
“Siapa yang mengerjaimu? Lihat ...,” Excel menunjuk-nunjukkan lengan luarnya yang tertambal kasa di depan mata Naja, sehingga membuat wajah Naja mundur. “... bajuku juga sampai sobek begini!” kepala Excel mengarah ke samping di mana bajunya
teronggok sembarangan di sudut bawah ranjang.
Naja membuntuti kemana pandangan Excel bermuara, kemeja panjangnya memang tampak kotor dengan bercak darah dan noda berwarna kecokelatan. Tangan Naja terulur
meraih baju itu dan membentangkannya. “Kau habis main apa, sih, sampai kotor
begini?” omel Naja. Ia menggeser kemeja abu muda itu ke samping agar ia leluasa
memarahi Excel.
Excel mendelik dengan sebal dengan tuduhan Naja, “Kau hampir benar-benar menjadi janda malam ini, jika aku tak berhasil keluar dari banjir yang menggenangi basement parkiran mal tadi.” Sembur Excel. Ya ... memang Excel sedang bersama teman-teman semasa kuliahnya yang
tinggal di luar negeri, sore tadi. Dan benar, ia lupa janji yang telah ia
kirimkan pada Naja siang tadi saking asyiknya kebersamaan saat reuni. Hingga saat hari berganti malam, ia baru ingat akan janjinya itu. Ia benar-benar lupa
segalanya, bahkan ia lupa untuk membawa ponselnya. Berniat segera pulang, Excel
yang baru menyadari hujan turun dengan lebatnya, begitu terkejut ketika
mendapati lahan parkir bawah tanah telah terendam air. Ia bahkan membantu
evakuasi beberapa orang yang terjebak di sana. Lengannya tergores paku
yang mencuat dari salah satu pembatas tangga yang rusak sehingga membuat lengannya itu terluka.
Naja merengut, “Kau asyik nge-mal dan nongkrong dengan para sahabatmu hingga lupa menjemputku?” pelupuk mata Naja kembali penuh, ingat betapa takutnya ia saat
berjalan sendiri di bawah sambaran petir dan lebatnya hujan, juga kecemasan saat menanti kedatangan pria ini yang tak kunjung pulang.
“Bukan begitu ... aku tak berniat sama sekali melupakan janjiku, tapi sungguh aku—“
“Tidak ingat?” sahut Naja cepat dan mendengkus sinis. Itu sama saja, Cel, batin Naja.
Excel merepet pasrah. Iya ... tidak berniat lupa tapi terlena. Bibir tipis pria itu
tergigit ke dalam, kelu, “Kita pulang saja ... aku sudah baik-baik saja.”
Excel menurunkan tubuhnya dari ranjang. Setengah memaksa, ia menjejalkan kakinya ke sepatu yang juga tak kalah kotor dari bajunya. Agak kurang nyaman akibat basah
dan lumpur yang masuk. Tangan pria itu terulur meraih baju yang masih berada
dalam kekuasaan Naja. Sedikit kesulitan Excel melepas baju klinik yang melekat
di badannya, sehingga membuat tangan Naja tak bisa diam untuk membantu suaminya
__ADS_1
itu. Hati-hati, Naja melepas baju dan menggantinya dengan kemeja yang kotor dan bulukan itu. Bibir Naja gatal untuk tidak mengeluarkan omelannya.
“Sudah tahu keadaannya begini, kenapa malah memintaku segera datang ... tanpa
memberitahuku apa saja yang kau butuhkan. Malah membuatku panik tak karuan.” Nada
suara yang nyolot dan terkesan kesal itu membuat Excel mengembangkan senyum
samar. Naja sibuk mengaitkan kancing yang sebagian telah raib. Segenting apa
kejadian yang menimpanya tadi? Bau anyir begitu mengusik penciuman Naja.
Ia menghentikan gerakan tangannya dan mendongak menatap suaminya, “Pinjem baju ini apa tidak boleh?” Ia menunjuk baju klinik yang berada di atas ranjang. Prihatin
melihat kelusuhan baju suaminya itu.
“Kalau dibuat boleh, mungkin bisa ...,” Excel keluar dari balik tirai dan menemui
perawat jaga di bagian depan ruang yang cukup luas ini. tak berapa lama ia
kembali dan menyuruh Naja menukar kembali bajunya tersebut. Ribet.
Tak lama, mereka telah siap meninggalkan ruang UGD, Naja mencampakkan baju suaminya itu ke dalam keranjang sampah yang berada tak jauh dari pintu keluar. Akan tetapi, Excel masih menahan langkahnya di depan meja perawat yang tengah menggumamkan sesuatu.
“Ada apa lagi?” tanya Naja yang telah kembali mendekati Excel. Ia menatap bergantian suaminya dan perawat yang tengah menuliskan sesuatu di atas kertas.
menggelar sebuah kertas, “... ini resep obatnya.” Dan menyusulinya dangan ketas
yang lain dengan tulisan yang tak bisa dibaca sama sekali.
Excel mengangguk dan menyeret tangan Naja—menyentak tapi tidak kasar— meninggalkan ruangan ini.
“Na ... bayarkan tagihan ini, ya ...,” Excel memindahkan kertas itu ke tangan Naja,
ketika mereka menyusuri lorong panjang menuju apotik.
“Mana duitnya?” tangan Naja menadah di depan dada Excel sementara ia masih terus
menghadap ke depan sembari terus melangkah.
“Pakai uangmu dulu, nanti aku ganti kalau sudah sampai rumah.”
Langkah Naja berhenti mendadak. Hingga membuatnya nyaris terjungkal saking terkejutnya, “Uang apa? Aku ke sini modal nekat, hanya pon ... sel ...,” suara Naja tercekat ketika ia meraba saku belakang celana yang ia kenakan. Tadi kutaruh di sini?
Manik mata Naja membola, ia juga melupakan ponsel miliknya.
“Ponselmu kenapa?”
__ADS_1
“Mampus aku ...,” gerutu Naja sembari menepuk keningnya, “Mung-kin ...,” Naja menaikkan bola matanya ke atas, “... tertinggal di mobil—“ tidak ... dia tidak mengingat sama sekali apa dia masih membawa ponsel itu ketika naik ke mobil Ai.
Excel masih menanti jawaban yang keluar dari bibir istrinya itu. “Tapi Cel ... aku
kesini ngga bawa dompet.”
“Makanya pakai ponselmu ...,” tukas Excel cepat. Ia masih mendelik kepada Naja. “Jangan bilang karena panik kau lupa dimana ponselmu sekarang?”
Wajah Naja merepet takut, ragu, kepalanya mengangguk, sehingga membuat Excel menjatuhkan bahunya lemas. “Kau meninggalkan ponselmu di entah di mana, bisa di rumah, taksi yang kau tumpangi kemari, atau bisa juga jatuh saat kau masuk ke UGD, dan itu terjadi sekarang saat kita sedang membutuhkannya?”
Naja menunduk dan sedikit memundurkan kepalanya ketika Excel menyemburnya dengan berondongan tuduhan. Mata Naja panas dan kembali penuh. Bukan karena ponselnya, tapi karena kecerobohannya. Apa iya dia harus ingat ini itu saat mendengar kabar suaminya berada dalam keadaan darurat. Ia mengintip takut-takut ke arah Excel yang masih belum menyurutkan amarahnya.
“Sekarang cari cara bagaimana kita bisa pulang dari sini?” sambung Excel masih dengan amarah yang memuncak.
Excel menyugar rambutnya ke belakang, terlanjur dirinya menyuruh Riko mengurus mobil dan mengabaikan dirinya, karena ia pikir Naja akan datang membawa apa yang ia
butuhkan. Excel meminjam ponsel perawat yang berbaik hati meminjaminya ponsel
untuk menghubungi Riko dan ... Excel mengigit bibirnya saat menyadari dia juga
yang menyuruh perawat itu tidak mengatakan apapun pada Naja selain mengatakan bahwa dia tengah berada di sebuah klinik.
Naja berpikir sejenak sebelum berlari membawa tumpukan air mata yang telah tumpah mengguyur pipi. Apa
salah jika terlalu khawatir dan melupakan sesuatu? Apa juga salahnya karena ia
tak bisa mencerna lebih dalam apa yang ia dengar dan apa yang dia lihat? Bukankah
sudah cukup dengan melihat dan mendengar saja apa yang ada di depan mata dan
apa yang masuk ke telinga?
“Ai ... tolong pinjamkan aku uang ... dan bawa kami pulang.” Sergah Naja bahkan sebelum Ai mengutarakan sebuah pertanyaan pun dari mulutnya.
Kening Ai berkerut, “Pelan-pelan, Na ...,” pinta Ai lembut.
“Cepat, Ai ...,” potong Naja tak sabar. Antara kesal dan sakit mendengar teriakan Excel
membuat tubuhnya bergetar hebat.
.
.
.
.
__ADS_1
.