Kekasihku, Asisten Adikku

Kekasihku, Asisten Adikku
When The Ice, Melt


__ADS_3

Saat ini, keriuhan pesta Eric dan Saphira tengah berlangsung. Belum pernah Naja menghadiri pesta pernikahan semeriah ini, sekalipun ia telah banyak mendatangi acara resepsi pernikahan saat bersama Jen dulu.


Dia yang masih setengah oleng karena ulah Excel, tidak begitu fokus mendengarkan ocehan dari wanita sosialita yang malam ini semakin banyak berdatangan. Sebagian banyak dari mereka mengaku, mengetahui kalau Naja adalah wanita yang digilai Tristan, wanita yang memorak-porandakan kerajaan usaha Mateo. Mereka sejak melihat Naja langsung menempel dan memburunya untuk saling mengenal.


Salah satu di antara mereka bahkan tampak memakai perhiasan yang berhasil ia boyong dari galeri Trist&Jewell. Pipi Naja bergerak memutar, ia yakin perlu beberapa waktu untuk mengembalikan pipinya ke bentuk semula setelah pesta ini berakhir.


“Maaf, Nyonya ... sudah terlalu lama anda sekalian menculik istri saya, jadi saya rasa, kita harus membiarkannya sekadar duduk atau menikmati jamuan, benar ‘kan?” Ucapan Excel terdengar di sisi telinga Naja, tangan kokohnya kembali menyusup dengan gerakan sedikit menarik.


Naja memutar kepalanya, ia merasa tersentuh melihat kepedulian suaminya itu. Juga merasa terselamatkan dari suasana yang tidak terlalu ia sukai. Meski begitu, Naja kembali menatap nyonya-nyonya itu dengan senyum sungkan.


“Oh ... silakan, maafkan kami yang terlalu antusias mengenal istri Anda. Jaga baik-baik istri Anda, Tuan ... jangan sampai Tristan yang lain menggodanya.” Wanita-wanita itu terkikik di balik jemarinya.


Excel menyapukan pandangannya dengan ekspresi sedikit gelap yang menyentak. Ia tak tahan bila di tekan dengan kata menjaga. Seolah ia tak benar saja menjaga wanitanya. Namun, ia segera menguasai diri, dan mengulas senyum kembali.


“Sebelum anda semua mengingatkan, saya sudah melakukannya, tetapi ... tahanan saja bisa kabur setelah masuk penjara bukan? Dan pencuri tetap bisa masuk meski sudah dipasang penjagaan ketat. Kurang lebih situasi kami sama seperti itu.” Excel menundukkan kepalanya sejenak, sebelum mundur dengan terus merekatkan Naja dalam jangkauannya.


“Bicara apa kamu sama mereka? Sampai begitunya mereka sama kamu?”


Jawaban Naja hanya bibir yang menguncup, malas sekali rasanya menjawab suaminya itu. Dia bukan tipe wanita yang suka bicara asal pada sembarang orang. Lagi pula, tidak ada satupun ucapan mereka yang berhasil terekam oleh otaknya. Rasa suaminya masih begitu lekat di sekujur tubuhnya, bahkan seperti permen karet yang menempel ketat di otaknya.


Huh, menyebalkan.


Karena ia mulai menikmati apa yang diperbuat Excel padanya. Bahkan ia hampir tak bisa menahan bibirnya untuk memintanya lagi. Sungguh sial.


Excel berhenti dan memutar tubuhnya berhadapan, hiruk pikuk menguasai hingga bicara dalam tempo normal mungkin tak bisa didengar oleh Naja. Namun, ia tampak bingung saat Naja berekspresi kesal.


Mengerti, Excel segera membawa Naja menepi. Sedikit jauh dari Sam dan Rega yang sejak tadi bersamanya.


“Kenapa? Manyun begitu?” Excel menjewer pipi istrinya dengan gemas untuk melerai cemberut yang memeluk wajah istrinya. Mereka tengah duduk di sudut yang jauh dan sedikit tenang.


Naja menggeleng pelan, ia merasa bosan setelah ingat lagi perasaan yang “ah” beberapa jam lalu. Rasanya ia sangat malas sekadar beranjak dari peraduan yang begitu nyaman.


“Bicaralah ... aku tidak tahu apa yang kau inginkan jika kau diam saja?” Sama sekali tidak bisa menerka apa yang membuat istrinya begitu kesal, sebab tampaknya tak ada yang salah dengan obrolan Naja dengan wanita-wanita tadi.


“Apa mereka mengganggumu?”


Lagi, Naja hanya menggeleng semakin lemah, membuat Excel angkat tangan. “Apa aku membuatmu tidak nyaman tadi?” Pikiran itu yang terlisan setelah menyusur ingatan lebih ke belakang lagi.


“Aku—“

__ADS_1


Dering ponsel Excel menyela saat Naja bersiap mengatakan apa yang ia rasakan meski ia tampak malu.


“Jawablah dulu!”


Namun, Excel hanya melihat saja lalu mematikan ponselnya. Sekalipun Jeje itu bisa menunggu, tapi mengetahui isi hati Naja di atas segala-galanya. Ia tak mau tersiksa penasaran yang rasanya telah menggigiti ujung hatinya. Meletakkan kembali ponselnya, ia menuntut Naja untuk mengatakan apa yang sempat terjeda.


Naja menghembuskan napas, “Apa boleh tidak usah pulang? Menginap di tempat tadi saja, bagaimana? Aku ... aku lelah jika harus pulang, jauh.” Mengatakan dengan segenap keberanian, ia membalas sorot mata Excel yang tertuju padanya. Tanpa berkedip.


Naja menelan liur dengan salah tingkah. “Sumpah ... aku sudah gila, mengatakan hal bodoh itu.”


“Tapi kalau kau mau pulang ya, ayo sih ... ngga masalah. Toh, bukan aku yang mengemudi ‘kan?” susulnya gugup. Ia menyumpahi Excel yang tengah menatapnya dengan senyum samar yang segera ia susuli dengan tawa lebar penuh ejekan.


“Bisa diam, ngga ... kau ini membuatku malu. Dasar!” Naja mengeratkan rahangnya dan bersiap menampar Excel yang berusaha menghentikan tawa.


“Oke, baik-baik ...,” Excel mengangkat tangannya mengantisipasi pukulan Naja. Lalu, ia mengulurkan tangan, mengusap pipi Naja. “... kita akan melakukannya lagi. Aku tahu kau suka.”


Ledakan tawa tercetus saat Naja mendelik dan menerjang Excel dengan pukulan yang tak sakit sama sekali.


“Aku tidak mau itu, ya ... itu menyakitkan!”


Excel meringkus tangan Naja dengan salah satu tangannya, “Tapi ini mengatakan lain tuh!” punggung telunjuk Excel membelai bawah mata hingga mengitari seluruh pipi Naja. Lalu membenamkan wajah Naja ke dalam dadanya. Mendekapnya erat.


***


“Aku periksa Naja dulu, ya ... ke toiletnya lama bener.” Excel memeriksa jalan dimana Naja tadi menghilang.


“Mungkin antri kali, Cel ... ‘kan tamunya lumayan banyak.” Rega juga melakukan hal yang sama. Namun ia sejak tadi lebih bersikap waspada, terlebih Excel mengatakan hal yang sedikit membuatnya khawatir.


Mereka yang sedang waspada memeriksa ujung ruangan, dibuat terkejut dengan kedatangan Maureen yang begitu tiba-tiba dan tersengal-sengal.


“Naja dimana?” tanyanya tak sabar. Ia masih ngos-ngosan. Begitu melihat Naja sekilas tadi, ia segera menjejalkan tubuhnya di sela tamu yang membludag. Selain Naja, ia tak bersama siapapun saat ini. Itu membuatnya semakin ngenes.


“Lo lagi!” Sam mendelik sebal pada Maureen yang mengenakan gaun dari butiknya. Namun keanggunan Maureen seolah tertutup oleh sikapnya yang terkesan sembrono.


“Gua ngga nyari lu dan gua ngga nanya elu!” semburnya pada Sam lalu beralih pada Excel yang hanya menolehnya sekilas.


“Aku cari dia sebentar, ya!” ucapnya pada siapa saja yang mendengar perkataannya seraya mendorong gelas yang belum sempat di sesapnya pada Maureen yang berdiri tepat di sampingnya. Lantas ia berlalu tanpa menunggu sahutan dari kawan-kawannya tersebut.


“Gunung es kena efek global warming ...,” celetuk Rega sembari meneguk minumannya. Meleleh, sambungnya dalam hati. Ia masih mengekori langkah Excel hingga tak lagi tampak.

__ADS_1


“Bukan, dia itu es balok yang jadi es serut ... lumer.” Sam juga melakukan hal yang sama.


Sementara Maureen yang sejak tadi mengatur napas, menenggak minuman dari gelas yang diangsurkan Excel padanya. Habis tanpa sisa.


Bibir Maureen mencebik dengan bahu terangkat saat memandangi gelas ditangannya. Rasanya sedikit berbeda.


***


“Na ...,” panggil Excel dengan nada khawatir yang dalam. Ia tanpa ragu masuk ke dalam toilet wanita yang tampak sepi, hanya beberapa orang yang tengah keluar dan memandangnya heran.


“Astaga ... sebentar, Cel ... tadi antrenya banyak banget!” Teriak Naja dari dalam salah satu bilik.


Excel tersenyum seraya menarik mundur kepalanya. Lalu ia menjauh dari toilet wanita itu, takut dianggap pria me sum, dia beranjak menuju toilet pria yang letaknya tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang.


Namun, ia di buat terkejut saat ada tangan yang membekap mulutnya. Ia meraih tangan itu dan memutar tubuh orang tersebut hingga terpelanting ke lantai. Pandangannya sedikit buram, kepalanya pening, dan berputar, akan tetapi ia masih melihat pria yang menggelepar di lantai itu berusaha berdiri. Excel mengayunkan kakinya untuk menahan pria itu agar tetap di lantai, tetapi ia memekik saat ada benda berat menimpa bagian belakang lehernya. Detik berikutnya, Excel sudah tak berdaya dan roboh di lantai.


Naja mendengar samar suara berdebum lirih di luar toilet saat ia mencuci tangannya di wastafel. Setengah takut, Naja segera keluar dari area kamar kecil tersebut. Waspada, dia mendorong pintu hingga terbuka, tetapi ia tak mendapati apapun, hanya vas kayu yang tergeletak di lantai.


"Excel ...," panggilnya pada lorong yang sepi. Tak ada jawaban selain gema dari suaranya sendiri. "Excel ... jangan bercanda. Ini tidak lucu!"


.


.


.


.


Terima kasih kepada Moms Antie yang membersamaiku seharian kemarin dan hari ini.😊🙏 mood booster yang luar biasa Moms ... arigato ...🙏


Mba Fitri ... makasih juga sudah memberiku semangat hingga aku bertahan hingga sekarang. Teman online kuh😘😘 love sekebon wafer ... eh🤭


Mba Tiyah dan Kak Ayu anabiel ... makasih juga supportnya😘😘😘


Mohon doanya juga untuk sahabat Reader yang lagi isoman ... Bunda Lilih ... tetap semangat, Insya Allah, semua dimudahkan ... kami berdoa yang terbaik untuk Bunda ... 🤲🏻 ingat janji kita ke Korea sama-sama ... meski bagiku masih mimpi🤭 yang selalu kusemogakan.


Semoga yang sakit di sembuhkan ... 🤲🏻 yang sehat senantiasa diberi kekuatan.🤲🏻


Untuk semuanya, stay safe, stay healthy ... jaga imun dengan tersenyum. Heal With Smile ... 🙏

__ADS_1


Love you All😘😘


__ADS_2