Kekasihku, Asisten Adikku

Kekasihku, Asisten Adikku
Berjumpa Kala Usai Segalanya


__ADS_3

“Welcome home ...,” seru Sita sambil merentangkan tangannya menyambut Naja ketika Naja tiba di ruang makan. Beberapa Art lain yang memenuhi ruang makan sejenak melihat ke arah Naja dengan senyum sumringah.


Naja menyimpulkan senyum canggung menanggapi Sita. Tangannya merengkuh Sita erat, seolah bertahun-tahun tak berjumpa. Padahal hampir setiap malam Naja dan Sita saling bertukar suara. Sita sudah seperti kakak bagi Naja.


“Selamat datang di kediaman Dirgantara, Nona Naja ... aku ngga nyangka, kalau kalian ternyata memiliki hubungan spesial,” ujar Sita di atas pundak Naja.


Naja meregangkan pelukannya, mengusap lengan Sita perlahan, “Jangan panggil aku seperti itu, Mbak. Seperti biasa saja.”


Sita menyapit dagu Naja yang begitu ramping sambil menggoyangnya pelan. “Kau memang Nona kami sekarang. Oh bukan, Nyonya Muda ...,” tawa lirih Sita di sambut Art yang lain yang sedang menata sarapan di meja.


“Biar aku bantu, Mbak ...,” Naja mengalihkan pembicaraan, Naja benar-benar canggung saat ini, “Tuan dan Nyonya ke mana?” Naja mulai menata peranti makan sesuai tempatnya. Sekalipun sudah lewat satu bulan, Naja masih hafal kebiasaan mereka saat makan.


“Papa dan Mama mertua maksudmu?” goda Sita mengambil alih piring dan garpu yang dipegang Naja. Mengisyaratkan agar Naja duduk. Senyum Sita terkembang saat Naja hanya menggaruk pelipisnya. “Tuan dan Nyonya usai acara ijab kabul kamu kemarin, langsung bertolak ke Singapura. Tuan Besar sudah terlalu lama di tinggal. Kau tidak tahu itu?"


Naja menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, “Tuan Besar baik-baik saja kan, Mbak?” Naja tampak cemas mendengar kakek suaminya disebut.


“Ya ... cukup stabil mengingat kondisinya yang memang sudah sepuh.” Jawab Sita dengan tangan sibuk mengoleskan selai di atas sehelai roti untuk Naja. “Kau masih suka coklat dan stroberi bukan?”


Naja mengangguk saat menerima piring berisi setumpuk roti berlapis limpahan selai berwarna cokelat. “Aku kangen dengan nasehat Tuan Besar, Mbak.”


“Sama Na ... kami juga merindukan beliau,” lirih Sita. Manik mata wanita itu tampak tergenang cairan bening.


“Semoga Tuan Besar segera pulih dan bisa berkumpul dengan kita lagi.” Pungkas Sita menyudahi kesedihan yang kian mengambang.


Naja mengangguk dan mengaminkan dalam hati apa yang menjadi doa dan harapan semua anggota keluarga Dirgantara.


**


Kepala Naja begitu pening hingga dia memijat sela di antara kedua alis hingga ke dahi yang tertutup poni. Sepanjang sarapan, kedua adik kembar Excel, terus menjejalinya dengan berbagai pertanyaan dan kejahilan. Telinga Naja berdengung akibat teriakan mereka yang kini melonjak dua kali lipat kerasnya.


Ditambah lagi, Sam memintanya bertemu hari ini. Bertambah-tambah pula pening kepalanya, sebab semua gambar dan pakaiannya masih tertinggal di kos sementara Sam dan pelanggan barunya meminta bertemu pagi ini.

__ADS_1


Naja mengembuskan napasnya melalui mulut ke arah atas, hingga menerbangkan poni yang sudah standby memenuhi dahi lebarnya. Ia menarik tubuhnya hingga berdiri, bertepatan dengan Excel yang baru keluar ruang kerja yang biasa dipakai Harris.


“Em ...,” Naja meremas jemarinya saat Excel menerkamnya tak bersahabat. Meski di waktu lalu dia sering mendapatkan tatapan mengerikan seperti itu, tetapi tetap saja manik mata gelap itu membuat jantungnya seolah senang sekali berdentum lebih keras.


“Dia hantu apa manusia sih? Horor banget pandangannya.” Gumam Naja dalam hati.


Excel berhenti dua langkah di depan Naja yang membeku. “Aku antar kau ke kosmu ... kemasi barangmu. Nanti Mas Agus yang akan mengambilnya.”


Naja mengerjapkan kelopak matanya berulang, “Kau tahu dari mana aku akan ke kos?”


“Jangan banyak tanya ... ikuti saja apa kataku!” Excel mundur selangkah sebelum berbalik meninggalkan ruang tengah.


Naja merengut, tetapi dia tetap mengikuti langkah Excel usai meraih tas dan ponselnya yang dia pakai untuk mengabari Sam akan keterlambatannya. Pria yang meletakkan tangan kirinya di dalam saku celana abu gelap itu tampak sibuk melakukan panggilan telepon, sesekali tangan kirinya keluar untuk melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya tersebut. Manik mata Naja bergerak mengikuti gerakan yang dibuat Excel.


“Andai dia bukan Excel ... aku pasti tergila-gila padanya.” Batin Naja begitu takjub akan pesona Excel.


“Ayo ...,” ajakan Excel membuyarkan angan Naja yang membayangkan wajah Excel berganti wajah Yang Yang atau Jackson Wang. Namun di depannya tetaplah Excel si angkuh. Naja mengembuskan napas kecewa, Ai memanglah yang terbaik, sambung Naja dalam hati.


Excel yang sudah setengah jalan menuruni undakan, berbalik menghadap Naja, mengembuskan napas lelah. “Apa semua orang hanya mengurusimu saja? Semua jadwal akan kacau jika begitu ....” ujar Excel dengan nada sedikit meninggi.


“Aku kan hanya bertanya, biasanya kau pergi dengan Rega ... bagaimana jika dia tertinggal oleh kita dan dia tidak tahu kemana kita pergi?” Balas Naja sengit.


Excel berdecak, “Apa gunanya ponsel jika hal seperti itu saja sudah jadi masalah bagimu? Kau pikir orang di sini ngga tahu kita kemana?” sorot mata Excel menikam Naja hingga ke tulang belulangnya. “Cepatlah ... kau hanya membuang waktuku.”


Ucapan Excel membuat Naja merengut, “Kan aku hanya bertanya, begitu saja marah. Dasar pemarah.” Gerutu Naja diakhiri dengan menguncupkan bibir polos itu ke depan. Langkahnya mengayun cepat menyusul Excel yang sudah memasuki mobil.


“Jangan suka mengutuk orang di belakang ...,” ujar Excel saat satu kaki Naja menjejak di dalam mobil, membuat Naja mendorong bibirnya terlipat ke dalam dan mengikatnya dengan gigi agar tidak menggumamkan umpatan pada pria yang sama sekali tak meliriknya.


***


“Aku bisa naik taksi jika kau terburu-buru.” Ujar Naja sambil melepaskan seat belt. Excel yang baru saja mematikan mesin mobil segera berkutat kembali dengan ponselnya.

__ADS_1


“Bergegaslah ... aku akan menunggu dan mengantarkanmu ke tempat Sam!" jawaban berupa perintah yang entah mengapa Naja enggan membantahnya. Sorot mata nyaris membekukan seolah penegasan bahwa dia tidak suka bantahan, sehingga Naja segera turun dan setengah berlari menyusuri halaman yang tak seberapa luas itu.


Naja memang bukan wanita yang ribet dalam urusan penampilan. Sehingga dalam waktu tiga puluh menit, Naja sudah berada dalam mobil lagi usai mengemas barang-barangnya di kamar kos. Membiarkan urusan lain menyusul sebab saat ini dia sedang ditunggu Tuan Sok Sibuk yang sedang mengetukkan jemarinya di atas kemudi. Sesekali dia memandangi pergelangan tangan dimana jam tangan buatan Swiss tengah melingkar.


Ekor mata Naja perlahan melirik Excel yang kadang berdecak saat jalurnya mengalami kemacetan. “Dari mana kau tahu kalau Mas Sam ingin menemuiku?” tanya Naja membelah kebisuan diantara mereka.


“Oh ... tidak jadi tanya. Lupakan! Anggap saja aku tidak bertanya apa-apa.” Sambung Naja saat pria itu hanya berdecak malas sembari menggelengkan kepalanya. Tangan Naja mengibas dengan cepat seolah mengusir kekesalan di wajah Excel. Pria tampan itu bahkan berulang-ulang menyisir rambutnya kebelakang saking gusarnya.


Naja kembali menarik pandangannya ke depan, dia lupa bahwa di sini dia harus banyak diam. Kembali muram dan keheningan melingkupi keduanya di sisa perjalanan menuju tempat Samuel.


“Dia meneleponku kemarin,” ucap Excel ketika tiba di halaman rumah mode milik Sam. Naja yang sudah tidak terlalu peduli, memilih segera membuka pintu mobil.


"Na ...," panggil Excel seraya meraih pergelangan tangan Naja sehingga membuat Naja spontan menoleh. "Tunggu aku menjemputmu saat jam makan siang!"


"Aku akan pulang sendiri, jika kau sibuk. Aku bukan wanita manja yang perlu diantar dan di jemput." Naja menarik tangannya. "Terima kasih sudah mengantarku ... aku masuk dulu, semoga harimu menyenangkan."


"Jangan kemana-mana jika aku belum sampai di sini!" tegas Excel, sebelum Naja benar-benar keluar dari mobil.


Naja menunduk di ambang pintu yang belum tertutup. "Iya ... aku akan menunggumu." Naja segera menutup pintu dan segera masuk ke dalam rumah mode yang begitu besar dan berkelas.


Excel mengembuskan napas ke udara, "Benar-benar pagi yang sibuk." Kemudian memutar kemudinya keluar halaman butik Sam. Tetapi ketika sampai di ujung halaman, manik mata Excel di buat membulat sempurna saat melihat seseorang yang begitu akrab di matanya.


"Mi ... Mikha ...." desis Excel sambil mengerjap tak percaya. Namun dia segera menghentikan mobilnya dan turun dengan tergesa untuk menghampiri wanita yang selama satu tahun ini sangat dia harapkan kedatangannya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2