
Pagi ini, Naja kembali mencari pekerjaan. Mentari bahkan masih malu-malu membingkai bumi, tapi Naja sudah siap dengan ransel kecil, flat shoes, dan celana kain hitam. Yang berbeda kali ini dia memakai blus longgar berwarna putih.
Matanya masih sedikit bengkak setelah sejak subuh Naja berusaha menguranginya. Bahkan dia harus menggeram dalam-dalam karena berkas lamaran pekerjaan yang dibawanya kemarin hilang entah dimana sehingga dia harus membuat lagi yang baru. Dan lebih disayangkan lagi ... gambar desain baju yang dia buat sebagian besar ada di sana.
Langit tetap saja biru, angin berembus dingin menerpa poni yang memenuhi dahi Naja. Wanita muda itu berjalan sambil menundukkan wajahnya, sesekali berhenti melihat ponselnya sekadar membalas beberapa pesan yang masuk. Asa dalam hatinya tak sebesar kemarin tapi dia harus tetap melanjutkan hidup bukan?
Jalan utama tampak begitu ramai dengan pelaku jalanan yang beraktivitas. Hilir mudik kendaraan yang melintas sangat padat bahkan halte bus masih sangat penuh. Melewati jajaran toko dan kafe, Naja hampir mencapai halte yang cukup terawat dan bersih.
"COPET ...!" Naja berhenti dan menoleh ke sumber suara. Ada seorang pria yang berlari ke arahnya, tangannya memegang tas dan seorang wanita memakai hak tinggi juga berlari sambil berteriak dan melambaikan tangan.
Naja mundur, dalam hati dia berhitung. Dan,
BRUKK.
Pria tadi tersungkur dengan hidung dan mulut mendarat di trotoar jalan karena melanggar kaki yang diulurkan Naja. Secepat kilat Naja meraih tas kecil itu dan menendang paha pria itu.
"Pak, cari kerja yang bener! Ngga berkah memberi makan anak istri dengan mencuri!" Naja berjalan mundur meninggalkan pria yang juga secepat kilat berdiri dan berlari menjauh.
"Makasih Mbak ... jika bukan karena Mbak, uang saya hilang semua." Wanita cantik itu tersengal, dia bahkan memegangi perutnya.
"Sama-sama, Mbak!" Naja mengulurkan tas itu dan berjalan mundur. Ia tahu wanita cantik itu masih menata nafasnya, sehingga tak menyadari ia telah pergi.
Naja mendudukkan tubuhnya di bangku halte yang memanjang. Ada beberapa orang nampak sibuk dengan gawainya. Naja menghela napas, disandarkan kepala pada tiang penyangga atap halte yang sedikit berkarat dan ditempeli stiker. Kakinya berayun malas.
"Kemana lagi ya ... nyari kerjanya?" Naja menatap langit, "Andai uang bisa turun dengan sendirinya, ah ... senangnya!".
Naja buru-buru menegakkan tubuhnya. Menepuk pelan bibirnya yang kufur nikmat. "Ini nih yang menyebabkan rezekiku mampet!"
Naja menunduk, menatap ujung kakinya. Otaknya menyusun rencana cadangan, dengan sigap dia menarik ponsel dari dalam tas.
Dengan lincah dia mengetik beberapa pesan pada kenalannya, mulai dari pemilik produk kecantikan sampai reseller perlengkapan rumah tangga. Mencoba peruntungan dengan berjualan online.
"Mbak yang nolong saya tadi?" Suara wanita membawa kepala Naja mendongak, menjumpai wajah ayu berkilap penuh keringat.
"Eh, saya ngga minta imbalan kok Mbak! Saya kebetulan saja berada di sana!" Naja bangkit sambil menggoyangkan tangannya di depan dada.
"Kalau begitu saya ucapkan terima kasih banyak, saya berhutang budi padamu!" Senyum indah menampilkan cekungan di kedua pipinya membuatnya semakin cantik. Ditambah dua gigi depannya yang sedikit panjang membuatnya semakin keren.
"Ini gigi saya asli, Mbak!" Celetuk wanita itu tanpa mengurangi keramahannya pada Naja.
"Eh ...," Naja tersenyum canggung, menggaruk sisi kepalanya, salah tingkah karena ketahuan.
"Sekali lagi makasih ya ...," Wanita itu mengulurkan tangannya, "Mikhayla,"
__ADS_1
"Naja!" Jawab Naja menyambut uluran tangan Mikhayla dengan lembut.
Sejenak Mikha memperhatikan Naja, “apa kau membutuhkan pekerjaan?”
Naja terkesiap, lalu menyembunyikan map di belakang tubuhnya. “Eh ... iya Mbak. Saya lagi butuh pekerjaan.”
Bibir merah Mikha merekahkan senyum. “Aku ada lowongan kerja di kantor tunanganku, tapi hanya Office Girl saja ...,”
“Ngga apa-apa Mbak, saya mau ...,” potong Naja kegirangan.
“Bener ngga apa-apa?” Mikha sedikit tidak percaya, melihat penampilan Naja yang terbilang lumayan.
“Iya Mbak ... asalkan halal,”
Mikha mengernyitkan keningnya yang begitu halus, “maksudnya? Apa aku tampak mau menjualmu?” perkataan Naja sepertinya menyinggung hati Mikha. Atau Mikha saja yang sensitif?
“Eh ... bukan begitu,” map yang dipegang Naja bergoyang di depan Mikha. “Saya tidak—“
“Aku ngerti kok,” Mikha tersenyum singkat dan segera kembali menormalkan ekspresinya yang sempat menajam. “Ayo ... kantor tunanganku agak jauh dari sini!”
Naja yang masih terbengong-bengong dengan sikap Mikha yang agak aneh menurutnya, segera menyusul Mikha yang sudah berjalan terlebih dahulu ke arah dari mana dia datang.
“Ayo ...” ajak Mikha saat sudah sampai di mobil mewah milik Mikha.
“Siapa kamu sebenarnya, Naja?” batin Mikha.
**
Hidung mancung pria berusia 28 tahun bertakhtakan kaca mata sebagai tameng untuk melindungi matanya saat menghadapi layar komputer. Tatapannya tajam dan ekspresinya tegas terkesan galak. Namun hal ini malah membuatnya semakin memesona, meski jarang sekali bibir tipis itu melengkungkan senyuman.
“Ya Tuhan ...,” Excel terkejut tapi dia berusaha bersikap wajar saat suara yang begitu akrab mendarat di ruang dengarnya.
“Lo kerja serius amat ... pacar juga ngga punya, duit lo buat jajanin siapa?” sambung pria yang sejak kuliah bersahabat dengannya dan Rega.
“Kalau masuk ke ruangan orang biasakan ketuk pintu dulu ...!” kata Excel tanpa punya niat melihat Samuel yang menghempaskan tubuhnya di kursi seberang Excel.
“Alah ... kaya lo kalau di kantor iya-iya saja sama cewek. Atau lo pura-pura serius gini karena nyembunyiin cewek di toilet?" Samuel menumpu sikutnya pada meja kerja Excel, sebelah tangannya merogoh saku mengeluarkan sekotak rokok. Setelah menarik sebatang rokok, Sam melemparkan kotak itu hingga meluncur mendekati Excel.
"Bisa baca kan?" Excel melirik Sam yang langsung mematikan pemantik yang baru saja menyentuh ujung batang rokoknya. Di ruang kerja Excel terpampang jelas peringatan dilarang merokok.
"Dasar batangan baja, kaku amat lo sama aturan?" Sam melempar rokok ke tempat sampah. Lalu melesakkan punggungnya di kursi yang langsung berputar.
"Aku lagi sibuk ... jangan bicarain cewek atau kerjaan kamu yang menurutmu hebat itu!" tukas Excel saat Sam hendak melanjutkan ucapannya. Seakan sudah hafal dengan tabiat Sam bila datang kemari di pagi buta seperti ini.
__ADS_1
"Rese lo ... gue ke sini karena lagi kesel sama desainer gue! Udah gue bayar mahal, eh malah kabur ninggalin kerjaan segunung." kesal Sam. Pria jangkung berkepala plontos yang memiliki brand pakaian pria itu tampak frustrasi. Berulang-ulang dia memijat keningnya hingga meninggalkan bekas kemerahan.
Sejenak Excel menghentikan gerakan tangannya di atas keyboard. Menatap sahabatnya tapi hanya sejenak, ia segera melanjutkan pekerjaan yang menunggu untuk diselesaikan. Lagipun, dia tidak bisa memberi solusi. "Kau tahu kan ... aku ngga bisa bantu apa-apa? Minta bantuan Rega saja sana!"
Sam memajukan tubuhnya dengan malas, kesal sahabatnya ini juga tak peduli dengan kesulitannya. "Lo ngga ada kenalan cewek yang bisa gambar baju gitu? Atau Jen mungkin yang bisa nyariin aku desainer baru?"
Excel berkedip sangat pelan, seperti berpikir. "Ngga ada ... dan Jen juga ngga punya teman desainer."
Jawaban yang sangat membuat Sam jengah. "Lo bisa ngga ... ngga cuekin gue kaya gini? Oke lo sibuk ... gue ngerti tapi gue juga bantuin lo saat lo kesulitan ...!" bentak Sam.
"Aku memang ngga punya kenalan orang yang kau cari itu, Sam ... kenapa kau marah?" Excel begitu heran saat Sam yang biasa santai itu tiba-tiba melambungkan amarahnya.
Sam mengusap kepalanya frustrasi, begitu buntu sampai-sampai dia memarahi sahabatnya. Sam menghentak tangannya dengan kasar hingga menyenggol beberapa berkas di meja Excel dan membuatnya jatuh berantakan.
"Sorry Cel ... gue ngga sengaja! Sumpah!" Samuel begitu gugup, apalagi Excel menatapnya begitu tajam. Bergegas Sam mengambil berkas yang berhamburan namun ketika tangannya menyentuh map yang tidak seharusnya berada di sini, Sam begitu penasaran. Ditariknya map berwarna biru itu dan dengan cepat Sam membukanya.
"Ini yang gue cari ...." lirih Sam tetapi Excel masih bisa mendengarnya dengan jelas.
"Balikin lagi Sam ... jangan kau kacaukan ruanganku sekalipun kau marah!" seru Excel.
"Ini bukan punya lo ... ini gue yang lebih berhak. Thanks Bro ... lo emang sobat gue paling baik." Sam melambaikan map biru di hadapan Excel saat pria itu mengerutkan keningnya.
"Jangan Sam ... itu bukan milikku." Excel tampak keberatan. Setengah jalan Excel bangkit dari duduknya. Tapi Sam sudah menjauh ke pintu.
"Lo tenang aja ... gue bakal bayar dengan harga yang pantas."
Excel menatap pintu yang tertutup dengan senyum samar. Tapi penuh makna, entah mengapa dia begitu puas dengan dirinya kali ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1