Kekasihku, Asisten Adikku

Kekasihku, Asisten Adikku
Rasa Yang Tak Tepat Waktu


__ADS_3

Tetamu sudah memenuhi kursi, matahari tak bisa lagi melambatkan lajunya untuk menuju peraduannya. Namun, acara itu belum juga di mulai. Excel sejak tadi gelisah, ia mulai tak tenang dalam duduknya. Secara berkala, ia mengamati jam yang melingkar dengan tenang di pergelangan tangannya. Bergantian ia menyapukan pandangannya pada hamparan kursi tamu, panggung, dan bagian ujung karpet di mana pengantin wanita dipastikan muncul.


“Kenapa, sih ... Cel?” Naja yang sudah tenang pasca melihat hasil pemeriksaannya, duduk sambil memainkan ponselnya. Ia telah mentas dari rasa kecewa yang menyeruak memenuhi dadanya. Ia sendiri bingung, sesaat ia merasakan kebahagiaannya membubung, lalu seketika terhempas jatuh. Merosot ke dasar jurang gelap kekecewaan.


“Sudah lewat beberapa waktu kenapa si Eric tidak memulai acaranya?” Excel masih melemparkan pandangannya pada segala penjuru ruangan terbuka ini. Angin ... semakin petang, semakin kencang dan dingin menerpa. Ia sedikit khawatir Naja akan kedinginan dan sakit. Menyesal sebab ia tak memilihkan baju yang menutupi bahu hingga lengan istrinya itu. Ia tak berpikir jika acaranya akan mundur dari jadwalnya.


“Memangnya setelah ini kau mau ke mana?” Naja menghentikan gerakan tangannya yang menggulir layar ponsel. Ia menghembuskan napas, sebab ia merasakan lelah yang luar biasa. Ia baru menyadarinya.


“Kita harus pulang, ganti baju dan kemari lagi, ‘kan? Kalau bukan karena ini pernikahan Eric, aku hanya akan mendatangi salah satu sesi saja,” keluh Excel.


“Oh ...,” jawab Naja tak acuh. Tidak ada yang penting juga. Jadi ia kembali menumpukan kakinya pada kaki yang lain dan menggoyangkannya. Tak seorang pun yang Naja kenal di sini selain Excel, jadi ia memilih memainkan ponsel setelah lelah berbicara dengan suaminya barusan.


“Na ... bagaimana kalau kita tidak usah pulang? Kita beristirahat di hotel saja ... terlalu jauh jika kita harus pulang pergi ‘kan?”


Naja mengangguk pasrah, “Terserah sajalah ... aku tidak terlalu mempermasalahkannya.” Ia hanya melirik sekilas suaminya itu. Lalu kembali asyik dengan ponselnya.


Excel menggeram kesal, lalu merampas ponsel Naja dan menjauhkan dari jangkauan Naja. “Bisa ngga, kalau aku lagi bicara jangan diabaikan?”


“Hehehe ... maaf, Cel ... aku bosan banget, soalnya.” Semula, Naja kesal karena keasyikannya terganggu, tetapi mendengar penuturan Excel, ia menyengirkan senyumnya. Ia mengusap lengan Excel dengan manja dan merebahkan kepalanya di lengan atas suaminya itu. Mencoba meredam dan merayu.


Sama dengan Naja, Excel pun merasakan hal yang sama. Menyentuhkan jemarinya pada lengan Naja, Excel mengusap pelan hingga timbul rasa hangat di lengan istrinya itu.


“Mas ... Mas ...,” panggil Excel pada pria berseragam dengan nama WO yang mengelola acara ini yang kebetulan melintas.


Pria itu menoleh dan mendekati Excel. Menunduk.


“Masih lama ya, acaranya di mulai?” tanya Excel sembari menahan lengan Naja yang akan menjauhkan tubuhnya dari pelukannya.


“Sebentar lagi, Tuan ... tadi ada insiden kecil yang terjadi,” jawabnya sambil tersenyum memohon pemakluman.


“Oh ... oke. Terima kasih” pungkas Excel, menepukkan tangannya pada lengan pria itu sebagai tanda kalau ia mengerti dan memaklumi. Semua orang bisa berencana, kadang keadaan yang kurang mendukung. Manusia, wajar jika seperti ini. Ia kembali mendesahkan napasnya yang begitu sesak berjejal di rongga dadanya.


***


Lima belas menit berlalu, suara denting piano terdengar merdu mengalun. Pemandu acara mulai menjalankan tugasnya membuka dan memandu jalannya acara pernikahan sore ini. Ia mengucapkan permohonan maaf yang tampak penuh sesal ia sampaikan. Pun dengan Eric yang juga mengutarakan hal yang sama, ia bahkan sampai menundukkan badannya secara berulang.


Perpaduan gitar akustik dan piano kembali mengalun saat Saphira berdiri di ujung karpet dengan gaun putih bertahtakan batu berkilauan di bagian dada. Gaun putih itu tampak indah dan sesuai sekali dengan suasana sendu senja ini. Berjalan dengan perlahan, Saphira mengukir senyum. Can’t Help Falling In Love mengalun merdu mengiringi langkah Fira.


Take my hand ....


Eric mengulurkan tangannya menyambut Fira. Tak kuasa mereka menahan bulir air mata bahagia yang mulai menggenang.


Take my whole life too ....


Alunan musik berhenti, sunyi hanya desau angin yang menjadi saksi menyatunya janji kedua insan yang telah lama menjalin kasih itu.


But i can’t help ... falling in love with you ....


Tepukan meriah saat kedua mempelai saling menyematkan cincin dan melakukan ciuman pertama mereka.

__ADS_1


“Aahh ... so sweet ...,” Naja mengusap pipinya yang basah. Ia begitu terhanyut oleh alunan lagu dan keromantisan Fira dan Eric.


“Aku wafer ... eh ... baper,” sambungnya sambil menghempaskan tubuhnya luruh di kursi putih itu. Ia meringis menahan laju air matanya yang terus keluar dengan liarnya. Bibir Naja tergigit, ia tampak tergugu, hingga ia menyikukan tangannya dan menutup bibirnya yang mulai sesenggukan dengan punggung tangannya.


Mendengar itu, Excel mendadak sendu. Ia tahu, pernikahan mereka jauh dari kata romantis dan menyentuh. Ia hanya melihat mata sembab Naja dan air mata kesedihan.


“Maafkan aku yang belum bisa membuatmu bahagia, Na ....” mengusap punggung tangan Naja yang lain, Excel meremas tangan istrinya itu. Sedetik kemudian, ia membawa tangan kurus Naja ke bibirnya, lalu mengusapkan tangan itu ke pipi. Ia memohon dengan sangat melalui sentuhan kulitnya. Ia bersumpah dalam hati, untuk terus berusaha membahagiakan Naja.


Naja mengusap dengan brutal air matanya, ia mengembangkan senyum di sela tangisnya.


“Kau bicara apa? Aku tidak bermaksud untuk membuatmu berpikir begitu. Kita baru mulai, Cel ... dan aku sudah cukup bahagia.”


Serta merta, Excel mengecup bibir Naja yang langsung membeku seketika. Ia bahkan menekan belakang kepala Naja hingga ia merasakan manis dari perpaduan mereka. Mereguknya dalam-dalam. Tak peduli banyaknya orang yang bersiul, entah untuk pengantin atau mereka. Semakin dalam, saat Naja meremas bagian belakang tubuhnya. Memejamkan mata menikmati senja dan manisnya cinta mereka.


***


Acara telah usai, semua hadirin berdiri untuk menikmati hidangan yang berada di tenda-tenda yang berada di halaman hotel yang nyaris menyentuh pantai.


Excel kini tengah berbincang dengan Eric, membiarkan Naja menikmati santapan dengan nyaman. Saat yang lain kerepotan berjalan dan memegangi gaunnya, Naja malah sibuk meneliti satu-satu hidangan yang tersedia.


“Ternyata wanita yang kita tertawakan malah yang paling nyaman di sini,” celetuk seorang wanita yang menatap Naja tidak suka.


“Dia yang nolak CEO nya Trist&Jewells. Yang kata nyokapku dia sudah menikah ... jangan heran kalau dia punya stylist sendiri. Lihat saja bajunya dari Sam&Sam.”


“Gilaaa ... yang begitu, nolak Tristan? Suami dia kaya apa? Ya ... kecuali kalau suaminya anaknya Dirgantara ... itu wajar,” tawa mereka meledak sejenak sebelum dengan penuh kesadaran, mereka melirihkan tawanya.


“Gue ... rela meski cuma jadi selir anak Dirgantara itu.”


“Selamat sekali lagi, ya Ric ... aku permisi dulu.” Putus Excel akhirnya. Entahlah, ia ingin membuat pengumuman tak resmi dan menunjukkan bahwa dialah suami Naja.


“Malam nanti masih ada satu sesi lagi. Kita seru-seruan sama kawan-kawan kita. Thanks kehadirannya ya, Bro ....”


Mereka beradu peluk lagi sebelum benar-benar saling melepaskan.


Excel berjalan dengan penuh wibawa, membenarkan kerah tuksedo dengan gerakan dramatis, lalu menyela di antara gerombolan gadis yang sedang menatapnya takjub. Memuja dan teramat menginginkannya.


Terus berlalu ... mengabaikan wanita dengan pupil mata melebar itu, ia berjalan menuju tenda yang bergoyang akibat angin.


“Yah ... gue dicuekin.”


“Apa aku pakai invisible cloak, sehingga aku tak terlihat di matanya?”


“Lo belek di mata dia ... alergi kalau sampai ngelihat lo ....”


“Dilirik saja engga apalagi dilihat. Ngarep sampai ubanan dan ompong, Sis ....”


“Kira-kira dia nyamperin siapa?”


Masih mendengungkan tanya tanpa menanggalkan pandangannya dari Excel, mereka setia mengikuti gerak tubuh Excel. Hingga ketika ia mencapai Naja, mereka memisahkan bibirnya. Mengucek matanya, dan hampir pingsan.

__ADS_1


“Jadi suami dia ....?” saling menoleh dan mengadu pandang, mereka mencebikkan bibir dan siap menjeritkan suaranya, kecewa tapi sedikit tidak percaya.


“Huuuaaa ...,” tangis mereka bersamaan sambil saling merangkul.


Excel melirik gerombolan yang berhasil ia patahkan harapannya, menyumbangkan setumpuk kecewa ke hadapan mereka. Dengan penuh bangga, ia meraih pinggang Naja hingga merapat ke tubuhnya.


“Kau makan terlalu banyak! Apa tidak takut gendut?”


Excel menempelkan bibirnya di atas rambut Naja yang mulai mencuat liar helai lembutnya. Menari-nari seirama angin yang menggoyangnya.


Tangan Naja yang sibuk memegang piring kecil dengan sepotong kue yang tinggal separuh itu saling memisahkan diri. Seakan kedua tangannya yang menusuk kue itu menghalangi penglihatannya pada lengan yang menekan perutnya dengan ketat.


Beberapa jenak ia mengamati tangan yang sedikit membuatnya geli itu sebelum mengalihkan pandangannya pada wajah yang hanya dagunya mampu ia jangkau. Mendadak berdesir dan lemas saat sentuhan bibir suaminya membuatnya mengerjap dan hangat.


Bisik-bisik sejak tadi mengikuti Naja. Sejak mereka mengalihkan pusat perhatian tamu karena ciuman panas yang berlangsung cukup lama tadi. Ia sekali lagi mencurikan pandang pada orang-orang yang kini juga melakukan hal yang sama.


“Dia semakin tak punya malu,” keluh Naja dalam hati. Kelopak mata Naja mengerjap, ia sedang mencari cara bagaimana agar bisa lepas dari kungkungan posesif Excel yang sebenarnya sangat ia nikmati jika bukan di depan umum seperti ini.


“Makanan yang kutelan, bisa-bisa keluar semua, Cel ... tanganmu kuat sekali menghimpitku!” seru Naja namun dengan bisikan.


Ekor mata Excel sejak tadi juga sedang bergerak liar mengamati tamu yang kerepotan dengan angin dan pasir. Melonggarkan pelukannya, Excel mengarahkan tubuh Naja pada orang yang tidak bisa menikmati pesta dan hidangan yang begitu menggoda itu karena sibuk dengan gaunnya yang beterbangan. Juga orang yang sedang melintasi pasir dengan susah payah karena sepatu hak mereka terbenam.


“Tidak ada hubungannya dengan taruhan ... ‘kan tadi harus ada orang yang menyanjungku dan menaruh hormat padaku. Kalau itu, aku sudah lihat dari awal tadi,” kilah Naja enteng. Bibirnya mengerucut dengan goyangan kepala yang tampak tidak peduli dibuat semenyebalkan mungkin, agar Excel semakin kesal ....


Naja tertawa jahat dalam hati. Selama ia tak melihat dan mendengar langsung bahwa apa yang ia kenakan hari ini menuai pujian, ia menganggap dirinya menang.


Excel mendelik sebal. “Satu saja yang melakukan itu, aku adalah pemenangnya, bagaimana?” Ekspresi Excel mengajukan banding. Rencananya tak boleh gagal, namun ia tak mau merayakan kemenangan terlebih dulu.


Kembali melayangkan pandangannya, Naja menemui mata suaminya percaya diri. Lagi pula, di sini tidak akan ada orang yang akan berani memuji penampilan orang lain, ‘kan? Mereka kaum rich people, mana mau menunduk dan menyanjung orang lain. Apalagi hanya seorang Naja yang tidak memakai perhiasan mencolok dan mahal. Ia memakai kalung dan anting emas sederhana yang baru saja ia—terpaksa—beli karena desakan suaminya tadi.


“Habiskan makananmu, dan kita pamit sama Eric dan Fira,” tutur Excel lembut. Ia akan men-skak istrinya itu dengan telak dan ia akan mencicipi hasil taruhan saat ini juga. Rasa meronta dan menggelinjang sudah tak mampu ia tahan lebih lama lagi.


Sungguh sial rasa yang datang tak tepat waktu ini.


Menyesal ia telah tahu rasa seorang wanita jika tahu ia akan lebih tersiksa karena terlalu lama terabaikan seperti ini.


Excel memandang istri polos nan lama loadingnya ini. Gerakan mengunyah itu bahkan memantik api dalam dirinya.


Geram, Excel meraup bibirnya. Ia mengalihkan pandangannya dengan gusar. Membuang jauh-jauh pikiran yang begitu nakal melekat di otaknya. Dalam bayangan Excel, Naja tengah mengejeknya penuh kemenangan.


Sungguh sial dia hari ini.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2