
“Kau hanya perlu percaya padaku, hanya padaku.”
Desahan napas Excel mengudara, kelopak mata pria itu masih terkatup rapat. Tetapi, pikirannya telah bangun. Didadanya, menempel posesif punggung yang terasa hangat. Bernapas dengan lembut dan basah. Bibir pria itu mengulas senyum saat menyadari kepolosan mereka berdua. Terlalu lelah untuk sekadar menggeser tubuh mereka usai pertikaian semalam.
Senyum itu kian merangkak naik saat mengingat lengan yang melingkar di lehernya, seolah wanita ini telah meletakkan seluruh hidup di bahunya. Menyerahkan dirinya. Mempercayakan sisa hidupnya di tangan yang telah menggoreskan kisah baru dalam cerita hidupnya.
Belum pernah, seumur hidupnya, ia merasa senang dan juga takut sebesar ini. Rasanya ia tertantang untuk menunaikan tanggung jawab yang tak kasat mata telah tersangga di pundaknya. Membahagiakan wanita yang telah menyempurnakannya. Perasaannya kian nyata, seolah membuka mata bahwa ia telah terperosok dalam lembah cinta.
Perlahan ia membuka mata, memandang nyata sebentuk bahagianya. Menyematkan kecupan ringan di atas rambut yang tergerai bebas, ia menyempatkan diri membisikkan kata yang terlupa ia ucapkan semalam. Lucu rasanya, ketika ia menyadari perasaan sesungguhnya setelah kejadian semalam. Love at first sleep.
Kasar dan masih dipenuhi debaran yang mengambang di permukaan, dan rintihan itu, ia yakini bahwa mereka belum berpengalaman sebelumnya.
Perlahan Excel menarik tangannya yang tak kalah panas terasa. Ini aneh, tubuh Naja terasa lembab dan panas. Napasnya memburu, sesegera gerakan tangannya meraba kening dan leher Naja.
“Dia demam?” gumam Excel. “Apa ini normal?” bangun dan membalut ketelanjangannya, Excel bergerak mencari benda yang amat sangat penting di saat ini. Ponsel. “Ah ... sial,” umpatnya sembari meraup bibirnya.
“Termometer dan pereda demam sepertinya ada,” biasa bersikap siaga, Excel dengan cepat memikirkan langkah selanjutnya. Mengambil termometer dari dalam laci, ia segera menempatkan alat itu untuk mendeteksi suhu tubuhnya. Cemas menunggu beberapa detik, Excel terus meraba beberapa bagian tubuh Naja untuk meyakinkan dugaannya.
“Astaga ... dia benar-benar sakit,” gumam Excel lagi setelah melihat angka yang tertera pada alat ukur tersebut. Tiga puluh sembilan derajat. Kalut, ia segera turun untuk mengambil kompres.
Belum reda syok akibat sakitnya sang istri, ia dibuat menganga dengan penuhnya ruang depan oleh beberapa orang.
“Sayang ...,” sapa wanita berumur yang tampak tegang, membuat seluruh penghuni ruangan itu menoleh serempak. Mereka cukup terkejut tetapi juga dipenuhi kelegaan. Wanita itu berlari mendekati sang putra yang masih terpaku bingung.
“Ini ada apa, ya, Ma?” sembari menyambut pelukan dari sang Mama.
“Mama pikir kamu kenapa-napa, Nak ...,” tak bisa menyembunyikan air mata lagi, Kira menghujani bahu putranya dengan limpahan tangis.
“Memangnya aku kenapa? Apa Om Riko tidak cukup memberi penjelasan, sehingga membuat Mama panik?” ia melerai pelukan dan menghapus air mata yang membasahi pipi Kira. Perhatiannya teralih sejenak pada Riko yang berdiri di depan pintu berbincang dengan seorang pria yang tampaknya dari pihak asuransi.
“Orang tua akan selalu khawatir dengan keadaan anaknya, Sayang.” Menghadiahi pipi putranya yang telah dewasa dengan sebuah kecupan hangat. Tetapi manik mata Kira terpaku pada bekas yang tertinggal di bahu putih itu. Mengernyit tetapi ia segera mengalihkan perhatiannya pada wajah sang putra. Bibir wanita itu melengkungkan senyum penuh bahagia, bahkan ia nyaris menangis lagi. Ah ... hati wanita ini memang mudah mengharu.
“Mamamu memang suka berpikir berlebihan, Cel ...,” timpal Harris yang duduk manis dengan kaki tersilang.
Excel tersenyum dan menggandeng mamanya untuk bergabung dengan papa dan keempat adiknya.
“Papa sudah lama?” Excel menyambut tangan papanya untuk menunjukkan rasa hormat. Ia selalu begitu sejak masih kecil, tak peduli dimana pun, ia selalu melakukan itu.
__ADS_1
“Sekitar setengah jam an,” jawab Harris sembari menepuk pundak Excel. “Mana Naja? Apa dia libur membuat sarapan? Kata mamamu, meja makan dan kulkasmu kosong."
“Kami memang belum belanja, Pa ... hari ini seharusnya, tapi sayang ... Naja sedang demam.” Ragu, tapi tak mau menutupi keadaan sebenarnya.
Semua orang terkesiap, “Demam? Kenapa tidak bilang dari tadi? Cepat panggil dokter!” hilang sudah wajah sendu yang menghiasi wajah Kira, digantikan oleh ketegasan dan kepanikan. Ia bangkit untuk memastikan keadaan menantunya.
Excel mendadak pucat, “Mama di sini saja, aku akan mengurusnya!” menghadang laju Kira, Excel mendorong sang Mama kembali ke sofa. “Jen ... buatkan Mama sarapan, jangan diam saja ... kau ini!”
Jen merengut, “Kenapa jadi aku, sih, Kak?” mau tak mau ia bangkit, “kalian bertiga ...,” sorot matanya bergilir menatap ketiga adiknya. “...bantuin!” sambungnya saat ketiga orang yang dimaksud menoleh ke arah Jen.
“Kena juga ... adeeeh!” gerutu Agiel yang tampak malas karena hari minggunya terganggu. Agiel dan Azziel biasanya begadang karena hanya malam minggu mereka diberikan kebebasan.
Excel yang sudah melesat mengambil sebuah wadah untuk tempat air, berpapasan dengan adiknya yang berjalan gontai. “Pindah ke rumah lagi lah, Kak ... mama selalu ribut karena khawatirin Kakak,” demo Agiel.
Excel hanya tersenyum sembari mengusap rambut adiknya itu sebelum melesat naik ke atas. Meninggalkan mereka berempat yang menatap kepergian kakaknya dengan ekspresi yang berbeda-beda.
Sementara, Kira yang mendahului Excel, telah berdiri di ujung ranjang putranya. Ia tahu apa yang terjadi tetapi ia tak menyangka keadaan kamar anaknya masih kacau. Kira melihat jelas pundak menantunya yang menyembul keluar dari selimut. Dengan senyum masih melekat di bibirnya, Kira memastikan keadaan sang mantu. Memang teraba panas dan dibanjiri keringat. Namun tidak terlalu mengkhawatirkan.
“Sebentar lagi akan dipanggil nenek atau oma,” gumam Kira mengambil langkah mundur, ia tak mau membuat putra dan mantunya malu. Jika dilihat riwayat dari papa kandung Excel, Kira khawatir jika Excel mewarisi darah papa kandungnya tersebut. Oleh karenanya, Kira begitu ketat mengawasi ketiga buah hatinya terdahulu. Jangan sampai mereka mengikuti jejak sang papa.
“Mama ...!” seru Excel. Wajahnya pias seakan darah berhenti mengalir di sana. Ketar ketir ia menatap Naja dan Mamanya bergantian.
"Em ...," Excel menggaruk pipinya, malu.
“Setelah ini temui mama di halaman belakang, rapikan dulu kamarmu dan istrimu, biar Jen atau Ranu yang menjaga dia!” Kira menepuk bahu putranya hingga melesak turun. "Pakai baju kalau keluar kamar," imbuhnya berbisik.
Kira berlalu pergi, membiarkan putranya bermandi malu yang luar biasa. Bahkan ia dengan jelas mendengar Excel mendesahkan napasnya begitu keras.
"Ya Tuhan ...," erangnya frustrasi.
Segera menguasai diri, Excel bersegera merapikan kekacauan yang ia buat. Namun, ia merasakan desiran halus saat memunguti pakaian istrinya. Masih terekam jelas, bagaimana wanita itu menyerahkan dirinya. Sungguh indah. Rasanya, harinya bersama Mikha tidak ada artinya sekarang. Ugh.
“Na ...,” lirih Excel, setelah meletakkan handuk di kening Naja. Ia tak mau mengganggu tidur lelap wanita itu, tapi Naja harus memakai baju, dan dia takut kalau Naja akan keberatan.
Naja terkejut saat sesuatu yang basah menimpa keningnya. Perlahan sekali ia membuka kelopak matanya yang terasa berat. Naja merasakan tubuhnya kehilangan kekuatan, lemas sekali rasanya.
“Kenapa dikompres? Aku kesiangan, ya?” lemah suara yang keluar dari bibir wanita itu, tangannya bergerak untuk meraba keningnya. Linglung, kesadaran belum sepenuhnya menaungi wanita itu.
__ADS_1
“Kau demam ....”
“Kenapa dia imut sekali?” batin Excel dengan senyum terkembang. Lekat ia mengamati gerakan tubuh istrinya, sangat menggemaskan. Kemana saja ia selama ini hingga melewatkan hari seindah ini yang seharusnya ia nikmati sejak lama. Tiba-tiba, ia menyesal telah mengabaikan wanita ini. Dan waktu-waktu lalu yang seharusnya telah mereka lewati bersama.
“Kenapa kau tersenyum seperti itu? Apa wajahku tampak lucu kalau sakit?” sorot wajah Naja menajam. Membuat Excel memudarkan senyumnya, menggantinya dengan merapatkan gigi, geram. Dasar wanita, tampak imut saat tertidur tapi menyebalkan saat matanya terbuka. Awas saja, kau.
“Mama di bawah, pakai bajumu ...!” Excel menarik tubuhnya menjauh, menyesal telah memuji wanita itu. Ia kembali kaku dan ketus.
“Mama?” Naja menarik tubuhnya hingga terduduk, membuat selimut yang menutupi tubuhnya turun. Naja memandang turun, lalu mengangkat lagi wajahnya sembari menarik selimut, serampangan. Mata Naja melotot sempurna, “tutup matamu ... jangan berani-berani ... kau—“
Lumpuh, ketika menyadari apa yang telah terjadi padanya dini hari tadi. Aku sudah— ini bukan mimpi?
“Sudah ingat sekarang?” sindir Excel. Ia melirik istrinya itu penuh ejekan. “bahkan aku sudah tahu rasanya ...,” sambungnya sembari menarik tubuhnya berdiri.
“Ra-rasanya?” batin Naja terbata mengeja. Seperti angin dingin bertiup, ucapan Excel membuat tubuh Naja meremang. Degup jantungnya memompa lebih cepat. Naja mendesah saat merasakan alunan melodi baru yang bernyanyi di dalam hatinya.
Aku miliknya sekarang.
“Kau mau mandi atau pakai baju saja? Mama sudah memanggilkan dokter untukmu ...,” Excel berdiri di depan lemari, ia hanya menolehkan sedikit kepalanya, karena wanita itu melamun dan membuat penjagaan pada selimut mengendur. Benar, dialah yang harus berhati-hati karena kecerobohan wanita itu.
Naja mengerjapkan kelopak matanya, mengusir akan ingatan malam pertamanya tadi. “Aku mau mandi saja ...,” Naja menarik kakinya turun, membalutkan selimut rapat di tubuhnya. Tetapi ketika melangkah, ia merasakan sesuatu yang aneh tiba-tiba terasa di antara kakinya. Tidak sesakit semalam ketika tubuhnya terkoyak, tapi benar-benar terasa aneh. Seperti ada sesuatu yang tertinggal.
Excel masih lekat memperhatikan, merasa lucu dengan cara berjalan wanita itu. Seperti robot.
“Apa masih sakit?” Excel tak sabar melihat betapa lambat jalannya Naja menuju kamar mandi, sedikit khawatir juga mengingat ekspresi wajah istrinya itu semalam.
Naja menggeleng, namun detik berikutnya ia memekik, karena Excel menggendongnya ke kamar mandi. “Ngga enak ditungguin, Mama.” Ucapnya tanpa melihat Naja membulatkan mata.
“Jangan lama-lama, badanmu masih demam ... aku di luar, kalau butuh apa-apa, panggil saja!” Excel menurunkan Naja di depan bilik kaca, membiarkan begitu saja, karena Naja pasti menolak jika Excel membantunya, dan pasti akan membuat keributan.
Setelah berkata begitu, Excel berlalu pergi meninggalkan Naja masih mematung.
.
.
.
__ADS_1
.
.