Kekasihku, Asisten Adikku

Kekasihku, Asisten Adikku
Pamit


__ADS_3

Kegelisahan yang mencubit hati Naja terusir sudah setelah bertukar suara dengan Puspita. Meski sedikit kecewa karena tak bisa berbicara langsung dengan sang bapak yang menurut cerita Puspita sedang beristirahat. Pun saat Naja mengatakan belum bisa pulang secepatnya, Puspita berhasil memberikan solusi yang menurut nalar Naja hal tersebut adalah yang terbaik. Mengingat ucapan Ibram yang sudah mengatakan sejak awal untuk tidak bermain-main dengan pekerjaan yang telah diterimanya, Naja memilih ikut saran Pita agar melihat perkembangan Edi terlebih dahulu sebelum memutuskan pulang. Kepada Puspita, Naja selalu mengutarakan isi hati dan apa yang terjadi padanya. Lebih baik dari pada harus membuat semua orang khawatir akannya.


Pikiran Naja berputar sejenak, seirama dengan gerakan tubuhnya yang membuat lingkaran di dalam kamar kos yang terbatas ini. Tangan kanannya mengepal menumbuk telapak tangan kirinya dengan cepat tapi tak sampai menyakiti. Bibir mungil berwarna alami itu menggumamkan putusan yang diambilnya sendiri.


“Sebaiknya aku menuntaskan ganjalan dengan keluarga Dirgantara, jadi saat aku pulang nanti aku sudah tidak punya hutang penjelasan pada mereka. Lalu ... urusan dengan Mas Samuel dan bekerja dengan tenang di T Corp.”


Naja berhenti, hanya napas yang masih menggerakkan dadanya. Wajah wanita 23 tahun itu masih menyiratkan kegelisahan. “Sebaiknya aku ke Forrest City Villa's sekarang ... selagi Tuan dan Nyonya besar masih di rumah.”


Tiga sore dan Naja sudah berdandan rapi meski sederhana, sebab ke FCV membutuhkan waktu yang tidaklah sebentar. Sengaja tidak memberi tahu Jen, Naja segera melangkah lagi ke jalan utama dimana taksi online yang dipesannya hampir tiba.


**


Kembali ke kediaman Dirgantara–entah mengapa–membuat jantung Naja berdetak tak berirama seperti biasa. Menatap gerbang tinggi yang setengah terbuka untuknya. Serta sambutan riuh rendah dari penjaga keamanan yang biasa bersenda gurau dengan Naja membuatnya ingin menangis. Entahlah ... sepertinya akan terjadi sesuatu padanya sore ini.


Menolak diantar, Naja memilih berjalan melintasi halaman yang maha luas ini. Nuansa hutan yang mengingatkannya akan rumahlah yang membuatnya betah di sini. Sesuatu yang akan selalu dirindukan olehnya suatu hari nanti.


Sementara Excel dan Rega bergegas pulang saat jam kantor telah berakhir. Pikir Excel, Mamanya pasti masih memikirkan keberangkatan Jeje. Kehadirannya memang tak bisa menggantikan Jeje tapi setidaknya bersama anak yang lain, mamanya akan sedikit melupakan Jeje.


“Cel, itu Naja kan?” celetuk Rega sambil terus melajukan mobil dan memastikan bahwa gadis yang berjalan di halaman rumah ini adalah Naja. “kesambet setan feminin mana dia ... kok pake dress begitu? Mana makin kece lagi dilihat dari sini.” Cerocos Rega seolah pada dirinya sendiri.


Excel menegakkan tubuh sebab rasa penasaran pada sosok yang menggerakkan hatinya .... ah ... Excel menggigit bibir. Mana mungkin satu nama saja membuatnya melebarkan mata dan mencari tahu?


“Barengin ah ...,” putus Rega tanpa menghiraukan Excel yang menyipitkan mata. Benar Naja tampak berbeda mengenakan dress navy selutut dan tidak mengikat rambutnya keseluruhan. Rambut cokelat sepunggung itu tampak menyatu dengan sinar mentari sore. Hangat.


TIIN ...TTIIIINNN ...


Naja menoleh saat suara halus mesin mobil melambat di dekatnya. Senyum Rega merekah sempurna saat kaca mobil turun dengan perlahan.


“Bareng yuk ... nanti cantiknya nguap kena sinar matahari loh ...,” goda Rega sambil menaikkan alisnya.

__ADS_1


Naja tersenyum menanggapi ucapan Rega. Jika ada Rega artinya di dalam sana ada Excel. “aku jalan aja Mas, lagi pula kangen dengan suasana halaman ini.”


“Asal ngga kangen sama aku aja sih ...,” Rega tersenyum lebar. “aku duluan kalau begitu, aku tunggu di teras ...,” Rega masih ingin menggoda Naja yang lucu menurutnya. Tapi decakan Excel membuatnya menyudahi sesi gombal sore ini.


“Silakan Mas ...,” Naja membungkuk sejenak. Sebelum kembali menikmati sore tanpa gangguan.


Puas berlama-lama menelusuri halaman, Naja sampai di depan teras dengan undakan tak terlalu tinggi dimana Rega benar-benar menunggunya.


“Lewat sini saja,” pinta Rega mengisyaratkan agar Naja masuk melalui pintu depan. Sedikit ragu tapi Rega meyakinkan.


“Kau mau kembali bekerja di sini?” tanya Rega saat mereka dalam jarak dengar.


“Aku ingin bertemu Tuan Harris dan Nyonya Kira, Mas ....” jawab Naja. Memasuki rumah ini membuatnya gugup. Entah apa yang membuat perasaan Naja tidak nyaman. Ada gurat halus yang tak bisa dijelaskan mengalir di dalam hatinya.


“Beneran mau ninggalin Jen?” terka Rega.


Naja tersenyum canggung, enggan menjelaskan maksud kedatangannya hingga bertemu si empunya rumah nanti. Rega pun tampak memaklumi. “Duduklah dulu, akan kupanggilkan paman dan bibi dulu ....”


Sepertinya para Art tahu kedatangan Naja sehingga mereka langsung menyerbu Naja hingga kewalahan menjawab rentetan pertanyaan dari mereka.


“Naja ...,” sapa Kira yang masih cantik di usianya yang hampir menyentuh kepala lima.


Kerumunan itu menepi dan hening, seakan suara mereka terserap oleh aura Nyonya Harris yang wicaksana. Wanita yang begitu mengagumkan bahkan dalam sekali pandang, mereka bisa merasakan aura kuat yang terpancar. Tanpa menunggu aba-aba mereka membubarkan diri.


"Nyonya ...." Naja membungkuk lebih rendah pada wanita yang sangat dihormatinya ini. Terasa hangat dan nyaman meski jarak mereka terlalu jauh membentang.


"Ayolah ... kenapa kau berlebihan? Duduklah ...."


Naja tersenyum. Gugup hingga tangannya berkeringat, entah kemana tekatnya yang sudah sebulat globe itu menguap. Begitu kecil di hadapan wanita yang tampak awet muda. Naja pun duduk setelah Kira duduk dengan anggunnya.

__ADS_1


"Nyonya ... saya kemari untuk mohon pamit, sebab ... sebab saya sudah mendapat pekerjaan lain," Naja melipat bibirnya yang tak bisa berbasa basi. Hilang sudah apa saja yang hendak dinyatakan pada orang tua Jen yang sudah dipikirkan secara runut. Bahkan dia lupa menanyakan kabar Dirgantara yang sedang di rawat di Singapura dan juga berterimakasih.


Kira terkejut, tapi dia tidak menunjukkannya. "Kenapa Na? Apa ada masalah dengan Jen?"


Naja membola, "Ti-tidak kok Nyonya, tidak ada masalah ... ha-hanya sa-saya tidak ingin merepotkan Jen lagi ...,"


"Apa sih?" dalam hati Naja menampar mulutnya yang gagap dan terlalu mengada-ada.


Kira tersenyum, "Baiklah, aku mengerti dan tidak ada masalah selama kau dan Jen tidak ada perselisihan, dan kau tidak boleh berhenti berteman dengan Jen. Mengerti?"


"Te-tentu, Nyonya." Naja begitu lega saat Kira tidak mempersulit dirinya.


"Temui Jen kalau begitu ... dia ada di kamar dengan Ranu." Kira berdiri seakan mengajak Naja melangkah bersamanya.


Naja mengangguk ragu, sambil mengangkat tubuhnya perlahan. Kira melangkah terlebih dahulu dan Naja mengikuti di belakang. Lagi-lagi keringatnya membanjir, ruangan dengan pendingin ini serasa tak mampu mengurangi gerah yang melanda tubuhnya. Bahkan Naja mengibaskan tangannya pelan, bibirnya terbuka meraup udara sebanyak-banyaknya. Seakan paru-parunya kosong.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2