
Melintasi kawanan wanita berbusana seragam itu dengan tenang dan bangga. Ia sesekali melempar senyum pada satu dua orang yang melambaikan tangannya di udara sekadar menyapa. Juga saat berpapasan dengan orang yang ia kenal, Excel memberi mereka sambutan hangat.
“Hentikan senyummu itu, Cel ... kau tadi salah makan, apa? Kenapa kau banyak tersenyum hari ini?” bisik Naja di sela senyumnya juga. Ia merasa lelah sebab bibirnya merentang terlalu lama, pipinya terasa nyeri.
Kokoh bagai karang, Excel tak mengindahkan suara berisik istrinya itu. Ia masih melingkarkan lengannya dengan intens di pinggang Naja. Ia sengaja mengajak Naja melintasi pasir alih-alih melewati karpet yang mulai kotor dengan pasir. Karpet itu tampak berantakan saking banyaknya kaki yang melintas. Heels runcing itu membuat karpet terdesak turun dan tak kokoh lagi.
Sengaja Excel membuat Naja berada diantara sorot perhatian tamu. Ia hanya perlu mendengar satu pujian saja. Sungguh ia berharap.
“Aku benci sekali padanya, lihatlah bagaimana ia begitu percaya diri berjalan di pasir. Apa dia sedang mengejek kita?”
“Entah dia itu memang brilian atau karena suaminya punya banyak uang untuk membayar orang untuk menyeting penampilannya itu, tapi aku akui dia sangat nyaman dan pintar. Tidak takut dicibir atau turun pamor karena tidak berpenampilan sama dengan yang lain. Aku mengaguminya.”
“Iya ... andai rasa percaya diriku setebal dia.”
“Ayolah ... meski pakai daster saja dia tetap akan percaya diri. Lihatlah siapa yang mengikat tangan di pinggangnya! Aku rasa aku mau berhenti jadi wanita.”
“Iya ... percuma saja tiap hari dandan dan merawat diri, yang laku sekarang yang polos dan gemesin begitu.”
Naja menegang saat ia mendengar dengan jelas ocehan bridesmaid itu. Ia berjalan dengan cepat mendahului Excel bahkan sedikit berlari. Membebaskan diri dari keposesifan suaminya dan baru berhenti saat hampir membentur antrean kecil di depan panggung.
“Dasar Excel licik ... sengaja dia membawaku melewati wanita-wanita itu.” Naja melirikkan ekor matanya ke kiri, seolah ia masih bisa melihat seringai kemenangan Excel meski ujung jasnya saja ia tak mampu menjangkau.
“Haaahh ...,” desah Naja seraya memejamkan matanya. “Kenapa aku bodoh sekali saat menyetujui taruhan konyol itu. Siaaal!" sambungnya dalam hati.
Ingin rasanya Naja menangis dan berguling-guling di sini. Ia tak mampu membayangkan kekejaman suaminya setelah ini. Pasti dia akan meminta yang aneh-aneh, pikirnya seraya membuka mata.
Sementara Excel benar-benar menyeringaikan bibirnya, bersorak pada kemenangan yang tak kasat mata telah diakui Naja. Kaburnya wanita itu menjadi pertanda bahwa taruhan dimenangkan olehnya. Ia melangkah dengan kedua tangan menyusup dibalik saku celananya dan senyum yang tak lekang dari bibirnya.
***
Bungalow yang berada di tepi kawasan pantai ini tampak sunyi dan tenang. Berada di bagian paling ujung, tempat itu menyajikan pemandangan indah senja kala. Gurat jingga nan memesona begitu teduh dipandang mata. Rupawan goresan alam, mengundang takjub bibir yang menyaksikannya.
__ADS_1
Sementara Excel mandi, Naja membaca ulang surel yang tersimpan di ponsel suaminya itu. Excel tak ragu membiarkan istrinya menjelajah ponsel yang isinya hanya surel bernilai uang dan sangat membosankan.
Mengeriutkan bibirnya, Naja keluar dari aplikasi yang menampilkan surel dari dokter Luna. Ia kecewa tapi entahlah ... mungkin karena baru menyadari efek perbuatan Excel padanya yang bisa membuat perutnya buncit, Naja masih bisa mengatasi kekecewaannya. Pun dengan Excel yang tampak tak bergurau ketika ia begitu santai menanggapi gagalnya pembuahan yang ia lakukan beberapa waktu lalu.
Jempol nakal Naja mulai bergerilya di atas layar ponsel suaminya itu. Ia mulai melihat roomchat, SMS, daftar kontak, dan yang membuat Naja melongo adalah aplikasi sosial media yang sama sekali tidak ia temukan di sana.
“Garing bener hidupnya, bagaimana dia bisa hidup tanpa media sosial? Dia ngga bakal tahu apdetan mak lambe dong ... ih ... gersang sekali hidupnya,” cibirnya jijik pada ponsel keluaran paling baru itu. Lantas kepala Naja miring diikuti manik matanya yang menyisih ke sudut. Tiba-tiba ide gilanya timbul, melintas, dan gatal untuk tidak diwujudkan.
Ia segera mengunduh aplikasi berlambang kamera dan membuatkan akun atas nama suaminya. Ia melakukan itu dengan cepat agar Excel tak sampai mengetahuinya. Ia secara berkala memeriksa pintu kamar mandi saat jeda loading melanda. Bibir wanita itu menggumamkan kata cepat secara berulang dan lirih seakan itu bisa mempercepat laju suksesnya pembuatan akun untuk suaminya.
Mr. X adalah nama yang ia sematkan pada akun itu. Dan tentu saja, sikap narsisnya tak bisa berhenti begitu saja, ia hanya membiarkan Excel mengikutinya saja. Naja tertawa jahat tanpa suara ketika menutup akun tersebut. Lantas ia, mengadu kedua telapak tangannya penuh kepuasan usai menyelesaikan misinya.
“Tumben mandinya lama?” gumam Naja seraya mencebikkan bibirnya. Suasana sore yang syahdu membuat Naja menguapkan udara dari dalam mulutnya. Meregangkan tubuh yang terasa penat, Naja melenguh dan beranjak dari tempat tidur. Menuntun langkahnya ke pintu yang berselaput tirai lembut yang bergoyang terbuai angin pantai. Kamar ini begitu terbuka, menerima suasana sore meneduhkan jiwa.
Aroma kering nan pekat tercium ketika Naja berdiri diujung beranda. Ia membenahi jubah mandi yang kebesaran membalut tubuhnya secara berulang. Namun, ketika ia membaui rasa pantai yang begitu kental, ia membiarkan penjagaan pada kain yang membalutnya mengendur. Ia begitu terbuai oleh keindahan pantai dan sore yang mendesirkan darah dalam tubuhnya. Ia akrab sekali dengan rasa yang membuatnya berdebar kencang sarat kedamaian seperti saat ini. Pernah terjadi sewaktu dulu, dulu sekali.
Wanita yang terbingkai bias jingga di ufuk itu, mengeringkan cairan tubuh yang baru saja ia pulihkan. Berulang kali, ia mereguk cairan dari bibirnya untuk sekadar membuatnya mampu berucap. Tercekat begitu lama.
Punggung membuai punggung, melahirkan desah yang begitu merdu. Angin mulai menepi saat buainya kalah oleh buaian cinta yang membius dua insan di sudut rindu.
“Hentikan Cel ... geli.”
Tanpa keberatan, Excel menyudahi jajahan yang ia lakukan. Terlalu indah untuk diabaikan. Lantas, ia menyusupkan lehernya di atas bahu istrinya. Menumpukkan pelipis yang sedikit bermanik peluh.
Keduanya terdiam sejenak, namun gelora dan jantung mereka berpacu dengan begitu cepatnya. Sementara Naja masih mengatur arah perahunya, Excel sudah siap mengayuh dayung ke muara. Tanpa kesabaran sedikitpun, ia memutar tubuh istrinya berhadapan. Waktu tidak akan datang dua kali dengan cara yang sama.
Ia menaikkan Naja dalam dekapannya, memosisikan Naja yang memekik, lebih tinggi darinya. Tanpa melepaskan tautan matanya, Excel memboyong madunya ke peraduan.
Di sana, ia bebas mengisap madu, dan tak akan membiarkan angin menyela dengan lancang.
Sentuhan surga kembali menyentuhkan pesonanya. Bermandi muram senja, mereka mulai saling menumpahkan rasa. Membiarkan hanyut dan membencah rindu.
__ADS_1
Tubuh Excel meremang saat ia merasakan ketakutan Naja di balik kelopak matanya. Tangan lembut Naja meremas lengannya dengan kuat. Bukan kali pertama, Naja menerima dirinya, tetapi wanita itu tampak takut saat Excel mulai mendesaknya.
“Maaf, Na ... jika aku masih menyakitimu. Aku sudah berusaha ...,”
Perlahan Naja membuka matanya, ia melihat sorot sayu di mata suaminya. Membasahi tenggorokannya, Naja melemaskan dirinya yang semula waspada. Membiarkan Excel menyelesaikan apa yang ia mulai.
“Lembutlah sedikit ...!” pintanya ragu.
Excel menarik sudut bibirnya. “Kurasa, aku tak bisa.”
Ia mengambil tangan istrinya yang bebas dan menyelanya. “Kau tidak tahu bagaimana rasanya lapar.”
Tak mau apinya padam, Excel menyusulkan setumpuk bara di atas tungku cintanya. Waktu terus memburu dan dia harus bergegas. Sungguh ia tak bisa lagi menunda.
Menggumamkan maaf berulang, Excel mendesak Naja hingga ke sudut. Hingga tak ada lagi suara selain pekik nyaring yang menggelitik. Lembut dan sabar seperti bukan dirinya. Hanya dia yang begitu kasar, mengoyak dan merampas.
Sampai ia melihat Naja sampai diambang batas, ia baru menyurutkan dirinya. Ia tak mau memaksa lebih lama lagi. Tak akan pernah cukup bila ia memperturutkan keinginannya. Mendesak Naja sekali lagi, dan ia mencapai batas paling tinggi kerinduannya.
Aneh ... ada rindu yang semakin bertambah-tambah, meski mereka telah bersua.
"Maaf, Na ... aku menyakitimu ...," bisiknya saat Naja meringkuk dibawahnya. Tampak lemah namun bermandi rona merah yang menyenangkan. Excel tak tahan untuk mengecupi pipi istrinya yang begitu menggemaskan. Menggantikan rasa bahagia dan kasih yang menyeruak di permukaan dirinya.
.
.
.
.
.
__ADS_1