
Suasana masih begitu ramai, Harris dan Kira masih menemui beberapa pelayat yang sebagian besar adalah warga sekitar. Jen dan Ranu mengapit Naja, duduk pada kursi yang tersedia. Merebahkan kepala mereka di pundak Naja, tampak masih terisak, sesekali mereka mengusap sudut matanya. Naja, meski matanya juga tak pernah kering, tetapi Naja mencoba untuk kuat. Bibir wanita itu tak henti mengucapkan kalimat penghiburan.
Si kembar juga masih terpaku di sisi makam, bersama dengan Excel yang melakukan panggilan video dengan Jeje, yang tidak bisa pulang. Mereka terlalu dekat dengan sang kakek yang sebelum sakit memang lebih sering menghabiskan waktu dengan cucu-cucunya.
Di antara pelayat yang berjubel, ada dua orang yang tiba-tiba membuat Naja tak henti menguntit mereka dengan pandangan ingin tahu. Naja bahkan melirik mertuanya yang sepertinya tidak menyadari akan kedatangan dua orang itu.
“Mungkinkah mereka ingin berbaikan dengan keluarga ini, sehingga mereka jauh-jauh datang kemari?"
Pria dan gadis berambut ikal itu mendekati Excel yang terkejut akan kedatangan mereka. Naja tak ingin melihat, tapi jelas, imajinasinya mengatakan bahwa dua orang itu akan saling memeluk. Wajah Naja berpaling, ini tak adil baginya. Sebab jika Excel kembali dengan Mikha, dialah yang paling dirugikan. Apalagi jika Excel berbuat buruk padanya.
“Aku harus melindungi diriku dari pria itu. Aku tidak mau Ai menolakku karena menganggapku bekas.” Naja bergidik, kilas-kilas adegan khas suami istri tiba-tiba melintas.
“Jangan sampai Excel menyentuhku.” Naja merapatkan bahunya sehingga Jen dan Ranu bangkit dari sana.
“Maaf Mbak Naja, pasti lelah ya menahanku?” Ranu buru-buru mengusap pundak hingga lengan Naja, melegakan pegal yang mungkin saja Naja derita.
“Ngga kok ... tadi ada serangga apa nyamuk yang hinggap di hidungku, dan aku ingin menepuknya.” Kilah Naja, tangan Naja mengibas seolah ada banyak serangga di sekelilingnya.
“Di pipimu kali, Na ... nih pipimu merah!” Jen menunjuk pipi Naja.
Tangan Naja mengusap pipinya kasar. “I-iya ...itu maksudku ... di pipi.” Naja nyengir lebar.
“Em ... sini,” Naja meraih pundak dua adiknya, dan merebahkan di pundaknya sebab mereka memandang Naja keheranan.
Ranu menampik tangan Naja, “Emang nyamuknya banyak, kok sampai kedua pipi Mbak Naja merah semua?” Ranu melihat sekeliling, “Aku juga ngga merasa ada nyamuk di sini.” ujar Ranu dengan polosnya.
Naja mengerjap dan menyambar kepala Ranu dengan cepat, “Banyak bicara sekali sih, Ranu ini!” kesal Naja dalam hati.
__ADS_1
“Sudah pergi ... kan udah Mbak Naja usir tadi.”
“Nyamuknya hanya gigit manten baru, Ran ...,” celetuk Jen saat dia tahu apa yang membuat Naja memerah.
Ranu mengangkat kepalanya lagi. “Masa ada nyamuk kaya gitu, Kak?”
“Nanu, diem ... atau Mbak Naja pergi nih?” Naja mendelik ke arah Ranu yang langsung kicep dan memeluk tangan Naja.
“Jangan ...,” rengek Ranu kembali merebahkan kepalanya.
Sebelah tangan Naja mencubit lengan Jen yang langsung ditampik dengan keras. Di bawah, Jen tersenyum, membuat Naja kesusahan adalah kesenangan baginya.
Lambaian tangan Excel mengarah kepada Naja. Tetapi Naja tidak mau terlalu percaya diri seperti kemarin yang akan membuatnya malu.
“Jen ... sepertinya kakakmu memanggilmu.” Pandangan Naja masih bertaut dengan Excel, tetapi bahunya bergerak sehingga membuat Jen dan Ranu mengangkat kepalanya.
“Ayo Ran ...,” Jen menarik tubuhnya dari kursi dan melangkah menuju Kakaknya. Tetapi belum setengah jalan, Jen kembali berbalik, “Kenapa masih di situ? Ayo!” ajak Jen pada Naja yang masih duduk terpaku di kursi plastik itu.
Naja menunjuk dirinya. “Aku?”
“Iya ... buruan!” titah Jen seolah tak sabar.
Naja bangkit dengan malas, dalam hatinya bingung harus bersikap bagaimana menghadapi Mikha. Mengembuskan napas, Naja segera melangkah mengikuti Naja. “Entahlah ... aku ikut apa kata Excel saja.”
Jen dan Ranu tampak menyalami pria itu dengan takzim. Mereka terlihat akrab, tetapi berbeda sikap Jen pada gadis itu, dia tampak tidak suka.
“Sia ... Papa, ini Naja—“
__ADS_1
“Jadi ini menantu Papa?” sela Rian menghampiri Naja yang langsung membeku mendengar ucapan Rian.
Bibir Naja membuka, dia tidak bisa berkata apa-apa selain terbengong-bengong. “Menantu? Dia ini siapa, sih?”
Naja memandang Excel dan Rian bergantian, merasa ada sesuatu yang dia lewatkan. Bingung.
“Ini Alicia, dia juga adik Excel ... dan adikmu juga.” Sambung Rian sambil menarik Sia yang berdiri tak jauh darinya.
“Hai Kak ... panggil aku Sia ...,” bibir gadis itu menggariskan senyum lebar hingga tampaklah giginya yang putih dan berbaris rapi. Tangannya terulur untuk menyalami Naja.
“Eh ...,”tersentak setelah sedikit memahami hubungan mereka. Naja bergegas membalas uluran tangan Sia.
“Seneng ketemu Kakak,” Sia menggoyangkan tautan tangan mereka yang dilimpahi tangan Sia yang lain. Gadis itu tampak gembira dan puas dengan pilihan sang Kakak. Manik mata Sia bergulir ke arah Excel dan mengacungkan jempolnya.
Naja menipiskan bibir tanpa mengucap apa pun. Dia masih berasumsi dan belum mendapat kejelasan yang pasti. Dia tidak ingin malu lebih dalam lagi, lagi pula, Excel bisa menjelaskan semuanya semalam, bukannya malah membuatnya bingung seperti ini.
Excel menarik sudut bibirnya sekilas, entah apa yang dipikirkan pria itu.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.