Kekasihku, Asisten Adikku

Kekasihku, Asisten Adikku
Heartbreak Attack


__ADS_3

Setelah memastikan setiap anggota keluarga menyantap sarapan paginya, Naja mengambil nampan yang sudah terisi dengan dua cangkir kopi dan beberapa helai roti berlapis selai coklat hazelnut. Ia berniat memberikan menu sarapan itu untuk dua sopir yang berada di luar rumahnya. Dengan senyum terkembang penuh riang, Naja menuntun langkahnya melewati meja makan.


Excel yang melihat gelagat istrinya itu hanya diam tanpa berekspresi sedikit pun, tetapi sedetik kemudian ia menarik tubuhnya hingga berdiri. Membuat seluruh penghuni meja makan mengeluarkan tatapan heran.


“Biar aku saja ...,” Excel memblokir langkah Naja, membuat isi dalam cangkir yang masih berasap itu bergoyang dan nyaris tumpah.


Naja menghentikan paksa langkahnya, ujung nampan itu bahkan hampir menubruk perpotongan dada dan perut Excel. Kedua matanya membulat penuh, “Auwh ... kau membuatku terkejut saja, Cel ....” segera ia kedipkan kelopak matanya cepat.


Mata Excel mengamati wajah Naja, tangannya mengambil alih nampan, “kau duduk dan sarapan sana!” Kepala Excel bergerak ke samping, sebelum berbalik dan melangkah ke bagian depan rumah dimana kedua sopir keluarganya berada.


Naja membenarkan helaian rambut yang jatuh di sisi wajahnya. Sungguh ia ingin mengartikan itu sebagai sebuah perhatian suami kepada istrinya, tetapi dengan nada suara dan ekspresi sedatar dan sedingin itu, ia tak berani memaknai lebih apa pun yang Excel berikan padanya. Bibir Naja tergigit, entahlah, ia merasa pilu bila mengingat dirinya yang seperti hanya bersandar pada sebuah bayangan. Bayangan yang ia harapkan merangkulnya.


Naja menundukkan wajah, sejenak memejamkan mata, menghalau jauh-jauh apa pun yang membuatnya lara. Membuang napas yang menyesakkan itu secara perlahan, tak lupa, seutas senyum terangkai di atas bibirnya yang tak berpoles warna. Meski tak ada kejelasan, Naja tahu harus tetap tersenyum di depan mertuanya, sebab yang mereka tahu, putranya menikahinya karena cinta.


“Sayang ... kenapa masih berdiri di sini? Ayo ... segera sarapan.” Kira mengelus pundak menantunya, hingga Naja menoleh ke arahnya.


“Iya, Ma ...,” Naja merenggangkan senyumnya, sambil berlalu dari hadapan sang mama mertua. Ia tak mau berlama-lama larut dalam sebuah hal yang ia tahu dengan pasti kejelasannya.


Keceriaan Naja telah kembali saat ia menghadapi meja makan, mengambil sehelai roti yang ia olesi selai coklat, perpaduan rasa manis dan pahit dari coklat itu sepertinya cocok dengan suasana dirinya saat ini. Mungkin karena semalam ia hanya sedikit makan dan kesibukan pagi ini menguras tenaganya, Naja melahap sehelai roti itu dengan lahap.


**


Dua buah mobil sudah siap meluncur meninggalkan halaman rumah Excel, Naja melambaikan tangannya kepada mereka semua mengantarkan keluarga suaminya hingga sampai di ujung jalan yang berbelok.


Gestur tubuh Naja menunjukkan ia sangat lelah, tangannya memijat pundak dan embusan napas yang ia tahan hingga menggembungkan pipi tirusnya tampak terhempas keluar. Ia segera berlalu masuk rumah kembali setelah dirasa ia terlalu lama mengeluh. Antara lelah dan senang sebenarnya, jika di rumah mertuanya, Naja hanya sekedar membantu, tetapi di rumahnya sendiri, ia harus melakukan semuanya sendiri.

__ADS_1


“Apa ini sebuah keberuntungan? Kita tetanggaan rupanya, Na.” Suara yang membuat suasana hati Naja yang sudah sedikit goyah, semakin ambruk. Ia memejamkan mata, mengusir bayangan pria di belakangnya itu. Ingatannya selalu lekat dengan senyum pria itu saat ia mengejutkan dirinya, dulu.


Naja membalik tubuhnya pelan, ia harus kuat menatap mata yang pernah meluluhkannya, tetapi kini mata sendu itu membuatnya iba, Naja telah menoreh luka di hati pria yang tak kalah tampan dari suaminya itu. Andai, semua itu hanya andai ... Naja menggigit bibir saat membayangkan pria yang mengompresnya semalam adalah Ai, dan yang memberinya ucapan selamat pagi adalah pria ini. Sepertinya benar, kenyataan tak akan seindah khayalan.


Ai telah rapi dengan pakaian kerjanya, gagah dan semua tertata pas dan sesuai. Itulah gaya Ai yang selalu sesuai proporsinya.


“Kita berjumpa lagi—“


“Sekalipun kita berjumpa lagi atau kita bersebelahan rumah, itu tidak akan mengubah apa pun, Ai ... kita hanya orang lain!” tukas Naja dengan tatapan nanar, lelah, dan kesal. Menjauhkan diri dari Ai kini rasanya seperti mustahil.


“Bagiku ini adalah pertanda baik, Na ... dari sekian banyak perumahan, kenapa rumah ini yang kau pilih? Kau tahu, aku sudah membeli rumah ini sejak enam bulan lalu, dan ku rasa rumahmu ini baru ditempati beberapa hari?” Ai mengulurkan kepalanya penuh minat dan penasaran. Tatapannya seakan mengejek, seolah Naja lah yang sengaja mendekat padanya.


Naja mengentak kakinya lelah, “Please, Ai ... jangan usik kami, pergilah ... kau hanya akan membuat semua menjadi sulit.”


Ai mengangkat tangannya sejajar bahu, menggoyangnya pelan. “Aku tidak melakukan apapun, Na ... kau yang mendatangiku. Jadi, kali ini, kurasa kau yang mendekat padaku.” Sekali lagi kepala itu mengendik dengan lagak menyebalkan, ditambah seringai yang terkesan berbangga diri membuat Naja ingin kabur ke planet Mars saja. Ai sudah seperti lintah saja.


Derap sepatu yang beradu pelan dengan lantai membuat Naja melegakan kepalan tangannya, ia segera berbalik menatap suaminya yang sedang berjalan tanpa ekspresi melintasi teras. Manik matanya sejenak berlarian saat sebuah ide konyol terbersit. Beberapa detik pikirannya menimbang, untung rugi tindakannya tersebut. Ekor matanya melirik Ai yang tampak merana.


“Berangkat sekarang, Yang?” Naja berlari kecil menghampiri Excel yang menautkan kedua alisnya. Semakin dalam tautan alisnya beradu saat kedua tangan Naja melingkar di pinggangnya, kepala Naja menyandar di atas dada yang berdegup kencang.


Kelopak mata Excel melebar perlahan, ia merespons berlebihan meski dengan sentuhan lembut. Belum reda keterkejutan, kebingungan, dan bagaimana menyikapi keadaan ini, Naja telah memburunya dengan kecupan ringan. Di atas bibirnya yang langsung mundur ke dalam.


Masih dalam mode bingung, tiba-tiba ada sesuatu yang merajai dirinya, mendorongnya untuk membiarkan saja semua itu terjadi. Perlahan, Excel menggerakkan bibirnya, menyesap irisan bawah yang hanya terasa hangat dan basah.


Naja membulatkan penuh matanya, kemudian mengerjap. Ia tak percaya apa yang baru saja ia lakukan akan membuat Excel salah paham. Bergegas, Naja menarik tubuhnya menjauh, “Sayang ...,” Naja mengalihkan telapak tangannya ke atas dada Excel yang teraba padat, membuat Naja gemetaran sendiri. “Malu dilihat tetangga ...,” bisik Naja yang ia yakin Ai pun bisa mendengarnya. Manik matanya bergerak ke arah Ai dramatis diikuti senyuman yang tampak ragu-ragu terkembang.

__ADS_1


Tersenyum sinis, dengan kepala berpaling ke arah berlawanan, Excel membatin. “Sudah kuduga ....”


Tetapi semua sudah terlanjur, ia tak bisa mundur apapun alasannya, sehingga ia kembali mendekatkan wajahnya, menyentak tubuh Naja mendekat, dan menghadiahi istrinya yang seenaknya ini sebuah kecupan yang cukup lama.


“Aku berangkat dulu ... kau istirahat saja, semua piring kotor sudah kucuci.” Berucap sembari merapikan rambut istrinya, Excel tersenyum penuh arti. “jangan terlalu lelah, itu tidak baik untukmu.” Sebelah tangan Excel kembali meraba pinggang dan menariknya menempel di atas tubuhnya. Kecupan kembali mendarat di atas poni yang baru saja ia benari.


“Bye, Yang ...,” Excel menarik dirinya menjauh. Mengayunkan langkah menuju mobilnya terparkir.


Naja merasakan tubuhnya gemetar, lututnya terasa goyang dan menggigil. Ia terlalu syok, tetapi ia masih melambai dengan senyum hangat hingga Excel menekan klakson agar Ai yang masih terpaku di ujung halaman segera menyingkir.


Ekspresi Naja surut saat bertatapan dengan Ai yang semakin merana, tetapi inilah yang terbaik. Dirinya adalah wanita dengan suami yang tak pernah berniat membebaskannya.


“Maaf, Ai ... tidak seharusnya kau mengejarku, bukan aku membencimu, tapi kau harus tahu, selama orang tua kita tidak menginginkan bersatunya kita, ku rasa tidak ada gunanya kita bertahan. Dan aku, sudah bertekat untuk tetap di sisi suamiku. Jangan tanyakan alasannya, karena alasanku cuma satu, yaitu keinginan orang tuaku.”


Naja terus bergumam dalam hati, ia berbalik masuk, mengabaikan Ai yang terlihat lunglai. "Maaf, Ai ...." Tangan Naja menutup pintu, samar ia melihat Ai yang berjalan membelakangi nya. Hatinya makin merana kini, hingga akhirnya ia menyandarkan punggungnya pada daun pintu. Menangis, sampai tubuhnya merosot menyentuh lantai. Ia benar-benar tidak tahu harus merasakan rasa yang mana. Terlalu banyak campuran warna dalam hatinya, sehingga membuatnya bingung.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Besok—Insya Allah— saya minta bantuan temen-temen untuk mengomentari cover baru babang pecel ya—kata kak dewi— 😂😂


Oh ya ... maaf bab ini tanpa revisi lagi, saya baru sampai rumah, Insya Allah besok pagi saya revisi lagi🙏😍 sudah saya beri keterangan pada judul ya😘😉


__ADS_2