
Suasana dalam kabin mobil terasa hening, semenjak Naja mengatakan apa yang ia rasakan saat bertemu Tanna. Memang, berulang kali ia meyakinkan bahwa semua bukan salahnya, tetapi sepertinya, Naja tidak semudah itu menggulung rasa bersalahnya dan melemparkannya ke luar dari dalam hatinya. Setiap orang tidak sama ‘kan dalam mengatasi suasana hatinya?
“Sudah ya, jangan dipikirkan lagi!” titahnya pada sang istri yang masih setia dengan lamunannya yang begitu panjang. Bahkan ia tak memberi jeda untuk sekadar menoleh atau memperhatikan jalan. Ia hanya diam dan mengawangkan pandangannya yang begitu kosong ke arah dashboard mobil.
Desahan napas begitu keras keluar dari bibir wanita itu, sejenak ia menarik tatapannya pada Excel yang fokus pada laju kendaraan yang tengah mereka tumpangi.
“Kau tidak tahu rasanya menjadi penikung gebetan teman, sih ... jadi kau tidak mengerti apa yang aku rasakan sekarang,” ucap Naja terdengar jengah dan kesal pada suaminya yang mengucapkan hal itu berulang-ulang.
“Aku bukan penikung, malah perebut pacar orang, berat mana coba?” gurau Excel yang membuat Naja merentangkan bibirnya, mau tidak mau. Lantas, tamparan yang tak begitu keras mendarat di lengan bergelombang miliknya.
Melihat itu, Excel mengulurkan tangannya mengusap kepala Naja. “Dari dulu aku tidak menyukai Tanna, terlepas saat itu aku masih memikirkan Mikha atau memang sebenarnya aku terlalu naif pada perasaan yang tidak begitu jelas itu. Meski bukan kamu yang bersamaku, aku tetap tidak bisa menyukai Tanna sebesar dan sekeras apa dia berusaha. Apalagi sekarang saat aku sudah menikah denganmu, meski tak ada cinta sekalipun, aku tetap tidak akan melepaskanmu.” Sedetik, Excel melirik Naja, menunggu bagaimana reaksi wanita itu. Tetapi hingga beberapa saat kemudian ia melanjutkan ucapannya saat Naja hanya diam seperti sedang menanamkan ucapan Excel kedalam benaknya.
“Niatku pada awalnya adalah balas dendam padamu karena kamu terlalu usil padaku dengan menjodohkan Tanna denganku, tapi yang ada malah aku yang terjebak sendiri karena mama melamarmu untukku. Dan lihat, aku semakin terjebak karena mulai menyukaimu.” pungkasnya dengan senyum penuh ejekan pada dirinya sendiri.
“Kenapa kau sekarang pintar sekali ngegombal? Pasti Mas Rega yang mengajarimu seperti ini?” Naja menyipit tajam melirik suaminya.
Excel tergelak sembari terus memperhatikan lajunya, “Hanya kau satu-satunya wanita yang mendapatkan kehormatan mendengarkan gombalanku!”
Excel mengerling Naja dengan senyum lebar dan penuh percaya diri. Terlebih Naja tampak memajukan bibirnya yang semakin membuat Excel tak sabar untuk sampai di rumah dan menerkam istrinya itu. Entah kapan terakhir kali mereka melakukannya, Excel sudah lupa. Membasahi tenggorokan yang terasa mengering, Excel kembali menelan buih-buih kecil yang mulai nakal menggelitiki nalurinya.
***
Tiba di rumah, Excel tak sabaran untuk memarkirkan mobilnya dengan benar, dengan segera ia turun dan mengekori Naja yang melenggang menuju pintu. Namun semuanya urung tatkala suara seorang wanita menyapanya dari ujung halaman.
“Selamat malam ...,” sapa wanita itu dengan sebuah kotak berada di tangannya.
Excel dan Naja menoleh serempak lantas mereka saling mengadu pandang. Saling bertanya apakah mengenal wanita yang tengah tersenyum dan berjalan mendekat ke arah mereka. Secara berulang mereka bergantian menatap wanita itu dan mengadu lagi tatapannya, hingga Excel mengangkat bahu, Naja baru tersenyum dan menyambut sapaan wanita itu.
“Malam juga, Mbak ... cari siapa, ya?” tanya Naja hati-hati sembari melangkah mendekat.
__ADS_1
“Perkenalkan saya Sheila, Mbak ... saya tinggal di rumah itu,” ucap Sheila sembari memajukan dagunya untuk menunjukkan rumah yang ia maksud.
Naja dan Excel mengikuti kemana arah pandangan Sheila. Sementara Naja membola, Excel malah mendesahkan napasnya. Tentu saja ia merasa tak asing dengan wajah Sheila, sebab ia telah melihat Sheila saat melangsungkan pernikahan beberapa waktu lalu. Ia adalah mempelai Syailendra. Bibir Excel merentang tanpa bisa dicegah.
“Saudaranya Ai ... ma-maksudku Syailendra?” Naja mengerjap cepat, ia tak mengerti apa maksud Sheila.
Akan tetapi belum sempat Sheila menjawab, Excel menyela percakapan mereka.
“Maaf Nona ... kami baru sampai setelah pulang dari bekerja. Apa ada yang bisa kami bantu?”
“Ah ... tidak ada, hanya ada sedikit kue,” Sheila mengulurkan kotak tersebut, lantas dengan canggung ia menunduk untuk undur diri.
“Maaf sudah mengganggu,” ucapnya.
“Terima kasih kuenya, Nona ... datanglah lain waktu. Maaf kami sangat lelah hari ini.” Usir Excel dengan sopan. Membuat Sheila tersenyum canggung sebelum berbalik meninggalkan teras rumah tetangga barunya.
“Kok diusir, sih, Cel ... aku ‘kan belum tahu siapa dia?” protes Naja yang sedikit bingung dengan tindakan Excel. Ia juga merasa tidak enak hati karena suaminya mengusir tetangga baru.
***
Tangan Excel mendorong pintu depan yang tak tertutup sempurna dengan sikap waspada. Ia membuka pintu hati-hati dan mengulurkan kepalanya ke dalam ruangan paling depan dari rumah ini. Berdebar kencang sebab rumah sudah benderang namun tampak sepi. Pikiran pertamanya adalah rumahnya telah di bobol maling, sehingga iapun melangkah dengan hati-hati layaknya detektif.
Namun, ia segera menegakkan tubuhnya saat samar ia mendengar suara adiknya dari salah satu bilik yang ada di rumah ini. Bernapas lega, ia kembali melangkah dengan normal ke arah suara berasal.
“Kalian dapet kunci dari mana?” tanyanya pada dua orang yang sedang duduk di meja bar dapur sembari menyantap makanan yang tampaknya baru mereka pesan.
Seketika dua orang yang asyik menekuri isi dalam kotak makanan itu segera menoleh dengan tawa yang menghiasi wajah mereka.
“Kakak sudah pulang?” satu persatu mereka bangkit dan menyambut kakaknya dengan mengulurkan tangan. Bermaksud memberikan punggung tangan itu sebuah sapaan dan sambutan yang sopan.
__ADS_1
Excel melihat ini sebagai kebiasaan aneh yang seumur hidup mereka tak pernah dilakukan. Tanpa menyambut uluran tangan kedua adiknya, Excel berkata.
“Main pees dan begadang tidak diizinkan. Jam malam rumah ini sampai jam sepuluh malam. Tidur dan belajar yang diutamakan ...,” tegas dan dingin, Excel menekankan setiap perkataannya. Penuh peringatan.
Kedua bocah itu menarik tangannya dan mengalihkannya ke sisi kepalanya. Mengeluarkan tawa yang menyiratkan ketakutan dan kecewa.
“Ayolah Kak ... jam sebelas ya ... setelah itu kita akan tidur, suer. Eh janji ...,” pinta Agiel. Prinsipnya, lebih baik mencoba dan gagal daripada tidak melakukan apa-apa dan kita hanya akan terus penasaran.
“Malam, Kak ...,” sapa dua orang wanita muda yang tengah menuruni tangga dengan saling merangkul. Mereka merentangkan senyum ceria, senada dengan gaun tidur mereka yang berwarna kuning cerah dengan gambar animasi dan yang pastinya Naja juga akan mendapatkan baju yang seperti itu. Sungguh kekompakan yang akan menyakiti mata.
Excel mengesah penuh kecewa. “Kalian di sini juga?” Perasaannya mulai gelisah dan diliputi sesuatu yang sepenuhnya tidak mengenakkan.
“Iyalah ... kami kangen Naja, Kak,” jawab Jen enteng. Diikuti Ranu, mereka berdua bergantian merangkul kakaknya yang sepertinya sedang terguncang melihat kehadiran saudaranya yang teramat mendadak.
“Jen? Nanu?” pekik Naja dari ujung ruangan. Ia membulatkan matanya dan berlari sesegera mungkin menghampiri kakak beradik itu.
Langsung saja, ruangan mendadak riuh dan gempita dengan suara nada tinggi ketiga orang itu. Seakan lelah hilang, muram pun pergi. Yang ada hanya kesenangan dan tawa saat tiga wanita itu berkumpul. Menyisihkan tiga pria lain yang mundur teratur dengan ekspresi malas.
“Aku mandi dulu ... setelah itu kita seru-seruan.”
Ucapan yang berhasil membuat Excel kembali kehilangan sisa tenaga dan juga harapan yang sudah memucuk. Ia pasti akan tersisih lagi.
.
.
.
.
__ADS_1
.