
Mengerang frustrasi, Tristan menumbuk dinding yang beku dengan ujung sepatu limited edition-nya. Harapan dan putus asanya sama besar jika ditimbang-timbang. Namun, pria ini selalu kacau bila berada di bawah tekanan. Sejak kecil, ia memang tak pernah bisa lepas dari bayangan Vania, sang adik. Hingga mengharuskannya tampil sempurna dan selalu selangkah di depan Vania yang memang cerdas dan selalu brilian.
Rambut berkilat yang selalu tersisir rapi ke arah belakang, ia sela dengan kedua belah jemarinya. Kekesalan yang belum pernah sebanyak dan sebesar ini menumpuk, rasanya hingga memenuhi jalan napasnya. Deru napasnya membelah kesunyian lorong panjang yang mengerikan ini. Mendesis hingga giginya saling beradu, ia mencengkeram rambutnya hingga penglihatannya terasa terang kembali.
Tangan panjang Tristan meraba saku, mencari benda canggih yang senantiasa menemani kesunyian hati Tristan. Menggulir layar yang menyala itu sejenak, ia menempelkan benda pipih itu di sisi telinga.
“Kali ini Papiku! Jangan sampai kau kehilangan satu detail informasi pun tentang dia selama satu tahun terakhir. Satu jam kurasa bukan waktu yang sebentar!” perintahnya saat sambungan teleponnya bersambut.
Kedua mata pria itu menajam saat memutus sambungan telepon tanpa melihatnya sama sekali. Menarik napasnya sangat dalam, ia memejamkan mata, mengembalikan mood dan kepercayaan diri yang sempat terberai menjadi kepingan kecil. Hingga dirasakannya dirinya pulih, Tristan menghempaskan napasnya perlahan seraya membuka mata. Senyum yang terkesan mengerikan muncul di salah satu sudut bibirnya.
“Sebentar lagi, Tristan ... kau akan menggenggam semuanya," gumamnya.
Ia melangkah meninggalkan lorong, akan tetapi sejenak kemudian ia memutar arahnya kembali ke depan bilik dengan label VIP tertempel di pintu. Lalu ia mengarahkan ponselnya di depan muka, mengirimkan pesan pada Maureen.
“Pastikan pesananku datang tepat waktu, aku akan menyambutnya di pintu utama.”
Sekali lagi, Tristan kembali mengembuskan napasnya, ia berekspresi ceria lagi seperti biasa sebelum mendorong pintu hingga terbuka.
Penghuni dalam ruangan yang tengah bercermin sembari melepas anting itu menoleh, lalu berdiri dengan terburu-buru, tanpa meninggalkan keanggunan yang membuat Tristan semakin menggilai wanita itu.
“Boleh kutemani? Sepertinya kau sedikit ketakutan di ruangan ini sendirian ...,” tawar Tristan dipenuhi percaya diri. Boleh saja ia telah dipunyai, tapi tidak masalah ‘kan, ia sedikit tidak mempermasalahkan hal itu? Cinta itu buta, kini ia mengerti, orang-orang terdahulu tidak akan membuat istilah itu jika belum pernah terjadi kejadian serupa dengan dirinya ini.
“Satu-satunya yang kutakuti di sini adalah kebenaran dibalik senyum yang selalu ramah ...,” Naja tersenyum, kelopak mata wanita itu mengedip perlahan. “... anda tidak perlu repot, Tuan ... tidak ada yang membuat saya takut, bahkan ketika saya sudah sampai di sini.” Naja memiringkan kepalanya sedikit, tanpa meninggalkan senyum yang terkesan manis.
“Kau tahu?” Tristan melangkah dengan telunjuk menekuk di depan hidungnya, menggosoknya perlahan. Seorang Tristan belum pernah terpojok bahkan oleh seorang wanita. Ia selalu menemukan jalan, tetapi dengan dia ...? Tristan bahkan selalu mati kutu.
“Baik suami maupun keluarga besar suamimu, tidak terlalu menganggap serius masalah dalam urusan bisnis mereka ... tapi kenapa kamu mau melakukan ini jika hanya membuatmu terluka. Kau tetap bisa bersama suamimu, dalam pelukannya tanpa perlu mengkhawatirkan apapun, ‘kan?”
Naja tertawa tanpa suara, ia membuang muka dengan tangan bersilang di dada. “Entahlah Tuan ... saya hanya merasa kalau saya di seret paksa dalam urusan ini. Saya merasa ini hanya sesuatu yang remeh sebenarnya, tapi dibesar-besarkan, tetapi tidak masalah, dari sini saya belajar banyak hal. Menjadi orang baik itu sangat susah.”
Dia mengeluarkan gestur mengibaskan rambut yang seolah menjuntai di sisi wajahnya, sebelum melanjutkan ucapannya.
“Oh ya ... setelah semua ini ...,” Naja mengitarkan telunjuknya pada benda yang tak seberapa banyak di ruangan ini. “... aku ingin semua kembali ... nor-mal.”
Tristan menaikkan alisnya. “tunggu sampai kamu menyelesaikan tugas utamamu hari ini, Nona ... kurasa belum saatnya kau mengerti.” Bibir Tristan mencebik saat Naja mengerutkan dahinya. Ia tertawa jahat dalam hati, Naja sepertinya belum mengerti tujuannya yang sebenarnya.
__ADS_1
“Jangan berpikir terlalu keras, kau tahu ...,” Tristan selangkah lebih dekat di depan Naja, membuat wanita itu menaikkan wajahnya menemui Tristan. “kau sangat cantik saat otakmu bekerja lebih keras. Di sini, rasanya sudah tidak tahan.” Tristan menepuk dadanya yang menggelegakkan gairah. Wanita itu lebih menggairahkan saat dia sulit di dapatkan. Bukan yang menyeret tubuhnya, membuka kedua kakinya, dan menggigit bibirnya dengan mudah dan suka rela di depan pria.
Naja hanya tersenyum sekilas dan mengendikan lehernya tak acuh. “I got you.” Kesimpulannya telah mengerucut. Sambil lalu, ia menyisihkan ujung dahinya dengan ujung telunjuknya. Meninggalkan Tristan
***
“Nona ... anda lebih mirip seperti mempelai pengantin dari pada seorang model,” celetuk wanita yang sedang mendandani penampilan Naja. Di ruang ganti, dengan cermin tinggi bertahtakan lampu LED, Naja tengah memperhatikan dirinya yang memang mirip pengantin wanita. Rambutnya di sanggul di belakang kepalanya tinggal menambahkan kerudung saja. Naja tersenyum membayangkan ia tengah mengapit lengan suaminya berjalan dengan tawa menghiasi bibirnya. Mungkin suatu hari ia bisa mewujudkan itu, meski entah ... kapan. Ia harap segera.
“Saya sudah menikah.” Senyum menyurut dari bibir wanita itu saat ingat tujuannya di sini. Bahkan ia tak tahu apakah ia bisa berjalan tegak keluar dari sini. Cemas, tapi ia masih memiliki keyakinan bahwa dirinya mampu mengalahkan Tristan.
“Oh sayang sekali ...,” ucap wanita itu sendu. “... padahal saya sempat berpikir bahwa Tuan Tristan menaruh hati pada anda, Nona ... belum ada wanita yang ia istimewakan, bahkan dia harus mengeluarkan dana yang luar biasa banyak untuk pagelaran ini. Biasanya ‘kan, dia hanya memakai Angel dan hanya foto-foto biasa, dan Angel bahkan belum pernah di ekspose wajahnya, hanya menonjolkan highlight perhiasan yang di pertontonkannya. Kasihan dia, ya ... sepertinya dia berharap banyak dari kesabarannya selama ini ...,” celoteh wanita itu nyaris tanpa jeda.
Naja tersenyum, “Saya tidak mengerti arah pembicaraan anda,” mereka saling mengadu pandangan melalui pantulan cermin.
Wanita itu menurunkan bahunya diiringi embusan napas lelah. Dalam hati Naja tertawa karena mungkin wanita itu kesal ucapan panjang lebarnya tidak bisa ditangkap dengan baik oleh lawan bicaranya.
“Nona, Angel itu sudah lama menaruh hati pada Tuan Tristan, tapi sepertinya Tuan Tristan tidak memedulikannya, malah dia memilih Mikha. Angel rela menahan sakit hatinya selama ini demi Tristan. Ah ...,” wanita itu tiba-tiba menutup mulutnya, “... Nona, lupakan ucapanku barusan,” ia menatap Naja dengan tatapan sendu. Merasa sangat menyesal.
“Nona ...,” rengek wanita yang tampaknya berusia tiga puluhan, kali ini ia beralih di depan Naja, memegang tangan Naja sembari berlutut. Menatap Naja penuh permohonan.
Naja membola saat wanita itu menubruknya hingga tubuhnya terhuyung mundur.
“Terima kasih, Nona Malaikat ... aku sudah lancang membuka mulutku padahal aku bergantung pada pekerjaanku ini.” Isaknya dibahu Naja yang terbuka.
“Ayo ... bantu keluar dari sini ... jika terus seperti ini malah mengundang kecurigaan yang lain nanti.”
Kedua wanita itu bertukar senyum setelah menceraikan pelukannya. Saling mengusap bahu, mereka keluar dari balik tirai yang membingkai keduanya.
***
Tiga puluh menit hingga giliran Naja unjuk diri dengan benda berkilauan yang menggantung di lehernya. Suasana belakang panggung sangat riuh dan sibuk, hanya Naja yang duduk dengan tenang. Hingga suara tegas menghampiri telinganya.
“Apa yang kau berikan pada Tristan hingga hanya kamu saja yang tampak di matanya?” Angel berdiri dengan angkuh di depan Naja. Menatap Naja dengan teliti dan sedikit kesal.
Naja yang saat ini dilanda demam panggung, perlahan menatap orang yang tengah berbicara di depannya. “Apa maksudmu, Nona?”
__ADS_1
“Kau tahu, aku sudah menahan perih selama bertahun-tahun demi Tristan. Aku sudah melakukan banyak hal untuk dia, tapi dia tidak pernah melihatku sekilas saja ... jika itu Mikha, aku masih bisa mengerti karena dia memang memiliki segalanya, tapi kamu?” Angel memandangi Naja dari atas hingga ke bawah. Hanya wanita biasa, pikir Angel. Dan itu menguar dari sorot mata Angel. Meski itu juga menunjukkan bahwa Angel merasa tersisih.
“Ku rasa itu bukan urusanku, Nona ...,” tukas Naja saat Angel tampak tak sabar menyusuli ucapannya. “... tentang bagaimana sikap Tristan terhadap anda, dan apa yang telah anda berikan padanya, saya rasa saya tidak perlu mengetahuinya."
“Diistimewakan Tristan, membuatmu bertingkah sombong, ya? Kurasa kau perlu diberi pelajaran!” Tangan Angel yang semula bersilang di dada, buyar dan melambai sekilas.
Serta merta, beberapa orang yang entah dari mana asalnya melempari Naja dengan telur.
Tanpa bisa menghindar, Naja menerima dengan pasrah lemparan telur yang menghujani bagian depan tubuhnya. Terkejut memang, tapi Naja berusaha bersikap tegar. Saat ini, lebih baik tidak menunjukkan sisi lemahnya, pun sisi hatinya yang lain yang sudah siap menyembur Angel dengan segumpal amarah.
Beberapa orang mulai tertarik berkasak kusuk di balik tangan. Tentu di sini, Naja lah yang paling bersalah. Ya ... pasti karena siapa mereka bagi Angel. Siapa Angel dan siapa Naja ....
Naja mendesah pasrah, ia memilih pergi usai menatap mereka satu persatu, merekam. Semua ini tentu diluar perhitungan Naja, entahlah ... ia rasa, ia harus memutar kembali otaknya.
"Oh My God ...."
.
.
.
.
.
Hai ... muup All ... othornya biasa ... sosi ... sosibuk😄
Terimakasih karena masih setia menantiku ... makasih juga yang selalu kangen ... makasih juga yang engga kangen🤭 ... biar aku saja yang kangen 😄😄😄
Terimakasih atas dukungan kalian semua teman tersayangkuh ... tanpa kalian, aku hanya debu diantara puluhan ribu othor di NT😉
Love you semilyar deh ... biar kebagian semua😄
Baca ini juga donk🤭
__ADS_1