Kekasihku, Asisten Adikku

Kekasihku, Asisten Adikku
Mencintai Sakit Hati


__ADS_3

“Ai ...?”


“Ayo pulang ...,” Ai menyejajarkan diri di samping Naja, namun tetap berjarak. Ia tahu untuk menjaga jarak dari Naja, jika ia tak ingin Naja lari darinya. Kepala Ai sedikit tertarik ke belakang, “Ngga malu dilihatin banyak orang kalau membuat keributan di sini?” bisik Ai ketika melihat Naja melebarkan kelopak matanya penuh.


“Ai ... please ...!” mohon Naja dengan mata berkaca-kaca, ia tak tahu lagi harus bagaimana menghadapi Ai, yang menurut Naja ini agak berlebihan. Tetapi Ai—tidak peduli— hanya membuka tangannya mempersilakan Naja melangkah terlebih dahulu.


“Kita bicara lagi di luar, oke ...!” ucap Ai tak terbantahkan, ia mengambil keuntungan dari situasi yang sedang memihak padanya, sebab pegawai salon masih memperhatikan mereka berdua.


Naja mengembuskan napas, percuma saja menghindari Ai sekarang. Sesuatu yang belum pernah ia lakukan selama ini, yang ada, dia selalu berharap untuk bersama Ai. Di kawal ketat oleh Ai, Naja melangkahkan kaki keluar dari salon tersebut.


Ai menatap belakang kepala Naja dengan ekspresi tak terbaca, ia hanya mau terus melihat Naja, melihat cintanya. Sesal begitu kuat mencabik hatinya, ya ... seharusnya ia kini telah berbahagia dengan Naja di suatu tempat, tempat yang tak bisa ditemukan oleh siapapun.


“Pandu aku menuju rumahmu, Na ...!” pintanya seraya memutari badan mobil putih miliknya untuk membuka pintu mobil untuk Naja, sementara Naja dengan penampilan barunya, hanya mematung menyaksikan tingkah Ai yang selalu manis seperti biasa. Dulu, Ai mengulurkan tangannya untuk membantu Naja naik motor sport miliknya. Kehujanan, kepanasan, tetapi Naja tak pernah mengeluh, bersama Ai ia selalu bahagia. Bahkan ketika berdesakan di angkot—saat motor Ai tersita oleh Bu Linda—Naja tak pernah keberatan. Ai bahkan waktu itu bisa saja membawa mobil milik papanya, akan tetapi, ia memilih motor yang masa itu lebih keren dibandingkan mobil.


“Na ... suatu hari, kita akan duduk berdua di dalam mobil mewah milikku, ngga kepanasan, kehujanan, ataupun berdesakan seperti ini,” janji Ai saat melindungi Naja dari desakan penumpang lain, waktu itu.


Sambil tersenyum Naja menanggapi janji yang kala itu tak lebih dari sekedar bualan anak SMA tingkat akhir, “Aku yakin kau dan aku saat itu sudah menjadi orang yang berbeda ...,”


“Kau yang berbeda ... aku tidak, aku tetap Ai yang selalu menyayangimu,” pungkas Ai dengan senyum meyakinkan seperti biasa.


Naja menundukkan kepalanya, mengingat masa itu, air matanya kembali terburai menggenangi wajah ayunya. Dia ingat betul saat itu, ada segurat keraguan akan ucapan Ai ... mengingat usia mereka masih terlalu muda untuk mengucapkan sesuatu yang serius yang berkaitan dengan masa depan. Ia sama sekali tak menyangka Ai benar-benar menepati ucapannya. Meski dalam hati Naja, ia masih sangat mencintai Ai, tetapi status dan restu yang membuat mereka kini berbeda. Iya ... Naja yang berbeda, sedangkan Ai ... tetaplah Ai yang menyayanginya.


Sentuhan di pundak Naja memaksa tangan Naja menyeka jejak air matanya. Ia berpaling. “Aku akan mengganti uangmu ... dan kita tidak usah bertemu. Anggap saja kita tak pernah saling mengenal.”


Ai tersenyum sinis, mendengar ucapan ketus dari Naja. “Kau kejam sekali, Na ... bagaimana bisa aku melakukan itu, hem?” Ai menempatkan diri di depan Naja. “Jika kau bisa untuk tidak menangis atau membuang muka di depanku ... aku akan melakukan apa yang kau minta, tetapi jika ada satu butir saja air mata yang keluar dari sudut matamu atau kau berpaling saat kita berpapasan, aku akan terus begini ... tidak apa-apa aku kesakitan setiap hari, tapi aku masih yakin kita memiliki perasaan yang sama.”


Telak dan buntu ... rasanya Naja terkungkung oleh perasaan Ai, perasaan yang semestinya tidak boleh lagi ada, tetapi Ai benar, Naja tidak bisa menyangkal ... bahwa ketika ia menelisik lebih dalam, cinta untuk Ai masih ada. Namun, Naja sudah bertekat untuk bertahan dengan pernikahan yang entah bagaimana nasibnya nanti, ia tak mau menduga terlalu jauh.

__ADS_1


“Ai ... kumohon mengertilah ... kau hanya akan menyulitkanku, perasaan apapun yang kita miliki di masa lalu tidak akan bisa mengubah keadaan saat ini.”


“Bisa ... jika kau mau terus membuat rasa itu selalu ada dan hidup dalam hatimu ...,”


“Tetapi aku tidak mau, Ai ... itu sama halnya dengan aku menduakan suamiku!”


Ai menghela napas, “Na ... kau membunuh perasaanmu dan memaksa untuk mencintai suamimu, itu sudah pasti membuat suamimu kecewa, pria tidak suka bila wanitanya terpaksa mencintai dia.”


Naja membisu, terpojok, dan semua yang Ai ucapkan adalah benar. Kelopak mata Naja memejam begitu rapat seiring hatinya yang tengah menekan perasaan yang begitu kuat bergejolak. Naja memaksa matanya terbuka, setelah beberapa saat, “Aku sama sekali tidak terpaksa atau memaksakan perasaanku ... aku hanya ingin kita tak lagi berhubungan. Aku dan kamu sudah tidak terikat dalam hubungan apa pun ... kita adalah hanyalah orang lain.” tegas Naja.


“Baiklah ... Orang‐Lain,” Ai menekankan kata orang lain, “biarkan Orang Lain ini mengantarkanmu ke tempat tujuanmu, anggap saja aku kebetulan menemukanmu, Orang Lain!” Ai menatap tajam Naja yang masih tak bergeming menatapnya. Ia mengerti Naja kesal karena ulahnya, ia tahu semakin ia memaksakan dirinya pada Naja, Naja akan semakin menjauhinya. Ia mundur satu langkah untuk melompat dua langkah lebih dekat. Dan itu yang akan dia lakukan sekarang.


“Aku memaksa, Orang Lain ... ku pikir panggilan dari ponselmu memintamu segera datang.” Ai menarik manik matanya ke arah tas yang sejak tadi menyilang di dada Naja. Dering ponsel memang terdengar berulang-ulang sejak tadi tetapi Naja tak menghiraukannya. Tak sabar, Ai mendorong tubuh Naja menuju mobil dengan langkahnya, ia sama sekali tak menyentuh Naja.


“Ingat Ai ... ini yang terakhir!” tegas Naja dengan sorot mata penuh peringatan, sebelum memasukkan tubuhnya ke dalam mobil.


**


“Terima kasih, Ai ...,” ucap Naja datar tanpa menoleh sedikitpun pada Ai ketika mereka sampai di depan rumah mode Sam. Ia melepas sabuk pengaman dan meraih pintu, setelah Ai tak jua membalas sahutannya.


“Sama-sama, Nona ...,” Ai tersenyum singkat, wajahnya tampak tak acuh pada Naja. “Tidak perlu berterimakasih, Nona ... saya hanya membantu anda, tutup pintunya setelah anda turun, dan bergegaslah ... saya sedang terburu-buru ....”


Naja menghela napas panjang, ia segera turun, menutup pintu dan menjauh, tetapi ia masih menatap kepergian Ai hingga lenyap dari pandangan.


“Mantan pacar?” suara lirih Sam membelah telinga Naja.


Naja berjingkat, “Mas Sam ...!” ia menoleh dengan mata membola sempurna.

__ADS_1


Sam terbahak-bahak melihat ekspresi Naja yang begitu kesal, “lo lucu sekali kalau sedang marah dan kaget begini ...!” Sam mengulurkan tangannya hendak mengacak rambut Naja. “eh ... tunggu,” jemari Sam menggantung di depan kening Naja, lantas Sam mengelilingi Naja sembari memindainya penuh. Naja tampak dewasa dengan penampilan rambut sebahunya.


“Kenapa, Mas?” Naja pun mengikuti Sam dengan memutar kepalanya.


Sam menggeleng, “ngga ada ... lo ngga seperti biasanya aja ....”


“Aneh ya, Mas?” Naja melihat dirinya sendiri, bahkan ia menarik ujung dress bermotif sulur berbunga kuning, hingga mengembang, ia yakin saat ini ia tampak aneh dengan rambutnya yang lurus.


“Ngga juga ... ayo ...!” Sam mematahkan kepalanya ke samping.


Kening Naja berkerut, “kemana?”


Sam yang sudah berjalan menuju mobil, berbalik lagi. “Ketemu Tristanlah ... makanya kalau di telpon tuh, di jawab.”


“Tapi Mas, aku belum selesain apa yang dia minta kemarin."


“Kita akan membicarakan1 hal lain dengannya, sudahlah ... ayo berangkat, Tristan tidak suka menunggu.”


Naja segera mengekori Sam yang sudah terlebih dahulu masuk kedalam mobil, benar, Tristan bukan orang yang suka membuang-buang waktu untuk hal apapun. Meski ia tak sepenuhnya mengerti tujuan bertemunya mereka kali ini.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2