saat menghadiri pernikahan salah satu rekan kerjanya akhir bulan ini. Tentu saja, Naja ingin tampil sebaik mungkin agar tak membuat suaminya itu malu.


Pukul lima tepat, Naja memutuskan untuk memesan taksi online untuk mengantarkannya ke sebuah pusat perbelanjaan. Terlebih, Excel tidak membaca pesan yang terkirim lima belas menit lalu. Sepi sekali rumah mode Sam yang memang hanya buka di siang hari ini. Hujan membawa angin basah yang terasa dingin menembus sweater yang dikenakan Naja. Kilat dan petir saling beradu di langit terkadang membuat Naja menutup telinga saking kerasnya ledakan petir itu.


“Cel ... apa kau masih lama?” Naja kembali mengirim pesan kepada Excel. Petang kian menggelap, baik taksi maupun Excel tidak juga menampakkan ujung mobilnya di depan Naja. Jujur Naja takut, apalagi hujan tampaknya enggan berhenti. Sabtu malam dan Naja yang seharusnya kini sudah berada di rumah memeluk guling dan membalut tubuhnya dengan selimut yang hangat.


Naja mengamati sekitar, tetapi tidak ada yang bisa ia pakai untuk sekedar mendekat ke pos satpam. Di sana setidaknya ada orang yang bisa diajaknya berbicara atau meminjam payung untuk berjalan ke halte bus terdekat. Naja mengembuskan napasnya, tampaknya ia tak punya pilihan selain membiarkan dirinya kehujanan. Meletakkan tangannya di atas kepala, Naja berlari melintasi halaman di tengah kilatan petir yang menggelegar dan tetes hujan yang semakin rapat menimpa bumi.


“Pak ... apa ada payung?” tanya Naja sembari mengulurkan kepalanya ke dalam pos yang menguarkan aroma asap rokok yang pekat. Pria di dalam sana sedang asyik menatap layar televisi ditemani secangkir kopi hitam yang masih mengepulkan asap.


Si satpam menoleh dengan membawa keterkejutannya. “Lho, Mbaknya belum pulang?” tanya satpam itu sedikit tidak percaya pada penglihatannya. Seingatnya tidak ada satupun kendaraan di tempat parkir sehingga ia mengira semua karyawan telah pulang dan menutup gerbang.


“Ini baru mau pulang ... dan saya mau pinjam payung, Pak. Ada?"


“Naik apa, Mbak? Kalau naik motor, di depan jalanan tergenang air karena selokan tersumbat, motornya bisa mati, Mbak.” Satpam itu bangkit dari duduknya yang tampak nyaman, ia berjalan ke belakang lemari yang menjadi pembatas dengan ruang di belakangnya. “Ini, Mbak ....”


Sebuah payung berwarna hitam terulur ke arah Naja yang langsung di sambarnya, “Makasih Pak, akan saya kembalikan hari Senin,” Sedikit menundukkan kepalanya, Naja berbalik meninggalkan pos satpam.


“Hati-hati di jalan, Mbak,” si satpam tampak khawatir, ia mendongak menatap langit yang makin deras mengguyurkan hujannya ke bumi.


Naja membuka payung, setelah mengangguki si satpam dan melangkah menembus hujan. Tak lupa, ia menggulung celana jeans yang ia kenakan hingga mencapai pertengahan betis. Hujan dan dinginnya selalu membuatnya kecil dan putus asa. Hujan selalu mengingatkannya pada luka, luka yang akan selalu ia ingat hingga akhir hayatnya, mungkin. Ya, ia memutuskan meninggalkan kampung dan Ai untuk ikut dengan Jen. Ia akrab dengan dingin dan aroma basah angin seperti ini, sama seperti satu tahun lalu. Tanpa terasa, bulir air mata menggenang di pipi.


Halte bus memang tampak dari tempat Naja kini, hanya perlu menyeberang jalan yang digenangi air hingga menenggelamkan sepatu yang melekat di kakinya. Naja mulai merasakan badannya menggigil. Tangannya teraba dingin, pun dengan sekujur tubuhnya yang lembab serasa membeku. Jalanan lengang, tidak ada kendaraan yang melintas kecuali beberapa petugas yang sedang membersihkan saluran air yang tersumbat.


Angin bertiup makin kencang, membuat payung yang sedang menaunginya bergoyang hebat. Naja berlari melintasi air menuju halte yang juga tak kalah lengang dari jalanan. Tak berapa lama, bus yang dinanti Naja tiba, ia segera naik dan mengambil tempat duduk yang berjauhan dengan penumpang lain.

__ADS_1


“Akhirnya ...,” ucap Naja sembari menghembuskan napas kelegaan cukup panjang. Tangannya memindahkan tas dari punggungnya, merogoh ponsel untuk memeriksa pesan-pesan yang telah ia kirimkan pada Excel. Nihil ... tak ada balasan bahkan di baca pun tidak. “Kemana dia?” manik mata Naja berlarian, hatinya mendadak resah. Ia takut terjadi apa-apa dengan suaminya itu.


Tangan Naja bergerak lincah, menghubungi Rega. Namun hal yang sama terjadi, Rega bahkan tidak bisa dihubungi. Sam? Andai dia ada di tempat hari ini, Naja tak perlu basah-basahan seperti ini. Sam akan dengan senang hati mengantarnya pulang. Satu per satu orang yang berhubungan dengan suaminya itu ia kirimi pesan. Dan ya ... bisa ditebak, mereka tidak mengetahui kemana perginya Excel.


Kepala Naja terasa berdenyut-denyut, sehingga ia menyudahi pencarian online-nya. “Kemana, sih, dia? Bikin orang cemas saja.” Gerutu Naja sembari membuang muka ke sembarang arah.


**


Hujan mulai reda ketika tengah malam menyapa, namun, Naja masih hilir mudik di teras rumah. Kuku yang tidak panjang itu bergesekan dengan gigi, ia menggigiti kuku itu hingga terasa perih dan sedikit berdarah. Bingung, bahkan orang di rumah mertuanya kini juga tengah mencari keberadaan Excel, setelah satu jam lalu, Naja memutuskan untuk memberitahu mereka.


“Sudah malam, Na ... kenapa masih di luar?” teriakan Ai membuat Naja mendongakkan wajahnya, menjumpai Ai yang berada di balkon rumah miliknya yang berseberangan dengan rumah Naja


Naja mengabaikan Ai, ia memilih masuk ke dalam rumah, dan menunggu Excel di sana. Duduk dan berdiri, ia tak bisa bebas dari pikiran akan suaminya itu, “Aku bisa gila jika terus-terusan begini ...,” Naja berlari ke kamar, ia mengambil jaket dan sepatu. Tak lupa ia mengambil ponsel yang tergeletak tak jauh dari benda-benda yang ia keluarkan dari dalam tasnya yang basah.


Pintu terketuk dari luar, tepat ketika Naja sampai, sedikit berharap, Naja membuka pintu dengan cepat.


“Apa kau berniat mencarinya?” mata Ai terus memindai Naja, yang membisu namun jemarinya bergulir di atas layar ponsel, ia menghubungi Agus agar menjemputnya.


Tetapi, ketika Naja hendak menekan nomor Agus, ponsel Naja berbunyi terlebih dahulu. Sejenak ia mengamati nomor baru yang tertera di layar ponselnya, tetapi sedetik kemudian, Naja menggeser lambang hijau di ponselnya itu.


**


“Tenanglah, Na ... semua pasti baik-baik saja!” Ai melajukan mobilnya secepat yang ia bisa sembari menenangkan Naja yang terisak di sebelahnya. Setelah mendapat telepon dari sebuah klinik, Naja begitu panik dan bingung. Seakan tak punya pilihan lain, Naja mengiyakan tawaran Ai untuk mengantarkan Naja kesana. Menurut logika Naja, ucapan Ai tadi benar, jika menunggu Agus, itu akan memakan waktu lama dan bila memesan taksi itu juga membutuhkan waktu yang tidaklah sebentar.


Klinik yang berada tak jauh dari sebuah pusat perbelanjaan yang menyatu dengan apartemen itu terlihat sepi. Naja berlari melintasi halaman klinik yang basah, genangan air masih tampak di mana-mana. Cipratan air bercampur tanah mengotori celana panjang yang digunakan Naja, tetapi ia tidak peduli, ia hanya ingin melihat kondisi suaminya terlebih dahulu. Air matanya sudah menghambur bahkan melebihi guyuran air hujan tadi.


UGD klinik tersebut tampak lenggang hingga kedatangan Naja yang menghebohkan suasana. Ia mendorong pintu dengan kasar, menyibak satu-satunya tirai yang menutup rapat salah satu ranjang.


“Excel ....” panggilan Naja membuat Excel membuka mata. Ia bergegas menarik tubuhnya hingga duduk di atas ranjang.

__ADS_1


Naja berlari menubruk tubuh Excel hingga berguncang. Memeluk erat, pria yang membuatnya dilanda kekhawatiran berlebih. Isak tangis Naja tumpah di bahu Excel, ia sungguh lega melihat Excel baik-baik saja. Tunggu ... Naja melepaskan diri dari suaminya itu. Sorot mata Naja memindai penuh suaminya ini. Dia tampak baik-baik saja dengan senyum yang tertahan di permukaan bibirnya.


"Apa? Kau tidak ikhlas mengkhawatirkan aku?" dagu Excel terangkat sedikit. Ia merasa senang kala Naja tampak diliputi kecemasan saat ini. Ia menarik salah satu sudut bibirnya sembari mengulurkan tangannya menghapus jejak air mata yang membasahi pipi. "Kau jelek saat kacau begini."


Naja merengut tajam, "Kau sepertinya sangat sehat hingga masih kuat membuatku kesal!" Menampik tangan Excel dengan keras sehingga membuat Excel mengaduh.


"Sakit ...," Excel menunjukkan perban yang menempel di lengan yang di tampar Naja.


"Makanya jangan banyak bicara atau mau kusuruh pulang jalan kaki." ucap Naja penuh ancaman. Manik mata wanita itu sudah menggurat merah. "Apa kau mengerjaiku, barusan?"


.


.


.


.


.


Untuk semuanya ... makasih votenya😘😘😘 banyak kali aku dapet vote minggu ini🥺🥺🥺 Dan untuk yang ngegift thankyou😘😘😘


Oh ya ... othornya sok sibuk ini ... maaf blm bisa bales komentar🙏


Maaf untuk part yang gaje🙏


Dan Excel ini memang bakal bucin di akhir-akhir episode ya ... jadi kalau Excel dah bucin artinya akan segera tamat😉 so ... sabar ya yang mau lihat Excel bucin ... aku masih ingin berlama-lama dengan kalian😘😘😄😄😄 ngga ding, becanda ... pokoknya sabar ya ... othor lagi nyari jalan kesana😄 soalnya rute sun go kong udah ketutup zaman🤭 jadi kudu nyari sendiri jalannya. 'Kan othornya kumat🤦‍♀️


Peluk online sumuanya😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2