Kekasihku, Asisten Adikku

Kekasihku, Asisten Adikku
Cerita Kehilangan


__ADS_3

“Jika bisa tunda sampai aku datang ....”


“Batalkan saja, mereka terlalu banyak mau!”


“Bukan masalah, siapkan kontraknya!”


Rentetan perintah yang keluar dari mulut Excel membuat Naja geram.


"Bisa-bisanya, dia masih memikirkan pekerjaan seperti tidak terjadi apa-apa," batin Naja mengutuk Excel.


“STOP ... HENTIKAN MOBILNYA!” Teriak Naja. Amarah Naja sudah meletup-letup saat Excel sama sekali tak berniat menyudahi obrolannya di telepon.


Sontak sopir itu menginjak pedal rem sehingga mengguncang tubuh mereka berdua. Bahkan mobil-mobil di belakang juga berhenti mendadak, tak segan menekan klakson hingga memekakkan telinga.


“Sudah bosan hidup?” seru Excel dengan tatapan tajam. Excel bahkan menahan tubuhnya pada sandaran kursi kemudi. Ponsel Excel yang masih terhubung terlempar entah kemana.


“Iya ... aku bosan hidup. Kenapa? Ada masalah?” seru Naja tak kalah tajam membalas tatapan Excel.


Keduanya masih menautkan pandangan saling membunuh hingga beberapa saat.


“Tolong keluar dulu, Pak!” perintah Excel pada pria paruh baya yang langsung mengangguk. Seolah sudah mengerti jika dua muda mudi ini butuh kenyamanan, pria itu menepikan mobil dan segera keluar.


Excel mendengus. “Bicaralah ...!” titah Excel sambil mengenyakkan punggungnya di sandaran jok mobil. Tangannya sibuk memijit kening yang terasa berdenyut.


Naja menaikkan sebelah bibirnya. “Harusnya aku yang mengatakan itu bukan?” Naja melempar lirikan tajam. “Kenapa? Apa salahku padamu?”


Excel berdecak. “Apa semua butuh alasan? Kurasa pertanyaanmu tidak membutuhkan jawaban.” Sebenarnya Excel juga tidak tahu. Tapi dia punya alasan kuat melakukan ini semua. Lepas dari Mikha dan amukan orang tuanya.


Naja menatap Excel tajam. “Bagiku setiap tindakan butuh alasan. Jika kau kesal karena aku mengatur kencanmu dengan Tanna, apa harus sampai seperti ini? Apa iya, demi menutupi perasaanmu yang sesungguhnya harus sampai seperti ini?"


“Kau pikir aku senang melakukan ini?" gelegar Excel sembari duduk tegak. “Jika hanya demi kamu apa kau pikir aku mau melakukan ini? Kau pikir kau siapa?”


“Aku memang bukan siapa-siapa, kau saja yang buta. Kenapa kau tidak memakai Tanna yang selevel denganmu!”


Excel mendadak bisu. Naja benar-benar membuktikan ucapannya tempo lalu, bahwa dia tidak akan segan lagi padanya. Kini baru disadari Excel, dia telah keliru menilai bahwa Naja adalah gadis yang lemah dan penakut.


“Aku akan mengantarmu ke hotel, istirahatlah ... aku akan kembali bekerja.” ujar Excel ketus.

__ADS_1


“Dan aku tidak peduli!” Naja menyudahi perang mulut yang tidak berfaedah ini. Sekalipun Naja menghabiskan sisa tenaga, semua akan tetap sama. Naja melempar tatapannya keluar jendela, menikmati hari barunya dengan status yang bahkan tak pernah dia bayangkan sebelumnya.


Pikiran Naja terus bergolak, memikirkan cara untuk membalas Excel dengan telak. Sementara Excel memanggil lagi sopirnya, mengisyaratkan agar mereka segera menuju ke hotel.


**


Dari tempatnya berhenti tadi, hotel itu hanya berjarak beberapa puluh meter saja. Sehingga dalam sekali kedipan mata, Excel dan Naja sudah berdiri di depan resepsionis. Lalu lalang manusia yang memadati lobi ini, membuat Naja penasaran untuk melihatnya. Meski tak sedikit juga dari mereka menatap Naja dengan pandangan aneh.


Sapuan hangat di punggung tangan Naja membuatnya terkejut, rupanya Excel sedang menggenggam tangannya.


“Jangan ge er, aku sudah memanggilmu tapi kau asyik memperhatikan hal lain. Aku tidak mau jika harus sibuk mengurusmu dan membuang waktuku.” Ucap Excel ketus. Tetapi tangannya tidak melepaskan tangan Naja yang kini malah saling bertaut. Naja merasakan perasaan lain saat ini. Tetapi, saat ingat ucapan Excel tempo lalu, buru-buru Naja menepikan perasaan yang begitu akrab di hatinya. Aroma mint segar kembali tercium. Meski si pemilik aroma tengah memunggunginya.


“NAJA ....” sentakan di bahu Naja membuat tubuh lemah wanita itu berbalik cepat. Seakan baru kembali dari alam lain, Naja mencoba memercayai apa yang dilihatnya.


“A-Ai ....” lirih Naja sebelum sesak dan kegelapan datang.


“Naja ...!" seru Excel. Secepat kilat dia menangkap tubuh Naja yang limbung. Bersamaan dengan Ai yang juga melakukan hal yang sama.


“Anda siapa?” serempak mereka mengajukan pertanyaan. Mengadu pandang penuh selidik, lalu memutusnya tak lama kemudian.


“Aku kekasihnya.”


Lagi-lagi, mereka mengklaim siapa mereka bagi Naja, berbarengan.


“Anda ... siapa?” ulang Ai sekali lagi memastikan bahwa dia tidak salah dengar.


“Aku suaminya ... tolong minggir!” seru Excel sambil membopong tubuh Naja. Limpeng, akhirnya Excel memutuskan membawa Naja ke kamar. Membiarkan Ai mematung tanpa bisa melakukan apa-apa.


**


Excel di bantu oleh petugas hotel menghubungi dokter terdekat untuk memastikan kondisi Naja. Bertindak cepat agar jangan sampai orang tua mereka tahu kejadian ini. Excel meregangkan tangannya yang terasa pegal, meraih ponselnya dan melangkah mendekati jendela.


“Ga ... batalkan semua janji hari ini!” titah Excel pada Rega yang menjawab panggilannya pada dering pertama.


“Ada masalah di sana?” nada suara Rega diliputi kecemasan. Sebab jika acara Excel berjalan lancar, sedianya Excel akan memboyong Naja kembali siang ini juga.


“Sedikit, tapi tenang saja, jika mungkin aku akan kembali malam ini!” Excel mengangkat lengannya untuk melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Mencoba menghitung peruntungannya.

__ADS_1


“Selamat ya Bro, semoga kau bahagia. Aku yakin kamu bakal bahagia dengan Naja.”


“Sok tahu ...!”


Terdengar gelak tawa di seberang sana. “Aku menunggu cerita hilangnya keperjakaanmu, Bro!”


Excel mendesis, ingin meneriaki Rega akan tetapi, Rega sudah memutus sambungan teleponnya terlebih dahulu. “Sialan!” umpat Excel tanpa sadar.


Excel mendudukkan tubuhnya di sisi ranjang, menatap Naja masih berbaring lemah. Ada hal yang bahkan Excel tidak pernah memikirkannya. Excel memang merasa bersalah pada Naja setelah menjadikan gadis itu sebagai tamengnya, tetapi untuk menikahi Naja, Excel tidak pernah menginginkannya.


Ya, sehari setelah Excel mengatakan omong kosong itu, Harris dan Kira segera mendatangi orang tua Naja. Berbekal pengakuan Excel dan persetujuan Harris, Kira nekat mengajukan lamaran. Bahkan Kira harus memohon dan merendahkan diri agar mereka yakin Kira tidak main-main. Tenggang waktu satu bulan pun disetujui Kira.


Excel yang tak bisa mengelak lagi, akhirnya diam-diam mengikuti Naja. Rela berangkat lebih pagi dan pulang larut malam, Excel nyaris tak melewatkan hari berganti tanpa mengintai Naja. Pikirnya, Naja tidak seperti Mikha yang manja dan lembut. Naja selalu bersikap sesuai dengan apa yang dirasakannya. Setidaknya, Naja tidak akan membuatnya ingat Mikha lagi.


Lamunan Excel buyar setelah seorang dokter datang untuk memeriksa Naja. Dokter itu tersenyum mendapati Naja yang tidur masih mengenakan kebaya pengantin.


“Mbaknya hanya lelah saja Mas ... jangan terlalu khawatir.” Terang dokter. “Persiapan pernikahan sepertinya membuat Mbaknya tertekan hingga membuatnya stress dan kurang istirahat. Untuk sekarang, biarkan Mbaknya istirahat, Mas.” Senyum dokter yang bertubuh besar ini merekah.


“Masih ada malam lain yang bisa kalian nikmati sepuasnya.” Excel tersenyum samar, tanpa membalas ucapan dokter itu. Rupanya dokter salah mengartikan ketegangan di raut wajah Excel.


“Dokter sok tahu, aku begini kan karena takut dibantai Mama!” gumam Excel dalam hati. Setelah meresepkan vitamin dan obat, dokter itu segera meninggalkan kamar Excel. Melalui petugas hotel juga Excel membeli obat untuk Naja.


"Apa kata Sam jika tahu aku menikahi Naja? Bisa-bisa habis aku diejeknya!"


.


.


.


.


.


.


Selamat menyambut bulan Ramadhan untuk semua sayang-sayangku😍

__ADS_1


Mohon maaf lahir dan batin ya🙏 maafkan diriku yang banyak salah meski secara online😉


Semoga berkah bulan Ramadhan melimpahi kita semua🤲 Aamiin🙏


__ADS_2