
Makan malam keluarga Dirgantara terasa sangat hangat seperti biasa. Saling berbagi perhatian dan kasih sayang. Naja yang sebenarnya enggan hadir di meja ini, mengambil posisi terjauh dan di luar jangkauan Excel. Meskipun pria itu tampaknya tak peduli dengan kehadiran Naja.
Ruangan seketika ramai dengan bunyi sendok dan piring berdenting, Si Kembar yang saling melempar seloroh, Ranu yang tampak begitu gembira dengan kedatangan Naja sama sekali enggan berjauhan. Bahkan Ranu memilih duduk bersebelahan dengan Naja. Ekor mata Naja mencuri lirikan pada sejoli yang tampak mesra di ujung meja. Sesekali tampak Kira menawari Harris menu makanan yang mungkin saja diminati suaminya.
Excel memulai makan dalam diam, tetapi manik matanya tak lepas memperhatikan Kira yang seperti kesulitan menelan makanannya hingga membutuhkan bantuan air untuk melegakan tenggorokannya. Berulang kali Kira menyodorkan lauk atau sayur kepada Harris. Excel tahu, Mamanya bersikap seperti itu karena kepergian Jeje. Mengalihkan pikirannya dengan banyak bicara dan enggan menyendiri.
"Malam semuanya!" Sapaan khas dari seorang wanita yang membuat Excel begitu gusar, membuat semua orang menghentikan kegiatannya, atensi sepenuhnya tertuju pada Tanna. Hanya Excel yang sama sekali tak menoleh bahkan meliriknya.
"Mati aku," batin Jen. Tangannya menepuk kening sambil berpaling dari Excel yang tepat duduk di sampingnya. Jen merasa Excel sedang menyorot dirinya dengan sinar X-ray. "Bagaimana aku bisa lupa Tanna akan kemari?"
"Tanna Sayang, ayo sini gabung!" Kira berdiri menyambut Tanna yang masih terpaku di ujung ruangan. Setelah menautkan pipi, Kira mempersilakan Tanna dengan isyarat tangan.
"Makasih Tan ... kebetulan Tanna belum makan!" Tanna tersenyum manis sekali. Memang, gadis berdarah Timur Tengah itu terlihat sangat cantik memesona di setiap kehadirannya. Melenggang dengan anggun dan ekspresi penuh kepuasan. Bahkan tangan wanita itu mengepalkan tinjunya di depan dada seperti sudah memenangkan sebuah kompetisi.
Dan naas nya Excel melihat itu semua. Sudut tajam mata Excel mengawasi ketiga wanita itu. Tanna mengambil tempat duduk bersebelahan dengan Naja dan langsung saling menautkan pipi dengan gembira, meski tak bisa dipungkiri, Naja tampak memutih dibalik senyumnya. Dan Jen, membeku seakan kursinya mengandung mantra Petrificus Totalus. Sudut bibir Excel tertarik, menakutkan seperti menebar ancaman.
"Semua sesuai perhitunganku, aku datang di saat yang tepat. Semoga kali ini Excel memperhatikanku!" Batin Tanna saat duduk di kursi dan langsung membalik piring.
Tanna berdehem, "Kak Excel, tolong ambilkan nasi di depanmu, aku tak mampu meraihnya!" Ucapan Tanna sangat nyaring menggema, namun Excel hanya fokus pada makanannya seolah tuli.
Harris dan Kira saling pandang melihat kelakuan Excel. Sepengetahuan mereka-tentu Jen yang memberitahu- bahwa Tanna dan Excel terlibat perasaan tarik ulur. Deheman dari Kira menyadarkan Excel. Seketika tangannya berhenti menyendok makanan yang tinggal beberapa suap lagi.
Dengan malas Excel mengambil nasi dan menyodorkan kepada Jen.
"Kak, Tanna yang mau nasinya, bukan aku!"
"Kau kan lebih dekat dengannya!" Sahut Excel datar. Kentara sekali laki-laki itu enggan meluapkan amarah yang sudah muntab diujung bibir.
"Kakak tidak lihat aku masih makan!" Jen menoleh membawa tatapan tajam, namun begitu melihat Excel dengan manik hitam setengah menggantung, Jen langsung ciut. Apalagi sekilas dia melihat perhatian kedua orangtuanya mengarah kepada mereka.
__ADS_1
Buru-buru diraihnya wadah berisi nasi dengan tangan kiri. "Tanna, makanlah yang banyak! Kau mau diambilkan apa?"
Excel kembali menghadapi piringnya. Bersiap makan lagi, akan suara Tanna membuatnya memegang sendok dan garpu dengan erat.
"Sosis teriyaki sama ayam pedas manis!"
"Kak–"
"Kau yang menawarkan, kenapa aku yang harus repot?" Bentak Excel pada adiknya. Sontak semua membeku. "Kali ini ide siapa?" Excel bergantian melihat ketiga wanita ini.
"Maksud Kakak apa?" Jen memberanikan diri melawan Excel, "Kenapa Kakak begitu marah? Kebetulan saja menu yang diminta Tanna di depan Kakak!"
"Jen benar, Kak! Kebetulan saja makanan itu di depanmu!" Suara Kira terdengar lembut menengahi pertikaian mereka.
Excel merapatkan giginya tanpa melepas pandangan dari Jen. Geram. Jen selalu menang saat ada Mama yang membelanya. Merasa tersudut, Excel terpaksa menuruti kemauan Jen. Bahkan Excel melihat senyum samar penuh kemenangan di sudut bibir Jen.
"Awas saja kau Jen. Akan kubalas kau hingga tak berkutik!" Batin Excel menahan geram. Aziel yang juga kebetulan bisa menjangkau ayam pedas manis segera bangkit dan menyodorkan pada Tanna. Dia merasa tak enak hati melihat kakaknya bertengkar di meja makan. Pun Excel yang segera menyadari tingkah berlebihannya, juga menggeser piring sosis teriyaki lebih dekat ke arah Tanna.
Tanpa menjawab Excel kembali menghabiskan makan malam, meski sudah tak berselera. Apalagi ekspresi kemenangan di wajah Tanna yang membuatnya semakin kesal. Naja sepertinya waspada melihat ekspresi Excel yang begitu mengerikan sehingga dia memilih diam sebagai cara paling aman menghindari masalah.
Naja meneguk air putih yang masih setengah penuh, bersamaan dengan Excel yang juga melakukan hal yang sama. Tanpa sengaja, tatapan Naja dan Excel bertemu, dan saling mengunci satu sama lain beberapa jenak.
Namun, Naja segera memutus kontak mata keduanya. Tatapan berupa lirikan tajam itu seakan mengoyak dada, mengucurkan darah segar. Sehingga Naja meremas dadanya, dengan gerakan samar. Ugh.
***
Seperti biasa, usai makan malam mereka menyempatkan diri berkumpul di ruang tengah, biasanya hanya Excel, Harris dan Kira saja yang berbincang. Tetapi kali ini, Tanna ikut bergabung dan langsung duduk di sebelah Excel. Jen yang sengaja menunggu Naja yang masih membantu mengemas meja makan bergabung paling akhir.
Melihat hal ini, bibir Jen yang memang suka ceplas-ceplos menyeletuk dengan santainya. "Kakak ngga suka banget dideketin Tanna? Nanti malah jodoh loh kalau benci duluan ...."
__ADS_1
Excel yang sudah terlalu lama menahan geram kini semakin muntab dengan celetukan Jen. Apalagi di hadapan orang tuanya, tentu Excel sangat malu digoda seperti itu oleh adiknya.
"Cel, benar kamu dan Tanna ada hubungan?" Harris yang semakin penasaran dengan sikap Excel memilih bertanya langsung hingga mendapat kejelasan. Lagipula mereka sudah saling kenal sejak lama. Jika benar tentu ini kabar baik, agar Kira tak lagi merisaukan Excel yang susah move on dari Mikha.
Excel mendengus sebal, "Tidak Pa ... Excel tidak punya hubungan apa-apa dengan wanita itu."
Ucapan Excel sekali lagi mematahkan hati Tanna. Wanita itu meremas gaunnya. Harapannya sirna secepat mengedipkan mata. Rencananya mendapatkan Excel melalui orang tua Excel gagal sudah. Bahkan sebelum Tanna mengucap sepatah kata perihal perasaan yang dipendamnya selama ini.
"Tapi kata Jen kalian saling menyukai hanya saja masih tarik ulur," Harris mengerutkan keningnya.
"Mati aku," Jen mengigit bibir sambil mendesis. Lupa jika dia pernah mengatakan hal itu pada Papanya. "Bodoh Jen ... kamu bodoh. Pasti Kakak akan mencekikku kali ini." batin Jen.
"Tidak ... aku tidak menyukai dia," jawab Excel datar.
Tanna meremas dirinya semakin ketat. Bibir Tanna mengatup rapat, "Sebegitu bencikah kau padaku, Cel?"
"Nak ... lalu siapa yang kamu sukai?"
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.