
Keesokan harinya, Naja sudah bisa berjalan seperti sedia kala, ia bahkan kembali bekerja. Hari pernikahan sang taipan muda dengan model papan atas itu sudah diambang mata, pakaian yang sudah jadi juga harus segera di kirim ke masing-masing pelanggan. Banyak sekali yang harus Naja kerjakan meski tugas utamanya telah selesai.
“Tetap hati-hati dengan jalanmu, Na ... jangan berlari atau berjalan terlalu cepat ... meski sudah tidak sakit lagi bukan berarti kau sudah bebas bergerak.” Peringatan yang sudah Naja dengar sejak kakinya melangkah keluar rumah hingga kini mobil Excel telah sampai di depan butik Sam.
Suasana dalam kabin mendadak hening, Naja yang semula bersenandung lirih, kini mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia mengarahkan manik matanya ke arah suaminya dengan sebuah lirikan.
Naja menghembuskan napas lelah, memutar bola matanya dengan malas. Namun ia menoleh dengan senyum termanis yang pernah ia punya. “Baiklah suamiku sayang ... aku akan berjalan pelan-pelan dan hati-hati.”
Excel memindai wajah Naja yang tampak sekali hanya menyenangkannya, tetapi Excel juga tidak bisa berbuat banyak. “Aku antar sampai ruang kerjamu, ya ....”
Naja melebarkan kelopak matanya. “Itu tidak perlu ... sebaiknya kau segera ke kantormu saja, aku yakin kau banyak pekerjaan penting daripada mengurusi aku yang baik-baik saja. Oke ...?” jemari Naja melingkar di depan Excel yang kehabisan kata-kata.
“Aku turun dulu, ya ...,” gerakan cepat Naja melepas seatbelt dan meraih tasnya bahkan tak terlihat oleh Excel yang masih tercenung. Naja yang sudah menurunkan sebelah kakinya, menoleh saat Excel tak menjawab pamitnya.
“Ya Tuhan ... dia kenapa, sih?” batin Naja sejenak mengalihkan tatapannya ke arah lain dengan bingung.
Lalu ia kembali menarik tubuhnya ke dalam kabin mobil dan menutup pintu. Perlahan ia mengulurkan wajahnya lebih dekat ke arah Excel.
Cup ....
“Semoga harimu menyenangkan, suamiku sayang ...,” ucap Naja sembari menjauhkan wajahnya.
Kesadaran Excel kembali naik ke permukaan, ia menatap senyum istrinya yang telah lama ia rindukan. Letupan dalam dirinya tak mampu lagi ia bendung, tetapi ... pekerjaan yang menumpuk kembali menoel sisi bahu Excel, meminta untuk di selesaikan.
Sejenak Excel membalas ciuman yang di berikan Naja, “masuklah ... jam empat tepat aku jemput kamu ....” usirnya pada istrinya dan seluruh rindu yang menjalari sekujur tubuhnya. Ia tak mau seharian ini tidak fokus karena menahan sesuatu yang lama sekali tak berjumpa kesempatan.
“Baiklah ... aku masuk dulu, jangan lupa makan siang, ya ...,” Naja mengusap pipi Excel dengan lembut lalu turun dan melambai sebelum ia memasuki kawasan kerjanya.
“Ya Tuhan ... kapan aku terbiasa dengan semua ini?” Naja mengipasi wajahnya dengan kedua tangannya. Ia selalu kepanasan jika berdekatan dengan Excel, apalagi saat mereka berciuman, Ya Tuhan ... membayangkan saja lutut Naja terasa lemas.
Kembali diserang hawa panas, Naja menangkup wajahnya dan berlari ke toilet untuk membasuh wajah. Mengusir pergi perasaan yang membuat bibirnya tergigit dan matanya terpejam juga senyum yang tertahan saat mengingat indahnya keintiman yang tercipta.
****
Air muka Excel kembali menegang saat mengendarai mobilnya ke kantor. Pikirannya berkecamuk hebat saat ini. Bahkan hingga ia memasuki kantornya, tak ada sapaan dari karyawan yang ia balas. Sungguh pikiran pria itu sedang traveling mengelilingi beberapa tempat yang sedang ia timbang-timbang.
__ADS_1
“Kenapa ...? Berantem lagi?” sudah sangat hafal dengan mimik wajah menegang dan kaku seperti yang Excel tunjukkan saat ini, Rega menerka dengan malas. Andai ia sedang ikut lomba menebak apa yang terjadi dibalik ekspresi Excel, ia yakin menjadi pemenang tanpa hambatan.
“Bisakah kau mengosongkan jadwalku minggu depan selama dua atau tiga hari saja?” Excel terus melangkah melewati pos Rega begitu saja menuju pintu yang mengarah ke ruangannya. Dengan tangan kiri ia membuka pintu, sehingga ia masih bisa melihat sahabatnya itu begitu keheranan mendengar permintaannya.
“Kau mau kemana? Minggu depan jadwal sudah ku atur begitu rapi,” Rega menunjukkan sebuah buku dengan jadwal yang berderet rapi dari Senin hingga Jumat lengkap dengan waktu dan siapa yang memiliki janji temu. “Kau tidak bisa mengacau begitu saja ... aku bisa gila mendadak!”
Excel menghembuskan napas perlahan, “jadi sampai Jumat, ya?” Tanya yang terkesan ambigu keluar dari mulutnya. Excel memandang hampa pada sembarang arah, lalu memandang Rega sejenak.
Rega hanya mengangguk, “memangnya kau mau kemana?”
“Tidak ada ... aku hanya ingin beristirahat ...,” jawabnya penuh kecewa seraya melangkah masuk ke ruangannya. Ia langsung mengenyakkan tubuhnya di atas kursi kerjanya dan membuang napas merana dengan begitu kencang.
Sambutan meriah dari tumpukan berkas menyapanya sepagian ini, membuatnya lupa betapa kecewanya ia pada keadaan yang tak berpihak padanya. Hingga makan siang tiba, ia bergegas meletakkan segala hal yang berurusan dengan pekerjaan dan meraih ponselnya, mencari-cari destinasi yang tepat dan romantis untuk dihabiskan dengan istrinya tanpa memikirkan pekerjaan. Tetapi ia harus menelan kecewa lagi karena ia tetap baru bisa pergi pada hari Jumat minggu depan.
“Ya Tuhan ... ini sungguh menyebalkan!” umpatnya sembari melempar ponsel yang dipenuhi foto-foto destinasi bulan madu yang tampak menggoda matanya.
Semalam, meski sudah saling melempar gombalan dan bersikap manis, nyatanya, Naja malah ketiduran saat menunggu Excel yang sedang berbicara dengan Harris melalui telepon. Excel masih sering lupa waktu jika sudah berada di depan layar komputer atau tumpukan berkas.
Mengingat semalam membuat Excel menunduk dengan telapak tangan mengusap kepalanya kebelakang dengan frustrasi.
Excel memicingkan matanya, samar-samar ia melihat Rega yang berdiri dengan berkas tergenggam di tangannya yang menyiku di belakang pinggang.
"Kerjaan lagi banyak-banyaknya ... lain waktu saja ... lagian Naja belum sembuh benar, aku takut malah membuatnya kesulitan." kursi berputar setelah menerima dengan pasrah tubuh Excel yang membentur punggung kursi. Pria itu tampak kacau.
"Pulanglah lebih awal agar kalian punya banyak waktu bersama-sama, aku yang akan menyelesaikan sisa pekerjaan hari ini," Rega meletakkan berkas di depan Excel dan duduk di depannya. Ia mengerti benar dengan keinginan sahabatnya itu, yang semalam menghabiskan waktunya dengan bekerja.
***
"Oh ... lelahnya ...," keluh Naja sembari meregangkan seluruh tubuhnya yang rasanya sangat lelah dan lemas. "... kita cari yang seger-seger, yuk." ajaknya pada beberapa orang teman yang juga masih bekerja.
Jarum jam sudah tergelincir melewati angka tiga, artinya tiga puluh menit lagi Excel akan menjemputnya. Tetapi ia rasa, ia akan membuat suaminya menunggu, lebih lama dari yang ia perkirakan.
"Pesen ice coffee sana ... biar melek nih mata ...," saran salah seorang teman Naja pada yang lain yang juga sedang mempertimbangkan saran Naja.
"Oke ... biar aku yang jalan ... sekalian menyegarkan mata," ucap yang lain yang langsung beranjak usai mengambil dompet.
__ADS_1
Tak jauh dari sini ada gerai yang menjual kopi yang cukup enak, ramah dengan perut dan kantong. Satu persatu mereka mengajukan pesanan yang di catat pada selembar kertas.
Lalu mereka segera membubarkan diri dan kembali menghadapi pekerjaan masing-masing. Cepat namun tetap berhati-hati dan teliti. Besok adalah hari terakhir, mereka tidak mau mendapat teror yang menegangkan di menit-menit akhir menuju kebebasan.
Di sela waktu itu, Naja menyempatkan diri melihat gaun untuk dirinya dan jas untuk Excel. Ia tersenyum sendiri saat mengusap kedua baju yang masih menempel pada sebuah manekin. Ia memutuskan akan membawanya esok hari untuk mengejutkan sang suami. Mata Naja menerawang jauh saat membayangkan ia memakai baju itu.
Senyumnya menyingkir saat ekor matanya menangkap bayangan Tanna yang tengah melintas di depan ruang kerjanya. Ia segera melebarkan senyumnya untuk mendatangi sahabatnya itu.
"Hai ...," sapa Tanna dengan senyum lebar. "Belum pulang?"
Tanna yang juga kebetulan melihat Naja menghampirinya ke depan pintu ruang kerja Naja. "Ngga papa, nih masuk?"
"Masuk aja, tapi di sini berantakan." Naja mempersilakan Tanna masuk, tetapi Tanna hanya mengulurkan kepalanya di ambang pintu, lalu mundur kembali setelah melihat atmosfer dalam ruangan.
"Ngga usah lah ... takut mengacaukan pekerjaan kalian ...," senyum Tanna kembali mengembang.
"Na ...."
Kedua wanita itu serempak menoleh ke sumber suara. Keduanya melihat pria yang tengah menyurutkan senyum saat mereka bertiga saling tatap.
"Sepertinya aku harus pergi ...," lirih Tanna sembari menoleh ke arah Naja yang tersenyum kikuk.
"Tan ... maafkan aku ya ... aku tidak bermaksud merebut Excel darimu ... aku—"
"Sudahlah ... tidak perlu minta maaf ... semua memang harus seperti ini." Tanna membuang muka ke sembarang arah, ia tengah menahan segenap perasaan yang sedang bercampur saat ini. "Aku pulang dulu, ya ... sampai jumpa lagi ...."
Naja melepas kepergian Tanna dengan segumpal rasa bersalah. Ia tampak seperti seorang mak comblang yang menikung pria incaran kliennya. Ia seperti seorang sahabat yang menusuk sahabat karibnya sendiri. Naja menunduk semakin larut dalam sebuah perasaan yang teramat bersalah.
.
.
.
.
__ADS_1
.