Kekasihku, Asisten Adikku

Kekasihku, Asisten Adikku
Alasan Yang Mengada-ada


__ADS_3

“Nyonya ...,” setelah tiba di bawah tangga setengah melingkar, Naja memutuskan untuk berpamitan sekalian. Pikirnya, Nyonya Harris pastilah sangat sibuk sehingga akan membuang banyak waktu berharganya bila harus menemui dirinya lagi.


Kira yang sedang memikirkan segala hal yang mungkin menyebabkan Naja berhenti bekerja pada Jen, berhenti dan menoleh. Menyembunyikan rasa penasaran dalam satu gerakan hingga saat berpadu pandang dengan Naja, bibirnya sudah berhias senyum.


“Setelah bertemu Jen ... saya langsung pamit Nyonya, ... saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas kebaikan Nyonya dan Tuan selama ini,” Naja menunduk. Matanya memanas. Rupanya pamit dengan keluarga ini tak semudah yang dibayangkan.


“Na ... kau harus menunggu Papanya Jen kembali. Aku memang memutuskan untuk tidak bertanya apa alasanmu pergi dari sini, tapi ... kau tetap harus berpamitan sendiri dengannya. Kau ingat, dulu Papanya Jen yang menyetujuimu bekerja pada Jen kan?” lembut sekali tutur kata yang terucap dari bibir Kira. Tetapi kesan tegas dan tak bisa ditolak tersirat di sana.


Naja merapatkan bibirnya, tentu dia ingat. Tapi dia lupa jika ada raja di singgasana tertinggi di rumah ini. Pria penuh kasih pada seluruh penghuni rumah tapi entah bagaimana dia bersikap bila ada lalat kecil seperti Naja hengkang dari rumah ini dengan alasan yang tidak jelas. Tidak ingin membuat dirinya terlihat ragu, Naja mengangguk. Alasan yang tepat untuk diajukan ke hadapan Harris nanti akan Naja pikirkan kembali.


“Baiklah, suamiku akan pulang saat makan malam, kuharap kau mau sabar menunggunya.” Kira tersenyum lagi. “Naiklah, Jen pasti senang kau datang ....”


Naja meremas tangannya yang berkeringat, “Iya Nyonya ... saya akan menemui Jen dulu.”


Naja melihat ke atas sebelum menjejakkan kakinya di anak tangga pertama. Ingat semua tawa dan lelah yang dia lewati saat menaiki tangga ini. Kembali ke sini, membuatnya semakin berat meninggalkan Jen.


Kira masih mengawasi Naja yang terlihat ragu.


“Apa masalahmu hingga memilih pergi?” tanya Kira dalam hati.


Perlahan Naja menapaki satu persatu tangga dengan warna segelap kayu, guratan serat kayu tampak indah membentuk pola melingkar tak beraturan. Kamar Jen melewati kamar Excel. Dulu, kamar yang selalu tertutup meski berpenghuni ini tak pernah membuat Naja sejenak berhenti atau membuatnya gugup. Tapi kini entah mengapa kamar ini begitu menggoda untuk dipandangi.


“Naja ...!” seru Jen dari pintu kamarnya. Wanita cukup umur itu tampak seperti bocah yang begitu senang saat karibnya datang untuk bermain.


Melirik sekilas pintu cokelat gelap di sebelahnya, Naja dengan cepat menghampiri Jen. Dress navy yang lembut itu ikut melambai dengan indah seiring langkah Naja.


“Hei ... kau bilang kau tidak suka dress, kenapa sekarang kau pakai?” Jen melebarkan tangannya menyambut Naja.


Naja tersenyum menanggapi komentar Jen. “tidak suka bukan berarti tidak ingin memakai kan?” Kedua wanita single itu saling memeluk hangat. Sahabat yang begitu kental dan karib.

__ADS_1


“Senang kamu bisa kembali, Ja ...!” pekik riang Jen bahkan sampai melompat-lompat setelah pelukan mereka terberai. Bahu Naja bahkan sampai terguncang saking kuatnya Jen memegangnya. Akan tetapi, Naja malah membeku membiarkan Jen kegirangan sendiri.


“Ya Allah Jen, aku tak sampai hati bila harus membuatmu kecewa. Maaf Jen ... maaf.”


“Kenapa? Kau takut sama Kakak?” tanya Jen saat melihat mimik wajah Naja menggurat sendu. “sudahlah, kau tentu hafal dengan tabiat kakakku itu? Dia tidak akan keluar sampai makan malam.”


Naja tersenyum pilu, air matanya sudah menumpuk hendak meluncur.


“Ayo masuk ...!” Jen menggeret tangan Naja dengan cepat.


“Jen ...,” lirih Naja. Jemari Naja meremas lengan Jen agar Jen menghentikan tarikannya.


“Ada apa Ja?” Jen mencium sesuatu yang tidak semestinya dari lagak lagu Naja. “Jangan bilang, kalau kamu beneran mau ninggalin aku?”


Berpaling meninggalkan Jen yang masih menatapnya tajam, Naja mengambil tab yang pernah diberikan Jen padanya. “Kurasa asistenmu yang baru lebih membutuhkan dari pada aku, Jen.”


“Jadi kau kesini hanya untuk membuatku semakin sakit ... iya? Membuatku merasa bersalah karena aku yang melibatkanmu dalam urusan pribadiku?” sinis Jen. Naja menggeleng kuat, tapi hal itu tak menyurutkan niat Jen untuk tidak memberi kesempatan pada karibnya berbicara.


“Kau bilang kau hanya menepi sampai kakak tidak lagi ingat amarahnya?” ucapan Jen meninggi. "Aku tidak akan menerima tab itu, Jen tidak pernah mengambil kembali barang yang sudah diberikan! Dan aku tidak akan punya asisten lain selain kamu!"


“Bukan ... bukan itu Jen." Sela Naja terbata-bata. "Aku sungguh ingin kembali tapi – tapi, aku sudah bekerja di tempat lain,” Naja tak sanggup melihat Jen tampak buruk. Dia hanya ingin membantu kakaknya tapi saat itu-mungkin saja-adalah hari yang sial bagi persahabatan mereka.


“Dimana?” Jen melipat tangannya di atas perut. Dia bertekat bila Naja tidak bekerja dengan layak, Jen tidak akan melepaskan Naja. Dia tahu beban yang dipikul Naja. Pikir Jen, di usianya yang masih belia, Naja wanita yang kuat dengan segala tekanan yang menderanya.


“Di- di ... sama itu Mas ... Mas Samuel ... iya, Mas Samuel,”


“Bohong ...!” bentak Jen. Masih setajam elang Jen memindai Naja yang gugup menjawabnya. “Sam? Kau kenal Sam dari mana?”


“Eh ... jadi gambar-gambarku dibawa oleh Mas Samuel, katanya kalau pelanggannya suka, aku akan di rekrut sama dia ...,” meski belum pasti tapi hanya itu yang bisa dijadikan alasan oleh Naja.

__ADS_1


Jen menurunkan tangannya, memalingkan wajah dengan dengusan sinis. Berjalan menuju sofa yang penuh perlengkapan untuk keperluan pengambilan video untuk konten di laman sosial media miliknya, Jen dengan cepat meraih benda pipih itu dan menempelkannya di telinga. Keluar menuju balkon ketika panggilan itu terjawab, hingga beberapa saat, dia kembali dengan ekspresi pasrah. Dengan kasar Jen melempar ponselnya ke sofa lagi.


“Baiklah, aku tidak menghalangi mimpimu untuk menjadi orang sukses, tapi malam ini kau harus tidur di sini. Tanna nanti juga akan kemari.”


“Tanna?” gumam Naja dalam hati. Tiba-tiba hati Naja kembali mencelos setelah sejenak bergembira dengan keputusan Jen.


“Apa dia baik-baik saja setelah kejadian itu?” tanya Naja hati-hati. Perasaannya semakin tidak enak saja saat ini.


“Kau seperti tidak kenal Tanna saja ... memangnya kau tidak ngechat dia?”


“Aku pikir Tanna masih marah sama aku ... jadi aku tidak berani menghubunginya sejak kejadian itu.” Ekspresi yang belum pernah Naja lihat dari seorang Tanna selama satu tahun berteman, membuatnya bergidik ngeri bercampur iba.


“Dia bahkan merindukanmu,” jelas Jen riang. “Nanti nginep bertiga pokoknya, kita gadang sampai pagi nonton drama dan film ... okey?”


Naja mengangguk. “Kalau begitu aku telpon Tara dulu ya, nanti dia cemasin aku lagi kalau ngga bilang sejak awal.”


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2