
“Masih berteman saja dengan dia?” Excel berdiri tepat di depan Naja yang masih menunduk. Manik mata pria itu tampak mengikuti jejak Tanna yang menghilang di balik tembok menuju pintu keluar.
“Kenapa manyun begitu? Dia mengatakan sesuatu yang buruk tentangmu?” cecar Excel yang menangkup pipi istrinya untuk menatapnya.
Keduanya beradu pandang dalam diam, masing-masing manik mata kedua orang itu tampak berlarian saling mengejar celah untuk dimasuki. Excel menyerah, ia tak bisa menemukan jejak apapun di antara sorot mata istrinya selain sorot mata sayu nan terpupuk sendu.
“Bicaralah ... jangan di pendam sendiri apa saja yang membuatmu terbebani.” Mengusap bawah mata istrinya dengan kedua ibu jari.
Naja menimpa tangan Excel yang masih menangkup pipinya. “Nanti saja aku katakan semuanya, sekarang aku akan menyelesaikan pekerjaanku dulu ... agar kita bisa cepat pulang.” Menelan dalam-dalam seluruh rasa yang hampir menggulungnya ke dasar rasa bersalah, Naja berusaha tersenyum. Meski ia terlanjur ketahuan oleh Excel bahwa dia tidak baik-baik saja.
Excel menipiskan bibir dan menguapkan napasnya perlahan. Ia tak akan memaksa, membiarkan hati istrinya tertata terlebih dahulu, bagaimanapun persahabatan yang dibangun Naja, Jen, dan Tanna sangat erat. Jadi ketika persahabatan itu goyah dan melibatkan perseteruan perasaan yang rumit, tentu akan lebih sulit untuk di maafkan dan butuh waktu lama untuk menyembuhkan.
“Baiklah ... aku akan menunggumu di ruangan Sam ... tidak perlu terburu-buru, bekerjalah dengan benar.” Tatapan Excel tampak lembut menyapu wajah Naja, ia menggoyang pelan pipi istrinya itu hingga poninya ikut bergoyang.
Mematahkan kepalanya ke arah ruang kerja Naja, Excel melepaskan istrinya itu untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Naja mengangguk sebagai jawaban, ia lalu beranjak meninggalkan suaminya yang masih mematung mengawasi kepergian Naja. Tiba di depan patung manekin yang berlapis salah satu baju kliennya, Naja kembali melayangkan tatapannya pada suaminya yang masih berdiri dengan posisi yang sama. Tangan Naja melambai untuk mengusir Excel dari sana. Ia menggerakkan matanya ke arah teman-teman Naja yang terkikik sembari menutupi tawanya dan mencuri-curi pandang ke arah mereka bergantian.
Naja baru kembali fokus setelah melihat suaminya berlalu dari ambang pintu. Tetapi suara sumbang di belakangnya, membuat Naja menoleh dengan perasaan sungkan.
“Ada yang lagi bermekaran cintanya, cuy ....”
“Jadi pengen buruan kawin kalau lihat yang uwuuw begitu ....”
“Jodoh mana jodoh? Emang laki lu bisa inden kek motor kreditan?”
“Na ... jangan begitu di depan kita ya ... kumohon, jaga perasaan kami yang masih jones ... atau yang nasibnya kagak ada kejelasan kaya aku.” pinta salah seorang temannya penuh kesungguhan hingga ambang mata gadis itu berkaca-kaca.
Naja hanya menggelengkan kepala, ia tak membalas atau menimpali kata-kata rekan kerjanya itu. Yang mereka tahu hanya bagian yang indah tanpa tahu Naja menelan pil cukup pahit untuk sampai pada hubungan yang saat ini mereka lihat.
“Kopi datang ...,” seru wanita yang tadi membeli kopi membelah suasana yang kurang mengenakkan bagi Naja. Ia segera mengalihkan tatapannya pada gelas-gelas kopi yang tampak berembun dan mengundang air liur melintasi tenggorokan.
Naja menghampiri kopi yang diletakkan di atas meja. Ia sibuk memperhatikan gelas-gelas itu dan mencari gelas yang tertera namanya.
“Naja ...,”
Seruan dari ambang pintu membuyarkan fokus Naja dari gelas-gelas itu, ia menarik pandangannya pada wanita cantik yang berpenampilan berbeda dari hari biasanya.
__ADS_1
“Mbak Maureen?” Naja begitu terkejut, hingga ia tak mampu berkata-kata selain memisahkan kedua bibirnya.
“Iya ... ini aku, kamu berharap Tristan yang datang?” sebenarnya bukan ekspresi seolah melihat hantu seperti itu yang di harapkan Maureen. Ia berharap Naja takjub dan melompat-lompat saking senangnya akan kedatangannya, sehingga Maureen masuk dengan wajah ditekuk dan bibir cemberut. Kakinya yang dibalut flatshoes itu bahkan menghentak dengan keras, seolah lantai itu telah berbuat salah padanya.
“Bukan ...,” Naja mengibaskan sebelah tangannya saat menyadari ia salah berekspresi. “... aku hanya terkejut Mbak Maureen kesini dengan penampilan berbeda dari biasanya.”
Maureen tak memerlukan alasan Naja berekspresi seperti itu, ada hal yang lebih penting yang harus ia sampaikan.
“Kau tahu ...,” Naja menggeleng. “... aku sudah seperti tahanan yang dibebaskan saat masa tahananku belum berakhir.”
“Maksud Mbak Maureen apa?” tanya Naja hati-hati, ia merasa obrolannya dengan Maureen tidak berjalan dengan baik.
Maureen mendengkuskan napasnya tak sabaran. Ia meraih lengan Naja dan membawanya duduk di kursi yang biasa Naja gunakan untuk duduk. Memosisikan kursi itu dengan benar dan mendudukkan Naja seolah dialah tuan rumah di sini. Maureen pun mendudukkan tubuhnya di sebuah kursi yang baru saja ia tarik. Ia menghadap Naja yang sejak tadi mengikuti apapun yang Maureen lakukan dengan ekor matanya. Wanita itu patuh saja pada apa yang Maureen lakukan padanya.
“Aku tidak lagi bekerja pada Tristan ... dan itu semua karena kamu. Aku diberhentikan saat Nona Vania mengambil alih perusahaan kakaknya ...,” cerita Maureen dengan semangat dan antusias yang menggebu. Wanita yang hari-hari lalu berpenampilan formal dan wajah beriak tajam, kini begitu ekspresif, santai, dan tanpa beban.
Naja menaikkan alisnya saking herannya dengan ucapan Maureen sampai-sampai ia mengalihkan perhatiannya dari wajah Maureen kepada teman-temannya yang mendengar ucapan Maureen. Ia takut kalau sampai salah mencerna atau salah berekspresi yang nantinya akan membuat Maureen tersinggung.
Ketika teman-temannya juga menganga dan saling beradu pandang dalam heran, Naja baru kembali memperhatikan Maureen yang mengedipkan kelopak matanya secara berulang.
“Iya, aku sangat senang sebab selama bekerja demgan Tristan, aku seperti tak memiliki waktu untuk diriku sendiri. Tiap menit dan detik, Tristan selalu saja menghubungiku jika ada satu atau dua kebutuhan yang tak mampu ia selesaikan sendiri," terang Maureen dengan menggenggam telapak tangan Naja dengan antusias.
"Aku sudah dua sembilan dan tidak lebih dari dua bulan lagi aku menginjak kepala tiga ... kau tahu apa artinya?” masih dengan gebu dan irama yang tinggi, Maureen mengguncang lengan Naja hingga seluruh tubuh wanita itu bergoyang hebat.
Naja kembali menggeleng, dan itu berhasil membuat Maureen menghentikan paksa guncangan yang ia timpakan pada Naja. Ia menatap Naja dengan kesal.
“Aku perawan tua, Na ....” cebiknya pura-pura menangis. "Aku tidak punya kesempatan mencari pasangan atau sekadar memikirkan pria yang aku sukai. Aku melewatkan masa mudaku dengan mengenaskan, kau tahu!" Kini Maureen berpura-pura mengeluarkan suara tangis yang membelah ruangan ini menjadi riuh dan ramai.
Teman-teman Naja tertawa tanpa suara, bahkan ada yang lari keluar ruangan saking tak bisa menahan tawa yang siap meledak. Pun dengan Naja, ia ingin tertawa, tetapi ia menjaga perasaan Maureen sehingga ia berdehem kecil agar tawa yang tertahan itu kembali masuk ke dalam rongga perutnya.
“Mbak Maureen masih muda, kok. Banyak yang menikah di usia yang lebih dewasa dari Mbak ...,” hibur Naja dengan tulus.
Maureen menghentikan tangis palsunya secara mendadak, ia mengerutkan keningnya tajam hingga kedua alisnya hampir bertautan. “Muda? Muda apanya? Adikku cowok ... udah nikah dan anaknya mau dua, sepupuku cewek sudah punya anak satu. Dan kamu, masih belia udah nikah juga? Kamu ngejekin aku?”
“Bu-bukan begitu, Mbak ... jodoh itu ‘kan ngga bisa ditebak datangnya kapan, siapa, dan bagaimana dapatnya.”
Bingung, Naja tidak tahu lagi bagaimana menghibur Maureen yang tampak merajuk.
__ADS_1
“Pokoknya, aku mau cari jodoh, Na ... aku malu diledekin terus.” Maureen kembali berekspresi serius dan tegang. Ia tampak berpikir sejenak.
“Mbak Maureen mau sama Mas Rega?” celetuk Naja tiba-tiba. Entahlah ... ia tak tahu kenapa nama Rega yang terlintas di benaknya.
"Ngga mau ... aku maunya sama cowok bebas, yang ngga terikat sama perkerjaan berbau asisten, sekretaris, dan yang sejenisnya. Aku mau punya suami petani atau peternak saja ...."
Ucapan Maureen berhasil membuat Naja kembali menganga. Tetapi, semua adalah pilihan, Naja tak bisa menghakimi wanita seperti apa pantasnya mendapat pria seperti apa. Itu adalah pilihan.
"Woeee ... lu ngapain ganggu kerjaan karyawan gue? Lu mau gue denda gara-gara kena komplain dari customer gue?"
Naja dan Maureen bangkit dan sedikit ketakutan melihat ekspresi Sam yang tampak kacau. Mungkin ia lelah menghadapi teror telepon dari pelanggannya yang membludak.
"Maaf, Mas ... tapi aku hampir selesai kok ...," ucap Naja ragu-ragu. Tetapi itulah kebenarannya, ia hanya tinggal memeriksa satu setelan dan sebuah gaun yang tidak seberapa rumit pengecekannya.
"Lu ...," tunjuk Sam pada Maureen yang menjulingkan matanya mengikuti kemana telunjuk Sam bermuara. "... pergi sana kalau ngga ada urusan penting." usirnya kemudian.
Maureen menaikkan manik matanya dan menjumpai wajah Sam hingga mendongak, menyusul tubuh Sam yang menjulang di depannya. Mengerahkan segenap kekesalan yang luar biasa pada bos tempat ini. Ia kesal karena kesenangannya terganggu dan ia masih memiliki beberapa hal yang harus ia sampaikan pada Naja. Tetapi, ia tak punya pilihan sebab ia juga salah telah mengganggu jam kerja Naja.
"Aku balik dulu, Na ... masih banyak yang harus aku ceritakan padamu," pamitnya pada Naja yang menggerakkan kepalanya ke atas dan kebawah secara berulang. Mereka saling melambaikan tangan di udara sebelum benar-benar melepaskan satu sama lain.
.
.
.
.
.
Sampai sini, jangan pelit like sama othor sweet kek kue muffin ya ... 😂(Jijay Thor)
Auto pada muntah yak 😂😂😂
Ingat, Thor ini suka ngeghosting, wkwkwkwk ... yang jumpa saya di FB dan IG ... tunjukkan pesonamu😘
Love you all ...
__ADS_1