Kekasihku, Asisten Adikku

Kekasihku, Asisten Adikku
Pasien Ruang VVIP


__ADS_3

Sorot mata Naja masih sayu dan masih berselimut kabut tipis. Upaya wanita itu menyudahi jajahan Excel akhirnya berhasil, sebenarnya, ia sangat cemas bila sampai ketahuan oleh orang yang ingin masuk ke dalam ruangan ini. Entah itu dokter maupun perawat. Namun, Excel sama sekali tak memberinya jeda sekadar mengatakan kekhawatirannya, bahkan untuk menimba napas lebih banyak saja ia harus menunggu Excel menuntaskan misinya.


Naja melipat tubuhnya miring, menahan lelehan cinta yang selalu kuat mengguyurnya. Ia ingin menahan lebih lama, menelannya dalam-dalam agar ufuk yang bersilak jingga dan fajar yang kian memutih tidak menemukan jejak perbuatan dua insan itu. Sayu, ia terus mengikuti langkah Excel yang meninggalkannya menuju kamar mandi. Suaminya itu begitu tegak seakan tak ada yang terjadi sebelumnya. Padahal, tubuh Naja saat ini rasanya seperti terkoyak dari persendian yang mengikatnya.


“Katanya lelah, kok belum tidur?” perlahan, Naja menaikkan fokusnya ke arah suaminya yang sudah memakai pakaiannya kembali. Segar, sepertinya ia telah membebaskan diri dari keringat yang memenuhi tubuhnya.


“Menunggumu kembali ...,” gumam Naja lemah. Ia menaikkan lagi selimut yang sedikit turun dari tubuhnya.


Kening Excel berkerut, ia segera mendatangi Naja dengan berbaring menghadapnya. “Aku masih mandi, tadi ... memangnya ada apa?”


Kelopak mata Naja memejam, kepalanya bergoyang ke kiri dan kanan. “Tidak ada, ingin saja berdekatan denganmu.” Tangan Naja menelusup di pinggang Excel, ia menggeser tubuhnya mendekat. Menempelkan keningnya di dada suaminya, menikmati pria itu lebih dekat dan lama.


“Cel ... bagaimana kalau aku hamil?”


Excel tertawa lepas tanpa suara. “Ya, bagus dong, memangnya kamu ngga mau kalau aku buat hamil?” akan tetapi ia menangkap maksud lain dari ucapan Naja.


“Bukan begitu ... aku hanya takut jika aku tak bisa menjaga anak kita, nanti.” Naja mengingat Mikha yang terpaksa harus kehilangan bayinya usai pendarahan semalam.


“Kita akan menjaganya sama-sama, kenapa kau berpikir sampai sejauh itu?” ia semakin yakin jika Naja telah melihat atau mendengar sesuatu yang membuat pikirannya terganggu. Tugasnya mencari tahu dan memberi rasa aman pada istrinya ini.


“Tidurlah, jangan mikir yang tidak-tidak. Percayakan saja semua padaku, Na ... kau hanya perlu menggenggam tanganku.” Kecupan mendarat di puncak kepala Naja, memberikan jaminan yang pasti akan masa depan pernikahan mereka nanti.


Mungkin ucapan Excel benar, atau pertikaian barusan semakin membuat lelahnya bertambah sehingga kini kelopak matanya kian berat dan tak kuasa menahan kantuk yang mendera.


Pintu terdorong dari luar, menampakkan seorang perawat yang langsung mengarahkan sorot matanya ke atas tempat tidur. Perintah dari atasannya, untuk melakukan semuanya dengan cepat dan teliti, jangan sampai membuat kesalahan sekecil apapun. Namun, perawat itu sepertinya enggan mematuhi atasannya, ia tercenung melihat sesuatu yang menyakiti matanya. Yang sakit siapa, yang tampak tak berdaya siapa?


“Maaf, Tuan ... infusnya akan saya pasang lagi,” putus wanita yang gugup melihat bahu polos istri pemilik tempat ini. Pun prasangkanya tak bisa begitu saja berubah baik, ketika melihat seonggok kain di sudut tempat tidur. Ia membawa perasaan rikuhnya menunduk.


Excel sudah mati langkah untuk mengamankan barang bukti kejahatannya, ia memutuskan untuk patuh dan memasang ekspresi kaku seperti biasa. Tangannya terulur ke depan perawat yang menunduk dan mulai bekerja. Membiarkan wanita itu melakukan tugasnya dengan cepat dan dia bisa segera menyingkirkan barang bukti.


“Saya permisi untuk memanggil dokter ....” suara perawat itu tertelan oleh kegugupan, ia tak membutuhkan jawaban. Sudah seharusnya begitu sadar, pasien atau penunggu harus memanggil dokter, bukan malah asyik sendiri seperti ini. Ah, sungguh pikiran perawat itu berkeliaran pada apa yang terjadi pada dua manusia ini.


Excel memerhatikan tangannya yang sudah terbalut selang infus lagi. Lalu ia menoleh pada onggokan kain milik istrinya, dengan sebelah tangan bagaimana dia bisa memakaikan baju itu tanpa mengusik tidurnya?

__ADS_1


“Suster ....”


Perawat tersebut separuh tubuhnya sudah ditelan pintu, “Ya, Tuan.” Ia menarik kembali kakinya ke dalam ruangan, menutup pintu dengan gerakan pelan. Menatap lawan bicaranya tanpa menegaskan fokus lensa matanya. Membiarkannya buram, sungguh mengasuh pasien VVIP harus kuat mengekang pikirannya agar tidak kemana-mana.


“Bisakah saya mendapatkan baju wanita dengan kancing depan?” perawat itu mengangguk paham. “Bawakan segera satu untukku sebelum anda memanggil dokter!” Sambungnya tak bisa dibantah.


Perawat itu menunduk dan mundur, mendorong pintu dengan tubuh belakangnya. “Kalau bukaan karena gajinya tinggi, aku sudah mengundurkan diri. Ngenes banget melihat keuwuan pasien VVIP,” keluhnya sambil terus berjalan ke ruang penyimpanan pakaian.


***


Belum sempat perawat itu kembali, Jen sudah merangsek masuk dengan wajah khawatir. Bersamanya, ada Diego yang tampak gugup ketika memasuki ruangan ini.


“Kakak ... Naja baik-baik saja, ‘kan?” bukan menghambur ke arah Excel yang duduk di tepi ranjang, Jen malah menubrukkan tubuhnya pada Naja yang terbungkus selimut hingga sebatas dagunya.


“Jangan berisik, dia baru saja tidur ... menyingkirlah!” Excel dengan sigap menahan tangan Jen yang hendak menyingkap selimut.


Jen menatap kakaknya seraya berdecak.


“Yang sakit aku, bukan dia!” sambung Excel seraya menyingkirkan tangan Jen dengan sebuah hempasan kecil.


“Duduk, D ... jangan sungkan.” Jen mendahului Diego duduk di sofa. Kaki Jen langsung bersilang di sofa, seperti kebiasaannya di rumah, kecuali ada mama papanya.


“Sudah baikan, belum kak?” sapa Diego. Ia tetap menjaga jarak dari Excel yang tengah menatapnya tajam. Diego mengusap punggung lehernya kala Excel terus memindainya penuh selidik.


“Kau tahu dengan pasti bagaimana keadaanku sekarang!” jawaban Excel memancing Jen untuk menoleh, mengoyak kenyamanan posisi duduk Jen saat ini.


“Dari mana dia tahu keadaan kakak, orang pas aku ajak kemari saja dia bingung.” Jen menatap interaksi kakaknya dan Diego, ia pun maklum akan sifat keduanya. Excel selalu tak ramah pada pria yang dekat dengannya, dan itu pasti membuat Diego tidak nyaman dan takut.


“Aku sebaiknya kembali saja, Jen ... aku masih ada urusan.” Diego tampak rikuh dan mundur menuju pintu tanpa menunggu izin dari Jen.


“Baiklah ... maaf sudah memaksamu nganterin aku kesini,” lambaian tangan Jen mengantar kepergian Diego.


“Jauhin dia, Jen ... kakak tidak mau kamu bergaul dengan orang seperti itu.” Suara Excel tajam membelai telinga Jen, membuat wanita itu terkesiap dan bingung.

__ADS_1


“Kesekian kalinya kakak melarangku memiliki teman dekat.” Jen melirik Excel dengan tawa miris, “menyesal aku membawanya datang kemari jika akan mendengar sesuatu yang menyakiti telingaku.”


Jen menarik tubuhnya berdiri, “semoga kakak cepet sembuh, aku pulang dulu.” Pamitnya buru-buru.


“Cepat atau lambat, dia akan membuatmu terluka, Jen ... kakak hanya mengingatkan saja!” Excel kembali menyambar Jen dengan peringatan yang paling telak. Memorinya meyakini apa yang ia ucapkan, hanya perlu pembuktian.


Jen berhenti tepat di depan kakaknya, ia menoleh dan berkata. “Terima kasih sudah mengingatkan aku, kak ... tapi aku percaya pada Diego, aku tak ingin mengatakan bualan yang terkesan mengada-ada, biar waktu yang membuktikan ucapan siapa yang benar!”


Excel ingin menyahuti dengan amarah yang sudah mengepul di dadanya. Namun ia urungkan saat melihat Naja bergerak dalam tidurnya.


***


Sam hanya bisa pasrah saat memandangi dua orang paruh baya dan salah seorang karyawan apartemen yang menunduk penuh permohonan maaf, juga dua orang polisi yang siap membekuk Sam. Ia sudah seperti terdakwa yang menghadapi penghakiman dan vonis yang dijatuhkan.


“Harus saya katakan berapa kali lagi, Pak, Bu ... saya hanya menolong Maureen saja. Dia semalam ... dia ...,” kata Sam terbata. Tubuhnya setengah telanjang dan masih berbalut keringat yang mengembun di sela pori-porinya. Baru saja dia menyelesaikan lari di atas Treadmill untuk mengusir kantuk yang melanda, juga setiap minggu pagi ia selalu menyempatkan diri untuk mengambil waktu penuh dengan berolahraga.


“Bawa dia, Pak ... anak perempuan saya sudah seperti ini dan dia masih mengelak. Kurung saja dia di penjara, Pak Polisi, agar dia jera dan tidak mempermainkan wanita. Cukup anak saya saja yang jadi korban dia.” Kecam wanita yang Sam yakini adalah ibu dari Maureen. Sam gugup dan takut pastinya.


“Pak-pak ... saya ngga salah, Pak ...,” Sam menghindari polisi yang hendak meraihnya dalam kungkungan. “... Ren, katakan sesuatu, kenapa kau bisu, ha? Kau tahu dengan jelas apa yang terjadi semalam!” teriaknya pada Maureen yang masih mengumpulkan nyawanya. Antara ingatannya belum kembali dan terlampau terkejut ketika orang tuanya mendapati dirinya dengan kemeja pria membalut asal tubuhnya.


“Jangan pedulikan dia, Pak ... saya mau dia dipenjara seberat-beratnya. Penjahat seperti dia tidak layak mendapatkan pengampunan.”


Tidak mendapat kesempatan membela diri, Sam hanya bisa pasrah dan menurut. "Ya Tuhan ... aku sungguh sial bertemu dengan cewek gila itu," erang Sam dalam hati ketika tubuhnya di dorong masuk ke dalam mobil polisi.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2