
Excel menguarkan aroma segar dan basah saat keluar kamar mandi. Rambutnya yang masih menjejak sisa air tampak berantakan dan memenuhi dahi. Meski terkesan angkuh, tetapi pria itu sungguh memesona setiap mata, kecuali Naja tentunya. Walaupun, ketika Excel muncul dari balik pintu kamar mandi, Naja menatapnya beberapa jenak.
Lelaki tampan itu memusatkan perhatian pada makanan yang sudah di pesannya beberapa saat lalu. Tampak utuh tanpa ada satu cuil pun yang bergeser dari tempatnya. “Kenapa tidak kau makan? Kau tidak suka?” suara dingin bernada tegas itu menusuk telinga Naja, sehingga memaksa Naja sekali lagi menatap wajah rupawan di depannya.
Excel memakai kaos putih yang tampak penuh terisi tumpukan otot yang entah sejak kapan mulai memadat. Satu bulan berlalu dan kacau, Excel sering menumpahkan tekanan dan kegalauannya dengan berlama-lama di ruang fitnes.
Tangan Naja terulur ke sisi kepalanya, menyisihkan helai rambut yang hanya beberapa sulur tak tampak sedang menari dibuai udara yang bergerak. Manik mata gadis itu memutar ke arah jendela yang sedikit terbuka. Tirai yang memblokir jendela itu seakan menarik perhatiannya.
“Aku tidak lapar.” Jawab Naja kembali menunduk setelah memandang sejenak hamparan makanan di depannya. Salah tingkah sebab jiwa wanitanya secara alami mengagumi sosok di depannya. Namun, akalnya begitu gencar menolak, menggelar sayap kebencian mengepak lebar.
Excel mengusap kepalanya, begini ribet berurusan dengan wanita, pikirnya. “Dengar ...! Kalau kau kesal padaku, kau bisa melampiaskannya padaku nanti. Makan dan marah itu urusan berbeda. Atau kau sengaja membuat keadaan semakin sulit untukku?” cetus Excel tak sabar menghujamkan tuduhan.
Seketika manik cokelat pudar Naja menggulir marah ke arah Excel. “Sudah tahu aku ini akan menyulitkanmu, tapi kau masih memakai diriku untuk menyelamatkanmu! Apa kau tidak sedang keliru menuduhku?” dagu runcing alami itu seolah menuding Excel, semua ini akibat polah Excel.
Skakmat.
Tikaman Naja tepat bersarang di relung perasaan Excel, tetapi secepat mengedipkan mata, dia sudah bisa mengelak. “Jika kau terus begini, sakitmu makin parah. Aku tidak mau punya istri penyakitan.”
“Baiklah, biar saja aku penyakitan dengan begitu aku bisa terus menerormu dan akan terus muncul di depanmu, sehingga kau jijik dan membuangku.”
“Kau pikir setelah aku membuangmu, masih ada yang mau memungutmu? Kau percaya diri sekali? Siapa yang akan mengambilmu? Kekasihmu itu?” bibir tipis dengan warna bersemu merah berkeriut penuh ejekan setelah mengeluarkan kalimat begitu menyakitkan.
“Tentu saja ...!” seru Naja berkobar. Tetapi secepat kilat menyambar, nyala itu bergegas padam. Bagaimana bisa? Bukannya dia sudah berniat mengakhiri apa pun yang berhubungan dengan Ai? Lalu bagaimana bisa dia begitu yakin bisa kembali pada Ai?
Bibir Excel menukik semakin tajam, "kalau kau begitu yakin, kenapa tidak kau coba saja? temui kekasihmu yang masih menunggumu di bawah. apa kau masih punya muka menemuinya setelah menghianatinya?"
Naja kembali terbakar, tetapi benar. Dia tidak berani menemui Ai setelah semua ini. Naja memejamkan mata sejenak merasakan panas merambat di matanya. Biarlah Ai membencinya, itu lebih baik.
Excel masih menautkan pandangan, “kenapa diam? Tiba-tiba merasa ragu?” merasa rasa puasnya terpenuhi, Excel semakin menghujam Naja dengan cibiran. Menang karena berhasil membuat Naja tak berkutik.
“Makanlah ... jangan manja! Aku bukan ibumu yang akan menyuapimu jika kau merajuk dan menolak makan!” Excel mendaratkan tubuhnya berseberangan dengan Naja. Mengambil beberapa menu makanan dan meletakkan di atas piring, Excel mendesakkan piring tersebut ke tangan Naja. Mereka akhirnya memulai makan dalam diam.
Dering ponsel menyela keheningan yang meraja, sehingga memaksa mereka menoleh ke sumber suara. Excel dengan cepat menyambar ponsel miliknya setelah meletakkan piring yang sudah nyaris kosong.
“Ya ...,” Excel menjauh dari jangkauan Naja, memastikan wanita itu sudah kembali fokus pada makanannya sehingga tidak punya niat menguping pembicaraannya.
“Kenapa Naja ngga bisa dihubungi, Cel?” suara Sam membelah telinga Excel penuh tuduhan. Seakan tidak bisa dihubunginya Naja adalah tanggung jawabnya.
“Mana ku tahu?” jawab Excel ketus dan tak peduli.
“Lo lagi sama Naja kan?”
__ADS_1
“Kau tahu dari mana?” Excel tersedak ucapannya sendiri. “Maksudku untuk apa mencarinya?” Excel berdecak saat Sam meledakkan tawanya.
“Pura-pura lo ... gue tahu lo tuh ada hubungan sama dia. Bahkan lo ninggalin kerjaan lo barengan dengan pulangnya Naja! Apa itu ngga aneh? Terus setelah apa yang lo lakuin buat dia ... lo masih mau ngelak?”
Excel melirik Naja yang menyeberangi ruangan untuk mengambil obat yang tersimpan di atas meja lampu. “Ada apa nyari dia?”
Lagi-lagi Sam terdengar menggelegarkan tawanya. Bahkan kini terdengar pula gebrakan berulang-ulang. “Susah banget sih lo ngakunya?” Sam kembali tertawa, sehingga Excel mendecakkan suaranya lebih keras.
“Sorry Bro, gue Cuma minta dia buatin desain buat langganan baru gue! Dari semua gambar yang gue kasih dia mau nya buatan cewek lo!”
“Jangan ganggu dia berlebihan, dia masih kelelahan ...!”
“Wah ... gak nyangka gue ... lo gercep juga meringkus Naja. Berapa ronde?”
“Ck ... apa setelah menikah hanya itu saja yang bisa dilakukan?” decak Excel diringi suara yang meninggi.
“Wah ... udah nikah aja lo?”
Excel merapatkan giginya hingga gemeretuk, bahkan dia meraup wajahnya dengan kasar. Sial, kelepasan lagi, batin Excel mengutuki dirinya sendiri.
“Selamat Brader ... meski gue kesel karena lo ngga kasih tahu gue ... tapi ngga papa, gue turut seneng lo udah lupain Mikha!”
“Yah yang digangguin hanimunnya ngambek ... buruan kelarin ... gue butuh istri lo banget ...,"
Excel menurunkan tangannya dari sebelah kepala, menggeser paksa ikon berwarna merah penuh tekanan. Meski di ujung telepon, Sam masih mengoceh menggoda Excel.
"Berisik ...." gumam Excel sembari melempar ponselnya ke sofa perlahan.
***
Excel dan Naja beriringan menyusuri lobi hotel untuk kembali pulang. Excel benar-benar tak bisa berlama-lama di sini, sebab ada beberapa pekerjaan yang mendesak untuk segera di selesaikan. Sementara Naja, Excel berniat membiarkannya menentukan pilihan sendiri. Mengingat keadaan orang tuanya, Excel tidak akan memaksa Naja ikut bersamanya.
Naja yang merasa was-was dengan kehadiran Ai, memilih berjalan dibelakang Excel. Berlindung dibawah tubuh Excel yang lebih tinggi darinya. Namun Naja melongok ke samping tubuh Excel saat tiba-tiba Excel menghentikan langkahnya.
"Ai ...," lirih Naja dengan mata membulat sempurna.
"Kita perlu bicara, Na." Ai mengabaikan Excel yang terlihat gusar. Pria itu masih mengawasi Naja tanpa jeda.
Naja mendongakkan kepalanya ke arah Excel, seolah meminta izin. Tetapi melihat Excel yang tak berubah ekspresi wajahnya, Naja pun mengerti. "Kita bicara di sini saja Ai ...."
Ai menatap dua orang di depannya bergantian, seolah menimbang. "Benarkah kau mencintai pria ini, Na?" suara dingin keluar dari bibir Ai.
__ADS_1
Naja yang belum pernah mendengar Ai menghakiminya begitu dingin, membuang napasnya ke udara. "Iya ... benar Ai. Aku menikah dengan dia karena aku mencintai dia, Ai. Aku harap kau melupakan apapun yang pernah kukatakan padamu di masa lalu." tegas Naja dengan jemari tergenggam sempurna. Tetapi, cairan bening terasa panas membingkai kornea matanya.
Ai tak bergeming, pria itu juga tampak siap mendengar apapun yang diucapkan Naja padanya. Sebab dia sudah mendatangi orang tua Naja untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. "Kau boleh mengatakan apapun, kau boleh membual tentang perasaanmu sesungguhnya, tapi kau tidak bisa mengendalikan perasaanku Na, kau juga tidak bisa menyuruhku semaumu. Aku bebas menentukan apa aku masih akan mengejarmu atau berhenti dan melupakanmu. Karena hanya aku yang tahu saat ini hatimu tengah menjeritkan namaku."
Manik mata Ai tampak bergoyang, pria kalem itu sepertinya benar-benar terguncang, tetapi dia tidak mau terlihat kalah dimata Excel. Baginya, dimiliki pria lain, bukan berarti tidak ada cela untuk mendapatkan hati kekasihnya kembali.
"Wah ... wah," suara seorang wanita membelah keheningan yang tengah menyelimuti mereka bertiga. Menjeda tatapan yang sejak tadi saling menggulir. "Hebat bukan, kekasihmu ini, Nak? Setelah kau tidak berhasil didapatnya, kini mencari pria lain, dan ... lihatlah ... apa ada wanita baik-baik berduaan di hotel dengan seorang pria?" Linda datang sambil menepuk kedua belah tangannya, mengundang atensi dari beberapa pengunjung yang kebetulan melintas.
Mereka bertiga terkesiap, tak terkecuali Ai. Ai bahkan merahasiakan kepulangannya dari sang Mama.
"Mama ...," lirih Ai. Tetapi diabaikan begitu saja oleh Linda yang langsung memindai Naja lebih dekat.
"Akhirnya kau menunjukkan sifat aslimu, Naja. Dan aku tak perlu repot mengotori tanganku untuk menyingkirkanmu." Bisik Linda tepat didepan ujung hidung Naja. Wanita itu benar-benar berniat meruntuhkan Naja di hadapan Ai dan Excel sekaligus.
Naja sama sekali tidak gentar dengan ucapan Linda, dia malah membalas tatapan Linda dengan berani. "Bu Linda benar, aku bukan wanita baik ... karena yang baik cuma Bu Linda."
Linda meradang, manik mata wanita itu menajam, siap menerjang Naja. Yang tak pernah disangka olehnya begitu berani menentangnya. "Berani kau denganku sekarang?" Linda melayangkan tangannya, entah untuk menampar atau menarik rambut Naja.
Namun tak disangka juga, Excel menghadangkan tubuhnya di hadapan Naja. Menghalangi Linda yang sudah siap menerkam Naja. "Jauhkan tangan anda dari wanita saya, Nyonya. Jika anda sampai membuatnya terluka, saya pastikan ini terakhir kali tangan anda bergerak."
Usai berkata begitu, Excel menarik tangan Naja dengan menautkan jemari. Menggenggamnya erat. Membiarkan dua orang itu mematung dengan perasaan mereka masing-masing.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Maafkan typo ya manteman ... belum sempat revisi✌
__ADS_1