Kekasihku, Asisten Adikku

Kekasihku, Asisten Adikku
Menumbuhbesarkan Cinta


__ADS_3

Mentari kembali bertahta tinggi di singgasana kemuliaannya. Excel tak kuasa lagi menyembunyikan Naja di balik selimut, usai dokter menyambanginya, hingga akhirnya ia meminta bantuan perawat untuk memakaikan baju atasan pada tubuh Naja. Sekali lagi ekspresinya menegang dan tegas, membuat perawat yang semula mengulum senyum, terpaksa menyurutkannya. Jika bisa perawat itu menutup matanya, terlalu nyata bekas yang tertinggal di dada atas istri pasiennya itu.


Bergantian datang, Harris yang berekspresi kaku mendengar penuturan Excel. Kira mengeluh miris memeluk putra tertuanya. Seakan nyawanya terenggut paksa, ia memandangi putranya dengan ketegaran yang dipaksakan. Di depan Mamanya, Excel tak bisa berbicara terlalu jauh, namun, Harris mengerti jika mereka harus berbicara tanpa Kira mendengarkan. Kedua pria itu selalu menjaga perasaan wanita yang memiliki kedudukan tinggi di hidup mereka.


Hingga kedatangan Rega dan Sam, membuat niatnya menemani Naja, kembali gagal.


“Badanmu asem banget, Sam ... belum mandi?” tuduh Excel sembari mengembangkempiskan cuping hidungnya. Sam yang berdiri didepan Excel hanya membuang napasnya kasar.


“Dia tadi malah ngga pake baju pas di penjara.” Rega mengintip penuh minat pada Naja yang terbuai bunga mimpi. “Masih digasak juga meski di bed rumah sakit?” sindir Rega. Ia bergegas menjauh sembari menyeringaikan tawa yang begitu menyebalkan.


“Ngga tahu tempat lo, Cel ....,” timpal Sam yang seakan dapat angin untuk menghindari cercaan Excel lebih jauh. Pria itu tampak mengerut saat mendengar penjara.


“Elu juga ...!” seru Rega yang telah duduk di sofa yang menyudut. “... disuruh bawa Maureen ke dokter malah dibawa pulang! Untung aja aku bisa membuktikan kalau elu ngga salah, sehingga lu bisa bebas.” kesal Rega dengan menegaskan beberapa kata untuk mendapatkan kesan tegas.


“Yee ... kalo dibawa ke dokter, gue udah masuk penjara tadi malam, be go!” kilah Sam tak mau kalah. “betewe, gua emang bau ... pinjem kamar mandinya, Bro.” Sam mengendus pangkal lengannya yang memang sedikit menguarkan bau kurang sedap.


Gerakan kepala Excel yang mengisyaratkan bahwa ia mengizinkan Sam memakai kamar mandi membuat pria itu tersenyum cerah dan menjentikkan jari sambil berlalu pergi dari pandangan kedua sahabatnya.


“Siapa pelakunya, Ga?” tanya Excel sembari mengalihkan perhatiannya dari pintu kamar mandi dan menghadapi Rega.


“Tanna, Cel ... dia dibantu dua orang temennya. Tapi tenang, Om Riko sudah menyelesaikan semuanya.”


“Tanna?” Excel terkesiap, sebutir pasirpun, dia tak menyangka jika Tanna di balik semua ini.


“Iya ... dia sengaja membuat kamu dan Mikha kembali bertemu, Tanna datang pada Mikha dengan membawa bantuan yang kala itu ia butuhkan untuk melunasi hutang-hutang ayahnya yang tak sedikit. Memberi Mikha tempat tinggal dan membuat Mikha berhutang budi padanya. Tanna memprovokasi Angel hingga insiden telur terjadi. Lalu gaun Naja kemarin, dan gelas yang kamu pegang semalam sudah dicampur dengan obat. Tapi malah nyasar di mimun Maureen, dan kurasa usaha terakhir Tanna adalah menjebak kamu dan Mikha berada di sebuah kamar, diambil fotonya dan di sebarkan ... tujuan Tanna sepertinya ingin memiliki kamu setelah kamu pisah sama Naja dan Mikha berhasil disingkirkan,” terang Rega panjang lebar.


"Maureen? Bagaimana bisa?" Excel membola ketika ia ingat telah menyerahkan gelas yang ia pegang pada seseorang yang berada tepat di sebelahnya. Semalam ia terlalu mengkhawatirkan Naja hingga ia tak fokus pada hal lain. "Bagaimana keadaan Maureen sekarang, Ga? Aku merasa bersalah telah membuatnya ikut terlibat."


"Maureen baik-baik saja, dia sudah lebih baik setelah mendapatkan pemeriksaan tadi."


“Apa semalam Naja sampai dilukai oleh Tanna? Atau Tanna mengatakan sesuatu padanya?”


“Tidak ... sepertinya Naja tahu alasan Tanna melakukan itu dan Tanna malah ketakutan setengah mati saat Naja mengumpatinya.”


Excel manggut-manggut. “Mikha? Bagaimana keadaan dia? Apa dia sudah tahu kalau dia dimanfaatkan Tanna?”


“Akan aku beritahu dia secepatnya, Cel ... tapi saat ini dia masih belum sadar. Bayinya meninggal karena pendarahan semalam. Kata dokter dia mengalami kekerasan seksual. Mikha sebaiknya menjauh dari hidup kalian dan kehidupannya kini, terlalu berbahaya jika dia masih dalam jangkauan Tanna.”


“Kuserahkan semua padamu, Ga ... ambillah tindakan yang sekiranya benar.”


“Pasti ... karena itu tugasku, Bro ...!” Rega mengangguk pasti.

__ADS_1


***


Mendapat kabar bahwa Mikha sudah sadarkan diri, Rega mengantarkan Excel ke kamar inap yang ditempati Mikha. Keduanya dipersilakan masuk oleh perawat yang menjaga Mikha.


"Dosaku terlalu banyak, hingga anak yang kupertahankan, dan kuharapkan mau menemaniku, pergi meninggalkanku," ratap Mikha dengan wajah pucat dan tatapan kosong ke arah jendela yang menampakkan langit biru membentang. Seakan tahu bahwa satu-satunya orang yang datang padanya adalah orang yang telah dilukainya sewaktu dulu.


"Mulailah hidupmu yang baru dengan memohon ampun pada Tuhanmu, Mikha ...," sahut Rega yang melihat Excel tampaknya tak ingin mengucap sepatah katapun kepada Mikha. "... ikutlah pembantu yang telah lama mengabdi pada keluargamu dulu, dia pernah mengatakan padaku jika bersedia untuk merawatmu. Lebih baik kau menjauh dari kehidupanmu sekarang ini."


Mikha menghembuskan napas yang sempat ia tahan, tubuhnya menegang sebab takut bila Excel melimpahinya dengan kemurkaan. Perhatiannya teralihkan pada Rega yang baru saja selesai berucap.


"Aku akan memulihkan tubuhku sebelum aku meninggalkan kota ini. Aku hanya berharap kalian semua memaafkan aku, aku sudah mendapatkan balasan atas perbuatanku yang buruk di masa lalu. Meski selamanya aku tak layak mendapatkan kata maaf itu."


"Ambillah semua waktu yang kau butuhkan, jika kau siap, aku sendiri yang akan mengantarkan kamu ke tempat pembantumu itu." sahut Rega.


Hening menjeda sekian lama diantara mereka. Excel sejak tadi hanya membeku dengan pikirannya sendiri. Sementara Mikha kembali dengan angannya yang terbias melalui sorot matanya yang kosong.


"Hiduplah dengan baik! Kuburlah masa lalumu, dan mulailah hidupmu yang baru. Aku mengikhlaskan semuanya."


Ucapan Excel membuat Mikha dan Rega memandang ke arahnya. Excel melegakan perasaan yang sebenarnya sudah bebas sejak dulu, hanya dia terlalu teguh hati dan angkuh mengakui sebuah kekalahan. Merasa sudah berakhir, Excel melangkah mundur dibawah tatapan Mikha yang tampak mengembun. Ia telah lama mengucapkan selamat tinggal pada masa lalu sejak memutuskan menerima Naja sepenuhnya.


***


"Berhentilah menatapku seperti itu, kau tampak ingin menelanku bulat-bulat!" bibir Naja mencebik kesal. "kau tampak mengerikan, kau tahu?"


Excel kembali melebarkan tawa, "Mengerikan tapi kamu sayang, 'kan?" godanya sembari menusuk ujung hidung Naja.


"Mana ada?" decak Naja keberatan. Ia menggeser tubuhnya hingga telentang. Bahunya terasa lelah setelah tidur dalam posisi miring terlalu lama.


"Apa semua sudah beres?" Menggantungkan tatapannya pada langit-langit kamar, Naja ingin memastikan bahwa hidupnya lebih tenang di masa depan. Ia ingin fokus menumbuhbesarkan cintanya pada Excel, gangguan yang datang padanya cukuplah besar selama ini.


Excel memburu Naja, hingga tubuhnya kembali saling menanggalkan jarak. Merebahkan lagi kepala Naja di dadanya.


"Ya ... semua tentang kita akan benar-benar di mulai saat ini, Na ... kurasa kita lebih dari siap menyongsong babak baru hidup kita. Bantulah aku melewati hariku, melewati lelah yang sering mengganguku, dan jadilah nyala cahaya dalam gelapnya jalanku."


Naja menaikkan wajahnya untuk membelai pipi suaminya. "Lakukan hal yang sama untukku juga, kurasa kau akan lebih banyak bersabar menghadapiku."


"Kurasa kau benar, aku harus lebih bersabar menghadapi kecerobohanmu yang mengerikan itu."


Naja merengut, ditariknya telapak tangan yang memberi belai lembut pada rahang suaminya. Tetapi belum sempat berjarak terlalu jauh, Excel menangkap pergelangan tangan Naja dan melekatkan kembali di atas pipinya.


Bibir yang siap mengeluarkan protes itu, terpaksa harus dibungkam Excel. Perpaduan bibir dua insan itu bahkan menimbulkan bunyi yang khas, semula hanya sapuan kecil tetapi lama kelamaan semakin menuntut.

__ADS_1


"Kurasa aman melakukannya lagi, Na ...," ucap Excel setelah meleraikan tautan tubuh mereka. Ia menaikkan kepalanya untuk mengamankan pintu.


"Tidak ... aku tidak mau! Kau pikir aku tidak lelah setelah kau bekuk tadi?"


"Kapan aku membekukmu?"


"Tadi ... kau meremukkan tulangku, mencengkeramku, menggigitku, nih ... lihat bekasnya masih ada ...."


"Itu bukan gigitan, kau saja yang merasa begitu. Kau membuatku terlihat kasar saja memperlakukanmu."


"Iya ... kau memang mengasariku tadi. Bukti-buktinya ada, masih mau mengelak?"


"Kau ini selalu mengada-ada ...."


.


.


.


Cinta terkadang harus banyak bicara.


Cinta terkadang harus bertengkar dan berselisih.


Cinta tak selalu indah dan berpijar.


Terkadang, saat yang buruk dan gelap, cinta tetap bisa kita temukan.


Membiarkan dua orang itu larut dalam perselisihan yang indah. Mendorong pintu perlahan agar tak mengganggu cinta mereka yang unik. Menutupnya kembali agar hangat di dalam sana tetap terjaga.


Nikmati cinta kalian.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2