
“Astaga ...,” manik mata Naja berkeliaran meneliti seluruh ruang kamar yang sudah
terang benderang oleh sinar matahari. Jendela kamar terbuka lebar, membiarkan
angin memainkan tirai. “... aku kesiangan!” terkesiap, buru-buru dia mengangkat
tubuhnya hingga terduduk di tepi ranjang dengan kaki menjuntai menyentuh lantai.
Kelabakan berlari ke kamar mandi, Naja nyaris terjungkal saking terburu-buru,
sehingga ia tak menyadari selimut masih membelit pinggang. Melempar selimut
yang telah menemaninya sepanjang malam, mengamankan nya dari serangan yang tidak
diinginkan, ke sembarang arah. “Hei selimut! Apa kau mau ikut mandi?” hardiknya
pada selimut yang teronggok di lantai. Ia melompat ke dalam kamar mandi dan
membersihkan diri secepat yang ia bisa.
Pintu kamar terbuka tepat setelah Naja menutup pintu kamar mandi, menampilkan sosok Excel yang tengah membawa nampan berisi tumpukan pancake dengan lelehan sirup maple yang melimpah dan juga dua gelas berisi cairan berwarna putih pekat. Ekor mata Excel tertuju pada pintu kamar mandi yang tampak sepi, meski begitu ia
yakin Naja berada di dalam sana, sebab ranjang sudah kosong. Napas Excel terhembus perlahan, melihat kacaunya kamar yang ia tempati semalam. Setelah
meletakkan nampan, ia segera memungut selimut yang terbentang mulai dari kaki
ranjang hingga mencapai lemari. Gadis ceroboh, gerutu Excel dalam hati, ia
menebak gadis itu menggelinding untuk sampai di kamar mandi.
Usai kejadian yang kurang mengenakkan, kedua menusia itu berdebat sengit. Saling mengotot, mengatakan masing-masing mereka benar. Tidak mau mengalah. Naja yang kepalang malu akhirnya memutuskan untuk tidur di sofa. Namun, Excel memindahkannya karena Naja hampir terjatuh.
“Apa yang kau lihat?” Naja menaikkan dagunya, tangannya sibuk menggosok rambutnya yang basah dengan selembar handuk. Ia sebal melihat ekspresi suaminya yang seperti meneliti setiap jengkal tubuhnya. Apa yang dilihatnya? Pikir Naja
sembari membalas tatapan itu penuh permusuhan dan bibir yang meliuk sinis.
Excel berdecih, “Siapa yang melihatmu? Aku hanya memeriksa apa ada ulat genit yang
menjalarimu saja!” jawab Excel tak kalah sinis dan sedikit mengejek.
“Mana ada ulat di kamar ini? ada-ada saja ...’” cibir Naja sembari mendudukkan
tubuhnya di sofa. Tangannya melilitkan handuk membalut rambutnya yang basah.
“Lalu siapa yang bilang kalau di wajahku ada serangganya semalam?” mata Excel
mengawasi dari balik bibir gelas yang sedang ia sesap.
Manik mata Naja berputar gugup dan penuh takut, ditambah malu, “itu ... aku tidak berbohong ... sungguh!” tubuh Naja terlipat menyamping, ia segera menyambar dan menjejalkan sepotong besar pancake ke dalam mulutnya. Kenapa di bahas lagi, padahal aku sibuk melupakannya. Bahu Naja terhempas turun.
__ADS_1
“Kau memang suka mengada-ada.” Excel meletakkan gelas yang sudah bersih itu di atas nampan kembali. Kaki panjangnya ia silangkan semantara manik matanya masih
lekat mengawasi Naja yang kesulitan menelan sarapannya. “tidak akan ada yang
merebut makananmu, kau ini kelaparan atau rakus, sih?”
Naja tidak menjawab sebab pancake lembut itu dengan begitu nakal berhenti di
tenggorokannya, menyumbat jalan napasnya sehingga ia terbatuk-batuk. Excel
menghembuskan napasnya, ia tak habis pikir dengan kelakuan Naja yang seperti
anak kecil. Ia beranjak dan menempatkan diri lengan sofa dan menepuk punggung
Naja perlahan, tak lupa ia menyodorkan gelas yang masih penuh itu ke depan
bibir istrinya itu. Membantunya minum dengan tangannya tersebut
Mata Naja mengintip malu-malu saat Excel dengan sabar mendorong gelas itu ke bibir
Naja, ia bahkan sampai harus mengedipkan kelopak matanya berulang-ulang untuk
mengusir rasa yang menyusup ke hatinya. Wajah tajam itu seperti melunak saat
ini. andai tiap hari seperti itu ekspresinya ... senangnya. Ingat Na, jangan
memaknai berlebihan atas perhatian ini, batin Naja terus menggemakan kalimat
“Makasih, Cel ...,” lirih Naja yang sudah terbebas dari sesaknya. Wajahnya merah padam karena malu. Ia hanya menatap sekilas wajah suaminya itu lalu menunduk kembali dan mulai makan dengan perlahan.
“Lain kali hati-hati, kalau aku tidak ada kau pasti mati tadi!” ia masih memegang
gelas milik Naja, pandangannya menunduk mengawasi Naja.
Naja memalingkan wajahnya tajam, “Kau menyumpahiku mati? Kalau aku mati kau akan jadi duda dan menikah lagi?” setitik rasa kecewa muncul di raut wajah Naja.
“Aku hanya bilang kalau ‘kan? Apa itu menyumpahi? Kau ini berlebihan ... lagi pula
tidak apa-apa ‘kan menikah lagi, toh aku masih muda ....” Excel menggeser tubuhnya menjauh, bisa jadi wanita itu marah dan mengamuk padanya.
“Kau tega sekali padaku? Kalau aku mati ... aku akan menghantuimu, karena semasa
hidup kau tidak pernah baik padaku! Heuh!” Naja membuang wajahnya, menusuk
pancake yang tidak berdosa itu sangat kuat, mungkin saja itu bisa membelah
piring di bawahnya.
“Siapa yang tidak berbuat baik? Kurang baik apa aku hingga kau memakaiku untuk membuat mantanmu itu cemburu?”
__ADS_1
Naja menahan napasnya, “Itu tidak dihitung, ya ... toh, kau juga membalasnya.”
Menenggelamkan gugup yang hendak mencuat dari dalam dirinya, Naja kembali
menyesap susu yang telah Excel letakkan di sebelah piringnya.
“Aku menyempurnakan drama yang kau buat, dan aku yakin kau sangat suka hingga
mengulanginya semalam,” bisik Excel di ceruk leher Naja, membuat Naja menyemburkan susu yang telah berhasil masuk ke dalam mulutnya.
Kelopak mata Naja melebar sempurna, ia menoleh secepat yang ia bisa, tatapan tajam
menghujam itu membawa tubuh Excel kembali mundur dengan teratur, “Kau menyebalkan ... kau ini jarang sekali banyak bicara, tapi sekali bicara, ucapanmu sungguh menyebalkan,” geram Naja dengan kedua tangan terkepal sempurna di depan dadanya. Ingin rasanya Naja mencabik dan menjejali bibir penuh seringai menyebalkan itu dengan batu bata. Ada ya, manusia macam dia, kesal
Naja dalam hati.
Excel masih terkekeh geli melihat Naja begitu kesal, wajahnya yang bersih memancarkan rona merah di tulang pipinya, “habiskan sarapanmu, gadis penggoda ... kita
segera berangkat.” Excel bertingkah menyebalkan agar Naja semakin kesal. Ia segera bangkit dan menyambar beberapa barang miliknya sebelum melangkah keluar kamar. Meninggalkan Naja yang masih menatapnya penuh kesal.
Gigi Naja gemeretuk di balik bibir, ia bahkan menarik handuk yang berulang kali
jatuh menimpa wajahnya, karena ia tidak melilitkan dengan benar dan ketat,
menghempaskannya begitu saja di sofa sebelahnya. Sudut matanya melirik jejak
yang ditinggalkan Excel, “Kau sungguh pria menyebalkan di seluruh dunia ...,”
ia ingin mengumpati pria itu dengan sumpah serapah, tetapi ia urungkan saat ia
menyadari bahwa ucapan adalah doa, ia takut, kalau dia sendiri yang akan
terperosok pada doa yang nyaris saja terlisankan. Doakan yang baik pada orang
lain, agar berkah kebaikan itu bisa berimbas pada yang mendoakan.
.
.
.
.
.
maaf, othor kemarin ngga up ... ketiduran ... mohon di maafkan ya ... oh ya, cover udah aku ganti yak ...
makasih yang udah ngevote, ngegift dan dukung melalui like dan komentar.
__ADS_1
Makasih juga yang udah follow aku di ig atau Fb ...
peluk cium paling hangat untuk semuanya.