Kekasihku, Asisten Adikku

Kekasihku, Asisten Adikku
Mengontaminasi Pria


__ADS_3

Benar apa yang diucapkan Harris padanya semalam, pagi ini, tidak hanya Tristan tetapi orang tua Tristan juga membatalkan beberapa kerja samanya dengan perusahaan Harris. Yang sangat di sayangkan oleh Harris adalah hanya karena masalah sepele Tristan sampai melibatkan orang tuanya.


“Tak usah terlalu dipikirkan, Nak ... apa pun yang terjadi nanti, kau hanya perlu bersikap tenang dan waspada. Jika memang Naja tidak bersedia kita tidak bisa memaksa. Lagi pula, Papa yakin Naja menyadari batasnya, dan kita harus menghargai itu,” ucap Harris pada Excel tadi pagi seusai sarapan. Mereka sengaja berbincang di halaman belakang rumah yang terasa sejuk sebab ada beberapa pohon mangga yang ditanam di sana.


Excel mendesah perlahan, telepon yang berada di meja kerjanya tak henti menderingkan tanda panggilan masuk. Pengaruh putusnya kerja sama yang telah terjalin begitu lama itu terasa hingga ke akar, ada yang latah ikut mundur, ada pula yang bertahan setelah mendapat penjelasan dari Excel dan Rega secara langsung. Sebagian kecil yang mundur—Excel rasa—itu karena desakan dari pihak perusahaan Tristan. Ya, baik perusahaan Harris dan keluarga Tristan memiliki pengaruh yang cukup kuat.


Mengurai sebuah masalah ternyata dibutuhkan kesabaran ekstra dan juga kebijaksanaan si pemimpin. Itulah yang Excel rasakan sekarang, sebab dirinya baru mengalami hal ini, sekarang. Ia tak bisa membayangkan betapa sulit, Harris membawa Star kembali berjaya. Instruksi demi instruksi ia tujukan kepada beberapa bawahannya tentang apa yang harus dan tidak boleh dilakukan. Berkat dukungan sang papa, Excel merasa dirinya lebih jernih dalam menyikapi guncangan yang melanda perusahaannya kali ini. Melewatkan makan siang, perutnya hanya dipenuhi air mineral, hingga sore menjelang. Pada akhirnya seharian ini, ia telah menyelesaikan sebagian besar masalah. Tetapi itu tak mampu membuat wajah Excel menerbitkan senyum. Masih ada beberapa hal yang mengganggu pikirannya.


**


“Bagaimana harimu?” tanya Naja yang sudah berada di dalam mobil bersama Excel. Sepulang dari kantor, Excel menjemput Naja yang berada di rumah mode milik Sam. Naja hari ini memilih pergi ke rumah mode Sam, dimana ia bisa melupakan kejadian tadi pagi. Bersama pegawai Sam yang lain, Naja berkutat dengan kertas dan pensil, ia juga dengan senang hati ketika Sam menawarinya datang ke tempat baju-baju berharga fantastis itu dijahit. Bertemu Samantha—kakak Sam—dan orang tua Sam yang berdarah Tionghoa.


“Sibuk seperti biasa ...,” jawab Excel datar. Membuat Naja yang tersenyum semringah, luntur tak bersisa. Memudarkan keceriaan yang memenuhi wajah. Bibir Naja menggerakkan kata Oh, tanpa suara. Ia memilih merapatkan bibir dan kembali bersandar dengan tenang di kursi penumpang sebelah suaminya. Tangan Naja mencengkeram erat sabuk yang menyilang di dada. Kecewa.


Tak ada yang mereka ucapkan sepanjang perjalanan pulang yang tidaklah sebentar itu. Sebenarnya, lidah Naja gatal sekali ingin bertanya ketika Excel membelokkan mobil ke arah kediaman Dirgantara. Tetapi ketika ia melirik Excel, ia mengurungkan niatnya tersebut. Malah, kedua mata Naja berlarian ke sana kemari, mendapati Excel tengah menyisir rambutnya berulang-ulang. “Apa dia sedang ada masalah?”


Naja turun begitu saja, meninggalkan Excel yang masih memarkirkan mobilnya di tempat semestinya. Ia menapaki tangga yang tak seberapa tinggi melintasi teras. “Kupikir setelah kejadian tadi pagi, sikapnya akan berubah ...,” ekor mata Naja bergerak melirik Excel yang tengah berjalan menuju teras, napasnya terhempas begitu keras. “Apa yang kau harapkan, Na? Sadar, duh Gusti ... dititipin otak satu aja mikirnya aneh-aneh.” Menepuk pelan sisi kepalanya. Ia merasa malu sendiri ingat kejadian konyol tadi pagi.


“Astaga ...,” kepala Naja menengadah, “... kebanyakan nonton drama jadi begini otakku, ... haaaissh ...,” menggelengkan kepalanya dengan kuat, berharap apa saja yang ia pikirkan tentang adegan ciuman tadi pagi segera rontok. Ia tak mau terus-terusan seperti orang habis sprint—ngos-ngosan— dan seperti orang yang terkena serangan jantung. Tiba-tiba nyeri di dada tetapi tak jarang pula di saat yang sama, pipinya teraba panas. Bahkan bibirnya sudah seperti terbuat dari karet, mudah sekali melarnya.


Bibir Naja meliuk tajam, keriutnya semakin dalam ketika ia tak bisa melakukan apa-apa. Ingin rasanya Naja meraung, merasa dirugikan tapi ... ia segera sadar bahwa itu juga salahnya. Melibatkan pria ini rupanya seperti menjatuhkan diri ke jurang. Ya Tuhan ....


“Aku masih ada urusan dengan Papa ... selama kau menungguku, kau bisa main dengan Ranu dan Jen. Jangan suka ngambek jadi cewek, hanya karena masalah seperti ini ...,” ucapan Excel membuat Naja mundur tiba-tiba, tubuhnya sampai berguncang saking terkejutnya.


“Aku ... apa?” kening Naja berkerut dalam. Matanya tajam menatap suaminya yang menghadapi daun pintu yang membentang tertutup di depannya. “Ngambek?” ulangnya semakin tajam.

__ADS_1


Excel mengentak kakinya sejajar, kepalanya menoleh dan menatap Naja, garang. “Akan memakan waktu lama jika kita pulang dulu, urusanku lebih penting dan mendesak. Kau bisa santai di sini, aku akan meminta Mbak Sita untuk membelikan keperluanmu, pakaian juga masih ada beberapa yang di sini.”


Tangan Excel menekan handle pintu, tetapi ucapan yang keluar dari bibir cerewet itu membuatnya kembali membeku. “Sebenarnya aku bingung denganmu, Cel ... apa aku mengatakan tidak suka ketika kau membawaku kemari? Apa aku keberatan jika di sini tidak bisa santai? Kau ...,” tangan Naja mengacung dan bergoyang sebelum ia melipatnya lagi. Menggenggam geram. “... jangan suka aneh-aneh ngatain orang. Kau tahu, aku semakin tidak menyukaimu ... padahal awalnya aku berharap bisa ... bisa ... ahh, sudahlah ... kesel sama kamu!”


Naja mengarahkan tangannya mendorong pintu dengan kasar, menyentak tangan Excel yang sejak tadi menggantung di sana. Andai tidak di rumah mertuanya, Naja pasti sudah mengamuk tak jelas.


“Tapi dia tampak kesal sejak tadi ... memangnya apa masalahnya? Apa tebakanku salah?” Excel membatin. Ia pikir setelah terlebih dahulu menciumnya, Naja akan tersipu-sipu dan menempel padanya. Seperti Mikha ... apa tidak semua wanita menginginkan kembali semua itu? Ah ... kepala Excel berdenyut nyeri, wanita memang membingungkan, ini salah ... itu salah.


**


Makan malam terasa hampa, tanpa kehadiran dua pria yang masih berada di ruang kerja. Bahkan Kira tak berani sekadar mengetuk pintu. Naja menyelesaikan makan malam dengan cepat, ia juga merasa tak nyaman tanpa kehadiran Excel. Padahal setelah kejadian di depan pintu, ia sama sekali tak berniat mencari tahu keberadaan suaminya itu. Ia masih memaki dan mengumpat lirih—pastinya— pria yang menurutnya menyebalkan.


“Apa dia lupa, dia yang membuatku seperti ini? Masih saja tak mau bersikap lembut padaku!” rutuknya geram. Ia menggerakkan jemarinya seolah tengah meremukkan sesuatu yang rapuh dan menimbulkan bunyi gemeretuk. “Apalagi setelah tadi pagi ... Ya Tuhan ... rugi bandar kalau gini, mah!” Naja menjerit-jerit tanpa suara. Kakinya menerjang kasur yang hanya membalasnya dengan pantulan. Melempar badannya sembarangan Naja mengamati langit-langit, lama sekali. Mengedip, pikirannya menyusup dalam dan dalam. Benarkah dirinya tidak tergoda merasai bibir itu lagi?


“Tidak ... tidak.” Naja mengangkat tubuhnya kembali duduk, tangannya dengan brutal menggosok bibirnya, menghilangkan rasa yang begitu penasaran ingin ia ulangi. “Aaahhh ... Excel kurang ajar,” Naja menelungkup dengan bantal menutup bagian kepalanya, ia mendekap telinganya kuat.


**


Menyikukan kedua tangannya yang basah di pinggang, Naja melangkah kembali ke kamar. Hatinya melompat, saat mendapati kamar sudah redup dan tempat tidur sudah terisi sesosok tubuh yang tengah memejamkan matanya. Kening Naja berkerut sembari terus melangkah ke sisi tubuh itu.


“Perasaan aku ngga lama, deh, di dapur?” telunjuk Naja menggaruk pipinya yang terasa gatal. Lekat ia memandang pria itu. Mencitra satu per satu isi wajah suaminya itu. Alis tebal tak begitu rapi, bibir tipis yang warnanya cukup merah untuk ukuran pria, kulitnya putih mulus yang ia yakini menurun dari papa kandungnya yang memiliki kulit yang sama, hidungnya mancung bahkan bangir, dan yah ... sayang dari semua itu adalah pria ini tak pernah tersenyum.


Tangan Naja gatal terulur di atas pipi pria itu, membelainya dengan punggung tangannya. Perlahan bermuara di bibir Excel. Mengusapnya berulang dan lembut, Naja membungkuk tanpa sadar.


“Astaga Dragon ...,” Naja membeliak kala menyadari dirinya terlampau ingin merasai suaminya. Akalnya kembali menghujamkan pedang pada naluri yang kian menggila. “Ini tidak benar ... kurasa aku sakit.” Naja menarik tangannya menjauh. Tetapi, tidak semudah itu Naja pergi.

__ADS_1


Sebab beruang kutub yang tengah mencoba tidur itu begitu terkejut dengan sentuhan Naja. Ia bisa mengabaikan suara berisik bibir cerewet itu, tetapi ia tak bisa mengabaikan sentuhan yang baru pertama ia dapatkan. Mikha? Gadis itu sebelumnya, Excel pikir gadis baik dan polos, ia tampak malu saat pertama kali Excel mengecup keningnya, tapi rupanya, rubah yang menggoyangkan ekornya tidak berarti rubah itu tidak menancapkan taringnya.


Ya ... sentuhan Naja terasa hangat merambat, dan lembut menelusup bagai butiran pasir ke dalam aliran darahnya, bergesekan hingga membuat darahnya panas. Tangan Excel menangkap pergelangan tangan Naja dan meraihnya dekat, rubuh dengan begitu dramatis di atas tubuhnya.


Naja yang membola, menahankan sebelah tangannya di atas dada Excel, menumpu dengan ujung sikunya. Menjaga agar bibirnya sehelai benang berjarak dari bibir tipis di depannya. Tetapi tentu saja, Excel segera menekan punggung leher Naja sehingga seutas benang jarak dengan sadar diri menyingkir, membiarkan dua manusia itu saling menyelami. Sementara Excel menepikan akalnya, membiarkan nalurinya meraja. Tentang bagaimana perasaannya setelah ini, biar esok yang menentukan, yang pasti ia ingin melakukan itu lagi dan lagi. Tentang bagaimana gadis ini mengamuk padanya nanti, ia bahkan tidak memikirkannya. Toh, ini salahnya ‘kan telah mengontaminasi pria dengan bibirnya? How dare her!


.


.


.


.


.


Lagiii ... masih apa adanya Temans ... abis subuh aku check lagi ya ... muup ... othornya kejar setoran😂😂 hajatan lagi marak ... 😂😂 dan isi amplop ngga ditanggung BPJS😂



Ini rencana Cover Babang Pecel yang baru ... ngga bagus yak😂😂😂 ... suka ngga? Silakan utarakan pendapat kalian yak😉


Kenapa diganti? karena ini ... em ... nganu ...👉👈 😂😂 enaknya bisik-bisik via inbox FB Aja yah ...😂😂


Fb : Misshel 😍✌

__ADS_1


Peluk online paling hangat dan erat ... dari Othor🥰🥰🥰😘😘😘


__ADS_2