
Naja kebingungan saat Excel belum kembali beberapa saat lamanya. Satu hal saja yang ia takutkan, yaitu Jen akan mendapat masalah karena dia telah membuka rahasia mereka yang rapat-rapat mereka tutupi bersama.
Tertatih, Naja merambat di dinding untuk mencapai tangga dan menyusul Excel di atas. Tetapi, baru saja ia menapaki satu anak tangga, Excel telah muncul di ujung tangga.
“Kau tidak memarahi Jen, ‘kan?”
“Memangnya kenapa kalau aku memarahi dia? Jelas ‘kan, dia ... dan kamu itu salah?” Excel menekankan perkataannya sembari terus turun mencapai sisi Naja.
“Bagaimana nanti kalau Jen kesal dan marah padaku?”
“Itu urusanmu ... salahmu sendiri tidak bisa menjaga rahasia sahabatmu,” jawab Excel tidak peduli. Ia meraih tangan Naja untuk membantunya setelah ia tiba di depan Naja.
Mata Naja masih lekat mengawasi suaminya itu dengan tatapan memelas, “Kau tega sekali padaku? Masa iya kau bilang kalau aku yang memberitahumu?”
“Memang kenyataannya begitu, mau bagaimana lagi?” Excel bersiap untuk meraih Naja dalam gendongannya, “kau kembali nonton tivi atau ke kamar?”
“Aku jalan sendiri saja lah ... kamu nyebelin ...,” kesal Naja sembari menjauhkan tubuhnya. Bibirnya maju beberapa senti.
“Sebegitu tidak pedulinya dia padaku ...,” nelangsa, dalam hati Naja. Ia tak bisa membayangkan betapa kecewanya Jen padanya. Orang yang telah begitu baik padanya selama ini. Meskipun dia tahu, Jen telah berbuat salah, tetapi bukan seperti ini caranya ‘kan?
Naja kembali ke sofa ruang tengah, mengambil ponselnya. Ia berniat berbalik untuk menuju kamar. Tetapi Excel menghentikannya dengan ucapannya.
“Filmnya belum selesai loh, Na ... masa mau ditinggal?”
“Terserahlah ... aku tidak peduli, mikirin bagaimana kalau Jen marah saja aku sudah pusing ...,” gerutu Naja.
Excel terkekeh, “Memangnya aku bilang kalau kamu yang bocorin rahasia kalian itu? Apa aku bilang kalau aku memarahi Jen?”
Naja melirik suaminya masih dengan kekesalan yang sama.
Excel meraih tangan Naja dan menuntunnya duduk di sofa, mendekatkan tubuh mereka.
“Kenapa aku harus membuatmu kesulitan setelah kau mengatakan kebenaran yang selama ini ingin kubuktikan?” Excel menatap istrinya yang masih menyilangkan pandangannya ke arah lain. Riak wajahnya masih menyiratkan amarah yang sungguh besar. Kecewa yang teramat dalam.
Perlahan, Excel membawa wajah istrinya menghadapnya. Menangkup pipi Naja dan menggoyangkannya pelan sehingga poni yang setia memenuhi dahi Naja ikut bergoyang.
“Jangan marah ... aku hanya bercanda tadi, mana mungkin aku tiba-tiba memarahi Jen. Yang ada malah kacau semuanya, kau seperti tidak kenal Jen saja. Aku tadi hanya minta Om Riko untuk mengawasi Jen.” Excel menjewer pipi Naja hingga bibir yang cemberut itu terurai.
__ADS_1
“Bener?”
“Untuk apa aku bohong? Ngga ada untungnya ‘kan?” Excel mengusap kepala Naja dan membawanya ke dalam dekapannya.
“Kau bohong tentang Mikha ...,” cetus Naja. “... selama ini kau tidak pernah cerita tentang dia atau setidaknya bilang padaku kalau kau bertemu dia.”
“Apapun tentang Mikha sudah tidak penting bagiku sekarang ... memang aku membantunya beberapa waktu lalu, tapi setelah urusannya dengan hukum sudah selesai, aku tidak lagi menemuinya.” Berdebar, itulah yang Excel rasakan saat ini. Saat tangannya dengan lembut menyela jemari Naja dan menggenggamnya rapat.
Naja mengangkat kembali tubuhnya, menyilangkan tatapan yang menyelidik, “Saat kamu di klinik dan lupa padaku, kamu menolong dia ‘kan? Dan kamu pernah makan siang dengan Mikha di kafe dekat butiknya Mas Sam ‘kan?”
Excel berdecak, “Aku memang lupa padamu saat itu, tapi bukan karena aku menolong Mikha, tapi karena asyik sama temen-temenku, dan makan siang ...? Kapan aku makan siang dengan Mikha? Yang ada aku membelikan kamu makan siang disana, lalu ketemu Mikha ... itu yang bener,”
“Tapi karena itu kau tidak jadi menemuiku ‘kan?” desak Naja sembari mendekatkan wajahnya dengan lirikan menyipit.
Excel menyerah saat Naja terus mendesaknya. Ia lelah jika harus mendebat istrinya yang cerewet itu. Dan semua yang didesakkan Naja padanya memang benar.
“Iya ... iya, aku mengakui semuanya. Aku salah, aku minta maaf. Puas?”
“Banget ...,” Naja tergelak. Excel belum pernah sepasrah dan selembut ini. “Apapun sebaiknya kau jujur, bagaimanapun kau sudah punya istri, bisa saja kan aku salah paham dan cemburu, untung aku tanyakan semua sama Mas Rega, jadi aku ngga salah paham sama kamu.”
“He em ... Mas Rega bahkan membantuku untuk mencari tahu semua tentang Tristan, waktu itu Tristan bilang katanya kamu menyuruh Tristan bertanggung jawab atas kehamilan Mikha, tapi kata Mas Rega kau hanya menelepon dia untuk memberitahu kalau Mikha sedang pendarahan. Benar ‘kan?”
“Iya ... pas ditanyai siapa suaminya ya, aku langsung menelepon Tristan ... masa iya aku mau telepon sopirnya Tristan?”
"Hahahaha ... iya bener, bisa lucu juga kamu, Cel ...," Naja menepuk sebelah dada Excel. Cukup keras, sehingga Excel meringis kesakitan.
"Kau bisa membunuhku jika terus-terusan memukuliku seperti ini, Na ...," Excel menahan pukulan dengan menangkap tangan Naja.
Perlahan, Naja menyurutkan tawanya, "Aduh ... maaf Cel, lagian tumben banget gitu kamu bertingkah lucu. Selama ini kau hanya mengerikan ...," Naja menyengirkan tawanya dan menghadap lagi ke layar televisi, menghindari tatapan horor Excel yang kesal karena ucapan Naja. Berusaha kembali fokus pada film yang mulai memasuki babak akhir, Naja memajukan tubuhnya ke depan.
"Membosankan sekali ...," gumam Naja sembari menekan-nekan remote untuk mengganti acara tersebut.
"Kenapa diganti? Itu sudah mau selesai ...," Excel yang sedang asyik menikmati film itu mendadak kesal karena ulah Naja. "Kan jadi tidak tahu bagaimana akhirnya!"
"Jelek Cel ... aku tidak suka aktornya ...," Naja menyangga dagunya dan terus mengganti-ganti channel televisi tersebut.
"Kau ini ...," Excel memandang Naja dengan heran. "... sebentar suka, sebentar tidak! Kau bilang kau penggemar film itu, sekarang tidak suka, sebenarnya kau menggemari apa?"
__ADS_1
"Hah ... aku hanya menggemarimu," jawab Naja enteng. Ia seperti terkejut sendiri dengan ucapannya yang spontan.
"Katakan sekali lagi!" perintah Excel dengan hati yang berdebar kencang.
"Tidak mau ... kau sudah mendengarnya." Naja membuang muka, ia sungguh malu. Bibirnya kali ini sungguh lancang sekali.
Tetapi Excel tidak menyerah begitu saja, ia membalik paksa tubuh Naja untuk menatapnya, hingga hanya wajah Naja yang bermandi rona merah dan matanya yang terpejam yang menghiasi pandangan Excel. Excel tersenyum sejenak sebelum memberikan kecupan singkat di bibir Naja.
"Kau tahu ... aku hampir gila saat kau bilang tidak bisa mengharapkan apapun darimu, apalagi saat aku rasa mulai mencintai kamu, Na ...," Excel menyisihkan helaian rambut Naja yang terburai di pipi.
Perlahan mata Naja terbuka, mengerjapkan kelopak matanya, memastikan bahwa apa yang dilihat dan didengarnya bukan ilusi. Ya, saat ini ia melihat suaminya seperti dalam ketakutan yang besar dan kekhawatiran yang dalam.
"Setiap hari, Rega mengancamku jika sampai aku menyakitimu, Mama dan Jen juga ... Mereka terus mengingatkan aku agar menjagamu, tetapi saat kau bilang kau tidak mencintaiku, aku rasa ... aku sudah habis, Na ... aku sudah selesai. Entahlah ... aku tidak menyadari mungkin, tapi aku rasa kau sudah lama menetap dihatiku, hanya aku yang tidak pernah peka pada perasaanku. Satu-satunya, yang akan ku sesali jika aku kehilanganmu suatu saat nanti."
"Kita tidak akan pernah kehilangan satu sama lain, Cel ... aku juga tidak tahu bagaimana, tapi aku bisa melupakan Ai dengan mudah. Rasanya seperti aku dan Ai sudah putus cukup lama." Naja memandang sembarang arah, seolah ia mengumpulkan setiap perasaan yang ia titipkan pada rumah ini.
"Mungkin kita terjebak oleh perasaan kita di masa lalu hingga kita tidak menyadari perasaan kita yang sekarang," Naja menunduk dan memainkan cincin yang melingkar di jari manisnya. Bibirnya terlipat dalam. Rasanya begitu malu mengakui perasaannya sendiri seperti ini. Tapi ... ia tak mau lagi menutupi apa yang sedang ia rasakan.
"Aku tidak berkata yang sebenarnya saat aku bilang aku tidak menyukaimu ... aku bohong saat bilang harapanmu padaku sia-sia ... yang benar, aku menyukaimu tapi aku kesal padamu yang terus-terusan menuduhku yang tidak-tidak!"
Excel membawa Naja dalam pelukannya. Ia mengusap lembut kepala Naja dan menghujaninya dengan kecupan.
"Maafkan sikap dan mulutku yang sering membuatmu terluka, Na ... beri aku kesempatan lagi untuk memperbaiki semuanya."
Naja mengerjap haru, ia mengangguk pasti di atas bahu Excel.
"Mungkin Mas Rega benar, ego kami sama-sama tinggi dan tidak mau saling terbuka," pikir Naja.
.
.
.
.
.
__ADS_1